SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KARNAVAL


__ADS_3

Seperti janji Safitri. Wanita bertubuh tinggi besar itu membawa semua anak-anak pergi ke tempat banyak permainan.


"Uma ingin yang besar menjaga yang kecil!' peringat Saf pada semua anaknya.


"Siyap Muma!" sahut semua bayi mengangkat tangan ke pelipis bersikap hormat.


"Muma ... Paypi Alsh eundat bawu didanden!' adu Lilo.


"Alsh au ... Alsh au!' sahut bayi tampan itu marah-marah.


Saf menghela napas panjang. Darren tertawa meledek istrinya.


"Kau pikir bisa mengatasi perusuh itu sayang?"


Saf berdecak ia sebal dengan suaminya.


"Ya sudah ... Abah nggak usah ikut. Biar Uma pergi sama Michael atau Fio," ancam wanita itu.


"Jangan macam-macam sayang!" peringat Darren.


Pria itu memang sangat pencemburu. Walau semua pengawal sudah dianggap keluarga. Tetapi, mereka adalah pria-pria yang ketampanannya di atas rata-rata.


"Makanya ... mau ikut tidak?" tawar Saf.


"Ya mau lah!" Saf mencibir sang suami.


Akhirnya kereta dorong adalah salah satu solusi agar semua anak diam di tempat. Arsh melipat tangannya di dada.


Tempat itu tentu tidak seramai biasanya. Virgou telah meminta semua pengawal untuk mensterilkan wilayah bermain itu.


"Nggak perlu orang lain, kita satu keluarga juga penuh!' celetuk Gabe.


Gabe mengajak adiknya Dave untuk menaiki wahana rollercoaster. Terra tentu mau ikut, tetapi Haidar menahannya.


"Ih ... Mas!" sungut wanita itu kesal.


"Arion dan Arraya mana?" tanya pria itu mencari keberadaan dua anaknya.


Terra ikut mencari, wanita itu lega melihat dua bayinya ada di tangan Rasya dan Rasyid.


"Ah itu dia!' tunjuk Terra.


Haidar bernapas lega. Pria itu juga takut anak-anaknya menghilang mendadak. Ia tentu tau jika semua keturunannya super kepo.


"Alsh au tuyun!" pekik bayi itu marah.


"Padhi tatana pedanan tanan ... teunapa palah pate peleta dolon!" protes bayi tampan itu.


"Itu biar kamu nggak keluyuran Baby!" sahut Azlan.


"Ata' ... pialtan tamih peulmain judha!" pinta Maryam.


Akhirnya para bayi turun dari kereta mereka. Semua berlarian hendak mencoba wahana permainan yang ada. Al hasil para pengawal tentu kerepotan dan ikut berlarian.


Lima puluh anak angkat Bart akhirnya bisa menenangkan semua adiknya. Mereka naik komedi putar.


"Wayo tuda ... pusul meuleta!" pekik Arsh pada kuda yang ia naiki.

__ADS_1


Bayi itu kembali marah-marah karena kudanya hanya naik turun saja.


"Baby, itu tan suma painan!" ujar Arraya memberitahu.


"Butan tudha beunelan!" lanjutnya.


"Wesyusbdgebsuhdjwnshshensusjnshz!' oceh Arsh sambil melipat tangannya.


Widya hanya menghela napas panjang. Wanita itu kehabisan cara untuk menenangkan bayinya itu.


Sean, Al, Daud, Kean, Calvin, Affhan dan Raffhan mengawasi Billy, Bastian, Setya, Samudera, Benua, Domesh, Sky, Bomesh dan Arfhan. Mereka memilih pergi ke rumah hantu.


"Kakak!' pekik Billy terkejut ketika ada boneka seram muncul tiba-tiba di depannya.


Beberapa pengawal mengikuti mereka. Bastian berada di depan. Bocah itu terkadang memukul setan-setanan yang menakutinya.


"Dek jangan mukul dong!" protes hantu bohongan itu.


"Abis ngagetin!' sengit Bastian.


"Itu kerjaan kita Dek!' sungut hantu bohongan itu juga kesal.


"Eh ... sana minggir! Kita mau lewat!" teriak Kean berdiri paling belakang.


Hantu bohongan itu mendumal panjang pendek. Mukanya yang kena tinju Bastian sakit dan berdenyut nyeri.


"Sstt ... itu anak-anak orang kaya!' bisik pria dengan make up menyeramkan.


"Terus?" tanya hantu yang kesakitan itu.


Pria yang dipukul itu memang dendam pada bocah yang memukulnya tadi.


"Oke kita pisahkan mereka. Kita ambil yang kecil-kecil saja!" ujarnya setuju.


Beberapa pria berkostum hantu bergerak. Mereka memang adalah penculik anak yang menyamar menjadi penghibur di salah satu wahana.


"Ini adalah hari pertama kita bekerja. Kita akan dapat bonus banyak!" ujar salah satu memberi semangat pada rekan-rekannya.


Fio, Michael dan Leonel memindai sekeliling. Mereka adalah pria-pria terlatih. Tentu mereka tau ada pergerakan mencurigakan.


"Michael kau berjalan menuju depan. Aku merasakan sesuatu yang tak lazim!" perintah Fio.


Michael bergerak cepat. Pria itu menyusul Kean, Calvin dan pemuda lainnya yang seperti diarahkan ke jalan keluar.


"Papa?" Kean mengikuti Michael disusul yang lainnya.


Bastian dan Samudera seumuran. Sedang Billy lebih tua satu tahun dari Benua dan Domesh. Sky, Bomesh dan Arfhan paling kecil.


Mereka berjalan tanpa sadar jika haluan mereka berpindah secara sendirinya. Rumah hantu itu memang didesign dengan tekhnologi canggih. Beberapa jalan dibuat secara sistem putar dan mengalihkan jalan semua pengunjung yang datang.


Michael kehilangan semua anak-anak, jamurnya buntu. Pria itu langsung melaporkan satuan jika rumah hantu ini ada jebakan.


Kean sangat marah, adik-adiknya menghilang. Sean dan lainnya meraba dinding mereka yakin ada tombol rahasia.


"Kak, ini!" teriak Sean.


Sosok pria berdiri di depan layar. Ia mengepal tangannya erat.

__ADS_1


"Tutup semua pintu!' perintahnya.


Hanya menekan satu tombol, semua pintu di rumah hantu itu tertutup. Signal dirusak, Michael, Fio dan Leonel tak bisa menghubungi rekan-rekannya di luar.


"Kita disabotase Ketua!' lapor Leonel.


Pemuda itu baru pertama kali mendapat ketegangan. Walau ia sering dilatih, tetapi mengurus para keturunan membuatnya terpacu adrenalin.


"Welcome to our world boy!" sahut Fio tersenyum.


Pria itu mulai bergerak. Ketangkasan para remaja yang beranjak menjadi pemuda.


"Kau akan lihat bagaimana kekuatan klien kita!" ujarnya menyeringai.


Sementara di luar Virgou marah luar biasa. Pria sejuta pesona itu langsung bergerak. Dahlan, Budiman, dan Gomesh menyusur siapa pemilik dari rumah hantu.


"Tuan Salvador Allende!"


"Bunuh dia!" perintah Virgou tak mau kompromi.


Bart meminta semua yang tinggal untuk pulang. Pria itu membawa mereka semua. Bram, Kanya menenangkan semua orang tua.


"Tapi putra Te ada di sana!' teriak Terra.


"Kau punya anak yang lain. Kasihan mereka Terra!" sentak Budiman ikut marah.


Puspita menahan tangisnya. Widya apa lagi. Wanita itu baru pertama mendapat putranya disekap. Sedang Mira dan Raka juga cemas putra dan adiknya ada di rumah hantu itu.


Karina dan Zhein hanya bisa mengikuti semua anggota keluarga yang pulang. Rion menyuruh istrinya untuk pulang.


"Papa mau selamatin Babies!' Azizah mengangguk.


Saf meminta Darren juga tinggal di sana. Ia akan pulang dan menenangkan semua anak.


"Kalian pulang lah!" perintah Herman.


Akhirnya semua pulang ke mansion Bart. Haidar, Budiman, Remario, Rion, Darren, Gabe dan David tinggal bersama Virgou, Gomesh dan beberapa pengawal.


Sampai rumah, Terra ke kamar langsung. Ia membiarkan anak-anak ditangani ibu yang lain.


Wanita itu membuka laptop pemberian mendiang ayahnya.


"Sudah lama akun ShadowViolet dan BlackLion ku tak digunakan!' ujarnya menyeringai sadis.


Tak lama wanita itu berselancar di dunia maya. Sebuah situs mafia ia masuki dengan mudah. Beberapa situs mafia ia hancurkan dengan memasukan data-data.


"Eh ...?"


Terra tersenyum lebar. Akun menantunya RedRose ikut masuk lalu akun AZR milik Azizah juga malah mengacaukan semua transaksi hari itu dengan melempar virus.


"Ah ... aku lupa punya dua menantu genius?!' gumamnya bangga.


bersambung.


Wah ... seru kah?


next?

__ADS_1


__ADS_2