
Empat jam perjalanan di tempuh. Anak-anak bernyanyi senang. Raka dan istrinya sudah berada di dalam bus bersama sepasang anak kembar mereka.
"Ata' Lata, tot baby eundat beulnah pihat Ata'?" tanya Bariana pada Raka..
Pria itu menaikkan tubuh bayi itu di atas perutnya dan menciumi hingga Bariana protes.
"Ata' ... atuh beultanya!"
Sang istri juga sangat gemas dengan bayi cantik dan montok ini.
"Kau menggemaskan baby," ujarnya.
"Atuh beulpanya Ata'!" seru Bariana mengingatkan.
"Kakak jarang ketemu kalian baby karena rumah kakak jauh," jawab pria itu.
"Tot eundat bidedetin bumahna?" tanya Bariana.
"Nggak bisa sayang, jadi jauh ke kantornya," jawab Raka.
"Euh ... palesan!" sahut bayi cantik itu melipat tangannya.
Raka tertawa melihatnya. Ia menciumi bayi itu dan membawanya untuk tidur bersama.
"Panggil Papa Raka deh ... jangan kakak!" pintanya.
"Baliana lada papa ladhi don!" sahut bayi pintar itu.
"Iya baby, panggil juga Mama Mila ya," pinta istri Raka.
Bayi cantik itu mengangguk. Sepasang suami istri itu memeluk Bariana. Maria benar-benar santai, begitu juga Seruni, putranya bersama dengan Kakak iparnya, Virgou. Begitu juga Jac dan Putri yang tenang karena putrinya ada di tangan Herman dan Khasya.
"Nah, itu dia mansion Daddy!" teriak Demian senang.
Semua perusuh bersorak mengikuti Demian. Bus berhenti tepat di depan teras bangunan tiga lantai itu. Dominic sudah berdiri di ambang pintu menyambut tamunya. Para maid membungkuk hormat. Demian, memeluk ayahnya erat di susul Lidya dan lainnya.
"Kalian benar-benar mengundang Eropa!" kekeh pria itu.
Dominic juga memeluk Kanya. Ia mengucap bela sungkawa pada wanita itu.
"Aku turut berduka,"
"Terima kasih," ujar Kanya.
Bram memeluk besan menantunya itu.
"Sehat mas?" tanya Dominic.
"Alhamdulillah," sahut Bram dengan senyum.
Semua masuk. Para maid memasukkan koper-koper di kamar masing-masing.
Al dan El Bara sudah digendong kakeknya.
"Kalian tampan sekali baby," pujinya.
"Atuh judha pampan Tate Poninit!" sahut Azha menimbrung.
"Tentu baby, kau paling tampan," sahut Dominic dengan senyum lebar.
Para bayi mengerubuti pria itu. Bahkan Maryam, Aisyah dan Fatih ikut mengoceh pada Dominic yang melaga mereka.
"Ngomong apa nak?"
__ADS_1
"Auandhwnjwubwgwhuiiiuuu ... jwkiunsjuikkkwiahhsh!" sahut Fatih dalam bahasanya.
"Yuk, kita bercengkrama di taman belakang. Aku sudah menyiapkan taman bermain untuk anak-anak!" ajak pria itu.
Semua ke taman belakang. Anak-anak sudah bermain di sana. Suara teriakan dan tawa terdengar. Aini mengingatkan adiknya jangan berebutan.
"Sayang, jaga adiknya jangan berebutan!"
"Iya mba," sahut Ditya.
"Mbat Baini ... Mbat Baini!" panggil Arraya sambil terkikik geli.
"Baby," Aini gemas dengan Arraya yang selalu menggodanya itu.
Arsyad sudah berlarian bersama Dimas dan Affhan juga Raffhan.
"Ramai sekali ya?" ujar salah satu maid pada rekannya.
"Iya, punggungku pegal karena membereskan banyak kamar," keluh salah satunya.
"Berapa lama mereka di sini?" bisik salah satunya.
"Katanya empat atau lima hari," sahut salah satu menjawab.
"Lama sekali ... pasti pekerjaan kita akan menumpuk!" keluh salah satu lagi.
"Jika kalian tak sanggup, kalian bisa kok keluar dari pekerjaan ini!"
Semua terkejut ketika mendengar hal itu. Mereka menoleh. Lidya menatap semua maid yang mengeluh karena kedatangan semua keluarganya.
"Nyonya!" pekik para maid menunduk takut.
"Kalian tau, aku paling tidak suka bertindak terlalu kejam dengan para pekerja selama mereka bekerja dengan baik," terang wanita itu.
"Anda tak bisa mengusir kami. Bukan anda yang membayar kami!" sahut salah satu maid dengan berani.
"Memang, tapi yang membayar kalian adalah mertuaku," sahut Lidya tenang.
"Kalian pikir apa mertuaku itu tak akan menuruti apa mauku terlebih pada kalian yang kurang ajar?"
"Hei ... kenapa kalian berkumpul di situ?" teriak Dominic.
"Ah Lidya, kenapa kau di sini sayang?" tanya pria itu heran.
Para maid pucat. Dominic yang tidak tau perihal apa yang terjadi bingung. Ia mendatangi maid karena dari tadi pekerja rumahnya itu tak datang membawa minuman dan makanan yang telah ia suruh persiapkan.
"Sayang?" panggilnya penuh pertanyaan pada Lidya.
"Daddy, barusan aku mendengar keluhan ...."
"Nyonya tolong maafkan kamu nyonya!" potong semua maid langsung meminta maaf dan membungkuk hormat pada dua atasannya itu.
"Kami mohon beri kesempatan lagi!" pinta mereka dengan suara sedikit serak.
"Sayang?" tanya Dominic pada menantunya.
"Sudah daddy, mereka telah meminta maaf, jadi tak usah dipermasalahkan ya," ujar Lidya menenangkan mertuanya.
"Baiklah sayang," ujar pria itu percayakan semuanya pada Lidya.
"Tolong suruh mereka menyiapkan apa yang telah aku perintahkan tadi," pintanya pada Lidya.
Dominic pergi. Lidya menatap sepuluh maid dengan tajam.
__ADS_1
"Apa kalian tak mendengar perintah mertuaku barusan?"
"Siap nyonya!" sahut salah satu dan meminta semua rekannya melaksanakan perintah sang majikan.
Lidya mengamati semua maid yang mulai mengangkat minuman dan juga makanan untuk keluarga.
"Ah ... aku sudah haus, mana minuman!" pinta Raka.
Salah satu maid menyodorkan baki berisi minuman. Raka mengambil satu gelas koktail dan menenggaknya habis.
"Ahh ... segar!"
"Aahh ... sedal!!" tiru semua bayi.
Raka terkekeh melihat para perusuh yang begitu kompak berjejer dan meminum air dalam gelas koktail mereka.
"Bana sendot?" tanya Harun, "bawu matan puahna!"
Satrio memberikan sendok kecil pada bayi itu.
"Bas pini puah pa'a?" tanya Harun menyorong buah berwarna merah pada mulut Satrio.
"Buah naga!" ujar Satrio ketika buah itu masuk ke mulutnya.
Semua buah masuk ke mulut remaja itu. Harun meminta gelasnya diisi lagi oleh buah yang sama yang dimakan oleh kakaknya itu.
Salah satu maid mukanya ditekuk karena harus memilih buah yang sesuai dengan apa yang tadi dimakan oleh Satrio.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Demian.
"Ti—tidak apa-apa tuan!" cicit maid itu takut.
Lidya membiarkan para perusuh mengerjai para maid. Wanita itu sakit hati keluarganya dibilang menyusahkan orang.
"Biar kalian rasa bagaimana kesusahan itu!" sungutnya dengan senyum sinis.
Terra melihat putrinya yang sangat puas melihat para perusuh mengerjai maid-maid yang bertugas, mendekati perlahan-lahan.
"Ada apa sayang, kenapa wajahmu seperti itu?" tanyanya.
"Biar Mama ... biar mereka tahu rasa!" sungut Lidya masih kesal. Ia seperti belum puas.
"Apa ... kenapa sayang?"
Lidya menoleh pada ibunya. Wanita bertubuh mungil itu tersenyum lebar.
"Sayang?' peringat Terra.
"Kalau nggak mau cerita, mama akan marahi adik-adik yang mengerjai para maid!" ancam Terra.
Lidya cemberut. Akhirnya ia memberitahu apa yang terjadi sepuluh menit lalu ketika memergoki para maid yang mengeluh.
"Jadi karena itu toh?" Lidya mengangguk.
"Baiklah, mama setuju," lanjutnya ikut senang atas aksi bayi-bayinya yang mengerjai para maid.
"Biar mereka rasa bagaimana rasanya disusahkan!"
bersambung.
duh ... Mama dan anak balas dendam 🤦
next?
__ADS_1