
Hari sakral yang ditunggu oleh Bima tiba. Pria itu kini memakai baju koko putih yang disewa satu paket dengan baju pengantin wanitanya. Sang calon istri tak meminta pesta mewah dan mahar berlebihan. Lima puluh juta pemberiannya malah tersisa.
"Untuk ibu saja, sisanya," ujar pria itu.
Bima begitu tampan dengan balutan yang ia kenakan. Terra terharu melihatnya begitu juga Dinar. Keduanya memeluk Bima.
"Kau tampan sekali dik," puji Terra.
Bima tersipu, Sari ikut mengantar saudara satu pantinya itu dengan derai air mata bahagia. Pernikahannya kemarin memang membuka gerbang bagi semua saudaranya untuk melanjutkan hidup mereka.
Iring-iringan mobil mewah mengantar pengantin menuju rumah calonnya. Iring-iringan itu dikawal oleh tiga motor polisi patroli.
Mobil-mobil itu berhenti di sebuah lapangan masjid. Mereka turun dan berjalan kaki sekitar dua ratus meter ke rumah calon pengantin wanita.
Bima dikalungkan rangkaian melati. Pria itu pun masuk lalu segera duduk di depan wali dan penghulu. Haidar dan Virgou menjadi saksi untuk Bima. Sang pengantin perempuan keluar. Keduanya disampirkan kerudung di kepala.
"Sudah siap?" tanya penghulu.
Bima mengucap basmalah. Tangannya terjulur menjabat tangan ayah dari pengantin perempuan. Dengan suara terbata, sang ayah menyerahkan putrinya pada pria yang akan mengambil alih tanggung jawab sang ayah.
"Ananda Bima Putra Triatmodjo, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Masyirah Permata binti Dodo Saputra dengan mas kawin uang senilai sepuluh juta rupiah dan seperangkat perhiasan dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Masyirah Permata binti Dodo Saputra dengan mas kain tersebut di atas tunai!"
Satu tarikan napas, Bima ucapakan sumpahnya.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah!" pekik Haidar, Virgou dan salah satu saksi dari perempuan.
Penghulu mengucap hamdalah. Sah lah kini perempuan yang begitu cantik dengan titik mata haru.
Cincin tersemat di kedua jari manis pengantin. Mereka memamerkannya di juru kamera, kemudian buku nikah mereka berdua.
Bima menangis ketika sungkem di kaki Khasya. Ibu yang membawanya dari pasar, seorang wanita baik hati yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda ... terima kasih, sudah mengurus Bima dari kecil, mengerti kenakalan Bima, tak berhenti mengajari Bima penuh kasih sayang dan juga kesabaran. Terima kasih Bunda,"
Khasya mencium putranya itu. Ia seperti melepas Satrio yang akan menikah suatu saat. Seorang anak yang hanya dititipkan padanya lalu diserahkan pada sosok yang nanti akan mengurusnya hingga tua.
"Jadi suami yang sayang sama istri ya nak," pinta Khasya.
"Jangan kasari atau memakinya walau sedikit saja. Itu artinya kau memaki dan mengasari Bunda sayang," nasihatnya.
"Ayah ... huuuu ... ayah .... hiks ... hiks ... kau adalah ayahku yang terbaik, Bima beruntung memiliki ayah ... hiks ... hiks!"
Herman memeluk Bima. Ia memang sangat menyayangi seluruh putra angkatnya. Pria itu menyokong semua pendidikan putra dan putri panti untuk menggapai mimpi mereka.
__ADS_1
"Bimbing istrimu nak, pelankan suaramu di depan istrimu, jangan menyakitinya," nasihat Herman sama dengan Khasya.
"Iya ayah ... terima kasih ... terima kasih ... seumur hidup Bima, tak akan bisa membalas budi baik ayah," ujarnya lalu mengecup pipi pria tua itu.
Kini sepasang pengantin duduk bersanding di pelaminan. Wajah keduanya begitu bahagia. Herman dan Khasya duduk bersama pengantin dan juga besannya. Mereka juga tampak bahagia.
"Ih ... serasi banget ya pengantinnya," ujar salah satu tamu undangan.
Keluarga panti memberi selamat. Bima menangis dipelukan Dinar dan Sari juga seluruh saudaranya. Dinar mengusap wajah tampan adiknya.
"Selamat ya sayang, sekarang kau adalah seorang suami," ujar gadis itu.
"Makasih Mbadhe," sahut pria itu.
Masyirah atau biasa dipanggil Irah juga ikut dipeluk. Lana, Leno dan Lino kini duduk bersama pengantin. Irah tak keberatan mengatakan tiga anak itu adalah adiknya.
"Balo mamat padhi pemuana!"
Harun dan semua perusuh ada di atas panggung berikut delapan anggota baru. Arsyad, Aaima, Al Bara dan El Bara, Aisyah, Maryam dan Fatih lalu terakhir Fathiyya.
Mereka sudah berjoged padahal ketua perusuh belum memulai.
"Syoba ... ipu pi dondisitan pala payi!" titah Harun bossy.
Bariana dan Arraya menenangkan semua adiknya.
"Lum lai?" tanya Arsyad.
"Lum baby," sahut Arraya.
"Pih au odet!" sahut Aaima tak sabaran.
Samudera, Benua, Domesh, Sky, Bomesh, Ditya, Radit, dan enam adik Azizah hanya diam dan duduk manis. Mereka anteng menonton dan memberi tepuk tangan bagi saudaranya. Azizah masih pemulihan, gadis itu jauh lebih baik. Bahkan kini ia bisa berjalan tanpa harus menggunakan tongkat. Hanya saja jahitan di kaki kanannya belum bisa membuatnya bergerak bebas. Herman menyuruh gadis itu istirahat di rumah sakit sampai benar-benar sembuh.
"Baby kenapa kalian nggak maju?" tanya Rion.
"Panggungnya udah penuh kak!' jawab Adiba..
Rion duduk bersama adik-adiknya dsn merekam aksi perusuh.
"Paitlah pita atan beulpanyitan peubuah ladhu!" sahut Harun.
"Busyit!"
Affhan memainkan keyboardnya. Semua anak-anak sudah bergoyang heboh.
"Yan ... yan ... yan ... pidoyan-doyan yan ...!" Harun bernyanyi lagu dangdut.
__ADS_1
"Dut ... dut ... dut ... yut pita beulpandut .... yan pipoyan pipoyan yan ....!"
Semua heboh bergoyang pinggul. El dan Al Bara malah berjoget sambil nungging, hingga semua tertawa.
Lidya dan Demian ikut terkikik geli sedangkan Dominic hanya menghela napas panjang. melihat kelakuan dua cucu kembarnya.
Panggung heboh dengan lagu dangdut ala perusuh.
"Sel ... poha ... payo Daddy doyan!" ajak Azha ikut memutar pinggulnya.
Seruni memalingkan wajahnya. Ia begitu kesal dengan goyangan putranya. Tapi sang suami malah turun ke depan panggung dan ikut bergoyang heboh.
Virgou juga ikut bergoyang begitu juga Haidar. Darren mengikuti ayahnya dan berjoged bersama tiga anak kembarnya.
"Ayo Jac, kita lupakan semua yang membuat penat!" ajak pria itu menarik pria bawahannya.
Akhirnya bawah panggung heboh dengan joget dangdut. Semua tamu tertawa dan terhibur. Tak ada kaya dan miskin di situ, beberapa bapak juga ikut berjoged dan menyawer para penyanyi cilik.
"Atu lah banelan pandut yan atan mendutan puniaaa ... wewat busyit yan tu bain tan ... wewat ladhu yan tu pain taan ... beutelah atuh peusal banti ... atan padhi si laja pandut ... pandut ... pandut ... pan ... pan ... pandut!"
Azha bernyanyi lagu pangeran dangdut milik salah seorang penyanyi pria yang telah lama meninggal dunia.
Lagu dangdut selesai semua bertepuk tangan para penyanyi dapat uang sawer yang lumayan banyak. Lana, Leno dan Lino ikut naik panggung.
"Ata' bawu panyi?" ketiganya mengangguk.
"Halo nama saya Leno, saya akan menyanyikan lagu untuk semua olang," ujarnya.
Bocah usia empat tahun ini bernyanyi lagu anak-anak. Sebuah lagu sederhana.
"Oh ... ibu dan ayah selamat pagi ...."
Para perusuh mengikuti lagu itu. Lino menyerahkan mik pada Arsyad yang ingin sekali bernyanyi. Lino membimbingnya dengan telaten.
"U egi welola pe pan nti ... mat mat lajan at ... nuh ... nenanat ..." Arsyad hanya mengikuti sebisanya.
"Polmati bulu mu payani penan ... ipu lah pandana tau mulitna baba!"
Lagu pun selesai semua bertepuk tangan meriah. Budiman tersenyum mendengar lagu itulah. Mengingat semua anak mereka yang masih kecil kini sudah beranjak remaja.
"Kalian sudah besar sekarang," ujarnya.
bersambung.
hai ... readers maaf ya cuma satu ... karna hari ini othor sibuk banget. makasih ba bowu ❤️❤️❤️
next?
__ADS_1