SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MINGGU SERU


__ADS_3

Hari minggu di mana semua anak suka jalan-jalan. Berbeda yang sedang terjadi di keluarga besar yang tengah berkumpul.


"Kita terlalu banyak, jadi kalau mau keluar ya keluar semua," keluh Bima salah satu anak angkat Bart.


"Ya mau diapain lagi. Kita emang bersaudara banyak,' sahut Azlan.


"Ya waktu di panti kita juga nggak bisa keluar," ujar Rinto.


Ajis dan semua adiknya juga tak pernah keluar rumah jika tak diajak sang kakak, Azizah.


"Kak kita jalan-jalan di mansion Kakek aja," ajak Lana.


"Kan halaman depan luas. Halaman belakang juga luas," lanjutnya.


"Nggak ada apa-apa di halaman kakek," keluh Lino.


"Kak Radit ngapain?" tanya Dipto pada Radit yang sedang bermain halma bersama kakaknya Ditya.


"Oh halma ya?"


"Iya,"


"Kurang seru,' keluh Dipto.


"Bosen juga main gobak sodor terus," sahut Ditya yang akhirnya kesal dengan permainan yang ia mainkan.


"Main catur yuk!" ajak Leno.


"Emang bisa?" Leno mengangguk.


"Eh ... yang ada catur di tempat Ayah," keluh Lino.


"Minta sama Papa Gio beliin aja!" usul Ditya tercerahkan.


"Kalo kita yang beli kan pasti nggak dibolehin keluar!' sahutnya sinis.


"Ih ... kakak!" kekeh Lana tertawa.


Mereka mendekati Gio yang tengah berbincang dengan Reno.


"Papa, beliin kita catur sih!' pinta Lino.


"Catur?" Lino mengangguk.


"Oke, mau ikut?" tawar pria itu.


"Papa kalo kita ikut. Papa yakin bisa bawa kita semua?" tanya Ditya malas.


Gio terkekeh, pria itu mengusap kepala anak yatim piatu itu. Radit dan Ditya memang sangat dekat dengan kakak ipar mereka. Gio sangat menyayangi adik sepupu istrinya itu.


Gio akhirnya pergi membeli catur yang diinginkan Radit.


"Papa au nana!?" teriak Arsh galak.


"Bentar Baby, Papa mau keluar dulu ya," jawab Gio tentu berbohong.


"Nanti Papa beliin kalian es krim coklat!" lanjutnya.


"Alsh au aubeli Papa!' pinta bayi bossy itu.


"Papa Syasyad pawu nanila!" teriak Arsyad.


"Balyam judha Papa!" Maryam ikut berteriak.


"Papa belikan semua rasa ya!" sahut Gio mengacungkan jempol tinggi-tinggi.


Gio harus bergerak cepat. Ia pergi ke sebuah toko olahraga dan membeli tiga catur dan juga papan darts dan anakannya.

__ADS_1


"Apa ada olah raga yang bisa dimainkan anak kurang dari tiga tahun Koh?" tanya pria itu.


"Basket?" tawar pria bermata sipit itu.


Gio menggeleng, akan jadi masalah jika bola besar itu dimainkan oleh anak sekecil Arsh.


"Mainannya saja Pak!' tunjuk pria menunjuk pada tukang mainan.


"Ah iya!" sahut Gio tercerahkan.


Pria itu membeli tiga mainan bola basket berikut ringnya. Setelah membeli apa yang dibutuhkan. Pria itu tak lupa membeli eskrim untuk para perusuh.


Gio pulang setelah nyaris satu jam pria itu pulang. Semua anak menunggunya.


"Papa mana es krimnya?" tanya Rion yang langsung mencari es krim yang dibawa oleh Gio.


Beruntung Gio membeli banyak es krim dan banyak makanan ringan lainnya.


Rion membagikan semua adiknya satu bungkus es krim.


"Matasyih Papa!' ujar semua perusuh.


"Sama-sama sayang," ujar Gio.


Setelah memakan es krim. Lino lalu menyusun catur. Begitu juga Radit yang berhadapan dengan Leno.


Rupanya permainan catur mengundang para bocil lainnya juga orang dewasa. Lino berhadapan dengan Ditya, Radit berhadapan dengan Leno sedang Lana berhadapan dengan Ajis.


'Eah awas luncurnya!' peringat Bart yang gemas dengan permainan yang dilakukan Ajis.


Ajis terlalu berani mengumpan pion-pion penting. Tetapi bocah itu selalu membuat Lana harus berhati-hati untuk menyelamatkan ratu atau rajanya.


"Skak!" seru Ditya.


Benteng bocah itu mengancam raja milik Lino.


Kuda milik bocah itu ada diantara dua pion penting milik Ditya.


Ditya menggerakkan rajanya. Lino memakan benteng Ditya dengan kuda yang memang ada di sana.


"Eh ... nggak liat itu!" keluh Ditya salah strategi.


"Skak mat!' seru Leno.


Radit mati langkah, bocah itu kehabisan pion penting seperti menteri dan benteng. Kudanya jauh berada di kotak lawan bahkan juga terancam dimakan lawan.


"Kak Radit kalah!" kekeh Leno senang.


"Hebat sayang!" puji Bart.


"Kamu juga hebat. Tapi terlalu berani sayang," puji pria itu pada Radit yang kalah.


Tinggal Ajis dan Ditya yang bertanding. Lana serius dengan lawannya. Ajis memang sangat pintar memindah pion-pion pentingnya bahkan ia berhasil mengembalikan ratu yang telah diambil oleh Lana.


"Star!" ujar Ajis tenang.


Lana berpikir lama, ia menurunkan bentengnya menutupi ratu yang mengancam ratunya.


"Salah Lana!" pekik Bart gemas sendiri.


"Star!" seru Lana tiba-tiba.


"Eh?" Bart bingung.


Ternyata ratu milik Lana mengancam ratu milik Ajis. Bart bertepuk tangan. Semua pria tampak senang melihat apa yang dipertandingkan Lana dan Ajis. Ditya seri melawan Leno, mereka habis pionnya.


Semua mata memandang bagaimana Ajis harus memutar otak untuk menyelamatkan ratunya.

__ADS_1


"Ayo Nak, ada pion bagus itu!' ujar Leon melihat langkah bagus untuk mengalahkan Lana.


Ajis menggeser pion kecilnya. "Kuda!"


Lana berdecak kesal, kuda Ajis kembali. Posisi gadis kecil itu kini terancam. Kuda Ajis akan mematahkan raja Lana jika memaksa.


"Bagus Ajis!' seru Frans puas.


"Ayo sayang!' Leon memberi semangat pada Lana.


Lana memindahkan menterinya jauh kebelakang.


"Skakmat!"


Ajis kalah, bocah itu tertawa lebar karena ternyata Lana berhasil mengetahui celah longgar pada pertahanannya.


Semua bertepuk tangan melihat permainan cantik itu. Frans dan Leon mencium kening Lana yang sangat pintar melihat celah dan berhasil membalik keadaan jadi menang.


"Kau pintar sayang," puji Leon.


"Alsh au ain ipu Penpa!' pinta bayi bosy itu.


"Ata' Nana awan Alsh!" tantang bayi itu jumawa.


"Ayo Baby," kekeh Lana meladeni bayi itu.


Tentu saja permainan ala Arsh. Bayi itu sesuka hati menggerakkan pionnya. Raja yang bisa maju hingga lima langkah.


'Hanya satu langkah Baby!' tegur Lana.


"Tusta-tusta Alsh!' seru bayi galak itu.


Karena bosan Arsh membalik papan catur hingga susunannya berantakan dan pion berhamburan.


"Baby!' tegur Rion.


"Huuuwwwaaaa!" pekik Arsh langsung menangis.


Semua tertawa lirih melihat tingkah bayi tampan itu. Rion jadi ingat dirinya sendiri yang dulu selalu mau menang sendiri.


"Kata Mama, Baby Arsh fotokopi Papa Baby," kekeh Azizah.


"Jangan percaya itu sayang!' elak Rion tentu tak mau diingatkan tingkah konyolnya waktu bayi itu.


"Izah pengen baby ini jadi kek Arsh!' pinta perempuan itu mengelus perutnya yang sudah mulai membentuk.


Aini, Lidya dan Gisel juga mengelus perut mereka. Mereka diperkirakan lahir bersamaan. Luisa yang juga sedang hamil muda tampak cemberut di sana.


'Aku mau cucu, bukan anak!' keluhnya.


"Mama!" peringat Andoro sang suami.


"Papa malah senang jika Mama hamil lagi," ujar pria itu.


"Tapi Mama udah tua," rengek wanita itu.


"Allah memberi kepercayaan pada Mama jika begitu!' ujar Andoro memberi ketenangan pada istrinya.


Luisa hanya menghela napas panjang. Tetapi melihat semua anak yang pintar ia pun tersenyum.


"Aku mau dia perempuan sekuat Dewi, secantik Kaila dan segenius Azizah!" doa wanita itu dalam hati.


Bersambung.


Ah ... apapun baby lahir. Pasti hebat Mama Luisa.


Next?

__ADS_1


__ADS_2