SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HADIAH UNTUK MOMMY MARIA


__ADS_3

Lana, Leno dan Lino saling pandang. Mereka menatap dua benda di tangan mereka.


"Kita jadi kasih ke Mommy?" tanya Lana.


"Masa kasihnya nggak dibungkus?" sahut Leno.


"Kemarin kita pinjam uang sama Om Toni loh buat beli ini, kalian inget ya harus kita balikin!" ujar Lana mengingatkan.


Kemarin ketika di mall mereka mendekati salah satu pengawal dan meminjam uang untuk membelikan hadiah untuk salah satu ibu yang begitu sabar mengurusi mereka.


"Kemarin ini harganya berapa?" tanya Lino.


"Kalau dijumlahkan semua ada 68,7 dolar," jawab Lana.


"Bener segitu?"


"Ini struknya masih ada!" tunjuk Lana pada sebuah kertas.


"Eh harganya dicopot atau dicoret dulu!" ujar Lino memberitahu.


Ketiga anak itu memang berada terpisah dengan yang lainnya. Leno berusaha merusak kertas bertuliskan nominal angka di sana.


"Udah!" ujarnya.


"Terus kasihnya gimana?" tanya Lana, "dibungkus enggak?"


Melihat tiga adiknya sedang berdiskusi, Alim mendekati mereka, bocah enam tahun itu penasaran dengan apa yang tengah dibicarakan.


"Kalian ngapain?" tanyanya.


Tiga anak menoleh pada Alim. Lana menyerahkan kotak pada Alim.


"Apa ini?" Alim membuka kotak.


"Untuk Mommy Maria," jawab Lana.


"Eh kak, nanya 68,7 dolar kalo dirupiahkan itu berapa ya?" tanya Lino, bocah itu masih ingat berapa utang yang harus mereka bayar pada salah satu pengawal.


"Eum ... nggak tau dik, kita harus tau berapa nilai mata uang kita terhadap dolar," jawab Alim.


"Emang beda ya Kak, dolar sama rupiah?" tanya Leno.


"Beda Dik. Eum, kita tanya Papa Baby ya," ajaknya.


Keempat anak mendekati Rion yang sedang bersama Bart. Azizah tengah membantu Maria dan Terra memasak kudapan.


"Papa!" panggil keempatnya.


"Ada apa Babies?" sahut Rion..


"Pa, 68,7 dolar itu kalau dirupiahkan berapa?" tanya Lana langsung..


"Kenapa memangnya?" tanya Rion.


"Mau tau Papa," jawab Lana lagi.


"1.062.668,78 Rupiah," jawab Rion.

__ADS_1


"Satu juta enam puluh tiga ribu ya kalau dibulatkan," sahut Lino.


"Oteh Papa, makasih ya,"


"Memang kenapa sih kalian tanya tentang dolar?" tanya Rion penasaran.


"Alim sih nggak tau Pa, mereka nanya ke Alim soal nilai dolar ke rupiah," jawab Alim.


"Babies?" tanya Rion pada tiga eL.


"Kemarin kita beliin ini untuk Mommy Mar, Pa," jawab Leno lirih sambil memberikan kotak putih pada Rion.


Bart ingat jika ketiganya kemarin ingin membelikan sesuatu pada Maria. Tetapi, pria itu tak menyangka jika tiga saudara kembar ini jadi membelikannya.


"Kalian katanya nggak punya uang?" tanya Bart.


"Kita pinjem uyut," cicit Lana menunduk.


"Kita janji, buat bayar kok Yut. Kita kemarin kan selalu nabung uang jajan, jadi pasti ke kumpul banyak!" ujar Lino menenangkan Bart. "Jadi Uyut nggak perlu khawatir!"


Bart tersentuh begitu juga Rion. Ketiganya tidak mau merepotkan orang tua dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.


"Kalian yakin jika punya uang segitu?" tanya Rion menyamakan tingginya dengan anak-anak..


"Kalo nggak cukup, Alim akan bantu!" sahut Alim. "Alim juga punya uang celengan!"


Bart makin terharu, begitu inginnya mereka ingin membuat salah satu ibu mereka senang, Alim yang tidak ikut, malah bersedia membantu saudaranya. Alim tiba-tiba pergi dan menyambangi tiga kakak laki-lakinya, Ajis, Amran dan Ahmad. Alim seperti memberitahu sesuatu lalu Ajis malah pergi ke kamarnya.


Ahmad dan Amran mengikuti Alim mendatangi Lana, Leno dan Lino. Ketiga bocah itu ikut menjadi penjamin jika uang pinjaman itu pasti dikembalikan.


"Iya, kalau uang Dik Lana, Leno dan Lino nggak cukup. Ahmad ada uang celengan kok!" Amran ikut mengangguk.


"Waktu sebelum liburan Ajis ikut lomba hafal cepat Al-Qur'an dan Al-hadist, dapat juara satu. Ajis belum buka. Alhamdulillah nggak kena sensor pesawat, mungkin karena uang ini berkah ya," jelasnya.


Bart membuka dan menghitung isinya. Ia sudah tak sanggup menahan tangisnya. Pria gaek itu memeluk semua anak-anak. Azizah berhasil mendidik adik-adiknya untuk saling peduli dengan lainnya.


Mendengar Bart yang menangis, membuat semuanya panik terlebih pria tua itu memeluk adik-adik Azizah. Wanita itu sampai takut.


"Sayang, kalian apakan uyut?" tanyanya cemas.


Rion berdiri dan memeluk istrinya, ia juga sangat terharu dengan didikan istri pada semua adiknya.


"Kalian kenapa sih?" tanya Herman gusar.


Khasya jadi ikut menangis mendengar Bart yang menangis seperti orang kehilangan.


"Vir ... Virgou!" panggilnya.


Pria beriris biru itu juga heran dengan kakeknya, ia mendatangi Bart. Pria gaek itu menarik Virgou dan menangis kencang di sana.


"I'm sorry ... I'm so sorry ... huuuu ... uuu ... hiks!"


"Grandpa!" Virgou memeluk kakeknya erat.


Semua jadi ikut menangis ketika Bart menceritakan kenapa dia seperti itu.


"Nak ... aku malu denganmu sayang," ujar Bart pada Azizah.

__ADS_1


"Lana, Leno dan Lino bukan adik kandungmu, tapi kau mendidik semua adikmu saling memiliki satu dan lainnya. Sedangkan aku yang tua saat itu, malah menyudutkan Virgou karena memuji putraku sendiri!"


Azizah ikut tersedu, ia mengusap jejak basah di pipi keriput pria gaek itu. Herman memeluk Virgou yang kembali mengingat kesalahannya pada mendiang sang paman, ayahnya Terra.


"Kakak, jangan seperti ini!" pinta Terra memeluk Virgou.


"Te yakin Ayah juga merasa bersalah padamu, karena dia lah yang melempar semua kebodohannya padamu," lanjut wanita itu.


Terra memeluk Virgou. Haidar ikut memeluk keduanya. Semua pun berpelukan. Maria begitu terharu ketika Lana, Leno dan Lino menyerahkan hadiah itu.


Sebuah jepit dan kalung salib mutiara yang sangat cantik dan indah.


"Ini untuk Mommy karena selalu sabar dengan kenakalan kami, we love you Mom, Ba bowu!" ujar Lana.


Maria memeluk tiga anak yatim piatu itu. Wanita itu tak menyangka betapa perhatiannya mereka semua pada dirinya yang sesungguhnya orang luar.


"Mommy juga mencintai kalian," ujarnya lalu mengecup semua anak-anak.


"Ommy!" pekik Arsh.


"Baby ... sini!" Maria terkekeh dengan bayi galak nan tampan itu.


Arsh selalu ingin jadi nomor satu, ia akan mengakui semua kebaikan kakak-kakaknya adalah ajaran dirinya.


"Ommy eulsaya tan?" tanyanya dengan mata bulat memaksa Maria mengiyakan pengakuannya.


"Iya Baby, Mommy percaya kalo Arsh yang meminta Kak Lana, Kak Lino dan Kak Leno yang membelikan hadiah itu," jawab Maria.


Arsh mengangguk, Kean mengusili bayi galak itu. Remaja itu pun mendekati Arsh.


"Baby Om Tony nagih uang yang buat beli kalung sama jepit," ujarnya.


Haidar gemas sekali dengan keusilan Kean, pria itu menjewer pelan kuping remaja itu hingga Kean mengaduh dan minta ampun.


"Jangan goda adikmu, Baby!" peringat Rion.


"Habis gemes Kak, masa semuanya harus dia sih yang jadi bintangnya!" sahut Kean.


"Ata' Ean!" panggil Arsh santai.


"Imi poss ... andil tuh poss!" titah bayi montok itu.


"Butan Poss Baby!" sahut Maryam. "Banti tamu pipandil pos saspam pama Ata'Tean!"


"Pos satpam!" ledek Kean.


Dug! Arsh menendang tungkai kering Kean sampai mengaduh kesakitan.


"Baby, nggak boleh gitu sayang!" peringat Maria.


"Ata' atal Ommy ... hiks!" Arsh mencebik-cebikkan bibirnya.


"Maaf Baby, Kakak senang kamu galak," ujar Kean lalu mencium Arsh hingga tergelak.


Bersambung.


Sesama saudara itu saling memiliki.

__ADS_1


Ada air mata dikit.


Next?


__ADS_2