SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
GOBAK SODOR


__ADS_3

"Reno out!" teriak Demian senang luar biasa disambut juga oleh sorak-sorai para perusuh.


"Boleh gabung nggak sih?" tanya Rasya.


"Boleh!" sahut Daud.


Rasya, Rasyid masuk, lalu Dewa dan Affhan juga masuk. Kaila, Dewi dan Maisya mendukung saudaranya mengalahkan para bodyguard yang sudah terlatih secara mental dan fisiknya.


"Oke biar adil, saya masuk!" ujar Rio masuk tim Reno dan langit kemudian disusul Deni, Cahyo, Bambang, Roy, dan Andre.


"Tunggu!" semua menoleh asal suara.


Rion bersama Azizah masuk lapangan. Semua pengawal tentu menelan saliva kasar. Rupanya Rion tak jadi bercinta dengan istrinya karena mendengar keributan di lapangan pesantren. Pria itu terusik begitu juga Azizah.


"Kakak gabung tim Kean!"


Azizah memilih berdiri bersama para perusuh mendukung timnya.


"Ayo, Reno kamu out!" teriak Jac kesal.


Reno yang tertangkap oleh Daud terpaksa berdiri di sisi tiang. Pria itu akan masuk jika ketua mereka berhasil membongkar gawang yang dijaga oleh Satrio. Rion memilih garis tengah, garis yang memiliki kekuasaan lari ke lini mana saja.


"Satu poin nilai untuk tim Kean!" seru Demian.


Sementara, Gabe menghubungi beberapa koleganya melalui sambungan video call. Ia memperkenalkan satu permainan yang memerlukan ketangkasan dan kecerdikan serta kekompakan dalam pertandingan.


"Wow ... what the name of that game?" tanya salah seorang kolega.


Gabe menjelaskan namanya, pria itu akan mengadakan sebua even besar dan memasukkan permainan ini. Pria itu menjelaskan jika dalam satu kotak tidak boleh lebih dari tiga orang. Karena langsung akan mengalahkan dan membakar tim lawan dengan poin tiga.


Semua saling berteriak. Para perusuh kesal karena suara mereka kalah dengan suara orang dewasa.


"Pisit!" teriak Arsh galak. "Anan list!"


Semua harus diam jika tidak ingin dimarahi oleh bayi galak nan tampan itu.


"Ata' ipu om Pendla lada dida!" pekiknya menunjuk.


Tentu saja Rendra yang panik langsung keluar dari kotak. Sayang, gerakannya dihadang oleh Al. Rion, Daud dan Sean mengurung Rendra, Rio dan Anto.


"Bakar!" seru Rion senang bukan main.


"Empat poin untuk tim Kean!" seru Demian melompat kegirangan.


Langit dan Reno makin putus asa. Gerakan mereka semua terbaca, bahkan strategi dari Rio dipatahkan oleh Rasya.


Tim Langit kalah telak. Arsh dan lainnya melompat kegirangan. Tim Langit mengaku kalah, rupanya tempaan mereka tak bisa mengalahkan kegeniusan dan kecepatan tuan muda mereka.


"Tuan muda sangat hebat, kami mengaku kalah!' sahut semuanya membungkuk hormat.


Napas kedua tim terengah-engah, Terra dan perempuan lainnya telah menyiapkan minuman yang begitu menyegarkan dan juga kudapan yang lezat. Semua kelaparan.


"Ama ... Alsh wawu atan yan anyat ... Alsh sape ... nalahin Ata' Mamit pama Ata'Pleno," akunya dengan wajah lelah.


Langit sangat gemas, pria itu langsung menggendong bayi. tampan itu dan menggelitiknya. Arsh tergelak, bayi itu menjambak rambut Langit sampai mengaduh.

__ADS_1


"Ampun Tuan!" pekik Langit kesakitan.


"Baby," Nai mengambil Arsh dari gendongan Langit.


Haidar benar-benar ingin sekali melempar Langit dengan batu meteor. Herman mengelus bahu suami dari keponakannya itu.


"Kau harus merelakannya sayang, jika bukan sekarang, kau juga harus merelakannya nanti," ujar pria itu.


Terra memeluk suaminya dari belakang. Sepasang suami istri itu harus ikhlas jika putri mereka sudah besar.


"Kau adalah ayahnya, kau tetap ditanya nanti di akhirat, Nak!" ujar Herman lagi dengan suara tercekat.


Reno mendekati Arimbi, pria itu menyerahkan anting strawberry. Gadis itu menatap Reno dengan pandangan lekat.


"Ini milikmu, Nona," ujarnya.


"Terima kasih Kak," sahut Arimbi.


Gadis itu memasukkan tangan ke hijabnya dan memakai anting sebelah kanannya. Arimbi tidak pernah melepas anting kesayangannya itu.


"Nona masih memakainya?" tanya Reno tak percaya.


"Ini pemberian Daddy, aku tidak mau menggantinya dengan apapun," jawab Arimbi.


Kedekatan Arimbi dan Reno juga membuat Herman sedih. Dua ayah yang masih berat melepas putrinya. Tetapi kandidat terbaik sudah ada, mereka tentu tak mau kehilangan dua pria terbaik itu.


"Reno dan Langit adalah pria terbaik, Nak. Ayah percaya jika anak gadis kita pasti bahagia," ujar Herman.


Haidar memeluk Herman, ia menyerahkan semua pada pria yang begitu ia percaya. Bram juga mempercayai pilihan dari Herman.


"Iya Jeng, Cucu kita akan menikah," ujar Sriani dan Mia.


Semua orang tua merasa berat, mereka juga memiliki seorang anak gadis. Frans memiliki dua anak gadis yang pasti nanti entah Gabe atau Bastian yang akan menikahkan putrinya nanti.


"Daddy akan menyerahkan pilihan suami-suami dari adikmu nanti di tanganmu Gabe," ujar Frans.


"Tidak Dad, Baby Zaa dan Baby Nisa pasti bisa mendapat pria-pria terbaik nantinya," ujar Gabe. "Aku percaya adik-adikku pasti bisa menilai mana yang terbaik untuk mereka."


"Kita kembali ke kastil?"


"Jalan-jalan Uyut yang ke taman bunga waktu itu!" sahut Samudera.


"Oh ke taman milik Daddy Dominic?" tanya Jac.


"Iya, ke sana!"


Bart setuju. Hari masih pagi, mereka akhirnya pergi ke tempat observasi tanaman yang dimiliki oleh Dominic. Pria itu masih memiliki penthouse miliknya sendiri, bahkan Jac dan Demian masih memiliki properti di negara Eropa.


"Hmmm ... segarnya!' Azizah menghirup udara sekitar.


Mereka sudah sampai di taman bunga itu. Kini menjelang musim dingin, semua memakai mantel tebal. Udara makin dingin ketika siang hari padahal matahari sudah tinggi.


"Mom, belikan bunga-bunga itu dong," pinta Kaila pada Maria.


Maria membeli beberapa kuntum bunga yang dinginkan Kaila. Gadis itu mengucap terima kasih setelah mendapat apa yang diinginkan.

__ADS_1


"Papa Gio ... belikan Benua itu!" pekik Benua melihat es krim.


Semua anak mengerubung tukang jualan es krim. Gio membelikan semua anak es krim dengan berbagai varian rasa. Lidya juga ingin dibelikan.


"Papa Iya juga mau yang rasa anggur,"


"Ini Nona," Gio menyerahkan es krim yang diminta oleh Lidya.


"Makasih Papa!" sahut Lidya senang bukan main.


"Uang ketua habis?" ledek Felix.


"Enak saja!" sungut Gio kesal.


Felix terkekeh, Arsh mendatangi pria itu dengan wajah marah dan menggemaskan.


"Apah Lelits ... Alsh au seslim!"


Felix menggendong Arsh mencium gemas pipi gembul kemerahan. Arsh dengan senang membagi es krimnya dengan Felix.


"Mama nggak dikasih?" cemberut Sari iri.


"Amah nta aja ma Apah!" sahut Arsh kesal.


Bayi itu turun dari gendongan Felix.


"Bibu ... Apah Lelits pilit ... pasa asih Alsh seslim pinatan pemuana mama Apah Lelits!" adunya.


Felix terbengong. Sungguh, ia tidak minta es krim, Arsh sendiri yang menyodorkannya ke mulut pria itu.


"Itu tidak benar," cicitnya membela. diri.


"Mestinya kamu minta sama Papa Gio, Baby. Papa Gio nggak minta es krimnya lagi!" sahut Sky.


Bocah itu telah menghabiskan es krimnya. Lima puluh anak angkat Bart juga sudah habis.


"Papa Lelits pilit!" dumal Arsh sebal.


Rion tertawa, bayi besar itu tentu mengingat jika ia dulu selalu memfitnah Babanya ketika bayi dulu.


"Baba ... penerus Ion hadir lagi tuh!" tunjuknya pada Arsh.


Budiman mengangguk setuju. Arshaka adalah fotokopiannya Rion ketika bayi dulu.


Bersambung.


Papa Lelits, Ata' Mamit, Ata' Pleno ... nama siapa lagi yang diubah ya sama Arsh?



ada karya horor othor yang baru loh ... boleh dikepoin.


Makasih ... ba bowu!


next?

__ADS_1


__ADS_2