
Setelah persetujuan Herman dan Haidar. Reno dan Langit kini harus berusaha membuat Naisya dan Arimbi jatuh cinta pada mereka. Gabe yang belum tahu karena ia tidur cepat tentu sangat galak pada dua pria yang mendekati dua anak gadisnya itu.
"Mau ngapain kamu?" tanyanya.
"Kami ingin menyatakan cinta pada Nona Nai dan Nona Arimbi," jawab Reno polos.
"Pergi kalian!" usir Gabe.
"Kami sudah minta ijin dari ayah," jawab Langit.
"Ayah!" panggil Gabe. "Ayah!"
Pria itu berteriak memanggil pria tua itu. Herman tengah meminum kopinya.
"Ayah!"
"Apa sayang?"
"Apa benar, Langit dan Reno diberi ijin deketin anak-anak perempuanku?" tanya Gabe.
"Duduklah sayang," pinta Herman lembut.
Gabe langsung minta pangku. Herman tentu memarahi pria besar itu.
"Kau pikir kau Harun apa!"
"Ayahku sayang ... aku kan jarang dimanja Ayah," rengek Gabe.
Pria besar itu benar-benar duduk di pangkuan Herman. Gabe memeluk sedemikian rupa pria tua itu dan mencium ketiaknya.
"Ayah ... Ayah kenapa harum sih?" tanyanya.
Herman menghela napas panjang. Ia mengelus punggung Gabe dan mencium keningnya.
"Sayang, Ayah dan adik iparmu akan menikahkan Baby Nai dan Baby Arimbi dengan Langit juga Reno," jawab pria itu.
"Apa nggak ada pria lain?" tanya Gabe makin mengeratkan pelukannya.
Terra, Seruni, Aini, Maria dan Widya datang langsung membelalakkan mata melihat Gabe dipangku oleh Herman. Terra mendekati mereka dan menyingkirkan kakaknya.
"Kakak awas!"
"Apa sih!" sahut Gabe tak mau kalah.
"Ayah!" rengek Terra.
"Aku jarang sama Ayah ... kau memonopolinya!" ketus Gabe.
Bart datang bersama Virgou, Frans dan Leon juga Dominic. Mereka juga ikut marah-marah.
"Astaga!" Gabe malah memeluk pria itu erat.
"Sayang," pinta Herman. "Ayah pahanya udah kesemutan!"
Gabe akhirnya turun dari pangkuan pria tua itu. Terra langsung menggantikan kakaknya. Herman hanya bisa menghela napas panjang.
"Sudah ya sayang," ujar Herman setelah lima menit memangku Terra.
"Daddy!" teriak Aini. "Sayang!"
Semua menoleh, Aini membawa alat kecil di tangannya. Gio yang tengah menyuapi Maryam, Al dan El Bara terkejut dengan teriakan istrinya.
"Aini hamil!" pekik wanita itu lagi.
"Alhamdulillah!" seru syukur semuanya.
"Gisel juga," cicit Gisel.
"Apa sayang?" tanya Budiman tak percaya.
__ADS_1
"Fathiyya akan punya adik lagi sayang," jawab Gisel lemah.
"Alhamdulillah!" Budiman langsung memeluk dan mencium istrinya.
"Baba!" teriak semua anak.
"Apa?" sahut pria itu usil.
"Baba janan syium-syium Bommy!" larang Al Fatih.
"Bommy milit atuh!"
"No Ata' ... ilit atuh!" sahut Arsh memonopoli.
Jika Arsh sudah berbicara, maka semua akan menurut.
"Baba!" pekik Zaa, bayi Frans.
"Hai cantik, kamu mau sama Baba?"
Bayi tiga bulan itu sudah menggeliat ingin diangkat oleh Budiman. Nisa juga tak mau kalah. Budiman menggendong keduanya dengan mudah.
Sedangkan Azizah tengah menjemur Baby Chira dan Baby Aarav. Wanita itu mengusap-usap kaki kecil bayi itu ke perutnya.
"Biar nular," cicitnya geli.
Rion memeluk istrinya dari belakang. Pria itu mengecup tengkuk istrinya. Ia memang sangat menginginkan kehadiran seorang anak dari kandungan istrinya. Tetapi rupanya, kakak sepupu atau Gisel dan Aini terlebih dulu yang hamil.
"Kita bersabar saja sayang," ujarnya.
Azizah mengangguk, lalu ia melihat sepuluh adiknya. Ia baru sadar, jika semua adiknya masih butuh dirinya.
"Mas, kalo aku berhenti kerja boleh nggak?" tanya Azizah.
"Kenapa sayang?" tanya Rion.
"Aku ingin fokus merawat adik-adik, selama ini Adiba yang mengurus semuanya," jawab Azizah.
Azizah mengangguk, ia sudah memutuskan untuk fokus merawat semua adiknya dan menjalankan program hamil. Wanita itu juga merindukan suara bayi yang keluar dari perutnya.
"Sayang," Rion mengecup tengkuk istrinya lagi, kali ini sedikit menggigitnya.
"Sayang, ada dua baby loh!" peringat Azizah lembut.
"Berikan pada ibunya sayang. Aku sedang ingin," bisik Rion dengan napas menderu.
Mau tak mau Azizah memberikan dua bayi tampan dan cantik itu ke tangan Seruni. Rion langsung menarik tubuh istrinya dan naik ke lantai dua di mana ruang tidur mereka. Haidar hanya menggeleng melihat bayi besarnya itu.
"Addy!" pekik Arsh pada Dominic.
"Hai bayi ... kau marah-marah melulu. Apa kau darah tinggi?" sahut pria itu.
"Daddy!" peringat Dinar.
"Bibu ... hiks ... hiks!" Arsh mencebik-cebikkan bibirnya.
"Sini sayang, sama Bibu sini," Dinar merentangkan tangannya.
Arsh langsung mendatangi Dinar dan memeluk wanita bertubuh tambun itu. Seruni datang bersama dua bayi, Dominic membantunya dan meletakkan Aarav dan Chira di sana.
"Sayang, Aliyah sedang apa?" tanya Dinar.
"Ada sama Papinya," jawab Seruni sambil tersenyum.
Sementara itu. Langit dan Reno kembali memulai aksinya mendekati dua gadis yang telah memikat hati mereka.
"Nona," panggil keduanya kompak.
Baik Arimbi dan Nai sama-sama merona. Dua pemuda tampan dan rupawan mendekati mereka.
__ADS_1
"Kak," sahut mereka.
"Kami sudah mendapat ijin," ujar Reno tanpa basa-basi.
"Ijin apa?" tanya Arimbi polos.
"Ijin menikahimu," jawab Reno begitu lembut dan menatap Arimbi penuh cinta.
"Benar sayang, aku juga dapat ijin itu," sahut Langit menatap Nai penuh binaran cinta.
Baik Arimbi dan Nai langsung menunduk, Nai merangkul lengan bu'leknya. Arimbi menenangkan keponakannya itu.
"Kakak-kakak tampan, boleh kami lewat dulu," ujar Arimbi dengan suara halus.
Keduanya menyingkir, Sean tengah melintas mendekati mereka.
"Kak Langit sama Kak Reno ngapain di sini?" tanyanya dengan kening berkerut dan mata yang tajam.
Rupanya Reno dan Langit lupa. Jika pria posesif bukan hanya para ayah tapi juga seluruh saudara laki-laki kedua nona mudanya.
"Kean, Cal. Sat, Al, Daud!" teriak Sean.
Remaja itu langsung menyembunyikan Arimbi dan Nai di belakang tubuhnya. Para remaja berdatangan.
"Ada apa?" tanya Kean.
"Lihatlah, dua pria ini mencoba mendekati saudari kita," tunjuk Sean dengan dagu mengarah ke Langit dan Reno.
"Punya apa kamu?" tanya Satrio dengan tatapan membunuh.
"Sat," peringat Arimbi.
"Kalian ke ayah sana!" perintah Calvin tegas pada Nai dan Arimbi.
Kedua gadis itu menurut, Calvin jarang bicara. Tapi. remaja itu sangat galak jika sudah menyangkut Keluarganya.
"Apa kita beri dia tantangan?" tanya Al.
"Gobak sodor?" sahut Daud.
"Boleh!" sahut Satrio dengan seringai menyeramkan.
Langit dan Reno menelan saliva kasar. Kini tim bodyguard dan tim tuan muda saling berhadapan. Gabe, Demian dan Jac menjadi wasit garis.
"Ata' Ean ... hajal laja Ata' Mamit pama Ata'Pleno!" teriak Arsh memprovokasi.
"Ayah," Nai dan Arimbi khawatir.
"Sayang, biarkan mereka ya," ujar Herman tertawa senang.
"Tim kita yang jaga!" sahut Kean.
"Baiklah," seringai Satrio.
"Mulai!" teriak Demian.
Reno dan Langit harus membongkar pagar pemula yang dijaga oleh Daud. Pria yang lebih lembut dari seluruh saudaranya. Tidak ada yang tau bagaimana kekuatan dokter jantung termuda itu.
Langit bergerak menipu, Daud ikut bergerak. Reno melihat celah. Pemuda itu melangkah.
"Ata' Pleno janan sulan!" pekik Al Bara.
"Tap!" Daud menepuk bahu Reno.
"Kakak keluar," lanjut Daud dengan seringai menyeramkan.
Bersambung.
Oho ... kekuatan para remaja diperlihatkan sekarang.
__ADS_1
Ayo Pleno dan Mamit! 😅ðŸ¤
next?