SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DUKA UNTUK LILO, SENO, VERRA DAN DITA


__ADS_3

Pukul 02.45. Lilo terbangun. Bayi usia mau empat tahun itu bermimpi buruk.


"Mama ... hiks ...!"


Lilo tidur bersama Gino, Seno dan Bastian. Sedang Dita dan Verra ada di kamar yang berbeda bersama saudara perempuan lainnya.


Bastian terbangun, bocah sebelas tahun itu sedikit terusik dengan isakan Lilo.


"Baby?' panggilnya dengan suara serak.


"Hiks ... hiks!" Lilo berusaha menahan isaknya.


Bastian akhirnya bangun. Ia meraba kening Lilo.


'Anget!' gumamnya.


"Baby kenapa?" tanyanya.


"Mama ... hiks!"


"Mama baik-baik saja sayang. Istighfar ya," suruh Bastian. "Yuk bobo lagi!"


Bastian merebahkan Lilo dan memeluknya. Balita itu merasa nyaman dipeluk sedemikian rupa.


Sedang di rumah sakit tampak dua wanita tengah dalam penanganan. Sania dan Hapsa tiba-tiba lost.


"Dokter detak makin lemah!" seru perawat.


"Naikkan level!" perintah dokter.


Perawat memutar tombol. Joule dinaikan, pengejut jantung diletakkan di dada dan menekan gerakan jantung yang berhenti mendadak.


Garis monitor hanya bergerak saat alat pacu bekerja. Hingga tekanan dan detakan benar-benar hilang. Dua wanita korban kekerasan akhirnya menyerah setelah sekian lama diperjuangkan hidupnya.


"Catat kematian!" perintah dokter lalu angkat tangan.


"Pasien Sania dan Hapsa meninggal dunia pukul 02.57. Dok!" jawab perawat yang mencatat kematian dua wanita malang itu.


"Kita laporkan pada Tuan Pratama!' ujar sang dokter memerintahkan pada perawat.


Di mansion, Bram terbangun akibat dering ponselnya yang sangat keras. Tak biasanya pria itu mengaktifkan bunyi dering ketika tidur.


Kanya terkejut mendengar bunyi keras itu.


'Pa ... ponsel Papa bunyi tuh!" ujar wanita itu membangunkan suaminya.


Kanya tak pernah menyentuh benda pipih milik suaminya. Wanita itu tak mau berpikiran buruk apapun. Tetapi ponsel Kanya, Bram bebas memeriksa kapan saja.


"Halo!' Bram menjawab panggilan itu.


Pria itu lama terdiam, ia masih belum bisa mencerna perkataan di seberang telepon.


"Apa katamu? Coba ulangi?' tanyanya.


".....!"


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!" seru Bram terkejut. Kanya jadi benar-benar bangun akibat kata-kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Baik Dok. Kami besok akan membawa jenazah untuk kami urus sendiri!" sahut Bram.


Suasana mendadak sedih. Kanya yang begitu penasaran langsung bertanya siapa yang meninggal dunia.


"Sania dan Hapsa meninggal dunia Ma," jawab Bram lirih.


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!' seru Kanya lalu menutup mulut.

__ADS_1


Semua anak ada di rumah Nai. Kehadiran dua bayi itu membuat semua bayi perusuh meninggalkan bayi.


"Tamih inin menbibul Netnet!" ujar Fathiyya beralasan.


Walau pada kenyataannya, mereka lebih suka ribut dibanding memberi ketenangan pada Luisa.


"Kita beritahu Zhein Pa," suruh Kanya.


'Iya, Mama telepon dia. Aku akan meminta Hendra menemaniku mengambil jenazah Hapsa dan Sania," ujar Bram.


Kanya melakukan apa yang diminta suaminya. Bram menelpon salah satu pengawal. Tentu saja Hendra siap mengikuti Bram.


Bram keluar diantar Kanya. Pria itu meminta sang istri menghubungi yang lain agar berkumpul di hunian mereka.


"Iya Pa, Mama tadi udah suruh Zhein bilang ke Raka," jawab Kanya.


"Jangan lupa Hapsa dan Sania masih punya anak Ma," ujar Bram sebelum naik mobil.


Kanya menatap kendaraan yang berjalan meninggalkan halaman. Wanita itu masuk dan melihat jam. Masih terlalu dini untuk memberitahu. Tetapi ia pun menelepon Langit.


"Assalamualaikum Oma?" sapa Langit di ujung telepon.


"Nak, bawa anak-anak ke sini. Mama dari Lilo, Seno, Verra dan Dita meninggal dunia," ujar wanita itu lirih.


Tampak di seberang telepon hening. Kanya sampai kesal karena Langit tak memberi jawaban cepat.


"Halo Langit!' sentaknya.


"Eh ... iya Oma ... tadi apa?" tanya Langit yang sepertinya kurang yakin dengan apa yang dikatakan nenek dari istrinya itu.


Helaan napas terdengar dari seberang telepon. Langit sangat terkejut mendengar berita yang ia dengar.


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!" ucapnya lirih.


"Baik Oma, Langit akan bawa anak-anak. Biar mereka aben aja satu hari ini!' ujar pria itu lagi.


"Sayang ... bangun," ujarnya berbisik.


Langit mencium tengkuk Nai yang sudah banyak tanda cinta darinya. Pria itu kembali bernapsu melihat sang istri yang tanpa sehelai benang. Mereka baru saja melakukan ritual panas.


"Sayang!" rengek Nai yang sudah kelelahan.


Langit teringat jika mereka harus pergi ke mansion kakek dari Nai.


"Sayang, bangun. Kita harus ke mansion Oma sekarang!' ujarnya dengan nada berat.


"Kenapa?" tanya Nai langsung terbuka matanya lebar.


'Ibu dari Lilo, Verra dan Dita meninggal dunia," jawab Langit lirih.


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!' seru Nai langsung bangun.


Keduanya membersihkan diri lalu mandi besar. Tak lupa shalat tahajud terlebih dahulu. Nai membangunkan Zheinra terlebih dahulu.


"Sayang, bangun,"


"Mama ...," rengek Zheinra.


"Ayo bangun. Kita harus ke mansion Oma!" ajak Nai.


"Kenapa Ma?' Zheinra langsung sigap.


"Bibirmu Hapsa dan Sania meninggal dunia sayang,'


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!"

__ADS_1


Akhirnya semua bangun. Anak-anak bayi diangkut oleh kakak mereka dibantu para pengawal yang berjaga. Hanya Andoro dan Luisa yang tinggal. Keduanya tak bisa membawa anak mereka yang masih melakukan treatment karena ukurannya masih belum terlalu besar.


"Nanti Nai minta Kakek untuk menyiapkan peralatan sama ya," ujar sang menantu pada mertuanya.


Luisa mengecup Lilo, Verra dan Dita. Ketiga bayi itu belum tau apa yang terjadi. Bahkan ketiganya masih tidur.


Tak lama mansion Bram berdatangan anak-anak. Rion membawa istri dan sebelas adiknya. Mereka juga masih dalam keadaan mengantuk.


"Belum datang Oma?" tanya Nai.


"Belum sayang. Papa Zhein juga belum datang," jawab Kanya.


Tak lama Zhein datang bersama istri lalu juga Raka dan Amira. Anak-anaknya sudah hadir lebih awal dan masuk kamar karena masih mengantuk.


Semua pria menyingkirkan sofa-sofa dan meja. Menggelar karpet tebal dan dipan tikar khusus meletakkan dua mayat.


Bunyi sirine meraung memasuki pelataran mansion. Semua anak terbangun.


"Ata' ... punyi pa'a ipu?" tanya Aisya yang kaget.


"Eundat pahu!' jawab Azha juga kaget.


Semua bayi turun begitu juga kakak-kakak mereka. Dua jenazah sudah diletakkan di atas tikar dan ditutup kain jarik.


Gino datang bersama Seno, Lilo dan Dita. Verra digendong Zheinra. Kelima balita itu menatap dua jenazah yang ditutup.


"Sayang," panggil Bram.


Kelima bocah itu mendekat. Bram membuka penutup wajah. Sania terpejam dengan mulut biru dan beberapa bekas luka lebam.


"Mama?" Lilo dan Seno memanggil ibunya.


"Mama?" Dita dan Verra ikut memanggil sang ibu.


"Ahilna Mama peuldhi judha," ucap Seno lega.


Semua tentu menitikkan air matanya.


"Eundat lada yan putulin pita ladhi ... hiks!" lanjutnya terisak.


"Eundat lada yan pilan pita nanat hayam," sahut Verra.


"Mama ... poleh pidat pita sium Mama puntut yan teulahin talina?" pinta Dita lirih.


"Cium ibu kalian sayang," suruh Dinar.


Lilo, Seno, Verra dan Dita ragu untuk bergerak. Dinar memanggil keempatnya.


"Tatut meuleta banun Bibu!" tolak Lilo menggeleng.


"Tidak sayang ... ayo cium!" perintah Dinar sedih.


"Eundat mawu!" Dita malah menangis.


Bayi berusia mau dua tahun itu malah memeluk Bram kuat-kuat begitu juga yang lainnya.


Dinar sedih, begitu kuat kekerasan yang diberikan oleh keempat bayi yang mestinya mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya.


"Mereka masih trauma Bibu," ujar Lidya yang kini memeluk Gino yang gemetaran.


Bersambung.


innalilahi wa innailaihi radjiun.


Sedih ... begitu kuat memori seorang anak pada perbuatan orang tuanya.

__ADS_1


Next?


__ADS_2