SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERNIKAHAN


__ADS_3

Sebuah pondok pesantren yang di mana Adiba dan seluruh adiknya begitu juga anak angkat Bart menimba ilmu.


Kini halaman parkirnya penuh dengan mobil-mobil mewah. Banyak wartawan hadir di sana untuk meliput pernikahan salah satu anak buah dari Virgou Black Dougher Young.


Fabio dan Pablo begitu tampan dengan setelan koko warna berbeda. Jika Fabio memakai setelan koko warna navy sedang Pablo warna hitam. Keduanya akan melangsungkan pernikahan setelah sholat jumat.


Banyaknya pengawal dari SavedLived membuat pemeriksaan sangat diperketat. Namun dengan kejadian dua tahun lalu di mana perusahaan berbasis keamanan itu mengangkut semua orang yang bersalah. Tentu orang yang ingin berbuat rusuh akan berpikir ribuan kali.


Tapi tidak dengan para perusuh yang kini sibuk mengambil kue dalam toples. Bahkan para among tamu harus mengganti beberapa toples yang kosong.


"Babies!" geleng Maria.


Wanita itu memang tidak berpuasa. Tetapi, untuk menghormati yang berpuasa. Ia memilih tidak makan dan minum apapun di sana.


"Kau makanlah Maria!" suruh Bram.


"Tidak Tuan, saya takut nanti malah mengganggu," jawab wanita itu.


"Tidak apa-apa. Mestinya kami menghormatimu yang berbeda keyakinan dengan kami. Makanlah, bersama anak-anak. Lagi pula kau kan perempuan, jadi ada alasan kau tengah datang bulan," ujar Bram lagi.


Maria hanya tersenyum, ia memang tidak pernah dipaksa atau ditekan di keluarga atasan suaminya itu. Bahkan dirinya dibela mati-matian jika ada yang mengganggu.


"Hanya satu bulan ini saja. Sebelas bulan lain, saya bebas makan kok," ujarnya dengan senyum indah.


Bram tersenyum, dirinya salut dengan keimanan wanita itu begitu juga Gomesh. Maria selalu beribadah taat setiap minggunya ke gereja katolik terdekat. Bahkan wanita itu juga menjadi pejabat penting di gereja.


"Ini jumat agung. Apa kau tidak pergi ke gereja?" tanya Kanya pada Maria.


"Tidak Nyonya. Sudah saya serahkan pada rekan saya di sana. Lagi pula, saya sudah lama mengundurkan diri dari jabatan itu," jawab Maria sekaligus menjelaskan.


Kanya memeluk perempuan manis itu. Maria sangat lembut, ia juga jadi ibu idola para perusuh.


"Mama ... Mama!" Lana mendekati Maria.


"Mama, Lana mau ke kamar mandi. Anterin!" pintanya sambil melipat paha menahan air seninya.


"Ayo ... ayo!" Maria menggandeng Lana setengah berlari mereka pergi ke kamar mandi.


"Omah ... Omah!" pekik Ryo pada Kanya.


Kanya gemas dengan cucunya itu. Walau Rion memanggilnya Oma, tetapi semua perusuh memanggilnya dengan sebutan sama.


"Iya Baby!"


"Omah ... Yiyo auh atan putat ate dengan!' pinta bayi itu.


Ryo menunjuk tempat di mana hidangan itu tersedia. Hidangan akan disajikan ketika berbuka nanti. Makanya wilayah makanan di tutup oleh kain putih dan tipis.


"Belum boleh sayang," ujar wanita itu.


"Teunapa?" tanya Maryam bingung.


"Kan itu buat buka. Kalian makan yang ada aja dulu ya. Nanti minta sama Mama Maria," jawab Kanya.


"Omah ... Yiyo papal!" rengek bayi itu.

__ADS_1


"Zaa udha!"


"Isa udha!"


"Ael!"


"Agel judha!"


"Omah ... Zaza au patpat!"


Semua bayi menangis. Rupanya kue dalam toples tak mampu membuat perut mereka kenyang.


Maria datang bersama Lana. Wanita itu pun memberitahu pada Seruni untuk memberi makan para perusuh.


Seruni juga ikut andil memberi kudapan dan juga makanan khusus anak-anak dibawah satu tahun atau masa MPASI. Wanita itu kembali bersekolah dan mendalami ahli gizi bersama Safitri.


"Mama, ini makanan untuk anak-anak," ujar Seruni.


Para waiters membagikan piring melamin. Tentu saja Ryo belum boleh makan ketupat. Tetapi berkat kepintaran Seruni, wanita itu bisa menciptakan makanan untuk bayi usia enam bulan sama dengan makanan para orang dewasa.


"Baca doa dulu sayang!" perintah Maria.


""Allahumma baalik lanaa fiimaa lozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaal!" seru semua perusuh bahkan Angel dan Fael hafal doa itu.


Maria tersenyum, ia membiarkan hal itu. Selesai makan anak-anak pun duduk tenang.


Kini baik Pablo dan Fabio sudah duduk di depan wali. Mereka akan menikah secara bergantian. Fabio terlebih dahulu menikah karena Salma adalah kakak kembar dari Aisyah.


"Sudah siap?" tanya penghulu yang didatangkan.


Tadinya, mereka menikah secara agama. Tapi siapa sangka pihak KUA mempercepat dan menyanggupi pernikahan mereka pada hari ini.


"Jangan gugup," Fabio mengucap basmalah.


Ijab kabul diucapkan, Fabio dengan tegas menjawab dengan satu tarikan napas.


"Bagaimana para saksi apa sah?" tanya penghulu.


"Sah!" seru Virgou dan Dahlan sebagai saksi dari pihak laki-laki dan salah satu kerabat dari pihak perempuan.


Salma hadir dengan balutan syar'i berwarna putih. Gadis cantik itu memakai cadar. Setelah Fabio memastikan jika itu adalah istrinya. Salma mencium punggung tangan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Setelah menandatangani buku nikah dan mengabadikan semuanya. Giliran Pablo yang mengucap ijab kabul.


Aisyah datang juga mengenakan cadar. Setelah profesi tanda tangan dan juga mengabadikannya pada sebuah foto.


Kini keduanya bersimpuh di hadapan wali mereka. Lagi-lagi Herman dan Khasya menangis haru untuk keduanya.


Pablo memeluk pria yang paling ditakuti oleh semuanya. Bahkan Virgou takut dengan kemarahan pria yang kini memberinya banyak nasihat itu.


Khasya mencium kening Pablo dan Fabio bergantian. Wanita itu tak pernah membedakan siapapun. Semua dia anggap seperti Satrio dan seluruh anak yang ia lahirkan.


"Jaga istrimu baik-baik ya," pintanya lembut.


"Iya bunda ... makasih. Makasih sudah menjadi ibu yang tak pernah kami miliki," ujar Pablo tergugu.

__ADS_1


Baik Salma dan Aisyah juga merasakan kasih sayang yang tulus dari Herman dan Khasya.


Kini dua pasang pengantin duduk di pelaminan. Tangan mereka mengait satu dan lainnya. Remario menghela napas panjang. Ia belum menemukan jodohnya.


"Papa cari saja di sini. Siapa tau ada pendidik yang cocok," ujar Reno pada ayahnya.


"Ck!" decak Remario kesal.


Putranya terkekeh, Reno memilih pergi menuju para perusuh paling junior yang sekarang sudah beraksi di panggung.


"Tuhai senanna penantin balu ...!''


Arsh bernyanyi.


"Lalalalala!" sahut semua bayi menimpali.


"Pudut sesandin peulsenda dulau ...!"


"Lalalalala!"


"Badhaitan laja ... tan beulmaisuli ... beulpeyum pimpul badhaitan pidadali ... tuhai senanna penantin palu!"


Semua bayi berjoget heboh. Adiba menabuh rebana bersama adik-adiknya yang lain. Satrio menatap gadis yang akan ia persunting dua bulan lagi.


"Jangan menatapnya terlalu lama sayang," peringat Layla.


"Maaf Umi," ujar Satrio.


"Istighfar lah ... karena syetan punya banyak cara untuk menggagalkan pernikahan kalian," ujar Layla memberi peringatan pada pemuda tampan itu.


"Iya Umi," ujar Satrio menurut.


Pemuda itu akhirnya bersama saudaranya yang lain. Mereka bercengkrama.


"Assalamualaikum, boleh gabung?" seorang pemuda tampan datang.


Iqbal menatap Maisya yang sedang tertawa. Sebuah badan besar menghalangi pandangan Iqbal.


"Jaga matamu pada adikku!" tekan Kean memandang horor.


Iqbal mundur teratur. Sungguh sulit baginya mendekati gadis cantik yang kini bergayut manja pada sosok gadis manis juga.


"Bu'lek jalan-jalan yuk!" ajaknya berbisik-bisik.


"Jangan ngadi-ngadi Baby!" peringat Dewi memutar mata malas.


Maisya cemberut, gadis itu memang sangat berbeda dengan kembarannya yang selalu mengikuti kemana Dimas berada.


"Bu'lek nggak asyit!" protes Maisya.


"Siyal ... siyalna tu peultemu palam sinta semu ... teulpitu tutul dan salamu pelolah sintai tuh ... buas tau sulani atuh ... badhaipana denan atuh ...."


Maryam heboh bernyanyi lagu baru milik Mahalini. Semua tentu tersenyum lebar mendengar lagu yang berubah lirik di mulut bayi itu.


bersambung.

__ADS_1


Barakallah buat Papa Fabio dan Papa Pablo ... happy wedding!


Next?


__ADS_2