SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HUJAN


__ADS_3

Hujan masih mengguyur bumi Nusantara di berbagai daerah. Banyak berita bencana akibat hujan yang turun terus menerus.


"Banjir di salah satu daerah membuat seorang pegiat sosial peduli. Beliau bergerak untuk membantu warga sekitar dengan mendirikan tenda pengungsi dan dapur darurat untuk logistik para warga terdampak banjir!" lapor pembawa berita.


"Wah, itu deket lumah pita pulu Ata' Ella!" seru Firman ketika melihat berita.


"Biya, pati teunapa pulu eundat lada yan beulhatian ya?" tanya bayi cantik itu.


"Karena waktu itu belum pemilu Baby, jadi nggak ada yang perhatian. Sekarang mau jelang pemilu, jadi banyak yang cari perhatian!" sahut Calvin sarkas.


"Lemilu pa'a Ata'?" tanya Firman dengan mata bulat.


"Pemilu Baby, jadi ada satu masa masyarakat memilih pemimpin mereka," jelas Calvin.


"Pita itut bilih pidat Ata'?" tanya Maryam.


"Yang boleh milih yang udah tujuh belas tahun ke atas Baby," jawab Calvin lagi.


"Dasar penjilat suara rakyat!' cibir Dewi sinis.


"Cari nama di atas penderitaan orang banyak!' lanjutnya.


"Hus! Jangan ngomong sembarangan Baby. Mommy nggak mau kalian diangkut orang tak dikenal jika bicara politik sembarangan," larang Maria.


"Siapa yang berani menciduk putriku?" tanya Gomesh tak terima. "Akan kuhancurkan tubuhnya dengan mesin penggiling daging!'


"Papa, bukan masalah diciduk atau apa. Papa nggak akan bisa menghentikan cuitan para pembela salah satu calon!" sahut Maria.


"Mereka akan menyerang putri kita habis-habisan dengan akun-akun palsu! Putri kita tidak akan bebas nantinya!' lanjut wanita itu memberi pengertian.


"Loh, bukankah negara kita bebas berpendapat?" sahut Sean. "Kita boleh dong punya opini sendiri!"


"Nggak boleh diumbar sayang. Opini cukup kita simpan dalam hati. Sebaiknya, jika memang bertentangan dengan kebijakan. Kita bisa kasih solusi terlebih dahulu. Bukan demo dulu!' ujar Maria lagi.


Pembahasan politik terhenti. Tentu karena memang mereka takut dengan pembahasan yang mungkin membuat mereka susah nantinya.


"Bubur ayam sudah siap!" seru Najwa.


"Asik!" semua anak bersorak heboh.


Selesai makan bubur, mereka duduk di dalam menghadap taman belakang rumah. Hujan masih setia membasahi bumi. Hal itu membuat semua anak tak bisa merusak rumput mansion Bram untuk main gobak sodor.


"Bosen!" keluh Kean kesal.


"Hei ... nggak boleh gitu sayang. Hujan itu rahmat dari Tuhan. Kamu nggak boleh ngeluh!" peringat Maria.


"Mommy, Kean mau main hujan boleh ya!"


"Tidak!" sahut semua ibu melarang.


"Mommy!" rengek Kean.


"Eh, Kak Adiba kemarin belajar metik gitar. Gimana kalo kita buat panggung kecil untuk memberikan pertunjukan pada semua orang!" celetuk Ajis memberi ide cemerlang.

__ADS_1


"Wah ... boleh tuh!" sahut Arimbi.


"Ya sudah, di situ panggungnya!" tunjuk Kean pada sebuah tempat di ruang tengah.


"Tapi ada gitar gitu?" tanya Adiba.


"Papa kalian punya dulu, kakek simpan!' sahut Bram.


Pria itu menyuruh salah satu maid untuk membawa alat musik yang dimaksud. Adiba duduk di kursi lalu mulai memetik gitar.


"Ya asyiqol Musthofa, absyir binaylil munaa ...."


Adiba mulai menyuarakan suara seraknya. Lagu milik salah satu band gambus ini membuat semua terhanyut mendengarnya.


"Nuurul jamaali badaa, min wajhi syamsil hudaa ...." Adiba sampai pada refrain lagu.


"Man fadhluhu a'mmanaa!"


"Man fadhluhu a'mmanaa, a'mmanaa, a'mmanaa!"


"Wa thooba wafdul hanaa!"


Adiba menyanyikan lagu itu hingga selesai. Semua bertepuk tangan meriah. Kean ikut semangat, ia berganti mempersembahkan sebuah lagu. Kali ini judul "Den assalam". Selesai Kean, Satrio tak mau kalah. Remaja yang kini jadi seorang pemuda itu juga mempertunjukkan keahlian dan juga suara merdunya.


Bart, Beni, Leni, Sriani, Fery, Mia, Andoro, Luisa dan Remario menatap semua keturunan mereka dengan pandangan bahagia.


"Bu, kalo bapak pergi lebih dulu. Ibu jangan menangis ya," punya Fery lembut pada istrinya sambil menggosok lengan Mia.


"Ya Bapak janji tidak akan menangis," ujar Fery dengan senyum indah.


"Kenapa kalian bicara kematian. Aku paling tua di sini!" tegur Bart tak suka.


"Maaf Pa, memang usia masih rahasia Allah, kita tidak tau siapa yang dipanggil lebih dulu," ujar Fery.


"Tapi jika itu terjadi. Saya harap tidak ada yang bersedih," lanjutnya lagi.


"Saya pun ingin pergi tidak membuat mereka susah nantinya," harapnya lalu menatap sang putra yang mengelus perut istrinya.


"Bicara apa Grandpa?" tanya Virgou yang datang dan langsung duduk menyempil di antara Beni dan Bart.


"Hei!" tegur Beni. "Aku mau dekat dengan kakakku!"


"Oh ... Kakek, aku ingin mengganggu kakakmu sebentar," kekeh pria beriris biru itu usil.


"Anak sialan!" gerutu Bart kesal.


Virgou malah menyurukkan kepalanya di ketiak pria itu. Bart kesal, tapi ia senang luar biasa karena Virgou dekat dengannya dan tak manja pada Herman saja.


"Assalamualaikum!" Herman datang membawa banyak kkresek. Khasya ada di sisinya.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!' seru semua orang.


"Sini aku bantu Yah," Reno mengambil alih bawaan ayah mertuanya.

__ADS_1


"Ayah!"


Virgou hendak berdiri menyambut Herman. Bart menarik lengan pria sejuta pesona itu dan mengempit lehernya.


"Jangan kemana-mana!" larangnya.


"Ayah! Aku mau dibunuh Grandpa!' adu Virgou asal.


Terra melotot pada kakak tampannya itu. Ia kesal sekali. Para bayi yang tadi melihat panggung terpecah karena teriakan Virgou.


"Yuyut, seupenelnya yan nanat sisilan ipu spasa sih?!" tanya Al Bara kesal bukan main.


"Biya, teumalin Papa Dom yan pipandil nanat sisilan. Setalan balah Daddy!" sungut Arsyad tak puas.


"Grandpa!" pekik Terra kesal sekali dengan pria gaek itu.


"Ipu Addy ilan ua pununuh!" tunjuk Arsh pada Virgou yang dikempit oleh buyutnya itu.


"Ipu banya berljanda Paypi!" sahut Della bijak.


"Pidat muntin yuyut bawu Punuh Daddy. Yuyut tan sayan Daddy, piya tan Yuyut?" lanjutnya menatap Bart.


"Iya sayang. Uyut tidak mungkin seperti itu!" angguk Bart.


Herman hanya menghela napas panjang. Khasya sudah meminta maid membersihkan semua bahan sayuran yang dibawa.


"Nenet pawu puat pa'a?" tanya Al Bara pada Khasya.


"Mau buat bakwan Baby," jawab Khasya.


"Patwan? Nenat eundat?"


"Enak dong!" jawab Khasya.


Makanan pun jadi. Semua rebutan bahkan Arsh ikut makan yang tentu berbeda dengan makanan orang dewasa.


Hujan masih membasahi bumi. Semua anak tidur siang dan memilih ruang tengah sebagai ruang tidur mereka. Anak perempuan tentu berpisah denga. anak laki-laki. Rahma mengusap peluh di kening Firman.


"Oh, kok kamu hangat ya?" ujarnya khawatir.


Nai langsung bergerak, wanita muda itu meraba kening Firman yang memang hangat. Ia pun menggendongnya.


"Dia nggak apa-apa kan?" tanya Rahma khawatir.


"Nanti kalo panas belum turun Nai periksa lagi ya," ujar Nai menenangkan Rahma.


Meghan, putranya sedang terlelap di sisi Satrio. Bayi enam bulan itu juga sama rusuhnya dengan semua bayi jika berkumpul bersama. Suhu badan Firman mulai turun.


"Sudah tidak apa-apa, mungkin efek bosan jadi badannya hangat," ujar Nai. Semua pun bernapas lega.


bersambung.


Next?

__ADS_1


__ADS_2