
tinggal minta tolong sama Om Hasan, buat minta duitnya, dan semua harta Rianti, nanti kamu bisa ambil bagiannya, dan dapat untung dari Om Hasan juga”, kata Elin.
Sudah jelas, sekarang rencana mereka semua, memang, sama – sama ingin merebut harta Rianti, dan juga memanfaatkan Irfan.
Aku dan Irfan keduanya menjadi degup jantungnya, terasa amat keras, berdetak mendengar kata – kata mereka, benar memang, Irfan sendiri di luar, masalah keluarga Rianti, dia juga di perangkap oleh Fansnya, untuk di jadikan alat atas ketenaran dirinya sebagai artis, dan masalah aku dengan keluarga yang ingin menguasai harta, hanya Irfan juga yang bisa menjadi kuncinya, karena mereka semua juga ingin memecah belah hubungan persahabatan Irfan dan aku, dan sekarang benar – benar tahu, karena yang di incar oleh orang di belakang Irfan, dan aku adalah harta itu masalahnya sama – sama, berebut soal harta.
“Yuk kita pulang”, bisiku pada Irfan, agar bisa cepat – cepat sebelum ketahuan, meninggalkan tempat tersebut, dan kami berdua meninggalkan tempat tersebut, ketika sudah meninggalkan tempat tersebut, aku termenung sejenak, dan air mata menetes di pipi, aku rasanya ada yang ingin benar – benar aku sampaikan pada Irfan.
“Fan kita ke starbucks Coffee sebentar ada yang mau aku bahas sama kamu”, kataku.
“Tapi setelah itu kita jemput Mbak Atin yah buat fisioterapi mama, aku tahu apa yang kamu mau omongin”, kata Irfan.
“Yah udah yang dekat rumah sakit situ saja”, usulku, dan Irfan menyuruh supir taksi yang kami berdua tumpangi mengarah ke arah rumah sakit, khusus stroke.
Kami berdua, turun di starbucks coffee sebelah kiri rumah sakit, dan kemudian kami berdua masuk ke dalamnya.
Aku menunggu, seperti biasa, di kursi ruang tunggu, dan melihat ke arah, sebelah kiri, di sana, ada lorong, tempat biasa, Irfan menunggu Mbak Atin, dan ketika Mbak Atin, menghampiri Irfan, barulah mereka berdua menghampiri aku, ke ruang tunggu tersebut.
“Yah udah yuk kita pulang”, kata Irfan.
Kami akhirnya, keluar dari rumah sakit, dan Irfan mencegat taksi biru, yang sedang lewat, Irfan duduk di sebelah supir, sedangkan aku, bersama Mbak Atin di jok belakang, aku melirik sejenak ke arah wajah, Mbak Atin, seperti ada yang sesuatu menganjal di hatinya, dan ada yang di takuti, tapi juga tersirat pemikiran yang sedang di pendam olehnya, Irfan menangkap dengan langsung apa yang di pikirkannya, termasuk aku juga.
“Di pagar sudah di gembok kan”, ? tanya mbak Atin.
“Sudah mbak”, jawabku.
“Entah kenapa, saya merasa takut kalau pulang”, cerita Mbak Atin singkat.
“Saya boleh cerita, apa yang kemarin terjadi”, ? tanya Mbak Atin dengan suara terdengar sangat ketakutan.
“Kemarin saya baru pulang dari rumah sakit, ada orang yang nanya – nanya tentang saya, dan orang itu adalah dokter memang di rumah sakit tempat saya kerja juga, dan sepertinya dia kenal dengan keluarga Mbak Rianti, apa sebaiknya saya keluar saja, dan kerja di rumah sakit lain”, ? tanya Mbak Atin.
“Emang dokter siapa yang kenal dengan keluarga saya, jawabbbbbb, dia bilang apa”, !! tiba – tiba saja, aku tidak bisa mengontrol emosiku kepada Mbak Atin, dan dia menangis, mengaku apa yang di alaminya.
“Dia bilang dokter saraf otak kenalan Mbak Desi namanya dokter Tonny Wahyono”, akhirnya dengan suara yang terputus – putus, karena menahan isak tangisnya dia mengakuinya.
“Dan demi Allah, saya akan menjaga amanah dari Mbak Rianti, dan Mas Irfan, kalau saya tetap berpihak dengan mbak Rianti, terutama, dan saya enggak dengarkan kanan dan kiri, termakan omongan yang lain, apalagi termakan bujukkan mereka, keluarga mbak Rianti emang pinter merayu, tapi saya tahu itu rayuan iblis, saya punya iman yang kuat, dan saya paham siapa yang salah dan yang benar, saya ingin tetap di jalan Allah, saya janji mbak, demi Allah, saya akan menjaga hati saya, dan saya keluar dari rumah sakit, tempat saya kerja enggak masalah, kalau pada akhirnya mereka meneror saya juga, karena kelihatannya sudah tahu, mama Mbak, punya fisioterapi yang baru, apa lebih baik saya keluar saja yah”, ? nada suara Mbak Atin, terdengar dia sendiri, merasa tertekan dengan apa yang di rasakannya sendiri juga.
“Kita bahas ini di rumah”, kataku.
“Aku nginap lagi dulu aja sementara di rumah kalau begitu, seminggulah”, kata Irfan kemudian.
“Mbak Atin rumahnya di mana, sementara Mbak Atin di rumah saya dulu aja, saya temani untuk ambil baju yah”, kataku.
Mbak Atin, memberikan alamat rumahnya kepadaku, dia menunjukkannya di notes Hpnya dan aku membacanya.
JL. Garuda No 5 Blok F Komplek Garuda II
Jakarta Barat
“yah udah kita ke sana dulu yah, baru habis itu fisioterapi mama, atau begini saja, jadwal mbak kan tiap hari, sementara sebulan gitu, di rumah dulu gimana, sambil kita bahas masalah ini, di rumah, mbak keluar dari rumah sakit atau gimana”, saranku.
__ADS_1
“Saya lebih baik keluar secepatnya”, kata Mbak Atin dengan suara resah.
“Yah sudah kalau begitu besok kita antar ke rumah sakit dan mbak Atin bilang saja, alasan keluarnya mau kerja di tempat lain, dan jangan sampai orang sana tahu, Mbak Atin ada di rumah Rianti, buat fisioterapi mama Rianti, merawat sekalian aja enggak apa – apa Mbak, gimana kalau sekalian merawat saja di rumah”, usul Irfan.
“Nanti di rumah saja kita bicarakan”, timpalku, sedangkan Mbak Atin hanya diam saja, perasaannya sedang galau tidak menentu, dan pada akhirnya taksi biru yang membawa kami semua, ke komplek perumahan yang di tuju, berhenti di depan pintu pagar berwarna hitam, Mbak Atin turun lebih dulu, dan membuka pintu pagarnya kemudian masuk ke dalam rumah sambil mempersilahkan kami berdua juga ikut masuk.
Di sana ada seorang ibu – ibu yang menyambutnya, dan aku tahu itu pasti ibunya, Mbak Atin mencium tangannya, tapi juga ada seorang anak kecil menyambutnya, sepertinya mereka hanya tinggal bertiga, lalu di mana, bapak dan suami Mbak Atin, dari sinilah, aku melihat keadaan Mbak Atin yang sebenarnya.
“Silahkan mas”, kata ibu itu mempersilahkan.
“Mas”, dia juga mempersilahkan Irfan duduk di sofa hijau ruang keluarga miliknya.
“Saya ibunya Atin, nama saya Erni”, kata Ibu Erni.
“ini Mbak Rianti, yang di ceritakan oleh Atin yah, saya sudah tahu semuanya ceritanya, kalau saran saya, daripada anak saya kerja di rumah sakit itu malah di terror juga, lebih baik keluar saja, dan tinggal di rumah boleh enggak sementara sambil merawat juga mama mbak, Atin juga kan bisa fisioterapi mama mbak”, kata Ibu Erni.
“Yah kalau begitu, kita memang mau pamit, untuk sementara paling enggak sebulan dulu sambil fisioterapi dan merawat mamaku di rumah, ini juga Irfan, mau seminggu dulu di rumah, dia emang sering nginap sampai keadaan benar – benar aman”, kataku panjang lebar.
“Mudah – mudahan Insya Allah, kalau sama Atin, bisa ada perubahan dari stroke mama Mbak Rianti”, kata Ibu Erni, dan aku dari kejauhan juga, melihat Atin sudah membawa tasnya untuk di bawa ke rumahku, juga kelengkapan kebutuhan dirinya yang lain
“Yuk kita pulang”, ajak Mbak Atin pada aku dan Irfan yang masih duduk di sofa, dan kemudian kami semua, meninggalkan rumah Mbak Atin dan pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, karena kamar tamu, yang di pakai oleh, Irfan akan di pakai oleh Mbak Atin, makan Irfan sementara pakai kamarku dulu, dan aku tidur di kamar mama dan papa juga sementara waktu.
Di malam itu, selesai mama fisioterapi dengan Mbak Atin, aku dan Irfan, serta mama dan papa juga, kami mengobrol bersama mengenai masalah ini semua, sambil menikmati kopi susu dingin dan cemilan pisang goreng coklat.
“Yah kalau papa bilang, Mbak Atin juga jadwalnya tiap hari sebulan di sini dulu, asalkan pintu di gembok, jadi bisa sambil merawat mama Reina juga, nanti di tambah saja uangnya jadi 450 ribu, karena merawat sekaligus fisioterapi”, usul papaku.
“Yah coba saya mau telepon dulu teman saya yang di rumah sakit Jakarta Timur, Wiwid, itu sahabat baik teman saya curhat emang, dan Insya Allah dia bisa pegang amanah omongan saya”, kata Mbak Atin panjang lebar.
Di depan kami semua, Mbak Atin menelepon seseorang yang di sebutnya, bernama Wiwid, dan Wiwid langsung mengangkat teleponnya.
“Halo asalamualaikum”, sapa Wiwid.
“Kamu kenapa Tin”, ? tanya Wiwid kemudian mendengar suaranya menangis.
“Saya di terror sama keluarga Mbak Rianti wid, saya mau keluar saja kalau begitu dari rumah sakit, itu gimana, dan saya sebulan dulu aja mau kerja sambil ngumpet di rumah Mbak Rianti, sambil fisioterapi dan merawat mamanya, tapi kamu jangan kasih tahu orang lain, keberadaan saya di mana, intinya gini, kalau ada orang dari pihak rumah sakit itu, tempat saya kerja, nanya saya, bilang aja saya kerja di rumah sakit tempat kamu kerja”, kata Mbak Atin.
“Yah oke deh”, kata Wiwid mengakhiri pembicaraan dengan Mbak Atin.
“Gini saja Fan, kamu kapan mau ketemu Notaris lagi, mengenai jual tanah di Depok punya kami, coba hubungi lagi, kapan pelunasannya, dan kalau sudah lunas, kami mau bayar pengacara untuk masalah ini”, usul mamaku.
“yah saya coba wa dulu yah Pak Tionya”, kata Irfan dan terlihat dia sedang mengirim pesan whatsapp kepada Notaris tersebut.
“Pak Tio besok bisa kita ketemu di Notaris lagi”, ? tanya Irfan.
“Saya mau lunasin, uang saya beli tanah di Depok milik Ibu Reina Anggoro”, kata Irfan lagi.
Tidak lama kemudian, Irfan mendapat jawaban dari Pak Tio sang Notaris tersebut, aku ikut melihat apa yang di tulis olehnya.
“Yah besok jam 10 yah”, kata Pak Tio.
__ADS_1
“Alhamdulilah”, balas lagi Irfan, dan kemudian menghadap ke arahku, tidak ada kata yang bisa aku utarakan lagi, aku hanya bisa memeluknya sambil menguraikan air mata.
“Besok saya nanti ke rumah saja untuk minta tanda tanda Ibu Reina, tanah itu kan atas nama Ibu Reina”, Pak Tio mengirim lagi pesan whatsapp pada Irfan.
“Berarti kita ketemu di rumah saja yah, di rumah Rianti”, ? kata Irfan.
“Yah ketemu di sana”, kata Pak Tio.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku langsung masuk ke dalam kamarku, dan Irfan mengikutiku sejenak ke dalam kamar, untuk mengajak ngobrol aku, mengenai soal Indah, dan aku mendengarkan apa yang di utarakan olehnya.
“Irfan besok setelah dari Notaris gimana kalau kita ke rumah Indah, aku pengen dengar cerita dia detail mengenai Elin dan Mira, karena setelah kamu bayar aku lunas, kamu bantu aku cari pengacara yah Fan”, kataku.
“Kalau begitu aku akan cari dari sekarang, kalau nanti ada gugatan, atau saling gugat, aku sama Indah yang bisa jadi saksinya, masalah keluarga kamu”, kata Irfan.
Irfan meninggalkan, aku ke dalam kamar kembali, dan aku mulai untuk istirahat, belakangan ini sejak kejadian, teror dari keluarga di rumahku, aku jadi susah tidur, tapi aku berusaha untuk memejamkan mata.
Adzan subuh, kembali terdengar, aku terbangun, dan kemudian, aku pergi ke arah kamar mandi, untuk mengambil air wudhu, setelah itu, aku melakukan subuh, setelah sholat subuh aku berlinangan air mata, sambil memanjatkan doa.
“Ya Allah, mau sampai aku harus terus dan menerus, di sakiti, oleh keluarga aku sendiri, yang sudah buta, oleh duniawi, dan sudah enggak kenal lagi, apa yang di namakan, hati, mereka sudah jadi iblis karena harta, dan mereka, sudah enggak peduli lagi, perasaan aku seperti apa, aku sudah benci dengan keluargaku sendiri, rasanya Ya Allah, apalagi Om Hasan, yang terus dan terus, mau teror aku, Ya Allah, aku enggak pernah berharap apapun dengan, manusia, karena aku tahu, berharap dengan manusia, pastinya akan kecewa, tapi aku hanya butuh kasih sayang, kalau ada orang yang memberikannya itu padaku, kenapa harus di halangi, di hancurkan, di pisahkan, karena mereka mau memenjarakan aku ke dalam penderitaan, menindih aku ke dalam lubang hitam, sampai aku harus berteriak keras, untuk keluar dari dalam sana, aku sayang sama Irfan yang memang, sayang sama aku, dan enggak memperlakukan aku seperti mereka, walau hanya sahabat, tapi Cuma Irfan yang memberikan aku kekuatan untuk menghadapi semua, dan aku tahu, hanya Irfan yang kuat untuk membela aku, bahkan sama – sama hadapi semua ini, hadapi para iblis, yang hawa nafsunya sedang berkobar untuk menguasai harta”
Baru saja selesai sholat subuh, aku mendengar ketukan dari kamar, dan aku tahu itu Irfan, dia memberi kabar akan sesuatu yang baru saja di lakukannya tersebut, dan menceritakannya kepadaku.
“Aku sudah telepon pengacara aku, namanya Rendy aku sudah ceritakan semuanya dulu sama dia, kalau masalah bayarnya nanti biar aku yang bisa tanggung, tapi aku sama dia lagi atur dulu untuk bisa ketemu dia dan kita ngobrol masalah keluarga kamu”, kata Irfan panjang lebar.
“Yah udah kalau begitu kapan kita ketemu dia buat aku bisa cerita dulu masalahnya ke dia”, ? tanyaku.
“Nanti kita atur yah Ri”, jawab Irfan, aku menganggukan kepala dan menutup pintu kembali, di dalam kamar aku merenung, sejenak dari semua rangkaian yang terjadi, sebelum akhirnya, aku melakukan sesuatu yang tiap pagi harus aku kerjakan, kalau saja, mereka semuanya, bisa kembali normal, dan keadaan bisa di rumah seperti dulu, mungkin semua ini juga tidak akan pernah terjadi, karena mereka pada akhirnya, yang mungkin, nanti menjadi kembali kekuatan di dalam rumah.
“Ri, beli bubur yuk, mumpung jam 7 baru mangkal orangnya”, ajak Irfan.
“Aku mandi dulu”, sahutku, sambil mengambil handuk di jemuran, yang di taruh di ruangan tempat naruh koleksi sepatuku, dan kemudian, aku pergi ke arah kamar mamaku, dan kemudian aku mandi seperti biasa di sana, di dalam kamar mandi, mamaku.
Selesai mandi, aku langsung kembali ke dalam kamar, terlihat mama sedang makan nasi dengan telur, dan sedang di buatkan juga sayuran oleh Mbak Atin, dan nanti setelah sarapan mama berjemur, dan kemudian fisioterapi.
“Ma, nanti jam 10 aku sama Irfan mau ke Notaris, mama dan papa di rumah yah, sama Mbak Atin”, kataku.
“Mbak, gembok pagar aku bawa yah, ada yang ketok diam saja, enggak usah keluar sampai saya dan Irfan pulang”, kataku kemudian mengajak bicara Mbak Atin.
“Masalah Om Hasan, dan juga keluarga mama, Irfan sudah hubungi juga pengacara Rendy, agar nanti kita bisa atur ketemu sama dia”, kataku kemudian.
“Iyah oke”, ! seru Mbak Atin.
“Nanti saya kalau ada gugatan mau jadi saksi juga”, kata Mbak Atin kemudian.
“Yah untuk sementara kita semua, jangan sering keluar rumah, kalau bukan yang perlu, untuk Mbak Atin, kalau mau apa – apa, pas aku keluar, pagar aku gembok, dan Mbak Atin nitip aja kalau perlu apa – apa, yang penting kebutuhan mama, sudah cukup kan di rumah, pempers, tisu basah dan tisu kering”, kataku.
“Oke”, kata Mbak Atin mengangguk. Dan kemudian aku dan Irfan meninggalkan rumah untuk menuju kea rah rumah Indah, rasanya aku benar – benar ingin keterangan semua yang lengkap pengakuan dari Indah, agar ada bukti yang sangat akurat, kalau memang suatu saat aku sudah berhubungan dengan pengacara, apalagi jual tanah di Depok juga sudah tinggal pelunasan dari Irfan.
Bab 4. Ketika Pelunasan Jual Tanah Itu Tiba.
Jam 8 pagi, aku dan Irfan sudah tiba di rumah Indah, dan satu hal yang aku juga tidak menyangka, kalau Irfan menceritakan seharian di dalam mobil, dia juga sebenarnya, juga sudah punya kontak whatsapp Indah, tetapi dia mendapatkannya dari pengacara yang nantinya akan menangani kasus masalah aku dengan keluarga, dan tujuan aku dan Irfan juga, ke rumah Indah, untuk meminta keterangan jelas yang sangat akurat sebagai bukti, Indah sendiri, tidak menolak akan hal itu, dan di rumahnya, dia dan keluarganya malah menyambut dengan baik kami berdua, Irfan juga bercerita latar belakang sendiri, Indah, memang orang yang kekurangan ekonomi, dan membutuhkan uang, namun sebenarnya dia adalah orang yang ingin segala cara jalan yang di tempuhnya itu dengan jalan yang lurus.
__ADS_1
“Mbak Rianti, sebenarnya saya dari dulu, pengen keluar dari grup fans sesat itu, saya tahu Irfan sendiri dan keluarganya, adalah orang yang suka berbuat kebaikan dengan orang lain, apalagi mereka sering sedekah, bahkan memberikan contoh kebaikan itu kepada orang lain, tetapi hal itu di salah gunakan dengan orang – orang,