SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ATHENA DEWI 3


__ADS_3

Malam pertandingan dimulai. Delegasi berbagai negara hadir di tribun penonton. Atlet yang tak dijagokan hanya mendapat bagian kecil itu pun di pojok-pojok tempat duduk.


Ada tiga pertandingan dengan beda kelas. Yakini kelas 50kg, seni dan kelas 60kg.


Dewi ada di matras tengah, karena lawannya adalah tuan rumah. Sorak-sorai penonton mengelu-elukan Serena.


Tinggi Serena mencapai 175cm. Bertubuh kurus, Dewi sangat yakin jika ada kecurangan di sini. Ia mengira berat tubuh lawannya lebih dari 60kg karena Boboy Serena yang lebih berisi.


Mereka memakai pelindung dada, kepala dan juga gigi. Dewi ditenangkan oleh Tiana. Gadis itu juga tidak tau jika ada empat orang keluarganya yang mengelu-elukan dirinya.


Virgou merasa ada kejanggalan di even besar ini. Ia pun mengambil bravesmart ponselnya. Mengetik sesuatu, lalu ia menyeringai.


"Ada apa?" tanya Bart.


"Mereka ingin main curang Grandpa," jawab Virgou.


"Maksudmu?" tanya Bart lagi.


"Mereka memanipulasi beberapa layar yang menyorot atlet dan hanya pelanggaran yang ditampilkan lawan yang terlihat," jelas Virgou lagi.


"Apa bisa seperti itu?" tanya Bram mulai kesal.


"Lalu apa kau sudah bereskan?" tanya Kanya.


"Tenang Oma ... aku sudah bereskan itu," ujar pria dengan sejuta pesona sangat yakin.


Kembali ke tengah pertandingan. Sorot lampu utama memang hanya ditujukan pada arena tengah. Pertandingan Dewi dan Serena di sana.


"Kalian sudah siap?" ujar wasit.


Serena dan Dewi saling tos. Keduanya mengambil posisi. Wasit menoleh dan mengambil ancang-ancang.


"Mulai!" serunya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.


Dewi dan Serena maju. Serena tak pernah menang dari Dewi, ia pasti kalah angka. Kini dirinya ada di negaranya sendiri. Ia yakin akan memenangkan pertandingan ini dengan mudah.


'Heeaa!" Serena melakukan gerak tipu.


Sayang, gadis tinggi berambut pirang itu tidak tau berhadapan dengan siapa. Dewi ketika awal menggeluti olahraga bela diri hanya kalah sekali itupun karena dirinya yang begitu emosi.


Serena kesal karena serangan tipuannya berhasil dipatahkan Dewi. Gadis itu mulai menyerang secara membabi-buta.


Mestinya wasit menghentikan serangan Serena. Tetapi, memang dari awal dibuat sedemikian rupa. Hingga ....


Brug! Tubuh kurus tinggi itu terpental jauh.


"Foult!" teriak wasit.


"Huuuu!" sorak penonton kecewa.


Sebuah tayangan serangan membabi-buta dikerahkan Serena, Dewi menekuk kakinya dan membuat tendangan ke arah perut dengan teknik mendorong hingga Serena jatuh.


"Di mana letak kesalahannya?!" teriak penonton di tribun paling pojok.

__ADS_1


"Kalian curang!" lanjutnya berteriak.


Beberapa penonton warga negara mulai diam. Memang tak ada yang salah dari gerakan yang dilakukan oleh Dewi. Bahkan bukti jika Serena yang melakukan kesalahan terpampang jelas di sana.


"Usir wasit!" teriak beberapa orang.


Panitia di tengah panik. Wasit diganti secara mendadak. Nilai satu poin untuk Dewi karena desakan penonton minoritas.


Di sana Virgou menyeringai puas. Ia tidak akan membiarkan ketidak adilan terjadi.


Pertandingan dilanjutkan, kali ini Dewi langsung menyerang Serena dengan tendangan dan juga pukulan terarah.


Serena berhasil menangkap kaki Dewi. Dewi membalik kekuatan Serena dan memutar tubuh menendang dengan kaki yang lain.


Bug! Serena jatuh, wasit menghentikan pertandingan. Satu poin lagi didapat Dewi.


Serena mulai emosi, mestinya ia menang mudah di negaranya sendiri. Tetapi, ia malah tertinggal empat angka dari lawannya.


"Tenangkan dirimu Nak!" teriak Virgou.


Dewi menoleh asal suara. Gadis itu menyipitkan matanya. Tiana juga di sana melihat ketua dan tiga lainnya tengah menonton pertandingan.


"Di sana Nona Baby," tunjuk Tiana pada satu spot tribun.


Dewi menatap yang ditunjuk bodyguardnya. Lalu dua sudut bibirnya ditarik ke atas. Matanya yang tadi biasa, tiba-tiba berubah jadi tatapan sadis.


'Ayo, semangat!' tepuk Tiana.


Dewi menurunkan tangannya, ia begitu percaya diri sekarang. Tiba-tiba sorak-sorai terjadi di area paling kanan. Rupanya, atlet dari negara yang dijagokan kalah telak.


"The winner is from Afganistan!" teriak wasit ketua.


Seorang pria muda langsung sujud syukur. Lawannya menunduk, ia harus menyerah kalah karena mendapat kuncian di lehernya hingga membuat dia menepuk matras tiga kali.


Kemenangan salah satu negara yang tak dijagokan membuat Dewi makin semangat. Panitia lomba kebingungan karena tak bisa memanipulasi kamera.


"Astaga ... kenapa ada virus yang merubah semua sistem dan mulai menghancurkannya?"


Tim IT penyelenggara kualahan. Tak ada yang bisa mematikan robot penjaga yang memeriksa.


"Bagaimana bisa semua situs dunia ada di sini dan melihat kinerja data?!" tanya salah satu tenaga IT.


Sementara di negara lain. Darren tersenyum sinis melihat satu sistem yang ingin melakukan kecurangan. Pria beranak empat itu tentu mampu menyeret semua sistem dunia untuk membuat satu data yang menyerupai anjing cyber ciptaan adik iparnya, Azizah.


"Kalian tidak akan bisa menjatuhkan seorang Triatmodjo dengan cara curang tuan-tuan!' ujarnya sinis.


Kembali ke matras, Virgou bersorak sambil membuat salut untuk atlit Afganistan yang memenangkan pertandingan.


Serena menyerang Dewi dengan sebuah tendangan. Dewi menangkis kaki Serena dengan tendangan telak.


"Aarrggh!" pekik Serena.


Dewi kembali menyerang dengan tendangan ganda di area pinggul dan bahu lawan. Serena jatuh setelah mendapat serangan bertubi-tubi.

__ADS_1


Dewi hendak melompat dan memberikan pukulan. Tetapi, wasit menghentikan pertarungan.


"Stop! Three poin for Athena!" ujar wasit.


"Pertandingan selesai!" lanjutnya.


Dewi menang mutlak dengan nilai penuh. Sorak-sorai kembali terdengar. Kanya menangis melihat kemenangan salah satu anak perempuan yang dibanggakan keluarga itu.


"Kita ke tempatnya?" ajak Bart.


"Kita tunggu dia keluar Grandpa," ujar Virgou.


Kemenangan negara-negara yang tak dijagokan mendadak viral. Mereka tentu kaget karena semua menang tanpa bisa dicegah.


Dewi dan Tiana keluar, keduanya melewati lobi belakang gedung bersamaan dengan atlit lainnya.


"Selamat atas kemenanganmu Athena!' ujar Rahmed, atlit dari Afrika.


Pemuda yang mengajaknya bicara pertama kali. Iris hijaunya menatap dengan binaran pemujaan pada gadis cantik asal Asia tenggara itu.


"Selamat juga untukmu Rahmed!" balas Dewi.


Mereka tertawa-tawa, hingga tiba-tiba semua dipanggil.


"Kalian!" mereka menoleh.


Beberapa orang bertubuh tinggi besar mendekat, suasana memang sepi karena jalan itu bukan jalan utama.


"Kalian pakai doping ya? Bisa menang dengan mudah?" tuduh salah satu di antaranya.


"Oh ... really?" decak Rahmed sinis.


"Apa kalian punya bukti?" tanyanya mulai kesal.


Dewi menenangkan atlit tampan itu. Ia maju menghadapi sosok bule yang bermata biru. Wajahnya tampan, tetapi Kean jauh lebih tampan dari pemuda yang ada di hadapannya ini.


"Kamu nggak terima kalah?" tanya Dewi meledek.


"Sampai kalian menuduh kita pakai doping. Kau tau jika tuduhan palsu itu bisa mencoret kalian dari ajang ini selamanya?" tentang Dewi begitu berani.


Pemuda bule itu menatap Dewi yang bertubu kecil. Tinggi gadis itu hanya sedagu pemuda bule itu.


"Athena ... kamu benar-benar secantik dia!' pujinya tiba-tiba.


"Kamu bisa jadi tim utama kalau mau bergabung dengan kami!" ajaknya.


"Fasilitas mewah menanti," lanjutnya memberi tawaran yang menggiurkan.


Bersambung.


Yeee ... Dewi mau gitu?


next?

__ADS_1


__ADS_2