SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
NGERI-NGERI SEDAP


__ADS_3

Rencana Maisya, Affhan dan Kaila menjadi rencana semua keluarga. Mereka beramai-ramai ke kafe milik salah satu cicit dari Labertha.


Kafe yang tadinya hanya beberapa pasang kekasih yang datang mendadak ramai akan manusia. Sean sampai menggaruk kepalanya ketika melihat kedatangan semua saudaranya.


"Oh jadi anak muda ini yang sudah memiliki usaha yang cukup bagus," ujar Labertha menciumi wajah cucunya yang tampan itu.


"Benar grandma ... tak hanya Sean yang sudah memiliki usaha sendiri. Tapi, Kean, Calvin, Satrio dan Arimbi memiliki usaha mereka walau semua bekerja juga," sahut Haidar penuh kebanggaan.


Labertha mengangguk dan tersenyum. Lagi-lagi Virgou menyombongkan diri dengan keahlian memasaknya. Nasi goreng cinta menjadi menu favorit semua pelanggan yang datang. Tak jarang pria dengan sejuta pesona itu datang ke kafe milik keponakannya itu dan memenuhi permintaan pelanggannya.


"Ah, bocah nakal itu punya pesona tersendiri jika sudah memasak," puji Bertha.


Banyak gadis-gadis muda berdatangan, konsep open kitchen yang diusung Sean menambah value tersendiri bagi kafe tersebut.


"Aku yakin, pasti banyak yang datang dan mereka mencontek konsepmu ini," sahut Bertha.


"Benar graidma, Sean sudah dengar ada banyak kafe mengusung tema sama. Tapi penjiplak tentu tak memiliki rasa yang sama bukan?" sahut remaja itu.


Bertha senang dengan semuanya. Perempuan itu hanya sebentar saja mengunjungi kafe milik salah satu cucunya itu. Wanita itu memilih pulang dan diantar oleh semua keluarga kecuali para remaja.


"Mereka tak ikut?" tanya Bertha yang melihat anak-anak lain masih di tempat.


"Tidak mom, biarkan mereka menikmati masa remaja mereka," ujar Bram.


Herman yang tadinya masih ingin nongkrong, ditarik oleh istrinya begitu juga Virgou. Wanita itu memelototi suaminya hingga akhirnya pria itu menurut.


Hingga malam menjelang. Mereka baru pulang setelah kafe tutup. Semua kembali ke mansion Bram, kakek mereka. Semua sudah tidur ketika para remaja pulang, hanya Haidar, Virgou dan Bart yang menunggui mereka.


Pagi menjelang mansion Bram kembali sepi. Semua sibuk dengan pekerjaan mereka. Sean bertugas mengantar dan menunggui adik-adiknya terutama Sky dan Bomesh.


"Kenapa mereka harus ditunggui?" tanya Bertha gusar.


Kanya dan Bram saling toleh satu dan lainnya. Bertha tentu tak tau sepak terjang dua ketua perusuh itu jika bersama dan tak diawasi oleh orang dewasa.


"Mereka akan membuat story mom, yang pasti menggegerkan semua orang," jawab Bram.


Labertha hanya menatap keduanya. Lalu Kanya iseng dan menelepon Sean.


"Assalamualaikum sayang," ujarnya ketika di sambungan telepon.


Kanya menelepon di taman. Bram menelisik apa yang dibicarakan oleh istrinya itu. Sifat bar-bar Kanya memang tak menurun pada Karina sang putri. Tetapi menurun pada cucunya. Seperti Nai dan Arraya. Yang lebih parah adalah pada Dewi.


"Mommy harus lihat Kanya kecil pada Baby Dew," ujar pria itu.


"Ah ... benar ... anak itu mirip sekali Kanya waktu kecil!" sahut wanita itu.


"Sifatnya juga sama mom," ujar pria itu lagi.


"Kau serius?" Bram mengangguk.


"Astaga, kukira akan menurun pada cucu kandungku. Tetapi malah menurun pada yang tak memiliki pertalian darah sama sekali," ujar wanita itu lagi.

__ADS_1


Kanya telah selesai menelpon Sean. Wanita itu hanya tersenyum penuh arti ketika Bram bertanya padanya.


"Apa lagi yang kau lakukan?" tanya Bram gusar.


"Biar rame sayang," ujar wanita itu santai.


"Virgou bisa memarahi cucumu!" peringat Bram.


Kanya menempelkan jari telunjuk dan ibu jari berbentuk Oke. Wanita itu sudah menelepon pria itu dan mengutarakan idenya dan Virgou setuju.


"Biar ada kehebohan," kekeh keduanya di sambungan telepon ketika menemui kesepakatan.


Benar saja, Sean mengikuti saran neneknya itu. Sky dan Bomesh celingukan di halaman sekolah taman kanak-kanak.


"Kalian nungguin siapa?" tanya salah satu temannya.


"Kakak Sean, biasanya dia nungguin loh," jawab Bomesh sambil mengedarkan pandangannya.


"Mungkin sedang pipis," ujar temannya itu ikut mencari.


"Ikut ke lumahku yuk!" ajak salah satu anak.


"Ke mana?" tanya Sky dan Bomesh juga temannya yang lain.


"Di belakang sekolah ini ada pelkampungan," ujar anak itu.


Keempat anak laki-laki itu berjalan beriringan. Sky dan Bomesh tadinya sedikit ragu meninggalkan sekolahnya. Tapi rasa penasaran melebihi keraguan mereka. Keduanya ingin tau apa itu perkampungan yang disebut oleh temannya. Sean mengikuti dari jauh.


"Kalian kenapa liat-liat belakang dari tadi?" tanya Andi.


"Pelasaan ada yan mitutin," jawab Sky.


Andi dan Deta ikut menoleh ke belakang. Tak ada siapapun. Keempatnya saling lihat.


"Nggak ada siapa-siapa?" sahut mereka kompak.


Lalu mereka kembali berjalan pada jalan setapak yang cukup sepi. Banyak pohon-pohon rimbun di kanan dan kiri jalan. Hingga memudahkan Sean bersembunyi.


Tiba-tiba, Sean melihat pergerakan lain di sebelah kanan seberang jalurnya. Matanya menyipit untuk memastikan penglihatannya.


"Ada orang lain menguntit?"


Sean buru-buru mengirim signal bahaya. Virgou yang mengawasi semua putranya langsung bergerak.


"Tuan, anda mau ke mana!" teriak Gomesh.


Satrio dan David yang tengah memeriksa berkas bersama dengan Fabio dan Pablo. Mereka terkejut mendengar teriakan Gomesh.


"Aku ingin menjemput putraku, kau diam di sini!"


"Ikut!" seru Satrio dan David bersamaan.

__ADS_1


Akhirnya Gomesh ikut serta. Pablo dan Fabio hanya bisa menghela napas panjang dengan beberapa berkas yang masih menumpuk.


Virgou menekan gasnya. Ia melihat titik oranye yang berkedip berubah jadi merah.


"Berengsek!" maki pria itu.


Sedang di sana. Sean berhadapan dengan empat orang berpakaian preman. Sedang empat anak laki-laki tampak berdiri di belakang remaja itu.


"Kakak ... tadi kakak kemana saja?" tanya Bomesh dengan debaran jantung yang cepat.


"Tadi kakak pipis di toilet umum baby," jawab Sean tentunya berbohong.


"Hei minggir kau bocah!" ujar preman itu dengan seringai sadis.


"Kami hanya ingin mengambil Andi," ujar pria itu lagi.


Andi ketakutan setengah mati. Ia berpikir pasti ini ulah ayahnya lagi yang kalah berjudi.


"Kenapa lagi, aku tak ada hubungan lagi dengan ayahku itu!" teriak Andi berani.


Mereka berdecak dan menggeleng.


"Jangan jadi anak durhaka, nak," ujar salah satu pria dengan anting di telinga kirinya.


"Dia bukan ayahku!" teriak Andi lagi dengan lelehan air mata di pipi.


"Diam dan jangan banyak bicara. Ayo ikut, kau harus bayar hutang judi ayahmu!"


Salah satu pria maju, tentu dihadang oleh Sean. Pria itu langsung mengepalkan tinjunya tiba-tiba.


Bug! Pak! Brugh!


"Ah ... sialan dia bisa berkelahi!"


Preman yang maju terjatuh dengan luka robek di pipi. Perkampungan warga masih jauh, mereka ada ditengah kebun kosong hanya ada jalur setapak.


"Berengsek kau!"


Ketiga teman yang jatuh menyerang Sean secara keroyokan. Sky dan Bomesh mengambil batu besar dan melempari ketiganya dengan batu.


"Berengsek!" ujar pria.


"Serang anak-anak!" titah yang satunya.


Pria yang jatuh langsung bangkit dan menyerang anak-anak tentu Andi dan Deta membantu Sky dan Bomesh melempari pria itu dengan batu.


"Berengsek ... beraninya kalian main keroyokan!" sebuah teriakan menggelegar menghentikan perkelahian.


bersambung.


wah ... idenya Kanya ...

__ADS_1


next?


__ADS_2