SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENGANTAR KE SEKOLAH


__ADS_3

Karena semua remaja ikut kakek mereka. Kali ini Virgou ingin mengantar Sky, Bomesh, Domesh, Benua dan Samudera.


Pria dengan sejuta pesona itu menjadi santapan mata para ibu-ibu yang mengantar jemput anak mereka. Semua berusaha menyapa pria dengan iris biru itu yang kini ia tutupi dengan kacamata hitam. Virgou mengantar semua putranya itu hingga ke dalam sekolah.


"Masuk, daddy tunggu di sini, oteh," ujarnya.


"Oteh daddy!"


Sky dan Bomesh masuk kelas satu SD memang mereka belum enam tahun, tetapi semua guru memperbolehkan mereka masuk karena memandang keluarga itu menyekolahkan semua anaknya di sini.


Virgou melihat seorang anak turun dari becak. Si pengayuh becak adalah seorang perempuan bertubuh gempal. Anak itu mencium punggung tangan sang ibu lalu memberi salam.


"Jangan bohong ya le!" peringatnya.


"Iya Bu!" sahut bocah itu.


Anak itu berlari dan masuk ke dalam kelas yang tadi di masuki Sky dan Bomesh. Virgou melihat perempuan itu mengayuh kembali becaknya. Ada satu ibu menyewanya dan naik ke atas, lalu kendaraan yang semestinya sudah tidak ada di ibukota ini ternyata masih harus berjuang di tengah canggihnya jaman.


"Pasti ibu itu perempuan tangguh. Tadi pesannya hanya sang anak itu berlaku jujur," gumamnya.


Virgou memilih melihat Mading. Di sana lukisan Dewi masih terpajang sebagai juara nasional menggambar. Lukisan pensil gadis cilik itu sangat berani. Penggambaran anak harus menghapal semua mata pelajaran dan tak ada apresiasi pada anak yang memiliki bakat lain di luar bidang pendidikan.


Gambar itu merangkum semua kegelisahan anak-anak yang tak berbakat di dunia eksak dan hapalan. Dewi menggambar seorang anak yang terikat dengan rumusan dan angka, sedang di kepalanya terlukis simbol tanda nada yang artinya pandai bernyanyi, gambar kuas dan cat kering lalu gambar penari. Dan di sekelilingnya adalah pada orang tua dan guru yang menunjuk padanya untuk melakukan yang seharusnya.


Ada rasa bangga di mata pria itu. Lukisan Dewi yang asli terpanjang di museum seni dan budaya. Gadis kecil itu mendapat hadiah uang dan asuransi pendidikan sebesar sepuluh juta.


"Cis ... dapat apa uang sepuluh juta?" gumamnya nyinyir.


"Mana asuransi itu bisa di klaim sembilan tahun, gambar ini sudah tiga tahun, berarti enam tahun lagi?" kekehnya sambil mencibir.


"Tuan!"


"Astaghfirullah Gomesh!" sentak Virgou kaget setengah mati..


Gomesh ternyata menyusul pria itu. Ia menggunakan ojek daring dan langsung menuju sekolah.


"Maaf tuan!" sahutnya lalu mengangguk hormat.


"Sialan kau!" maki Virgou menggerutu.


"Mau apa kau menyusul?" tanyanya. "Apa kau takut aku menculik anakmu itu?"


"Tidak tuan, bukan begitu. Tapi Tuan Hamada sudah berpesan jika tuan ditunggu pukul 10.35. di restauran milik putrinya," jelas Virgou.


"Ck ... pria itu masih saja ingin menguji kesabaran ku," geram Virgou kesal.

__ADS_1


"Suruh Fabio yang datang!" titahnya lagi.


"Baik tuan," sahut Gomesh.


"Jika karena ini dia menunda tanda tangan kerjasama. Buat ia dan putrinya hengkang dari Indonesia!" titah Virgou lagi.


"Baik tuan!" sahut pria raksasa itu semangat.


"Dia kira bisa merayuku dengan anak perempuannya yang entah ia jual ke siapa saja, dia kira aku tak tau apa!" dumalnya panjang.


Gomesh juga tak menyukai cara licik pria campuran negeri sakura dan Prancis itu. Banyak kolega memperingati cara kerja pria itu. Menjebak pengusaha dengan kecantikan putrinya. Hamada akan mengumpan Aiko Hamada dan menjebaknya seakan-akan ingin memperkosa gadis berusia dua puluh lima tahun itu. Walau ada di antara mereka memang menikmati tubuh putri dari pemilik perusahaan alat yang hanya dia yang memilikinya.


Gomesh menatap lukisan pensil milik Dewi. Senyum pria itu melebar. Ia sangat ingat bagaimana gambar ini jadi rebutan para kolektor seni dan ketika Dewi memutuskan untuk diberikan pada museum di Indonesia, semua kecewa dan saat itu Dewi mendapatkan ancaman.


"Ah, waktu itu benar-benar seru sekali tuan!' ucapnya dengan mata berbinar.


"Walau lebih seru ketika tuan muda Satrio menembaki para pengkhianat di atas bukit," lanjutnya.


"Tiga tahun sudah berlalu, aku yakin di sekolah ini sudah tak ada lagi pelukis hebat seperti putriku!" sahut Virgou.


Gomesh mengangguk setuju. Bel istirahat berbunyi, semua anak-anak berhamburan keluar kelas. Sky dan Bomesh selalu belakangan keluar sesuai anjuran orang tua mereka.


"Daddy ... papa!' pekik keduanya.


Keduanya tergelak karena para pria menciumi perut mereka.


"Daddy papa ... enough!" pekik keduanya.


"Ayo kita makan di kantin," ajak Gomesh.


"Papa nggak bawa bekal?" pria itu menggeleng.


"Daddy?" Virgou juga menggeleng.


Sky dan Bomesh turun dari gendongan para pria. Keduanya menatap Arda yang masih duduk di kursinya. Ia keluar kelas karena sang guru memintanya.


Arda keluar dengan bibir sedikit kering. Tadi pagi ia tak sarapan karena ibunya hanya membawa uang untuk makan malam saja. Beruntung kemarin siang ia dibawakan dua bungkus nasi goreng. Anak itu duduk di pinggir lantai sekolah menghadap taman.


"Da, ikut kita yuk," ajak Sky.


Arda menggeleng lalu tersenyum dan mengucap terima kasih.


"Ayo, nggak apa-apa," paksa Bomesh kini.


"Nggak, Sky Bom. Makasih ya," ujarnya.

__ADS_1


"Sky tak boleh memaksa," ujar Gomesh.


Sky dan Bomesh akhirnya melangkah perlahan. Tak lama terdengar suara bel dari sebuah becak. Arda tersenyum cerah. Ia pun berlari.


"Ibu!" pekiknya senang.


"Duh, maaf ya Le. Ini alhamdulilah, ibu dapat rejeki buat jajan kamu, beliin buat temanmu yang baik itu juga ya," ujar wanita itu menyerahkan uang dua puluh ribu.


Arda mengangguk. Setelah mencium punggung tangan sang ibu. Ia pun. berlari menyusul Sky dan Bomesh.


"Sky ... Bomesh, aku traktir bakwan goreng yaa!" teriaknya bahagia.


Sky dan Bomesh mengangguk senang. Ia akan menerima apapun pemberian temannya itu.


Sedang di Eropa Arimbi dan Nai tengah menemani Ella dan Martha jalan-jalan ke sebuah mall. Mereka di jaga oleh enam pengawal.


Empat anak perempuan beda usia itu tengah melihat satu tas kecil yang cantik di sebuah outlet ternama. Mereka pun masuk ke dalam.


"Halo nona, apa yang bisa saya bantu?" sapa pramuniaga ramah.


"Ck ... orang susah lagi," keluh salah satunya.


Ella menoleh dengan kening berkerut. Martha sudah mulai panas.


"Apa kau bilang?" tanya gadis kecil itu gusar.


"Aku tak mengatakan apa-apa," sahut pramuniaga itu santai.


"Sudah ... tak usah pedulikan dia, kan masih ada yang ramah ini," sela Arimbi bijak.


Pramuniaga yang menyapa mereka itu mengangguk dan memasang wajah serba salah.


"Kukatakan padamu Elea, kau tak mendapat apa-apa kecuali banyak pertanyaan harga dan diskon," sela pramuniaga sombong itu.


Nai dan Arimbi tak menghiraukan perkataan pramuniaga itu. Mereka langsung membeli dompet unik itu. Pramuniaga itu senang. Empat dompet seharga 75 dolar per piece laku terjual.


"Terima kasih nona!" teriak pramuniaga ramah itu.


Sedang pramuniaga yang sombong hanya melongo dan akhirnya menyesal.


bersambung.


ah ... manisnya Sky dan Bomesh.


next?

__ADS_1


__ADS_2