SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KABAR DARI EROPA 2


__ADS_3

Hari menjelang sore. Semua anak pulang ke rumah mereka masing-masing. Bart diajak pulang bersama Dav walau ada adu debat dengan Terra.


"Kenapa sih kalian ini?!" ujarnya tak suka. "Biarkan Grandpa menginap di sini!"


"Tapi Grandpa jarang menginap di rumahku Kak!' sahut Dav.


"Diam kalian berdua!" desis Bart marah.


"Biar aku memutuskan untuk tidur di mana!" lanjutnya.


Akhirnya pria itu ikut dengan Dav. Pria itu tersenyum penuh kemenangan pada Terra yang cemberut. Virgou menggaruk kepalanya.


"Biarkan Grandpa kemana saja ia suka Te!" ujar pria itu.


"Kak," rengek wanita itu.


"Sudah, jangan begitu oteh!" sahut Virgou lagi.


Akhirnya mereka pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Bariana, Azha dan Harun menolak pulang. Mereka masih ingin menginap bersama saudara mereka. Sedang bayi lain tentu tak bisa menginap karena tak bisa memberontak ketika digendong oleh ayah mereka.


"Biarkan menginap di sini!" ujar Haidar.


"No, Papa!" tolak semua ayah.


"Papa ... mo ninep!" pekik Arsyad pada Gio.


"Ima uga!" teriak Aaima.


Dua bayi itu memancing keributan bayi lain, El dan Al Bara, lalu Maryam, Aisya dan Fatih juga Fathiyya. Mereka ribut ingin menginap.


"Baby, papa mau bobo sama baby loh," ujar Gio merayu bayinya.


"Papa, bo ma Nda!" sahut Arsyad menolak dicium oleh ayahnya.


Gio tak peduli. Seharian ia tak bermain dengan putranya karena bertugas mengawal Lidya yang tadi pergi mengunjungi rumah sakit milik Nai. Istrinya juga tengah datang bulan, makanya ia memilih tidur bersama putra dan dua adik iparnya satu minggu mendatang.


Sedang di benua lain. Bram dan Kanya tuba ketika hari menjelang pagi. Keduanya langsung menuju mansion. Labertha memilih dirawat di huniannya di banding ke rumah sakit. Sampai sana, para maid mengambil tas anak majikan mereka.


"Bagaimana dengan nyonya besar?" tanya Kanya.


"Beliau tengah beristirahat, nyonya," jawab kepala pelayan.


Keduanya langsung istirahat agar besok dalam keadaan bugar menemui ibu mereka.


Pagi tiba. Jika di Indonesia, keluarga Terra sibuk mengurus anak-anak yang hendak sekolah, walau hanya tinggal Rasya dan Rasyid yang sekolah, tetapi yang lainnya sudah berkerja, Sean masih bertugas mengantar jemput adik-adiknya sekolah.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" sahut Samudera ketika masuk.


Gisel datang bersama Budiman dan tiga anak laki-lakinya. Fathiyya tidak ikut karena lebih memilih bersama kakek neneknya di rumah.


"Loh, Baby Fathiyya mana?" tanya Haidar.


Pria itu mencium pucuk kepala para biang rusuh.


"Nggak mau ikut, katanya mau sama kakek dan neneknya," jawab Gisel.


Budiman memilih menaiki motor bersama Hendra menuju rumah Saf. Tak lama Gio datang bersama Aini dan Arsyad, mereka menitip putra mereka karena tak mungkin menyuruh dua adik Aini yang masih kecil untuk menjaga Arsyad yang super aktif.


'Boleh nitip Arsyad ya ma," pinta wanita itu.


"Tentu sayang," jawab Terra tersenyum tulus.


Haidar segera mengangkat bayi tampan itu hingga terpekik. Rion turun dan langsung mengajak ayahnya untuk berangkat.


"Sarapan dulu baby, biar para kolega menunggu," ujar Haidar.


Rion menurut. Sedang Aini dan Gio sudah pergi ke rumah Lidya untuk menjemput nona mereka.


Gomesh datang mengantar Maria, Domesh, Bomesh dan Bariana. Pria itu memilih langsung pergi ke perusahaan Virgou. Lalu tak lama Seruni datang bersama Bart dan suaminya. Dav langsung ikut Gomesh naik mobilnya dan tak masuk ke rumah.


Semua anak yang sekolah bersama Sean dan para pengawal yang naik motor mengikuti. Para perusuh sudah berada di taman belakang. Kali ini tanpa Aaima dan Fathiyya karena tak lama Al dan El Bara datang disusul oleh Maryam, Aisya dan Al Fatih.


Seruni dan Maria memilih mengawasi semua bayi. Dua wanita itu mengajak anak-anak belajar bersama sambil bermain. Seruni mengajarkan hitungan pada para bayi.


"Belum Grandpa," jawab Terra.


Haidar dan Rion sudah berangkat dari tadi. Terra mendudukkan dirinya di sisi pria tua itu. Ia merebahkan kepalanya ke dada bidang sang kakek. Hal manja yang disukai Bart.


"Wangimu bahkan menyerupai wangi Ayahmu, Te," sahut Bart ketika mencium pucuk kepala cucunya.


"Apa seperti itu?" Bart mengangguk.


"Baumu, bau Virgou dan bau Ben sama, kalian seperti memiliki ikatan kuat satu dan lainnya," ujar Bart.


"Dan aku nyaris menghancurkan kalian," lanjutnya lirih.


"Oh ... ayolah Grandpa ... itu sudah lama sekali. Jangan kau ungkit lagi!' sahut Terra tak suka.


"Maaf sayang," ujar Bart menyesal.


Terra memeluk kakeknya. Sedang Seruni dan Maria sudah kehabisan ide untuk memberikan pelajaran bagi putra dan putri mereka.

__ADS_1


"Mami ... pa'a ladhi basat beulenti?!" ujar Harun gusar.


"Biya mih ... pita udah binten mih pambah-pambahan!" sahut Arraya sombong.


"Oke ... sabar ya ... kali ini dengar pertanyaan Mami!" ujar Seruni.


"Mommy Maria punya delapan kue, lalu Mama Terra punya dua kue, sedang Mami punya empat kue. Jika Baby Maryam makan tiga kue, berapa sisa kue?"


"Nyonya, apa itu tidak terlalu sulit?" tanya Maria khawatir.


Seruni hanya mencebik kesal. Ia memang ingin mempersulit semua bayi agar menghitung lebih lama hingga tiba-tiba ...


"Peubeuntal Mami!" sahut Harun bingung.


"Pemanan pejat tapan Baby Malyam matan tue ipu?" tanyanya bingung.


"Mami pudah eundat peulnah bitin tue!" protes Arraya.


"Babies ... mami kan buat pertanyaan agar kalian menghitung!" sahut Seruni gemas.


"Mami ... pita peulum setolah. bahtan anta Zatu paja pita zalah pulu woh!" kini Azha melayangkan protesnya.


"Biya Mami, peulpanaan Mami ipu banya Ata'Tean yan pisa bawap!' sahut Arion ikut menimpali.


Maria dan Seruni hanya bisa menghela napas panjang. Dua wanita itu sudah kehabisan ide untuk bermain dengan putra dan putrinya.


Sedang di tempat lain. Bram yang sudah segar dan bersih, mengunjugi ibunya bersama sang istri. Di sana pria itu menangis melihat kondisi ibunya yang tiba-tiba kurus dan lemah.


"Mommy .. mommy ... ini Bram ... hiks!"


"Bram ... sini Papamu datang loh, ayo beri salam," ujar Bertha berhalusinasi.


Bram dan Kanya sedih bukan main. Keduanya kini harus merelakan ibunya pergi ke dunia lain. Bram Hovert Putra Pratama duduk di sisi kanan ibunya sedang Kanya duduk di sisi kanan mertuanya. Keduanya memeluk wanita itu dan mencium pipi Bertha yang sudah mulai dingin.


"Nak, kau lihat ayahmu kan?" tanya Bertha menunjuk.


Bram mengangguk, walau ia tak melihat apa pun. Bertha mulai bernyanyi lagu cinta dalam bahasa Belanda, Ia dan suaminya bertemu di Suriname, Belanda ketika akhir perang dunia kedua. Menjalin cinta tanpa persetujuan kedua orang tua. Keduanya nekat lari dan menikah lalu menetap di Swiss dan sukses di sana.


Sedang di hunian Terra. Wanita itu menatap ponselnya, sang suami mengirimnya kabar duka, jika sang nenek telah berpulang selamanya.


"Selamat jalan Grandma ... Te bahagia telah bertemu dengan wanita hebat seperti Grandma," ujar wanita itu lirih.


bersambung.


RIP Labertha Weist 🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


next?


__ADS_2