
Rion dan Azizah sudah berada di ruang rawat adik mereka. Azizah menangis menciumi sang adik yang masih terpejam. Layla dan Juno masih berada di sana.
"Ajis mana Om?" tanya Azizah sesenggukan.
"Tadi dibawa oleh Nona Lidya makan siang Nyonya," jawab Juno.
Layla juga tak berhenti mengusap air matanya. Dirinya saksi bagaimana Adiba begitu ditekan oleh Naslimah. Gadis itu disalahkan dengan semuanya. Bahkan Adiba disalahkan jika Ustadzah Naslimah sampai dikeluarkan dari pesantren.
"Bu ... bisa diceritakan apa yang terjadi?" pinta Rion.
Mereka kini berada di kantin. Putri tadi menyuruh mereka keluar dan membiarkan Adiba beristirahat dengan tenang.
"Adiba ditekan sedemikian rupa oleh Ustadzah Naslimah. Saya sudah melindungi gadis itu dan meminta dia keluar ruangan. Tetapi ternyata kata-kata dari Ustadzah Naslimah telah meracuni otak anak malang itu!" cerita Layla.
Azizah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pantas saja muka sang adik pucat ketika pergi ke sekolah tadi pagi.
"Adiba sudah menolak ikut perlombaan itu. Tetapi rupanya pihak televisi kembali menghubungi sekolah dan diterima oleh Ustadzah Naslimah sendiri," lanjutnya terus menghapus air matanya dengan tisu.
"Padahal pihak televisi sebelumnya telah menelepon istri saya. Saya sudah menolaknya tegas. Kami tidak tau ternyata ada pihak lain yang menghubungi sekolah Adiba," ujar Rion.
"Tuan, maaf. Adiba sekarang butuh dukungan kita. Anak itu disalahkan dan pasti akan merasa bersalah jika benar Ustadzah Naslimah dikeluarkan dari pesantren," pinta Layla.
"Tentu Bu, kami tentu akan selalu mendukung keluarga kami, jangan khawatir itu!" sahut Rion menenangkan Layla.
"Sekarang kita makan dulu. Kita tak mungkin bisa mendukung Adiba jika perut kosong!" suruh Rion.
Mereka akhirnya makan, walau tidak bernapsu. Tetapi, perut harus diisi jika tidak mereka yang akan tumbang nantinya.
Terra, Virgou dan Bart datang ke rumah sakit. Bart mencium kening Adiba penuh kasih sayang.
Ajis sudah diantar pulang oleh Felix ke rumah Terra. Bocah malang itu juga sedih melihat kakaknya yang pingsan. Tadinya Ajis ingin melihat keadaan sang kakak tapi Lidya melarangnya.
"Nanti ya, kalau kakak sudah baikan," ujarnya menenangkan bocah laki-laki itu.
"Berat sekali hari ini kau lalui Nak," sahutnya pelan.
Perlahan Adiba mengerjapkan matanya. Ia melihat samar orang-orang di sekelilingnya.
"Apak ... Amak!" panggilnya.
Azizah nyaris menangis. Rion langsung memeluk istrinya. Terra dan Virgou sedih. Ponsel pria sejuta pesona itu berdering. Ia pun melihat siapa yang meneleponnya.
"Aku keluar sebentar," ujarnya pelan.
Terra mengangguk. Virgou keluar, Gomesh yang meneleponnya.
"Tuan, wanita itu sudah dipecat dan dicoret ijazahnya, ia dilarang mengajar seumur hidupnya!" lapor raksasa itu.
"Bagus. Bagaimana dengan televisi itu?" tanya Virgou.
Mereka menandatangi kontrak tidak akan mengungkit kejadian ini. Tuan Muda Baby sudah menekan mereka. Atas dasar kemanusiaan, Tuan Baby melepas mereka," jawab Gomesh di sambungan telepon.
__ADS_1
"Ya sudah, jika Baby sudah memutuskan begitu. Walau aku sedikit kecewa, ingin kucabut ijin siaran televisi itu!" dumalnya.
"Beli saja sahamnya Tuan lalu kita bagi secara gratis. Itu menurunkan nilai perusahaannya," ide Gomesh begitu brilian.
"Lakukan Gomesh. sayang kita tak bisa membakar saham itu!" tukasnya kesal.
Haidar datang bersama Darren, Gabe dan Budiman. Darren langsung memeluk pria sejuta pesona itu manja.
"Daddy," Virgou tentu langsung memeluk pria itu dan mengecup keningnya.
"Ish ... nggak tau malu!" ledek Gabe iri.
Darren tak peduli, Rion keluar dan melihat kakaknya bermanja dengan Daddy-nya tentu langsung mendorong Darren.
"Sana!" giliran dia yang bermanja dengan Virgou.
"Hei ... ada Papa di sini!" sengit Haidar kesal.
"Hei ... kenapa kalian malah ribut dan manja-manjaan!" ketus Budiman mencibir.
"Kita mau jenguk Adiba!" lanjutnya.
Rion meledek Budiman. Pria itu memencet hidung bayi besar itu hingga meringis.
"Daddy!" adunya.
"Bud!" peringat Virgou.
"Hei ... kenapa kalian malah ribut!" giliran Haidar mulai kesal.
Mereka akhirnya masuk. Adiba kini berada dipelukan Terra. Gadis kecil itu menangis.
"Ini bukan salahmu sayang. Tapi, ibu itu yang mencari masalahnya sendiri," ujar Terra menenangkan Adiba.
"Nak, lihat Mama!"
Terra mengurai pelukannya, ia menakup pipi Adiba menatap sirat mata putus asa gadis malang itu.
"Adiba bisa melawan Ibu Naslimah karena merasa benar kan?" gadis itu mengangguk.
"Apa yang terjadi pada Bu Naslimah bukan lah kesalahan Adiba. Tetapi, ibu itu sendiri yang menggali lubangnya hingga terperosok ke dalam," ujar Terra.
"Tapi Adiba kan harusnya menolong Ma," sahut Adiba.
"Oh ... sayang. Kau baik hati sekali," sahut Terra mengecup anak gadis tanggung itu.
"Lubang itu tadinya diperuntukkan pada dirimu, sayang. Ia mau menguburmu dalam-dalam. Sayangnya, kau melawan. Maka dialah yang tercebur," lanjutnya.
"Jadi Ma ... bukan Adiba kan yang mendorong Ibu Naslimah ke lubang itu?"' tanya Adiba sambil terisak.
"Bukan sayang ... dia lah yang menenggelamkan dirinya pada lubang yang ia ciptakan sendiri," tekan Terra.
__ADS_1
"Hiks ... hiks ... Mama ... hiks .... huuuuu ...," Adiba menangis.
Terra memeluknya erat. Ia mencium pucuk kepala anak gadis itu penuh kasih sayang. Adiba masih tiga belas tahun, belum banyak ilmu kehidupan yang dijalani gadis itu. Azizah ikut memeluk Terra. Sebagai kakak, ia sudah memberi pengertian pada adiknya.
"Kak," panggil Adiba.
"Iya sayang," sahut wanita itu.
"Adiba lapar," cicit gadis tanggung itu.
"Kakak ambilkan makanan ya," ujar Azizah.
"Nggak mau. Mau sate ayam," rengek Adiba.
"Iya, Daddy belikan ya," sahut Virgou.
"Makasih Daddy,"
"Sama-sama sayang," ujar Virgou.
Usai makan, Adiba diminta istirahat. Ia masih harus dirawat inap. Rion membawa pulang istrinya, Putri yang menjaga gadis kecil itu. Sebagai perawat dan asisten Lidya Putri yang mencatat semua perkembangan psikis dari Adiba.
Malam telah, larut. Satrio mendatangi rumah sakit di mana Adiba dirawat. Remaja itu baru datang dari luar kota. Ia langsung bergegas ke rumah sakit setelah gadis kecil yang ia tunggu jatuh tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit.
Satrio masuk ke ruangan Adiba. Gadis tanggung itu tengah terlelap. Lidya memberinya theraphy tidur untuk menenangkan Adiba agar tak terlalu memikirkan perkataan Naslimah.
Satrio menarik kursi dan duduk di pinggir ranjang. Netra pekatnya menatap seluruh wajah Adiba. Ia menggenggam tangan gadis tanggung itu.
Tentu perbedaan besar terjadi. Tangan Satrio yang besar dan tangan Adiba yang kecil tenggelam dalam genggaman remaja itu.
"Dik ... Mas Satrio adalah pria pertama yang menggenggam tanganmu setelah ayahmu," bisiknya.
Perlahan, ia mengecup buku jari Adiba yang dingin.
"Mas Satrio juga pria pertama yang mencium tanganmu," lanjutnya.
Lalu tangannya terangkat, Satrio membelai rambut hitam gadis itu. Untuk pertama kalinya, Satrio yang melihat aurat Adiba.
"Mas Satrio juga yang pertama melihat hitam rambutmu," ujarnya lirih.
"Dik ... dengarkan Mas. Mas Satrio selalu ada untukmu, sekarang dan selamanya. Mas menunggumu, Dik Adiba ...."
Satrio berdiri dan mengecup kening Adiba. Remaja itu sudah mengikat kuat gadis tanggung itu erat-erat. Sebuah cincin hitam ia sematkan di ibu jari Adiba.
Satrio pun pergi dari ruangan itu. Perlahan, senyum terukir di wajah manis Adiba.
"Mas Satrio," igaunya lirih.
Bersambung.
Uuhhhh .... eeehhh ... Mas Satrio 😍😍😍😍
__ADS_1
next?