SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
GABRIELLA PUTRI DOUGHER YOUNG


__ADS_3

Gabriella Putri Dougher Young, gadis dengan mata coklat terang. Ia sangat cantik dengan rambut kemerahan, bersekolah di internasional school bersama tiga saudaranya yang lain.


Soal bahasa Inggris, jangan tanya bagaimana ia begitu fasih. Walau ia lebih suka bahasa sang ibu bahasa Indonesia.


"Hai El!" sapa salah satu murid laki-laki.


Usia mereka sama yakni lima belas tahun. Hanya saja beda kelas. Gaberiella atau biasa dipanggil Ella ini, berpenampilan sangat manis. Ia mengenakan bandana dari saputangan dan menyampirkan semua rambutnya ke bahu kiri. Bulu mata lentik, dihias alis tebal yang indah serta hidung mancung. Wajah Gabe, sang ayah menempel pada gadis itu.


"Oh Daniel," Ella balik menyapa, ia tersenyum ramah.


Remaja tanggung itu duduk di kursi sebelah Ella. Ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya.


"El, kamu udah punya pacar belum?" Ella menatapnya dengan binaran polos.


Ella tidak sepolos anak-anak yang lain. Pergaulan di luar negeri tentu ia sangat hapal, pacaran di usianya sangat lumrah.


"Maaf ya, aku nggak boleh pacaran sama Daddy dan Mommy aku," tolaknya halus.


Gadis itu hendak berdiri. Tetapi Daniel sepertinya menghalangi jalannya. Ia menarik keras kedua tangan Ella hingga terduduk kembali.


"Jangan sampai Daddy dan Mommy mu tau dong!" ujar anak laki-laki itu memaksa.


"Tapi aku juga nggak mau pacaran gimana dong!" tolak Ella keras.


"Jangan munafik Ella. Kamu sekolah di luar negeri pasti sudah ciuman kan!" tuduh Daniel sembarangan.


"Jangan kurang ajar Daniel!" bantah Ella begitu tegas.


"Jangan samakan pikiran mesummu itu dengan semua anak perempuan di Eropa!" lanjutnya tak suka.


"Ah ... ayolah Ella. Jangan konyol, memang seperti itu kan?!" desak Daniel tak peduli.


"Kak!"


Bastian yang memang mencari kakaknya karena mau jajan di kantin bareng menyusul sang kakak ke kelasnya. Anak laki-laki itu menatap tak suka sosok yang memegangi kakak perempuannya.


"Kamu bisa lepas tangan kamu dari kakak aku!?" pinta Bastian dengan tatapan tajam dan senyum mengancam.


"Oh, ini adiknya Ella?" tanya Daniel sok ramah.


Bastian tidak menjawab, lalu Billy datang ke kelas karena ia merasa dua kakaknya terlalu lama keluar.


"Kak?" Billy masuk.


"Ayo jajan, aku lapar!" ajaknya pada Ella dan menarik lengan sang kakak perempuannya.


"Eh ... bareng yuk. Biar Kak Daniel traktir!" ujar Daniel ikut melangkah.


"Wah ... nggak usah repot-repot Kak!" ujar Billy menolak.

__ADS_1


"Nggak. Kakak nggak merasa kok!" ujar Daniel begitu percaya diri.


Bastian menatap adiknya lalu pada sang kakak. Billy menyeringai jahil. Ella menuruti apa rencana dua adiknya itu. Ia percaya, jika dirinya akan aman berkat perlindungan keduanya.


Mereka menjemput Martha yang kelas enam SD. Memang mereka berada di satu yayasan namun beda lantai dan juga bangunan.


"Oh punya adik perempuan juga ya!" ujar Daniel mencoba ramah pada Martha.


Billy langsung menggandeng adiknya itu. Anak-anak memang dijaga oleh masing-masing tiga pengawal. Tetapi, semua ada di luar sekolah. Mereka dilarang masuk ke dalam sekolahan.


"Ayo, pesan aja yang kalian mau!" suruh Daniel layaknya boss besar.


Martha menatap kakak-kakaknya. Billy mengangguk, menyuruh sang adik untuk memesan. Mereka memang tidak membawa bekal. Sang ibu sedikit repot tadi pagi karena adik bungsu mereka membuat ulah.


Daniel begitu percaya diri hendak duduk di sisi Ella, sayang Bastian mendorong remaja itu, ia yang duduk di sebelah kakak perempuannya.


Daniel menggaruk kepala. Ia membawa satu bangku plastik dan duduk satu meja. Semua makan dengan tenang.


"Dik, Kakaknya buat Kak Daniel ya, biar Kak Daniel jaga!" ujar remaja itu begitu dewasa.


Berharap sogokkannya berhasil.


"Kalo kalian ngebolehin Kak Ella jadi pacar Kak Daniel, kalian Kakak jajanin setiap hari!" lanjutnya berjanji.


"Kalo kita nggak mau gimana Kak?" tanya Martha dengan santai.


"Tapi kita nggak butuh uang Kak!" sahut Bastian.


"Masa kalian nggak suka uang. Kan biar ada tambahan jajan. Lagi pula, kakak jarang liat kalian jajan," rayu Daniel lagi.


"Kita bawa bekal tiap hari Kak. Kita jajan karena nggak bawa bekal," ujar Billy kini.


"Ya nggak apa-apa, biar bawa bekal lalu dapat uang dari Kakak. Gimana?" rayu Daniel lagi.


"Nggak boleh!" jawab Bastian tegas.


Putra Gabe nomor dua itu menggandeng kakaknya. Billy menggandeng Martha. Mereka meninggalkan Daniel begitu saja..


"Kalian kok nggak berterima kasih. Udah aku traktir juga!" sungut Daniel marah.


"Loh ... yang nawarin kan Kakak?" tanya Martha heran.


Ella benar-benar hanya diam saja. Gadis itu seperti Terra yang pendiam dan introvert. Ella juga kurang banyak pergaulan karena memang batasan dari kedua orang tuanya.


Daniel yang merasa dipermainkan, sangat marah. Remaja itu menghadang Ella, lalu tiba-tiba ia mau mencium bibir gadis yang membuat ia penasaran.


Bastian menarik kakaknya sebelum bibir remaja itu menyentuh bibir Ella. Ia mendorong bahu Daniel begitu kuat sampai terjatuh ke lantai.


"Aduh!" pekiknya.

__ADS_1


"Why you push me like that!" teriak Daniel marah.


"Don't touch my sister!" tekan Bastian dengan kilatan mata sadis.


Bastian menarik sang kakak. Mereka berlalu. Daniel kesal bukan main.


"Oke ... see you after school dear!" gumamnya menyeringai penuh rencana.


Bel waktu pelajaran usai. Daniel buru-buru keluar kelas, ia tak mau menunggu. Ia harus menjalankan rencananya. Remaja itu sangat yakin jika Ella pernah berciuman tanpa sepengetahuan dua adiknya itu.


"Kamu belajar di luar negeri. Pasti sudah melakukan hal itu kan?" pikirnya mesum.


Berita dan tontonan dewasa seputar kehidupan remaja di Eropa, mendorong Daniel berfikiran jika semua remaja Eropa sudah melakukan hal yang mestinya di lakukan orang yang telah menikah.


Remaja itu menatap kelas Ella yang masih ada mata pelajaran yang sedikit lama. Ia masih menunggu. Lima belas menit, seorang guru keluar dari kelas disusul para murid.


Semua dipindai oleh Daniel hingga menemukan sosok yang begitu cantik diantar semua anak yang rata-rata bermata sipit dan berkulit putih pucat.


Ella memang beda sendiri, rambut kemerahan begitu juga kulitnya. Khas bule campuran Eropa-Indonsia.


Ella berjalan, tidak beriringan dengan teman-temannya, karena rata-rata menggunakan bahasa China. Bukan Ella tidak menguasai, tetapi ia memang malas berbahasa asing.


Ketika suasana sangat mendukung, Daniel langsung melakukan aksinya. Remaja itu tiba-tiba menarik lengan Ella begitu kuat.


Sayang, Daniel tidak tau siapa Gaberiella Putri Dougher Young itu. Ella telah dibekali ilmu bela diri oleh ayahnya sendiri. Gadis itu juga menguasa dua bela diri yang berbeda.


Set! Buk! Teriakan Daniel begitu keras hingga mengundang semua mata memandang.


Remaja itu dilempar oleh Ella hingga nyangkut di pagar pembatas. Daniel mencengkram kuat pagar besi agar tak jatuh ke bawah dan membuatnya patah tulang itu.


"Ella, what are you doing?" tanya seorang guru kebangsaan India tentu dengan bahasa Inggris ala India.


Beberapa guru menolong Daniel agar tak terjatuh dengan menariknya melewati pagar pembatas. Remaja itu menangis, ia begitu takut menatap Ella yang kini memandangnya begitu menyeramkan.


"Ella, I asked you!" seru guru itu dengan gaya bahasanya.


"He want to kiss me Miss!" jawab Ella.


"He just want to kiss you. But you wanna make him dead!" ujar guru wanita itu.


Kelakuan Ella yang melempar Daniel keluar pagar pembatas, membuat Gabe harus datang ke sekolah. Sebagai seorang ayah yang posesif, tentu Gabe membela apa yang diperbuat putrinya.


"Jika putri saya kembali hendak dicium oleh anak laki-laki manapun!" ancam Gabe dengan kilatan mata sadis. "Aku pastikan ia tak punya bibir lagi!"


Bersambung.


mantap Ella! You are Dougher Young sejati!


Next?

__ADS_1


__ADS_2