
Rion terbangun tengah malam, pria itu bermimpi buruk. Keringat dingin mengalir di tubuhnya. Azizah yang tertidur ikut terbangun melihat suaminya seperti kebingungan.
"Mas Baby?"
"Sebentar sayang," Rion turun dari ranjang melihat benda bulat di dinding.
"Sudah jam tiga dini hari," gumamnya.
"Mas Baby mau kemana?" tanya Azizah melihat suaminya keluar kamar.
Rion menuju kamar anak-anak terutama ke kamar Lana. Pria itu masuk dan mengecup salah satu adiknya itu, lalu beranjak menuju kamar Lino dan Leno. Rion melakukan hal yang sama.
"Papa nggak akan membiarkan kalian lepas dari Papa. Tapi jika benar-benar mimpi ini kenyataan. Papa nggak tau harus apa sayang," ujarnya lirih sambil mengusap kepala dua bocah tampan itu. Di sana juga ada Amran dan Alim. Rion mencium keduanya juga.
Ia kembali ke kamar, Azizah sudah bersiap untuk shalat tahajud. Wanita itu kini melakukan ibadah sunahnya dengan khusyuk. Tak lama Rion menyusul istrinya untuk shalat.
"Mas Baby kenapa tadi?" tanya Azizah usai shalat.
Kini keduanya duduk berduaan di atas sajadah. Rion menatap istrinya, ia takut menceritakan mimpi yang baru saja ia dapatkan.
"Mas, cerita sama Azizah. Siapa tau itu hanya mimpi buruk," ujar wanita itu.
"Sayang ... aku bermimpi triple eL diambil oleh ayahnya ... ayahnya kembali sayang," ujar Rion lirih.
Azizah terdiam, ia menggeleng tak mau percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Wanita itu jadi menyesal menanyakan perihal mimpi sang suami.
"Itu ... itu hanya mimpi buruk sayang," ujar Azizah menenangkan dirinya juga suaminya.
"Tapi jika benar bagaimana?" tanya Rion.
"Aku nggak mau kehilangan triple eL," lanjutnya.
"Tapi jika ayah kandungnya datang, kita tak bisa melakukan apa-apa Mas," sahut Azizah lirih.
Rion menggeleng, ia berharap apa yang terjadi dalam mimpinya hanyalah mimpi buruk.
Pagi menjelang, semua sibuk pergi ke sekolah. Sean kali ini mengantikan Rion menjabat sebagai kepala perusahaan. Remaja itu tentu dapat masuk dengan mudah karena dulu juga ia sempat menjadi wakil dari Rion.
"Yang ngantar adik-adik siapa Ma?" tanya remaja itu.
__ADS_1
"Ada Mommy sayang," sahut Maria.
Sean mengerucutkan bibirnya, ia memang paling malas bekerja di sebuah perusahaan. Tetapi melihat kakak panutannya duduk dengan wajah pucat membuat ia akhirnya pergi juga bersama ayah dan tiga pengawalnya.
Langit dan Reno menjaga tuan mudanya masing-masing. Langit yang menjadi bodyguard Satrio, sedang Reno menjadi bodyguard istrinya sendiri.
"Ma, Langit pergi dulu ya," ujar pemuda itu mencium punggung tangan Terra.
"Hati-hati sayang," ujar Terra.
Nai pun mencium pipi ibunya lalu ikut pergi bersama suaminya. Lino, Lana dan Leno sudah berangkat usai sarapan bersama semua adik-adik Azizah.
Arion dan Arraya, bermain bersama Maryam, Arsyad dan lainnya. Semua bayi tetap dititipkan pada Terra.
"Ma ... kalau tiba-tiba Ayahnya Triple eL datang bagaimana?" tanya Rion tiba-tiba.
Terra menatap putranya yang tadi baru saja memuntahkan semua sarapannya. Bayi besar itu tak bisa masuk makanan apapun, hal itu membuat semua orang sedih. Nai sudah memberi obat anti mual pada kakak panutannya itu.
"Kenapa kamu tanya begitu Baby?" tanya Terra heran.
"Ion mimpi ayah tiga eL datang," jawab Rion lesu.
Terra mengelus wajah putranya. Dua tahun mereka merawat tiga anak itu semenjak ibu mereka meninggal.
Sementara itu, sosok pria kurus dengan wajah sedih menatap gundukan tanah. Pria itu mengusap nisan bertuliskan nama istrinya.
"Maafkan Ayah, Bu ... maafkan Ayah," ujarnya lirih.
"Pak, cepetan!" teriak seorang perempuan dengan pakaian bagus sangat tidak seimbang dengan apa yang dipakai pria itu.
"Iya Bu," ujar pria itu.
Wanita itu berjalan cepat sambil mengangkat dagunya. Pria itu berjalan perlahan sambil sesekali melihat arah makam.
Santo, dua puluh delapan tahun. Dinyatakan hilang ditelan gelombang laut ketika ia menjadi nelayan. Sesungguhnya, pria itu memang pergi melaut tetapi membelokkan arah layarnya menuju pulau lain.
Santo tak tahan hidup di bawah garis kemiskinan dengan tiga anak kembar. Ia pergi meninggalkan istri dan tiga anaknya yang saat itu belum berusia satu tahun.
Santo bekerja serabutan dan bertemu dengan wanita yang kini jadi istrinya. Wanita kaya raya yang menyakupi semua hidupnya. Santo pun menerima wanita itu ketika hamil entah dengan siapa.
__ADS_1
"Ayo cepat!" teriak wanita itu.
"Sabar Bu!" sahut Santo tak kalah tegas.
"Oh ... berani ya ... bentak aku!" sahut wanita itu langsung menatap suaminya penuh kebencian.
"Diam lah! Ingat, bukan aku yang menghamilimu!" bisik Santo mulai berani.
Jika sang suami berkata demikian, wanita itu diam seribu bahasa. Santo sudah bilang dari awal jika ia sudah memiliki istri dan tiga anak.
"Jadi anak saya sudah diangkat anak oleh Tuan Triatmodjo?" tanya Santo ketika ada di rumah kepala desa di mana almarhum istrinya tinggal.
"Benar Pak, waktu itu ada pengobatan gratis, Lana, Leno dan Lino mendatangi tempat itu. Ibu mereka sakit keras dan meninggal dunia keesokan harinya," jelas kepala desa.
Santo merasa bersalah, pria itu mengucap terima kasih setelah mendapat alamat di mana tiga anaknya berada.
Dengan menggunakan mobil sedan keluaran terbaru. Delia begitu angkuh menaiki mobil itu. Santo menjadi supirnya, wanita itu enggan duduk di sisi sang suami.
Hingga ketika mobilnya masuk ke kawasan elit. Matanya membelalak melihat deretan rumah-rumah mewah yang berjejer rapi. Santo membelokkan mobilnya ke sebuah jalur khusus. Tembok-tembok tinggi menjulang dengan kawat berduri di atasnya. Beberapa ada dijaga ketat oleh petugas berpakaian khusus. Mobil itu masuk ke sebuah gerbang berpagar hitam tinggi menjulang.
"Selamat siang Bapak, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu penjaga dengan wajah yang sangat tampan.
Delia sampai menganga melihat ketampanan pria yang berdiri di sisi mobilnya.
"Saya adalah ayahnya Lana, Lino dan Leno," jawab Santo.
Pria yang berdiri di depan sempat terdiam. Lalu ia menyuruh pria itu untuk menunggu sebentar.
Tak lama gerbang hitam itu terbuka. Mobil berjalan perlahan, pemandangan hijau dan bunga-bunga cantik dan indah dengan pot-pot besar. Di sana ada jejeran taman anggrek yang sangat cantik. Belum lagi berbagai tanaman daun yang memiliki harga ratusan juta rupiah.
Delia menelan saliva kasar, ia mengira jika akan berkunjung ke sebuah keluarga sederhana. Tetapi, kini ia menginjakkan kakinya di lantai Marmer Sisilia Diaspro, batu marmer langka dan harganya sangat mahal. Delia sangat mengenal semua barang-barang mewah.
"Pasti palsu," gumamnya.
"Itu asli Nyonya!" sebuah suara tak bersahabat menyapanya.
Sosok wanita yang berpakaian sederhana, Delia bisa menilai jika harga pakaian dari wanita yang menyambut mereka tak lebih dari lima ratus ribu.
"Ck ... yang nyambut babu," cibirnya lirih pada Khasya.
__ADS_1
bersambung.
Next?