
Semua keluarga berkumpul, mereka tidak berencana kemanapun. Hujan kadang deras dan berhenti.
"Moga-moga nggak banjir," ucap Affhan ketika melihat prakiraan cuaca.
'Aamiin, tapi mungkin tidak di daerah-daerah tertentu," sahut Satrio.
Semua hening. Anak-anak sudah berhenti main. Hujan dari tadi pagi membuat semua memilih tiduran di lantai yang dingin.
"Azlan minggir dulu sayang. Papa mau gelar karpet dulu,"
Haidar dan Budiman serta Gio membawa karpet. Anak-anak berdiri dan membantu ayah mereka. Setelah karpet digelar. Semua memilih menghadap pintu teras belakang yang terbuat dari kaca. Hingga pemandangan air yang turun dari langit itu terlihat jelas.
"Hujan ... adakah rindu tercipta di antara rintik yang jatuh?" tiba-tiba Ajis berpuitis.
Semua memilih menyimak syair yang dikumandangkan oleh Ajis.
"Kemanakah air mengalir jika langsung masuk ke tanah?"
"Subun don Ta'," celetuk Al Bara menjawab.
"Ssshhh!" semua menempelkan telunjuknya pada bibir ke arah bayi itu.
"Atau hanya membuat tanah basah dan berlumpur, lalu kami harus bersih untuk menghilangkan noda itu," rupanya Ajis tak mengindahkan kata-kata Al Bara.
"Hujan ...."
"Pit ... pit ... pit punyi jujan pilatas tentin ...."
Maryam melanjutkan puisi Ajis dengan lagu anak-anak. Ajis melipat bibirnya ke dalam bocah itu dari tadi menahan tawa semenjak Al Bara menyahutinya.
"Aina pulun pidap lepila ... pobalah nenot, Pahan lan pantin, bohon pantepun pasah peumua!" lanjut Maryam.
Arsh tiba-tiba maju ke depan semua orang. Bayi itu tiba-tiba berjoged lalu bernyanyi.
"Lip ... lip ... lip nyi enjan tas-tas entin ... awil wuwun ... dat lelia ... palah enot wawan amamtin ... wowon mbunun sah muamua!"
Splash! Satu kilat tiba-tiba membelah angkasa. Arsh melompat dan langsung memeluk Deta yang paling dekat.
Jelegar! Bunyi petir setelah kilat menyambar. Arsh menangis karena kaget. Deta memenangkannya.
"Huawaaa!"
"Ssshhh ... astagfirullah!" Deta menggoyang Arsh dan mendekapnya erat.
Widya mengulum senyum. Ia membiarkan putranya dan berharap jika Arsh belajar.
Kini semua memilih diam sambil menikmati rintik hujan. Air masih saja setia membasahi bumi. Mansion Virgou jadi hangat karena mereka berkumpul di satu ruangan.
"Ayo makan bakso!" seru Aini, Putri dan Saf.
"Holeee!" seru anak-anak senang.
Semua makan dengan lahap. Perut mereka yang dingin menjadi hangat karena makanan panas itu.
"Nat Muma!" puji Arsh.
"Makasih Baby," sahut Saf.
"Kan Mama dan ibu juga buat Baby," protes Putri.
"Piya Mbu, Mama ... Uma .. imi enat!" puji Arsyad.
"Uma masih ada nggak?" tanya Kean.
"Ada ... tapi buat sendiri ya," ujar Saf menjawab.
Kean mengangguk, remaja sembilan belas tahun itu bergegas pergi ke dapur dan membuat sendiri racikan baksonya.
__ADS_1
Semua pengawal sudah dapat. Gio yang mengantarkan untuk mereka. Selesai makan bakso, semua memilih tidur siang.
"Kita nggak kemana-mana tahun baru?" celetuk Budiman.
"Kau mau kemana?" tanya Bram mendengkus.
"Kak, kita bangun tenda dalam ruangan ini sama pake lampu LD api unggun di tengah-tengah gimana Kak?" tanya Budiman memberi ide.
"Ide yang bagus itu. Kalo aja nggak ujan, kita akan barbague beneran," sahut Virgou.
"Aku ke mall beli makanan ringan deh!" sahut Langit.
"Ikut!" ucap Nai.
"Ayo sayang," ajak Langit.
Nai menggandeng suaminya. Ia mencium ibu dan ibu mertuanya.
"Reno, Arimbi. Sama saudaramu sana!" titah Virgou langsung.
"Baik Dad!" sahut Reno semangat.
Arimbi sebenarnya sedikit malas. Reno sampai membujuk istrinya akan membelikan apa yang ia mau di sana.
"Beli sate bebek, ayam dan sate kambing ya," pinta wanita itu.
"Iya sayang" ujar Reno.
Lalu mereka berempat pun pergi ditemani dua pengawal yang lain.
Para wanita memilih memasak banyak. Semua bahan dikeluarkan dari kulkas mengingat mereka memang tidak ada yang pergi keluar.
"Ah ... hujan lagi?" ujar Sari ketika melihat luar dapur.
"Hmmm, tapi nggak sederas tadi," ujar Layla.
"Mie goreng sama sup bakso aja. Kan tadi pada seneng makan bakso," jawab Terra.
Sedang di ruangan semua anak masih tertidur. Para laki-laki menyiapkan peralatan kemah di ruang tamu, mengingat memang tidak ada tamu.
"Gorengan datang!" seru David membawa singkong goreng.
"Nah ... gitu dong!" seru Virgou yang langsung mencomot makanan yang masih mengeluarkan asap itu.
"Uh ... panas!" keluhnya sambil meniup tangannya.
"Pake garpu Kak," David menyerahkan garpu.
Gabe telah memasang tenda bersama Remario dan Andoro. Luisa membawa banyak bantal dibantu Khasya, Kanya, Leni, Mia, Sriani dan Nania.
"Ini kasurnya!" Gio, Felix dan Hendra menenteng kasur dengan dua tangannya.
Kasur-kasur itu diletakkan di dalam tenda lalu diberi bantal. Di luar tenda, Gomesh memasang batu-batu hias dan menyalakan lampu LD yang juga bisa membuat suhu ruangan hangat.
"Nah udah kek ngemping kan kita!" seru Gabe bertepuk tangan meriah.
"Ah ... enak!" Frans merebahkan dirinya di kasur yang ditata di luar.
"Dad, nggak mau singgor?" tawar Virgou menyuapi Frans.
"Aku mau!" Leon menyambar makanan yang ada di tangan keponakannya itu.
"Hei ... itu punyaku!" sungut Frans.
"Addy ... Alsh nton anah?" tanya bayi super galak itu.
"Ini Baby, Grandpa Leon yang habisin!" adu Virgou tentu bohong.
__ADS_1
"Eh ... mana ada!" seru Leon sengit.
"Empa ... no, no, no!" geleng Arsh sok bijak sambil menggoyang telunjuknya.
"Baby, masih banyak kok," ujar Lidya lalu membawa satu piring besar berisi gorengan.
"Alsh au nton Mama!" pinta bayi itu layaknya boss.
"Hei ... bayi ... kau mau apa?" goda Demian.
"Papa ... beluchusunf emehsbbhwbdbhsuauaususisusus!" pekik Arsh marah sambil monyong bibirnya.
"Paypi!" peringat Della.
"Dia ngomong apa?" tanya Demian gemas.
"Untung aku tidak tau bahasamu bayi!" lanjutnya tetap mengganggu Arsh.
"Papa ja ...."
Dugh! Adoooww! teriak Demian sampai berjingkat-jingkat memegang tungkai keringnya.
Arsh berkacak pinggang. Bayi itu baru saja menendang tulang kering Demian. Jac nyaris terbahak, sebelum ia mendapat tatapan horor dari Lidya.
"Tuh tan ... Papa syih dodain Paypi!"
Della menghela napas. Lidya ingin melihat bagaimana bayi cantik itu mengobati luka orang. Ia merasa jika Della sebagai penerusnya.
"Syatit Papa?" tanya Della sambil mengelus kaki Demian.
Pelaku utama memilih pergi, setelah mengambil pastel yang memang diperuntukkan bayi.
"Papa syih ... Alsh badahal pudah pilan janan doda janan doda!"
"Papa kan nggak ngerti Baby!" rengek Demian manja pada Della.
"Jangan bertingkah Demian!" sungut Bart kesal bukan main.
"Grandpa!" panggil Lidya lembut.
Bart berdecak, sedang yang lain membiarkan semua drama berlanjut.
Langit akhirnya pulang membawa banyak belanjaan. Makanan ringan dan air soda. Widya memarahi pria itu.
"Mom, nggak enak kalo cuma ngombe banyu putih ae!" saut pria itu menjawab gerutuan Widya.
"Jangan kasih Baby!" peringat Widya.
"Ommy ndat syasyit!" sahut Arsh kesal.
Malam pun berlalu, mereka menunggu hari di mana tahun sebentar lagi berganti.
"Happy new year!"
bersambung.
Selamat tinggal tahun 2022.
Selamat datang tahun 2023.
semoga semua harapan dan cita-cita tercapai di tahun baru dan membuat semua lebih baik lagi.
Aamiin.
Othor sekeluarga mengucapkan selamat tahun baru Masehi 2023.
Next?
__ADS_1