
Semua sudah siap di pagi hari. Anak-anak sudah naik ke atas bus yang sudah disiapkan oleh Juno.
"Barang-barang sudah ada di bagasi?" tanya Darren pada adik-adiknya.
"Sudah Abah!" jawab Kean.
"Ya sudah, naik semua sana. Jadi kita tak terlalu siang sampai sana!"
"Bi ... jaga rumah ya," pamit Terra pada Gina dan Ani.
"Iya Nyah ... hati-hati di jalan ya," sahut Ani.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas kedua kapala asisten rumah tangga Terra.
Ani dan Gina melambaikan tangan ketika bus itu bergerak. Beberapa pengawal juga ada yang berjaga di rumah.
Bus sudah berada di jalan besar. Akan menempuh waktu dua jam. Maryam, Aisya, Al Fatih, El Bara, Al Bara, Arsyad, Aaima dan Fathiyya yang baru pertama kali naik bus. Begitu antusias. Mereka sangat berisik dengan apapun yang melintas di jalan raya.
"Dasal pocil!" dumal Azha memutar mata malas.
Batita itu lupa bagaimana ia sangat heboh ketika naik bus pertama kali ketika di Eropa. Kini bus memasuki jalan bebas hambatan. Tentu semua ribut karena tidak ada lagi motor dan kendaraan lain kecuali mobil.
"Wah ... pana potolna?" tanya Aaima heran.
"Ini sudah masuk jalan tol baby, jadi sudah tidak ada motor," jawab Saf.
Jangan tanya di mana anak-anak itu duduk, mereka akan bergantian. Mobil yang nyaman membuat mereka bisa berjalan sesuai hati. Dominic memangku Baby Aaric. Bayi itu melompat-lompat melihat kendaraan sambil berteriak nyaring.
"Baby, sini sama Papa Ion!"
"Bababababa!"
Bayi itu tentu langsung mau diangkat oleh Rion. Sedang Alva di tangan Lidya dan Sena bersama Herman. Rafael ada di tangan Terra, Angel ada di tangan Virgou, Aliyah berada di tangan Puspita sedang Izzat ada di tangan ayahnya sendiri. Begitu juga Zizam yang tak mau lepas dari Putri, ibunya. Ia menyusu dengan kuat.
"Baby ... jangan habisi susu Mama. nanti Daddy nggak kebagian," bisik Jac menggoda putranya.
Zizam tentu menangis karena Jac melepas mulut bayi dari kendi kehidupannya. Hal itu membuat semua menegur pria itu.
"Abang!" peringat Putri kesal.
"Sayang ... dia sering menyusu!' rengek Jac.
__ADS_1
"Dia baru lima bulan, memang mau ngapain lagi?!" tanya Putri.
Jac cemberut, mata Zizam melirik ayahnya sinis. Hal itu membuat pria itu kesal dan mencium gemas putranya itu hingga menangis.
"Jac ... menyingkir kau dari sana!" sentak Bram.
Tentu saja pria itu mau ikut berlibur ke sebuah desa. Selama ini yang ia tahu hanya kota-kota besar yang menampakan gedung-gedung tinggi menjulang serta keangkuhan orang-orang yang menempatinya.
Kanya sudah lama tidak berpergian sejauh ini, ia begitu menikmati perjalanan ini.
Para perusuh tampak mulai tenang, mereka sepertinya hanya duduk hingga Maryam begitu terkejut melihat hewan yang tengah diikat dan memakan rumput di tengah ladang.
"Ipu wewan pa'a Uma!" teriaknya menunjuk kaca.
Semua menoleh dan terlihat hewan yang ditanya bayi mau dua tahun itu.
"Itu kerbau sayang," jawab Saf.
"Mooo!" tiba-tiba Baby Sena menurut suara binatang itu.
Semua tentu tertawa mendengarnya. Herman mencium bayi itu gemas hingga tergelak. Bus pun keluar dari jalan bebas hambatan. Pemandangan pun berubah total, mulai padat dan sedikit macet. Hingga ketika mobil besar itu memasuki jalan yang kanan dan kirinya pemandangan sawah membentang. Putri begitu antusias, ia mengingat nenek yang telah meninggal dunia satu tahun lalu.
Kini bus itu berbelok ke kiri, jalanan mulai sedikit sepi, perusuh mulai ribut dengan kerbau yang membajak sawah. Ternyata sawah baru disemai. Tak lama bus itu berhenti di sebuah halaman luas. Juno turun bersama Bart dan Bram, di sana Mutia dan Layla menyambut mereka bersama pak kades.
"Assalamualaikum!" ujar tiga pria dengan ketampanan berbeda memberi salam.
"Ayo ... masuk-masuk, sudah waktunya dhuhur!" ajak Mutia pada Juno.
Gomesh yang tau keadaan rumah tentu senang. Para perusuh sudah tak sabaran ingin terjun ke sawah untuk menanam padi.
"Silahkan di minum teh nya," suruh Layla.
Juno memang baru pertama mendatangi keluarga dari Layla. Pria itu tak mau berlama-lama menjalin hubungan. Ia memutuskan untuk melamar gadis itu sekarang juga.
"Pertama-tama saya memperkenalkan diri dulu!" sahut Bart yang kini jadi juru bicara.
"Nama saya Bart Sidiq Dougher Young. Saya mewakili wali dari Ananda Juno Hamdani. Juno memang bekerja untuk cucu saya Terra sebagai pengawal dan telah mengabdi selama dua puluh tahun jadi kami menganggapnya Keluarga kami sendiri. Makanya ketika diminta untuk menemani segini banyaknya kami datang!" ujar Bart panjang lebar.
"Senang sekali mendengarnya, Pak Bart. Saya ini wali dari Laylanazraa. Nama saya Deni Rahman Syahreza, adik dari mendiang ayah Layla. Kami sudah mendengar semua tentang Nak Juno. Kami pun tak masalah. Dulu kami juga merupakan keluarga besar, tetapi semua pergi merantau dan tak pernah kembali," sahut pria bernama Deni.
"Wah ... rupanya kita sama-sama berasal dari keluarga besar juga ternyata," kekeh Bart.
"Kami di sini langsung ingin melamar Ananda Laylanazraa Arumi Syahreza untuk dijadikan istri dari Juno Hamdani!" ujar Bart langsung.
__ADS_1
"Wah ... kok buru-buru sekali?" tanya Deni terkekeh.
"Biarkan mereka saling mengenal dulu," lanjutnya.
"Maaf, di keluarga kami melarang semua keturunan kami berpacaran!" tukas Bram kini.
"Jadi, kami meminta pada semua laki-laki, jika memang serius. Mereka harus langsung menikah. Soal kenalan nanti ketika sudah sah, tentu apa yang mereka perbuat jadi halal," sahut Bram lagi.
"Lagi pula Layla adalah seorang ustadzah, tidak baik menjalin hubungan tanpa status dengan laki-laki yang bukan muhrimnya," lanjut pria itu.
Deni tersenyum kagum. Tampang Bram boleh bule, tetapi pikirannya begitu islami. Seperti kutipan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra' ayat 32 yang artinya "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
"Kita bisa meminta anak kita ta'aruf dulu," ujar pria itu masih bernegosiasi.
"Saya menolak keras tentang hal ta'aruf. Sudah saya tekankan, baik dan buruk itu adalah sebuah resiko. Sebagai laki-laki harus memiliki komitmen. Jangan pacaran yang kini diistilahkan dengan
ta'aruf!"
"Allah SWT Berfirman: “Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. Padahal kalian menyadarinya,” Surat Al-Baqarah ayat 42.
"Dalam surah itu jelas benar melarang mencampurkan segala sesuatu yang batil dan dianggap benar. Pacaran itu tidak benar agar dilihat benar lalu diganti istilah dengan ta'aruf!" tolak Bram jelas.
Deni berdiri dan memeluk pria itu. Ia begitu kagum dengan pemikiran Bram.
"Muka boleh bule tapi pikiran anda santri," pujinya bangga.
"Jadi bagaimana Layla. Ada laki-laki baik yang ingin meminangmu segera. Kami selalu setuju dengan semua keputusanmu. Karena kau nanti yang menjalani hidup," sahut Deni ketika duduk kembali di kursinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya menerima pinangan Mas Juno untuk saya," jawab gadis itu dengan muka bersemi.
"Nah ... bagaimana jika kalian menikah besok?" tawar Deni mengejutkan semuanya.
"Suatu yang baik harus disegerakan bukan?" lanjutnya.
"Benar, suatu yang baik harus segera dilaksanakan!" sahut Bart.
"Bagaimana Juno. Apa kau siap?" tanya pria itu.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya siap!" jawab Juno tegas.
Bersambung.
Wah ... langsung euy nikah!
__ADS_1
Dan othor masih jomblo 🤣👍😭
next?