
Terra mengusap wajah Azizah yang sudah terlelap. Nai tadi memberinya obat penenang. Gadis itu masih shock dan trauma akibat pelecahan yang baru saja ia dapatkan. Hal itu berimbas pada Arimbi, dulu ia juga pernah mengalami hal yang sama dengan Azizah.
“Sayang,” panggil Khasya yang mendapatkan putri tertuanya melamun.
Kembaran dari Satrio itu bergeming. Hal membuat sang ibu sedih. Berita pelecehan Azizah sudah menyebar ke semua keluarga. Khasya meyakini jika putrinya ini mengingat pelecehan yang pernah ia dapatkan dari seniornya beberapa tahun lalu.
“Sayang,” Khasya memeluk Arimbi yang membuat gadis itu terkejut.
“Sayang, jangan memikirkan hal itu. jangan membuat Bunda sedih,” pinta wanita itu.
“Bunda ... Rimbi harus apa? Kejadian itu membuat Rimbi takut, terluka dan merasa sakit, di sini,” ujar gadis itu lirih sambil menunjuk dadanya.
“Sayang ...,”
“Bunda tak tau rasanya, bagaimana kita disentuh area pribadi kita ...,” ujar gadis itu dengan suara bergetar dan linangan air mata.
“Bunda tau rasanya jika tidak dihormati, terlebih ketika kami bersuara. Mereka malah menertawakan kami dan menganggap sentuhan itu biasa saja,” lanjutnya masih dengan suara lemah.
“Nak,” Khasya tercekat.
“Bun, apa Bunda pernah diperlakukan seperti itu? lalu karena malu, kami para perempuan biasanya hanya bisa menutup mulut,” ucap Arimbi.
“Sayang, dengar. Ini memang berat, tapi semua itu bisa kau hadapi sayang,” sahut Khasya lembut. “Ada kami di sini bersamamu.’
“Bagaimana cara menghadapinya Bunda?” tanya Arimbi dengan air mata berurai.
“Dulu, Rimbi senang karena Daddy langsung mematahkan tangan pria itu dan membuatnya kehilangan gelar juga jabatannya. Bagaimana dengan kak Azizah? Seorang diplomat yang kebal hukum. Rimbi yakin, pasti keadilan untuk kak Azizah tak akan mudah didapatkan,”
“lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan lain di luar sana? Yang keluarga mereka minim akan pengetahuan? Tak mengerti hukum, yang harus bungkam karena ditindas kaum berada?” cecar Arimbi.
“Sayang ...,”
Khasya memeluk putrinya yang menangis. Sungguh ketika kejadian waktu itu ia ingin sekali bersuara. Tetapi, apa setelah ia bersuara ia akan memiliki muka? Semua orang memandangnya sebagai perempuan yang pernah dilecehkan. Tak ubahnya pelacur, maka dia akan dicap seperti itu.
“Jika Kak Azizah ingin menuntut keadilan. Arimbi akan mendukungnya. Akan Rimbi kumpulkan semua wanita yang pernah dilecehkan!”
“Sayang,” Khasya khawatir jika apa yang akan disuarakan putrinya akan mengalami hambatan.
“Bunda ... tolong dukung Rimbi. Kejahatan ini bukan main-main.” pinta gadis itu.
Khasya sadar. Pelecehan seksual memang harus mendapat ganjaran yang setimpal. Wanita itu mengangguk.
“Bunda akan mendukungmu, sayang,’
“Makasih Bunda,”
__ADS_1
Malam berpindah waktu pagi menjelang. Nai masuk ke kamar di mana Azizah berada. Gadis itu tengah terlelap dengan balutan mukena di atas sajadah. Nai tersenyum, ia mendekati calon kakak iparnya.
“Kak,” panggilnya.
“Hmmm,” dehem Azizah masih ngantuk.
Nai terkikik geli. Gadis itu ikut merebahkan diri di samping Azizah berebutan sajadah lalu memeluk erat tubuh tinggi itu dengan manja. Azizah seperti memberi ruang untuk Nai.
“Passalamualaitum!” pekik Arion dan Arraya.
“Ata’ Pijah ... bi nama tau beulada?” pekik keduanya sambil masuk kamar.
Nai memang sengaja tak menutup pintu. Karena biasanya mereka akan mengganggu kebiasaan Azizah dalam kamar jika gadis itu menginap bersama adik-adiknya yang banyak itu.
“Woh ... Ata’ Pijah na eundat ada bi pentat pidul?”
Arraya melihat ranjang kosong. Keduanya tak melihat Azizah yang masih lelap dipeluk Nai di atas sajadah, kakaknya satu itu sengaja tak bersuara. Gadis itu juga masih ngantuk. Hari ini hari sabtu, tak ada jadwal pemeriksaan tetap, ia memilih di rumah bersama keluarganya.
“Ata’!” teriak Arion memanggil.
“Hmmm!” sahut Azizah.
“Eh ada sualana petati eundat ada wowana?” Arion bingung.
Arraya memindai seluruh ruangan. Hari baru pukul 0612. pagi. Tidak mungkin kakaknya itu pergi. Lalu netranya tertumbuk pada dua orang yang berpelukan di atas sajadah. Netra jernihnya membola.
“Ah ... lupana Ata’ bi situ,” sahut Arion berdecak kesal.
Keduanya menghampiri dan menimpa tubuh Azizah. Gadis itu menggerakkan tubuhnya jadi terlentang. Tangan Nai disingkirkan oleh Arion, lalu keduanya tidur di atas tubuh Azizah. Dua batita itu sangat nyaman, sedang Azizah mulai terasa berat.
“Berat babies,”
“Ata’ ... piasa tan bedhini, banti lada yan peubih peulat ladhi,” sahut Arion.
Terra yang masuk kamar membelalak mendengar perkataan putranya yang baru saja umur tiga tahun itu. wanita itu langsung mendatangi dua gadis dan dua batita yang malah masih memejamkan matanya.
“Sayang ... ayo bangun!” titah Terra.
“Mama, pebeuntal ladhi. Pita balu bobo,” ujar Arion.
“Eh ... bangun! Matahari sudah tinggi!” terra meninggikan suaranya.
Azizah membuka mata, sedang Arion dan Arraya bangkit dari tubuh kaka mereka. Nai pun duduk dengan kepala sedikit pusing. Tadi ia sempat tertidur di pelukan Azizah. Terra menggeleng, melangkah ke arah jendela dan membuka tirai hingga ruangan itu menjadi terang menderang.
“Ayo ... bangun, mandi udah itu sarapan!” titah Terra lalu meninggalkan menggandeng tangan dua anak kembar sepasangannya keluar dari kamar.
__ADS_1
“Nai mandi dulu ya kak,” Azizah mengangguk.
Gadis itu bangkit dan membuka mukenanya. Nai keluar kamar dan menutup pintunya. Rion mendekati adiknya. Mata Nai menyipit, tak biasanya kakak laki-lakinya itu mengunjungi kamar lain, karena kamar Rion agak jauh di dekat tangga.
“Ngapain Kakak ke sini?”
Nai mencium wangi tubuh kakaknya. Begitu segar dan penampilan Rion juga sangat rapi. Lagi-lagi Nai mengerutkan keningnya. Ia berkacak pinggang dan berdiri di depan pintu kamar Azizah.
“Dek, Kak Ion mau nemui calon kakak ipar kamu,” ujar pemuda itu tanpa beban.
“Kakak ipar sedang mandi Kak Ion,” sahut gadis itu tak mau bergeser dari depan pintu. “Mending Kakak turun dan nunggu di bawah, sebelum ....”
Nai menghentikan ucapannya dan bersumpah akan mengadu jika kakaknya yang tampan itu memaksa. Rion mendengkus kesal. Pemuda itu mengacak rambut adiknya. Walau akhirnya ia melangkah menuju lantai bawah.
Barulah Nai melangkahkan kaki ke kamar untuk mandi. Kini semuanya ada di meja makan. Tak ada satupun yang mengungkit kejadian semalam. Semua menikmati sarapan mereka.
Tak lama rumah Terra penuh dengan manusia. Anak-anak bermain di taman belakang. Adik-adik Azizah ada di sana, Dominic dan istrinya yang mengajak mereka. Para orang dewasa berkumpul. Saf memilih mengawasi anak-anak bersama Maria, Aini, Putri dan suaminya, Jac.
Sedang di ruangan yang agak jauh Azizah tampak berkumpul bersama para orang tua. Mereka bertanya pa yang diinginkan gadis itu. Arimbi ada di sana, sepertinya gadis itu akan mengikuti langkah yang diambil oleh Azizah.
“Azizah, jujur. Aku sudah melayangkan gugatan atas tindakan penyerangan yang dilakukan oleh Tuan Rurouni Kenshin terhadapmu, tetapi tidak kasus pelecehan mu,” ujar Darren dengan nada penuh penyesalan.
“Selain bukti yang tidak kuat. Kenshin berkelit tidak melakukan apa-pun terhadapmu selain memang bertindak kasar karena kau menolak ajakannya,” lanjutnya.
Azizah menitikkan air matanya. Arimbi malah menangis, semua sampai menenangkan gadis itu. Azizah belum tau jika Arimbi mengalami hal yang sama dengannya.
“Nona, anda kenapa?” tanyanya.
“Kak, kita sama kak. Aku juga mengalami hal yang sama dengan kakak,” Azizah menutup mulutnya dengan tangan.
“Nona,”
“Kak ... ayo kita bersuara kak!” ajak Arimbi.
“Memang malu akan kita tanggung seumur hidup, tetapi pelecehan akan terus dianggap sepele oleh masyarakat jika kita tak bersuara!” lanjutnya.
Azizah mengangguk. Ia sangat setuju. Lalu menatap Darren, minta melanjutkan kasus pelecehan. Walau minim bukti, ia yakin bisa menyuarakan kegelisahannya.
Bersambung.
Setuju Azizah ...
Yuk readers ... dukung perjuangan Azizah dengan menyuarakan keberatan kalian tentang pelecehan. Jika ada salah satu mengalami hal yang sama, kalian bisa berbagi di beranda chat bersama othor.
Suarakan keberanian kalian Stop pelecehan terhadap perempuan!
__ADS_1
Next?