SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
THE BOYS 2


__ADS_3

Tangisan bayi membuat semuanya bertakbir. Tangisan haru dan bahagia tumpah di sana. Virgou ikut tergugu, ketika bayi itu menangis di dalam dekapannya.


Satu jam berlalu bayang-bayang kematian si kecil lepas. Kini ia menyusu kuat di dada ibunya. Dinar mengecup putra bungsunya itu. Dua kakaknya ikut mencari perhatian dengan menangis keras.


"Sabar sayang," ujar Dinar tertawa lirih mendengar dua bayi lainnya tak mau kalah.


Kini ketiganya sudah tenang dalam boksnya. Si kecil mendadak besar setelah disusui ibunya. Virgou dan Herman menatap mereka dengan pandangan bahagia.


"Aku menamai si bungsu Aaric Dewandra Starlight. Yang artinya sang pemilik kekuatan yang kuat!" lanjutnya.


"Aku juga mau ah! Nawasena Dhiren Starlight, artinya kekuatan di masa depan yang cerah!" sahut Herman.


"Kalau begitu aku yang menamai si sulung!" putus Demian.


"Alvarendra Demian Starlight!" lanjutnya.


Dominic dan Dinar hanya tersenyum mendengar nama-nama indah itu. Keduanya setuju dengan semua nama yang diberikan oleh Herman, Virgou dan juga Demian.


"Jadi Baby Aaric, Baby Sena dan Baby Alva ya," sahut Dinar dengan senyum indah.


Sedang di rumah Terra terjadi tangis haru. Mereka berpelukan dengan kabar yang baru saja mereka dengar.


"Hampir saja kita mendapat kabar duka, puji Tuhan, keajaiban itu datang," ujar Maria lega.


Semua berkumpul di rumah Terra. Mereka akan datang ke mansion Herman karena Dinar dan ketiga bayinya akan ada di sana.


Tiga hari berlalu kini tiga bayi dipamerkan pada keluarga. Baby Aaric, Baby Sena dan Baby Alva tertidur lelap tanpa terganggu sama sekali padahal semua perusuh kini berusaha mengajak bicara bayi yang baru lahir tiga hari lalu itu. Perkembangan Aaric begitu melesat, kini bobotnya sudah menyamai dua saudaranya yang lain.


"Baby ... pilan Mama!" ujar Maryam gemas pada Paman kecilnya itu.


Ketiga bayi menggeliat lucu. Semua perusuh menciumi mereka bergantian. Tiba Arsh yang hendak mencium tiga paman kecilnya.


"Dat pawu!" pekiknya ketika wajahnya dekat dengan salah satu kembar.


Teriakannya membuat tiga bayi terbangun dan menangis karena kaget. Menangisnya tiga bayi diiringi tangisan Arsh. Dinar tertawa mendengar tangisan itu. Ia senang karena bertanda bayinya sehat.


"Baby ...," tegur Widya tak enak hati.


"Jangan marahi baby!" tegur Dinar tak suka.


"Sini Baby sama Bibu," Dinar merentangkan tangan.


Arsh yang merasa bersalah langsung menyambut tangan itu sedang tiga bayi sudah ditenangkan Terra dan Puspita. Air susu Dinar sudah dalam plastik jadi tinggal menghangatkannya saja dan dimasukkan dalam botol.


Bram dan Kanya datang, mereka ingin melihat bayi yang katanya membuat semua orang panik itu.


"Mana dia?" tanyanya gusar.


"Ini Kakek,' sahut Terra meletakkan Aaric dalam gendongan Bram.

__ADS_1


"Uuuhhh ... tampannya!" puji Kanya.


Dua bayinya menangis keras. Ternyata mereka juga ingin dipuji, hal itu membuat Kanya gemas bukan main. Ia mencium dua bayi itu yang dalam gendongan Puspita dan Khasya.


"Kalian juga tampan sayang!" puji Kanya.


Akhirnya dua bayi itu tenang setelah dipuji oleh nenek mereka. Jac datang bersama Aaima dan putranya yang belum diberi nama. Pria itu juga ingin putranya dinamai oleh Herman.


"Ayah ... namai putraku," pintanya.


"Loh, apa ayah dan ibu mertuamu tak bisa memberinya nama?" tanya Herman..


"Ayah dan Mama bingung juga Ayah," jawab Putri.


"Kemarikan dia!" titah Bart.


Bayi Jac kini dalam gendongan pria gaek itu. Ia menciumi gemas hingga merengek dan menangis..


"Grandpa!" protes semua orang.


"Astaga kalian ini!" dumal Bart kesal.


"Aku namai dia Dzikra Ebtissam Starlight yang artinya pemberi kedamaian dan senyuman," ujar pria itu.


"Baby Zizam!' panggil Arraya pada bayi dalam gendongan uyutnya.


"Jadi Ion nambah empat nama lagi ya?" celetuk pria itu.


Satrio menatap sosok manis yang hanya diam dan mengawasi semua adik-adiknya. Pria itu begitu gusar dengan perasaannya saat ini.


"Ih ... dia masih kecil banget!" teriaknya frustrasi dalam hati. "Aku bukan pedhopil!"


Empat bayi sudah dalam boks mereka termasuk bayi yang lainnya. Herman menata sebuah ruangan menjadi kamar khusus para bayi.


"Paling besar Baby Aliyah, lalu lahir Baby Angel dan Baby Rafael, kemudian Baby Izzat, sudah itu Baby Aaric, Baby Sena, Baby Alva dan terakhir Baby Zizam," sahut Bram.


"Jangan lupa dengan Baby Zaa dan Baby Nisa, Kakek!" sahut Darren dengan senyum lebar.


"Itu baru di kalangan keluarga. Jangan lupakan semua anak pengawal Kek!" sahut Rion.


"Hahaha ... keturunanku akan memenuhi dunia!" pekik Bart senang luar biasa.


Mansion Herman penuh dengan manusia. Bram dan Kanya memilih menginap di sana. Arsh tidur bersama mereka. Bayi itu mengaku sudah besar padahal baru sembilan bulan.


"Alsh dah ede!" pekiknya percaya diri.


Izzat juga ada ditangan Bram yang membawa cucunya langsung ke kamar bersama Arsh yang ada di gendongan Kanya.


Widya harus memerah susunya agar tak merepotkan pasangan sudah lanjut itu begitu juga Safitri. Sedang El Bara dan Al Bara ada bersama Herman. Dua bayi itu tak mau lepas dari pangkuan Khasya.

__ADS_1


Baby Fael dan Baby Angel ada ditangan Haidar dan Terra. Arraya dan Arion menolak dianggap bayi.


"Biar Baby Zizam dan Baby Aaima denganku!" putus Virgou tak peduli Putri yang merengek.


Jangan tanya dimana yang lain. Harun, Azha, Arraya, Arion, Bariana menolak diajak tidur bersama orang tua mereka. Sedang Baby Aaric, Baby Sena dan Baby Alva dibawa lari Lidya dan Demian karena putra kembar mereka tak mau lepas dari Khasya.


"Aku minta satu bayi dong!" ujar Jac memelas.


"Ck ... buatlah lagi!' titah Demian.


Dinar juga kesal dengan putra sambungnya itu. Ia jadi marah dengan suaminya.


"Lalu aku mesti mengurusi Siapa?" protesnya kesal.


"Urusi Anak Gio aja Nyonya!" sahut pria pengawal itu meyerahkan bayinya yang sudah tidur.


Dinar dengan cepat membawa bayi satu tahun itu dalam gendongannya dan masuk ke kamar langsung, ia takut Gio berubah pikiran.


Aini tersenyum, ia juga ingin program hamil lagi. Agar rumah besar ini penuh dengan suara anak-anak yang lahir.


"Sayang ... apa kita buat lagi?" ajak wanita itu.


"Ayo!" sahut Gio lalu membawa istrinya ke kamar.


Jac menarik Putri yang masih mengomel karena tak ada satu bayi pun yang mau tidur bersamanya. Bahkan ketika membujuk Ari tadi bayi itu menolak dibilang bayi.


"Ali sudah peusal Pipu!"


"Bang!" rengeknya kesal.


"Kita buat lagi yuk!" ajak Jac lalu menarik tangan istrinya ke kamar.


Malam telah larut, Demian menatap tiga adiknya dengan binaran mata bahagia. Setelah sekian lama hidup sendiri, ia juga memiliki adik perempuan dari ibu kandung yang tak pernah ia urusi. Kini tiga bayi laki-laki yang mirip dengannya tidur dengan tenang.


"Sayang ... kalau Iya hamil lagi boleh nggak?" tanya Lidya.


"Tentu saja sayang!" seru Demian semangat.


"Apa kita buat sekarang?" goda Demian.


Lidya membuka selimut, ia memperlihatkan lingerie merah darah yang ia pakai di hadapan suaminya.


"Ah ... kau siap gempur ternyata!' kekeh Demian dengan penuh gairah.


Mereka pun bercinta sambil memomong bayi yang sesekali merengek minta susu.


bersambung.


Et dah .. anak siapa ada sama siapa. 🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2