
“Oke”, kata Mbak Atin kemudian.
Aku menghabiskan es kopi latte yang aku pesan, dan kemudian, kami sama – sama mencari gembok untuk pagar di rumah, lalu kemudian, aku membeli kebab lebih dulu, sebelum meninggalkan Mall tersebut, dan nanti malam Irfan akan menghampiri aku lagi, ke rumah untuk syuting bersamanya melanjutkan episode yang waktu kami juga syuting bersama.
Ketika berada di dalam rumah, pikiranku kacau dan tidak menentu, di dalam kamar, aku melihat jam di dinding menunjukkan waktu Ashar pada pukul lima sore, tanpa terasa, sudah jam 5 sore, aku langsung mandi dan sholat Ashar.
“Ya Allah, entah sampai kapan, aku harus menanggung semua ini dengan apa yang aku alami ini, enggak mudah, aku jalani, kalau saja mama dan papa, sudah kembali normal semua pun, akan kembali normal lagi, Ya Allah, semakin ke sini, semakin aku juga di tunjukkan siapa itu Tania, dan kalau memang Allah ingin menunjukkan lagi siapa itu Tania, maka tolong perlihatkanlah dia padaku”
Baru saja selesai sholat Ashar dan mau mandi, Irfan sudah mengirim pesan whatsapp padaku, dan langsung membacanya.
“Rianti nanti sehabis sehabis Maghrib aku ke rumah kamu yah, syutingnya abis maghrib juga sekalian aku antar kamu pulang juga”, kata Irfan.
“Oke”, balasku berseru, dengan perasaan senang, yang entah kenapa, walau itu hanya di pesan whatsapp tapi aku merasa terhibur, karena kalau dengan Irfan, seseorang yang komunikasinya, tidak seperti lainnya, yang cuma ada maunya saja, kalau Irfan dia benar – benar memang terbuka dan terus menemani aku sampai dalam keadaan apapun, bahkan membantu aku juga, aku juga ingin rasanya mengetik pesan yang aku ingin sampaikan kepadanya dan aku langsung menulisnya di pesan whatsappku.
:”Irfan gimana dengan Mbak Atin dia ada info baru lagi”, ? tanyaku.
“Iyah dia tadi bilang ke aku, katanya dia nanti fisioterapi mama kamu tiap hari yah, dan aku sudah setuju, aku yang bayar semua, dan itu pakai uangku sendiri, biar saja, uang kamu itu untuk pegangan kamu saja, karena aku tahu kamu butuh, dan masalah tanah di Depok aku juga lagi nunggu kabar dari Notaris Insya Allah secepatnya yah”, ! seru Irfan.
“Mbak Atin tiap hari dan di bayar 350 ribu, aku saja yang bayar, dan aku tiap hari nanti ke rumah kamu, dan mulai sekarang rumah kamu di gembok saja, kalau di dalam rumah agar enggak ada siapa – siapa yang lain ke sana, mau terror kamu oke”, pesan Irfan dalam ketikan pesan whatsappnya.
“Oke aku gembok deh sekarang”, kataku kemudian, dan aku langsung menaruh Hp itu kembali di meja dekat tempat tidur, lalu pergi ke arah keluar rumah, dan mengembok pintunya, aku tahu Irfan malam ini ke rumahku, tapi pasti dia akan telepon aku kalau sudah sampai di depan rumah.
Aku mengambil handuk, dan pergi ke arah kamar mama dan papa, untuk menuju ke arah kamar mandi, yang memang berada di dalam kamar mereka.
“Mama”, kataku menegur mamaku.
“Papa”, tegurku juga pada papaku, dan aku mulai mengajak bicara mereka berdua, aku memperlihatkan kunci gembok pagar yang aku pegang dan aku menjelaskan semuanya kepada mereka, tentang ini semua.
“Mulai sekarang, di rumah aku gembok yah dan korden di tutup saja tiap hari enggak apa – apa, masalahnya aku takut Om Hasan akan meneror kita yang lebih parah, apalagi Gina, dan Desi, tolong jangan bukakan siapapun keluarga kita, kecuali Irfan, ini pesan dari Irfan juga, dan besok ada orang fisioterapi yang baru datang, tiap hari dia akan kesini, dia dari rumah sakit khusus otak tapi nanti ke rumah kita yang jemput hal ini di lakukan, agar dia enggak di hasut oleh siapapun keluarga kita, nanti malam juga Irfan mau ke rumah, dan syuting bareng, dan nanti aku berangkat aku gembok rumah, dan gemboknya aku bawa kalau perlu apa – apa, mama bisa bilang sama aku sebelum berangkat keluar rumah, untuk papa juga sama, ini demi keamanan kita semua juga”, kataku panjang lebar.
“Mama cuma mau pipis dulu dari tadi udah kebelet nunggu kamu ambilin pispot, kalau masalah buang air besar bisa mama tahan dulu, sampai kamu pulang nak”, kata mamaku.
“Yah udah papa, juga nitip yah nasi goreng buat mama juga pengen katanya, sekalian buat kita semua yah belinya”. ! seru papa menimpali kata – kata mamaku.
“Yah sudah kalau begitu aku mandi dulu”, kataku sambil membawa handuk ke dalam kamar mandi, dan mulai untuk mandi.
__ADS_1
Entah kenapa, tiba – tiba saja, ketika berada di dalam kamar mandi, pikiran semerawutku, terus melayang, di atas kepalaku, bayang – bayang, gambaran ini dan itu, tidak jelas, yang berbentuk abstrak bermain di bola mataku, seperti halusinasi, atas perasaanku sendiri tidak menentu.
“Ya Allah, satu kunci sebenarnya, agar semua berakhir, dan akan kembali normal, adalah ketika kedua orang tuaku sembuh dan keadaannya bisa normal kembali seperti dulu, Ya Allah, aku sekarang, mengerti, sebenarnya memang bisa jadi keinginan, dan haus akan harta itu sudah dari dulu, tapi baru terlihat jelas itu sekarang ini, dari dulu, justru selalu saja dari saudara yang membuat perasaan aku tidak nyaman, dan selama ini, aku enggak ada tempat untuk curhat yang pas untuk, orang yang aku anggap sahabat, dari kuliah, teryata juga adalah orang, yang cuma ada maunya, di saat aku terpuruk, justru malah bersikap acuh, bahkan dari dulu pun, dia enggak pernah menghubungi aku, sekali saja hanya untuk menanyakan kabar tentang keadaan aku, dia enggak peduli, enggak pernah mau dengerin apa yang aku ceritain, karena itu selama ini, aku enggak pernah menemukan solusi yang tepat, dan kalau emang orang – orang paham akan apa yang aku rasain juga, seharusnya berkaca diri sendiri, kenapa Irfan aku jadikan sebuah alasan besar, kalau semua apa yang aku rasakan itu aku jadikan tumpuan hidup, dan aku kalau orang enggak peduli terhadap aku, bisa lebih enggak peduli lagi, sudahhlahhhhhhh si Riska itu, biarin saja, dia nikmati dunia dia sendiri, tanpa dia sadar kalau manusia itu saling membutuhkan, dan untuk keluarga aku, aku sudah mulai merasakan, dengan sangat jelas, adanya tekanan batin, dan aku sudah paham sebuah alasan sebenarnya apa yang menjadikan mereka pasti ada satu atau dua orang yang membuat aku enggak nyaman, seseorang yang sikapnya, seolah aku yang salah, seolah apa yang aku rasakan itu salah, bersifat menyerang lebih dulu, tapi jadikan aku kambing hitam, selama itu kan yang aku rasakan, dan sekarang aku sudah emosi dengan sikap Riska, yang cuma ngaku – ngaku sahabat dari kuliah, tapi enggak peduli keadaan aku seperti ini, cuma angkat telepon di saat aku susah saja, enggak, bales whatsapp saja juga, dan hanya menganggap aku kalau ada perlunya saja, dan aku bukan boneka, aku bisa berang kalau sampai di puncak keadaan seperti ini sikapnya enggak berubah, dan menghubungi aku kalau perlu dan ada maunya saja, sekarang sadar diri saja, semua orang, kalau emang ini adalah sebuah alasan yang membuat agak berlebihan kepada Irfan, tapi sikap berlebihanku, masih di jalan Allah, dan di jalan yang benar, karena aku juga, bukan termasuk golongan orang, yang mendewakan manusia berlebihan hingga melupakan Allah, aku hanya butuh kasih dan sayang, yang secukupnya”
Dengan keadaan emosi aku ambil Hp di sebelahku dan langsung menulis kata – kata kasar kepada Riska yang aku kirim ke whatsappnya.
“Jangan kamu pikir kamu adalah boneka dengan gaya kamu yang sok sibuk di hp hahhhhhhhhhhhh, mikir dong pake otak yah, orang kalau lagi wa dengan keadaan lagi galau, susah, lagi stress, kamu Cuma baca doang, hahhhhhhhh mau buat apa lagi susah kamu anjinggggg, enggak ada pulsa, karena sibuk udah rumah tangga, orang suami istri aja kok nikahnya aja baru udah kayak apaaann yah sombong, dan Cuma ada maunya, hahhhh, banting aja Hpnya goblokkkkkk, kamu mau apa sebenarnya, di telepon enggak di angkat, sekalinya kalau telepon Cuma ada perlunya egonya sendiri, dan ada maunya, alasan apa sibuk udah punya suami, emang suami kamu siapa presiden anjinggggggggggg, orang kalau menghubungi kalau Cuma ada maunya saja, abis itu di tending, emang gitu yahhh, anjing kamu”, !!!!!
“Semoga kamu rasain apa yang aku rasain”, !!!!!
Puas sudah aku, melampiaskan, apa yang, aku rasakan, kepada orang yang mengaku sahabat dari kuliah tapi sahabat palsu, dan kemudian aku menaruh Hpku kembali di meja dekat tempat tidurku, aku menarik nafas, karena emosiku sedang meledak – ledak dan kemudian, aku menangis sejadinya, walau hanya di dengar oleh tembok.
Adzan maghrib terdengar sayup dari masjid, yang tidak jauh dari rumahku, dan jaraknya agak dekat, aku langsung mengambil air wudhu, dan melakukan sholat Maghrib, sehabis sholat Maghrib, Hpku berbunyi dan aku sudah tahu, kalau Irfan yang meneleponku, aku langsung mengangkatnya.
“Asalamualaikum”, suaraku dari seberang telepon terdengar habis menangis, juga campur emosi, Irfan yang memerhatikan hal itu dia langsung terdengar khawatir kepadaku, dan memerhatikan keadaanku, dia bertanya dengan cemas.
“Walaikumsalam”, jawab Irfan.
“Kamu kenapa Ri”, ? tanya Irfan cemas.
“Aku tadi abis hajar itu Riska yang terlalu angkuh tapi ngaku sahabat dari kuliah, dan rupanya memang orang yang tulus di dunia ini, enggak semua orang di ciptakannya”, jawabku singkat.
“Yah oke”, kataku mengakhiri pembicaraan dengan Irfan, dan kemudian aku mengganti baju, dengan kaos kemeja putih lalu celana hitam, dan menyisir rambut pendekku, yang lurus juga, setelah itu, aku menaruh Hp ke dalam tas, serta permen, untuk menghilangkan rasa suntukku, tidak lama kemudian, aku mendengar suara mobil di depan rumah, dan Irfan mengirim pesan whatsapp padaku.
“Rianti aku udah di depan”, kata Irfan.
“Oke aku keluar”, ! seruku membalas pesan whatsapp dari Irfan, dan kemudian aku membuka pintu pagar, mempersilahkannya masuk ke dalam rumah lebih dulu, untuk sejenak mengobrol dengan papa dan mama juga.
“Tadi aku enggak sengaja kepoin Instragram Tania sekaligus mamanya, Tante siapa namanya”, ? cerita Irfan singkat.
“Aku sengaja juga sadap akun mereka, minta tolong sama temanku yang bisa akan hal itu semua, yang waktu itu juga jadi host di acara Kebajikan”, Irfan melanjutkan ceritanya.
“Iyah tante Tami”, aku menanggapi penuh perhatian apa yang di katakannya.
“Kak Arya kan aku masih ingat sama dia kok”, kataku juga singkat.
__ADS_1
“Memang kenapa lagi Irfan”, ? sahut mamaku, papaku juga ikut ingin memerhatikan apa yang di katakana oleh Irfan kepada kita semua.
“Ini saya screenshot kata – katanya dia lagi kirim DM ke Desi juga”, kata Irfan dan di sana tertera jelas pembicaraan antara Tania dan Desi, yang juga menyebut nama Tante Tami.
“Kak Desiii, tadi yah aku baru ngobrol sama mama, masalah tuh orang tiga, udanh stroke belum tunduk – tunduk juga sama kita, dan sekarang mereka sudah tahu semua, kalau selama ini, apa yang aku rencanakan, bahkan reputasi aku juga bisa rusak, apapun caranya aku harus jadi orang yang terkenal, dan novel Rianti itu, enggak mutu, paling dia juga pansos sama Irfan”, kata Tania.
“Emang awal mereka ketemu gimana”, ? tanya Desi.
“Hah, sebenarnya aku sudah tahu, dan aku sudah lihat ada DM dari Irfan pertama di Instragram Rianti dulu itu, tapi aku sebarin ke orang lain, kalau Rianti yang hubungi dan ngejar – ngejar Irfan duluan, cukup Kak Desi saja yang tahu hal ini, dan sebenarnya, mamaku juga bilang, kalau terus dan menerus, emosi mereka meledak dan kita enggak punya akal buat melawannya, kita enggak bisa juga kuasai hartanya, kan lumayan orang tuanya juga punya banyak aset, dan kata mama nanti kita cari cara, agar Rianti itu biar juga jatuh dan tenggelam namanya sebagai penulis”,
“Yah oke, aku setuju, nanti kita kepoin aja apa recana mereka melalui Om Hasan, kan Om Hasan juga tinggal dekat situ”, balas Desi.
Mataku tidak percaya membuat semua kata – kata itu, dan emosiku meledak – ledak, rasanya di dalam hatiku, rasanya aku ingin berteriak sekaligus menangis sejadinya, dengan apa yang aku baca barusan saja tadi.
“Kamu juga jangan pernah apapun kamu lagi galau kayak apa, jangan pernah hubungi fans aku, kalau ada dari mereka hubungi kamu, blokir saja, dan sebenarnya aku enggak setuju, walau kamu tukeran nomor dengan Mira waktu kita makan bersama di Ancol, mereka enggak jauh beda dengan keluarga kamu, apalagi Elin, dia bisa jadi dalang semuanya, dan sebenarnya apa yang terjadi waktu penipuan jumpa fans aku dulu, aku tahu ada Mira di belakang aku, dan Elin itu berpura – pura menjadi orang yang akan bantu aku, untuk mengadakan jumpa fans tapi sebenarnya uangnya di makan dia sendiri, bahkan di transfer sebagian ke Mira”, cerita Irfan singkat.
“Tania itu juga kenal dengan Elin, dan wartawan nakal teman Mira itu, adalah teman Elin juga, jadi Tania kenalnya melalui Mira, dan kemudian Elin, namanya Yudi”, kata Irfan melanjutkan kata – katanya.
“Aku juga sama masuk perangkap buaya, bukan kamu juga”, kata Irfan lagi.
“Tapi fans gila itu, ke rumah kamu enggak, maksudnya sering ke rumah enggak Fan”, ? tanya papa.
“Dulu emang pernah ke rumah, tapi sekarang udah enggak pernah, karena pada akhirnya saya tahu papa Anggoro, niatnya ke rumah, untuk apa, foto dengan saya, agar bisa dapat komentar banyak dan pengikut banyak di Instragram Mira, dan saya tahu, Mira akan mendapatkan uang banyak kalau pengikutnya banyak, dan orang kenal dia sebagai fans lovers saya”, jawab Irfan jujur.
“Astragfirullohhhh”, timpal mamaku.
“Ri, kamu untuk sementara mama punya feeling, jangan ke rumah Irfan dulu”, kata mamaku.
“Irfan untuk sementara, kalau Rianti butuh apa – apa, biar kamu saja yang ke sini, dia jangan ke rumah kamu dulu, atau banyak – banyak keluar rumah, juga, mama Reina yakin, kalau ke rumah kamu, Rianti akan di mata – matai oleh fans kamu juga, dan bisa saja kerjasama dengan keluarga kita juga”, naehat mamaku pada Irfan.
“Iyah ma”, kataku menurut.
Pada akhirnya, kami berangkat ke lokasi syuting, dan pada saat break syuting, aku dan Irfan seperti biasa, mengobrol di Starbucks Coffee, tentang masalah kami berdua, yang semakin pelik, bahkan sudah semakin mengusik urusan hidup kami berdua, juga, dan mau memecah belahnya juga.
Es kopi latte yang berada di depanku, masih terisi penuh, aku masih merasa pikiranku kacau dengan kata – kata Desi dan Tania yang aku baca baru saja tadi, hingga Irfan menegur aku.
__ADS_1
“Sebentar lagi waktu break selesai, kamu minum tuh kopinya”, tegur Irfan.
“Aku masih enggak nyangka akan ini semua”, kataku bergumam.