
Virgou menuju markasnya. Gomesh sudah ada di sana. Seperti titah tuannya, ia melepas salah satu anak buah Salvador Allende. Mafia dari klan BlackMamba, yang berpusat di Italia. Klannya cukup besar di Indonesia terlebih banyaknya oknum pemerintah yang terlibat dengan mafia tersebut.
Gomesh benar-benar membuat tato di tubuh pria itu dengan pisaunya sendiri. Sebuah tanda yang dikenali semua orang.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai pada markas. Virgou langsung duduk di kursi kebesarannya. Sembilan belas yang merusuh acara putrinya itu masuk penjara bawah tanah. Ia mendatanginya, para pria bertumpuk dengan mandi peluh. Udara di sana panas sekali. Gomesh mematikan mesin pendinginnya.
"Tuan ... kasihan kami Tuan. Kami hanya pesuruh saja," rengek salah satu pria yang sudah tak tahan akan siksaan.
Dengan hanya mengkodekan saja, Leo pengganti mendiang Krenz, langsung menyalakan mesin pendingin.
"Beri mereka roti!" titahnya.
Leo sudah menyiapkan semuanya. Ia tau jika ketuanya itu sangat baik hati. Makanya sebelum diperintah, pria itu menyiapkannya. Semua tawanan makan dengan lahap. Mereka berteriak mengucap terima kasih. Bahkan Virgou juga memberikan air minum dalam kemasan plastik.
Mendatangi Lidya membantunya menjadi baik hati. Sungguh sebelum mendatangi putri yang memiliki kelebihan khusus itu ia ingin membunuh semuanya.
"Terima kasih Lidya!"
"Tuan!" sapa Gomesh yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Bagaimana!"
"Sudah dikerjakan Tuan. Mungkin Salvador langsung menembak mati pria malang itu!" ujarnya dengan pandangan menerawang.
"Itu urusannya. Persiapkan semuanya. Besok jika mereka benar-benar ingin menangkap dedengkot semuanya akan ada pesta penangkapan!" ujar Virgou dengan kilatan mata licik.
Gomesh mengangguk hormat. Sedang pria dengan sejuta pesona sudah mengirimkan berkas bukti di dua instansi pemerintah.
Pagi menjelang. Benar saja, satuan kepolisian gempar dengan adanya laporan dan bukti di komputer mereka. Kepala polisi langsung bertindak dan membuat tim khusus untuk mengungkap semua bukti yang mereka terima itu.
Sedang di markas TNI juga sama gemparnya. Salah satu komandan mendatangi kepolisian dan menyerahkan bukti yang mereka terima.
"Terima kasih atas kerjasamanya Pak! Kami sudah membuat tim khusus untuk mengungkap ini semua!" ujar kepala polisi.
Pergerakan itu terbaca oleh Virgou. Hanya dengan menggunakan kode saja. Semua sudah disiapkan oleh para anggotanya. Hanya butuh waktu dua puluh empat jam. Polisi langsung mendapat keakuratan bukti.
Kasus monopoli pasar di kota M terkuak. Banyak pejabat terlibat bahkan surat ijin usaha banyak yang palsu. Berita penangkapan besar-besaran terjadi.
Sembilan belas orang pelaku penyerangan Nai kemarin tertangkap tengah tertidur di sebuah rumah kontrakan kecil.
"Loh ... kok kita di sini lagi?" tanya salah satunya bingung.
"Semuanya, jangan bergerak dan angkat tangan!" teriak polisi merangsek masuk.
Semua angkat tangan. Beberapa bukti keterlibatan oknum pejabat ada di tempat itu.
"Komandan lapor!"
"Silahkan perwira!"
"Kami mendapatkan bukti beberapa buku tabungan dan bukti transfer dan juga ponsel kemungkinan berisi pesan pribadi juga chat!" lapor perwira itu.
"Diterima, segera kumpulkan semuanya!"
__ADS_1
"Siap Komandan!"
Tak lama berita penangkapan itu tersiar di televisi. Virgou tersenyum dan mengangkat kakinya di meja.
"Pemirsa seorang WNA ditembak polisi karena berusaha melarikan diri. Pria terduga seorang mafia yang tak bisa disebut namanya itu diduga menjadi dalang monopoli pasar yang terjadi di kota M. Beberapa oknum pejabat ditangkap!"
Berita laporan diterima Virgou. Ia menatap layar BraveSmart ponselnya. Salvador Allende digiring pihak interpol di markasnya ditemukan berbagai jenis ganja juga obat psikotropika serta sabhu.
"Tuan ... sudah selesai semua?" Virgou menggeleng.
"Pihak Interpol akan melepas Salvador secara sembunyi-sembunyi," sahutnya.
"Tapi jangan khawatir. Ia tak akan berani menginjak kaki di negara ini. Klannya sudah hancur dan semua anak buahnya ditangkap!" lanjutnya.
"Bawa pasukan bayangan. Jika Salvador macam-macam. Dor saja dan beri makan ikan piranha di sungai Amazon sana!" titahnya.
"Baik Tuan!" sahut Gomesh.
Pria raksasa itu menelepon anggotanya yang beredar di seluruh dunia. Benar perkataan Virgou. Interpol mengaku jika Salvador melarikan diri.
"Habisi!" titah Gomesh..
Lima belas menit mereka menunggu. Sebuah telepon masuk ke meja kerja markas. Leo mengangkatnya.
"Semua sudah dibereskan Tuan BlackAngel!" sahutnya dengan senyum yang begitu mengerikan.
Virgou pun berdiri. Tugas menumpas penjahat selesai. Keluarganya aman kembali.
Gomesh membungkuk hormat. Ia mengikuti tuannya. Mereka pulang tanpa beban.
Sementara di luar negeri. Sekelompok orang baru saja memberi makan ikan-ikan piranha di sungai Amazon dengan potongan tubuh manusia. Semua perhiasan dan uang mereka lempar ke tengah danau.
"Selamat makan ikan-ikan!"
Pagi menjelang. Kesibukan tidak seperti biasanya. Hari ini hari minggu. Semua anak lebih ingin memanjangkan tidurnya.
"Hei ... ayo bangun!" teriak sang ibu.
"Bentar lagi Mama!" rengek Rion malas.
Pemuda itu kelelahan karena dari luar kota. Rion baru saja menenangkan tender raksasa. Ia ingin mengistirahatkan otaknya.
"Baby ... ayo bangun, mandi sudah itu sarapan!" titah Terra.
Dengan malas Rion pun bangkit karena sang ibu membuka tirai lebar-lebar.
"Mama!" rengeknya manja.
"Hei ... ayo bangun, Baby!"
Terra mengecup kening bayi besannya itu. Rion akhirnya bangun dan langsung ke kamar mandi.
Tak lama ruang makan penuh dengan anak-anak. Arion dan Arraya tak ada di sana dua bayi itu menginap di rumah David bersama perusuh lainnya.
__ADS_1
"Daud, sebentar lagi peresmian rumah sakitmu, apa ada yang dibutuhkan lagi?" tanya Bart.
Bart lebih suka menginap di rumah Terra di banding yang lain.
"Semua sudah lengkap Grandpa," Bart mengangguk tanda mengerti.
"Kalian tak jalan-jalan?" tanya Bart.
"Mau ke kafe Sean nanti sore Grandpa!" jawab semua kompak.
"Grandpa ikut ya?!" kekehnya.
"Oteh Grandpa," sahut semuanya.
"Baby ... bagaimana hubunganmu dengan Azizah?" tanya Bart lagi.
"Grandpa," rengek pemuda itu.
"Tolong lah, Ion saja belum bisa bertanggung jawab pada diri sendiri," lanjutnya.
"Grandpa hanya mengingatkan Baby, jangan terlalu lama menggantung hubungan seorang gadis. Jika memang tak memiliki rasa, lepaskan segera!" peringat Bart.
Rion terdiam. Ia memang belum siap menikah usianya juga masih sangat muda. Ia takut tak bisa menjadi sosok panutan pada keluarga yang dibentuknya nanti.
"Sudah jangan banyak dipikirkan!" sela Haidar.
"Biar waktu yang menjawab semua. Azizah juga masih sangat muda untuk menikah," lanjutnya.
"Ck ... apa kau lupa usia berapa Terra ketika kau menikahinya?" dumal Bart kesal.
Haidar hanya tersenyum lebar. Ia memang menikahi Terra di usia sembilan belas tahun. Tetapi waktu itu usianya sudah dua puluh delapan tahun.
"Aku sudah cukup umur Grandpa," sahutnya.
Bart berdecak kesal. Tak lama rumah Terra penuh dengan manusia. Semua bayi berkumpul. Fael, Angel dan Aliyah menjadi rebutan semua orang dewasa.
"Mama papa ... pita imi judha anat-anat talian woh!" protes Harun kesal bukan main.
Semua menoleh pada batita yang sebentar lagi tiga tahun itu. Harun berkacak pinggang dengan wajah sebal.
"Biya mih ... beuntan-beuntan lada anat payi pita eundat bi peulhatitan!" sungut Bariana ikut kesal.
"Sudah biarkan saja olang tua sama adik bayi!" sahut Sky..
"Kita cari orang tua baru saja yuk!" idenya.
"Baby!" protes semua orang tua.
bersambung.
nah kan ... diprotes balita.
Next?
__ADS_1