SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RENCANA


__ADS_3

Semua anak bermain seperti biasanya. Tak ada yang mencurigakan. Terra sedikit lega karena anak-anaknya terjangkau oleh matanya.


"Babies ... jangan buat semua mama dan papa khawatir ya?!' pinta Layla.


"Papa wawatil Mumi?" tanya Arsh dengan mata bulatnya.


'Karena kami takut terjadi apa-apa dengan kalian sayang," jawab Layla.


"Oh ... oteh!" angguk Arsh.


Bayi-bayi seusia juga ikut mengangguk. Sean, Raffhan dan Maisya berkumpul dengan Della, Ari dan Aminah. Kaila dan Dewi juga bermain bersama.


"Baby, coba kakak gendong!" ujar Kaila mencoba menggendong Della.


"Berat!" keluhnya.


"Gendong Zizam aja!" suruh Dewi.


"Zizam juga berat Dew!' keluh Kaila.


"Semua berat bakal gagal!" sungut Dewi setengah berbisik.


"Itung semua bayi!" titah Kean berbisik pada Zheinra.


"Arsh, Zizam, Angel, Fael, Izzat, Dita, Alia, Aliyah, Arsyad, Aaima, Fathiyya, Al, El Bara, Maryam, Ari , Aminah, Aisya, Al Fatih, Bariana, Arraya, Arion, Azha, Harun, Seno, Lilo dan Gino!"


Zheinra menghitung dari yang paling kecil dulu.


"Kalo Baby Nisa, Zaa, Chira, Aarav, Alva Aaric dan Sena nggak bisa kita bawa," celetuk Adiba.


"Iya, mereka baru mau lima bulan, beda sama Baby Aliyah dan sepantaran sudah mau delapan bulan," bisik Ajis.


"Kita pake gendongan kanguru aja masing-masing!' bisik Alim memberi ide.


"Susunya?' tanya Leo bingung.


"Kan gendongan baru ada tempat botol khususnya," sahut Ahmad.


"Ingat Babies yang belum satu tahun masih mimik ASI loh!" peringat Azlan.


"Tapi kalo mereka nggak dibawa, bisa hancur rencana semua!" sahut Deta.


Semua menatap kakak tertua mereka. Kean menatap saudara yang lain. Sepertinya rencana akan gagal.


"Kita harus bawa barang lebih berat. Ujar Daud.


"Ambil beberapa kantung susu dan taruh di ice box bersama esnya agar tahan dua puluh empat jam!' ujar Daud.


"Mas yang bawa!" sahut Satrio.


"Biar Papa Baby yang bawa," tawar Rion.


"Oke!" sahut semua tak sadar.


"Eh ...."


Rion menyeringai. Bayi besar itu tau rencana semua adiknya yang mau melarikan diri dari pengawalan para bodyguard.


"Ajak Kakak atau ...."


"Iya Pa!" sahut Deta cepat.


"Mama Baby juga mau ikut!" rengek Azizah tak mau ditinggal.


"Duh ... pusing kalo kek gini!" keluh Kean kesal.


Para pengawal telah bersiap dengan seribu rencana menggagalkan keinginan para tuan muda mereka yang ingin kabur dari pengawalan.

__ADS_1


"Mas," panggil Terra lirih pada suaminya.


"Apa sayang?"


"Gimana kalo kita juga kabur dari pengawalan para bodyguard. Kita adu taktik mana yang lebih kuat?" sebuah ide gila melintas di otak Terra.


"Jangan buat marah kakak sepupumu sayang ... aku nggak bisa melawannya," bisik Haidar.


"Ada Baby Lid," jawab Terra begitu usil.


"Tapi kau tau kalau Kak Vir itu tidak bisa dikelabui," ujar Haidar lagi.


Terra berdecak, ia sangat ingin mematahkan lingkaran bodyguard buah karya sepupu tampannya itu.


"Nona ...."


Budiman adalah anggota terlatih. Pria beranak mau lima itu sangat peka dengan keadaan seluruh keluarganya. Ia hanya bisa menghela napas panjang jika akan ada sebuah rencana besar akan dilakukan oleh seluruh turunan perusuh itu.


Wanita-wanita garis lurus tengah menyiapkan kudapan. Hari sudah pagi, Sebagian anak-anak memilih olah raga di luar rumah Terra.


Wanita garis lurus terdiri dari, Maria, Seruni, Dinar, Layla, Anyelir, Aini, Putri dan Sari. Ketua dari wanita lurus adalah Khasya, Najwa dan Lastri.


"Bun kita ganti menu ya. Masa dari kemarin pangsit rebus atau pastel goreng. Bagaimana kalo buat dim sum aja?" ujar Seruni memberi ide menu.


"Boleh sayang. Tapi semuanya jangan isi daging. Coba isi mix seperti sayuran dan ikan atau udang," jawab Khasya tak keberatan.


Pria setengah lurus, Dominic, Leon, Frans dan Andoro. Keempat pria itu tengah duduk bercengkrama sambil memperhatikan bayi-bayi yang diajak kakaknya berolah raga pagi.


Pria sedikit rusuh, Bart, Remario, Gabe dan David juga Haidar. Sedang ketua dari semua kerusuhan adalah Virgou dan Terra. Gisel berada di tengah-tengah, ia bisa jadi apapun kemana dia mau.


Rion, Darren, Lidya, Safitri, Azizah masuk dalam kategori abu-abu. Bersama Demian dan Jac.


"Gom!" Budiman mendekati pria besar itu.


Gomesh hanya mendengkus. Ia akan pusing jika tuan sekaligus ketuanya ikut-ikutan berencana kabur dari lingkaran pengawalan.


Tiga pria membungkuk hormat. Langit dan Reno ikut andil di dalamnya. Sebagai pengawal dedikasi terhadap profesi itu sangat dijunjung tinggi.


"Kalian ini kenapa sih?" tanya Luisa bingung.


"Mama sini deh!" Dewi membawa wanita itu dan membisikkan sesuatu.


"Jangan bercanda Baby ... Mama nggak akan biarkan itu!" tekan wanita itu tak setuju.


"Pengawal jaga semua anak-anak. Mereka mau kabur dari rumah!" teriaknya memberitahu pada semua pengawal.


"Mama nggak asik ternyata!' dumal Dewi kesal.


"Guys ... misi gagal!" ujar Dewi pada Maisya dengan menggunakan bahasa isyarat.


"Ah ... dasar ember!" umpat Maisya pada adiknya itu.


"Dew kira Mama keren!" sungut Dewi tak mau disalahkan.


"Sayang!' peringat Khasya pada semua anak-anak.


"Bawa masuk!" perintahnya lagi..


Semua masuk dengan kepala tertunduk. Semua melihat arah Dewi. Gadis itu juga merasa bersalah memberitahu pada salah satu ibu mereka.


"Sayang, kami begini karena tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian!" Gomesh benar-benar kesal.


"Maaf Papa," sahut semua anak dengan kepala tertunduk.


Gomesh menghitung semuanya. Ia tidak ingin kecolongan lagi.


"Astaga, Arfhan, Sky, Bomesh, Bastian dan Billy tidak ada!" teriak Gomesh berang.

__ADS_1


"Kean dan Al juga Sean tidak ada Ketua!"


"Azlan, Radit dan Ditya juga!"


"Mereka membawa Baby Arsh, Baby Maryam, Baby Fathiyya, Baby Bariana, Baby Della Baby Firman dan Baby Gino!"


"Mana Mas Satrio?" tanya Affhan melihat kakak paling besarnya itu juga hilang.


Sementara di tempat lain. Semua bayi tergelak dalam gendongan kanguru kakak-kakak mereka karena diajak berlarian.


"Ata'!' panggil Della yang ada digendongan Sean.


"Iya Baby,"


"Tot pita lada piluan mumah?" tanya bayi cantik itu heran.


"Iya Baby, kita jalan-jalan yang lain juga menyusul kok," jawab Sean santai.


Della pun diam, ia senang sekali melihat kembali jalanan yang ramai. Orang-orang lalu lalang dan hilir mudik.


"Guys ... yang lain tertahan di rumah gara-gara Baby De ember!' lapor Sat.


"Tau dari mana?" tanya Kean.


"Ini!" tunjuk Satrio pada sebuah ponsel..


Kean menepuk keningnya. Keberadaan ponsel akan sangat mudah dilacak oleh orang tua mereka.


"Duh ... ayo kita bergerak!" ajak Kean.


"Sean ... acak lokasi agar semua tak bisa mengetahui keberadaan kita!" titah Kean.


Sean merogoh benda pipih dalam sakunya. Semua adalah anak genius, bukan hal sulit untuk mengacak signal.


"Ketua!" Gomesh benar-benar kesal pada Virgou yang duduk santai di sana.


"Ck ... kau ini!"


"Mereka mengacak signal Tuan!" hardik Gomesh benar-benar marah.


"Kau berani memarahiku nanat sisilan!" teriak Virgou kesal.


"Hei ... kenapa malah kalian ribut!" bentak Bart.


"Anak-anak hilang dan kalian malah ribut!" lanjutnya marah.


"Marahin aja Pa!" sulut Herman dan Remario.


"Cari cucu dan cicitku sampai ketemu!" teriak Bart.


"Grandpa ...."


"Sekarang bodoh!" teriak Bart lagi.


Virgou, Gomesh, Budiman, Gio, Felix dan Hendra akhirnya bergerak.


"Kau tak mau ikut?" tawar Virgou pada Terra dan Haidar.


Sepasang suami istri itu saling tatap. Keduanya mengangguk.


"Gisel ikut!"


"No!' sentak Budiman yang langsung membuat istrinya cemberut.


Bersambung.


ah ... ada-ada saja!

__ADS_1


next?


__ADS_2