SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ALL IS FIRST 2


__ADS_3

Nai langsung bergelayut manja pada ibunya. Sedang Arimbi duduk di sisi sang ayah. Seorang putri pasti dekat dengan ayah atau ibunya.


"Hei ... ada suaminya. Duduk sama suamimu sayang," pinta Terra.


"Nanti Kak Langit diambil orang loh kalo nggak diperhatiin," lanjutnya menakuti.


"Ih ... Mama," rengek Nai cemberut.


Walau ia akhirnya duduk di sisi suaminya. Begitu juga Arimbi, Herman menyuruh putrinya duduk di sisi sang suami.


"Kalian itu harus lebih memperhatikan suami kalian!" ujar pria itu.


"Tidak apa-apa Yah. Kan mereka juga baru menjadi istri," sahut Langit memaklumi.


Mereka makan malam bersama. Nai dan Arimbi mengambilkan makanan untuk suami mereka. Terra mencontohkan itu pada mereka.


"Ingat kalian harus menurut apa kata suami jangan membantah dan jangan meninggikan suara!" peringat Terra.


"Iya Ma," sahut kedua gadis itu menurut.


"Pundu seupeuntal!' sahut Al Bara bingung.


"Spasa puami spasa psitli ipu?" tanya bayi tampan itu.


"Kak Nai dan Kak Arimbi sudah menikah baby," jawab Rion jujur.


"Ata' Nai pudah menitah?" tanya Arsyad dengan mata bulat.


"Iya Baby," jawab Rion lagi.


"Tot eundat lada besta?" tanya bayi itu.


"Nanti kalo udah pulang ke Indonesia," jawab Rion lagi.


"Jadi entar Nai nggak tinggal sama kita Ma?" tanya Sean.


"Iya sayang, Nai akan tinggal bersama suaminya," jawab Terra mengelus kepala putranya.


Sean langsung sedih, remaja itu memang tak pernah berpisah dengan salah satu saudaranya. Kean, Calvin, Satrio, Sean, Al dan Daud akan kehilangan Arimbi dan Nai.


"Aku nggak kemana-mana kok. Iya kan Kak?" Nai menatap Langit.


"Tidak boleh!" sahut Herman tegas, sebelum Langit membuka mulutnya.


"Ayah ...," rengek Nai dan Arimbi.


"Nak ... kalian telah bersuami, kalian harus belajar mandiri. Nanti suatu saat, Sean juga akan mengajak istrinya tinggal bersama. Kalian tentu tak mau merecoki ibu kalian bukan?" sahut Herman dengan suara berat.


"Daddy ... Alsyad nantut!" sahut Arsyad menguap.

__ADS_1


Bayi itu menaiki Gabe, Arsh juga menaiki ayahnya. Dua bayi tampan itu langsung dibawa oleh Gabe ke kamar mereka. Anak-anak lain disuruh tidur oleh Bart. Semua menurut.


"Baby ... kakak nggak kemana-mana," sahut Arimbi pada Dewi.


Arraya dan Arion memeluk kakak mereka itu. Nai dan Arimbi akhirnya merelakan semuanya.


"Kita tetap bersama sayang Kakak janji!" ujar Reno pada istrinya.


"Bener ya Kak," Reno mengangguk kuat.


Lidya menghampiri mereka. Wanita itu dulu juga terkaget-kaget ketika harus tinggal bersama suaminya.


"Nanti juga kalian terbiasa sayang. Mama Iya juga dulu gitu," ujarnya.


Darren mengecup pucuk kepala Nai dan Arimbi. Dua gadis itu juga besar di tangannya. Selain Rion yang menjaga mereka, Darren ikut andil dalam mengurus semua adik-adiknya.


"Istirahat lah sayang, sudah waktunya kalian melaksanakan tugas seorang istri," ujar Darren.


"Abah!" peringat Saf.


'Tugas istri apa Abah?" tanya Nai polos.


"Buat Baby yang banyak!" sahut Dave yang langsung dipelototi Virgou.


"Ayo tidur semua. Hari ini sungguh melelahkan!" seru Bram.


Kanya mengelus cucunya, ia juga masih tak menyangka gadis kecil yang cerewet dan paling centil satu keluarga itu sudah menikah sekarang. Wanita itu mencium lembut cucu perempuannya. Arimbi juga dapat kecupan sayang.


Semua sudah masuk kamar masing-masing. Langit merebahkan dirinya setelah berganti piyama ia juga sangat lelah. Tak lama dengkuran halus terdengar. Nai berhati-hati naik ke atas peraduannya. Gadis itu sudah melepas kerudung kepalanya. Ia merebahkan diri di sisi suaminya.


Netranya menatap Langit yang terpejam dengan mulut terbuka sedikit. Tangan Nai menjulur menyentuh rahang Langit yang kokoh.


Jantung Nai berdebar tak karuan. Netra Langit membuka lebar. Keduanya saling tatap, Langit mendekati istrinya, meraih tangan Nai yang menggantung di udara dan meletakkannya di pipinya.


"Sentuhlah jika ingin kau sentuh sayang," ujarnya.


Deru napas keduanya menyapu wajah mereka. Langit makin mendekatkan wajahnya, hidung saling bersentuhan. Nai masih menatap lekat Langit.


Perlahan Langit memeluk Nai begitu hati-hati. Lalu bibirnya mencium kecil pucuk hidung sang istri, Nai memejamkan matanya. Lalu bibir Langit berlabuh di bibir sang istri dan memagutnya secara perlahan. Pria itu menuntun istrinya bercinta.


Sedang di kamar Arimbi, Reno sudah memeluk istrinya seperti guling. Sedang gadis itu juga telah terlelap dalam pelukan suaminya. Tak ada yang terjadi karena Arimbi tengah datang bulan.


Di kamar yang berbeda, Herman tengah memandang pekatnya angkasa. Bintang bertaburan, padahal mulai musim dingin. Hatinya sedikit sakit, karena baru saja melepas putrinya menikah. Gugur sudah kewajibannya sebagai orang tua.


Khasya mendatangi suaminya. Asap keluar dari mulut pria itu, udara dingin penyebabnya. Khasya menyampirkan selimut tebal dan ia menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Sayang, tugasku sudah selesai," Khasya menggeleng kuat.


"Masih ada Dewi sayang," sahut wanita itu lirih.

__ADS_1


"Aku juga ingin itu, tapi usiaku sudah terlalu tua untuk menunggu," ujar Herman lalu memeluk istrinya.


"Siapa tau Ayah usianya seperti mendiang Grandma Bertha," ujar Khasya.


"Aku tidak mau menyusahkan kalian dengan usia sebanyak itu!"


"Tidak ada yang keberatan sayang!" sahut Khasya tegas.


"Jika kau lumpuh, aku siap jadi kakimu. Jika kau buta, aku siap jadi matamu!" sahut wanita itu lagi tegas.


"Sayang ... jangan mendahului Allah. Soal mimpi itu adalah bunga tidur," lanjutnya.


"Mungkin mendiang ibu ingin kita doakan,"


Herman memeluk istrinya erat. Memang mimpi mendiang ibunya sering datang dan mengajaknya serta. Tapi hingga hari ini, ia masih bisa bernapas. Bertanda mimpi itu hanya mimpi buruk saja.


'Ayo masuk sayang, udara makin dingin," ajak wanita itu.


Khasya menuntun suaminya ke kamar. Sedang di kamar lain Haidar tak berhenti menghela napas panjang. Hatinya masih dilanda gelisah setelah melepas anak gadisnya.


"Sayang, jangan seperti ini. Jika ayah lihat, dia pasti merasa bersalah," ujar Terra memeluk sang suami.


"Tidak sayang ... Ayah nggak salah. Hanya aku yang memang kurang bersyukur," sahut Haidar akhirnya mendapat jawaban dari kegelisahannya.


"Sayang, Langit adalah pria baik, dari turunan baik-baik. Bahkan Papa tadi dengar sendiri berapa uang yang mereka siapkan untuk meminang putri kita?" Haidar mengangguk.


"Semoga Maisya, Kaila, Dewi dan Arraya dapat jodoh yang baik juga," ujar Haidar penuh harap.


"Jangan lupa Bariana, Aliyah, Fathiyya, Aaima dan anak perempuan kita yang lain sayang," Haidar mengangguk.


Putrinya banyak, ia tak pernah khawatir. Pria itu akan menanti siapa jodoh dari Maisya.


"Aku ingin tau bagaimana Virgou menghadapi calon suami putrinya nanti!"


"Sayang ... Maisya juga putrimu!" Haidar berdecak.


"Ah ... nggak asik banget sih. Kenapa pula jadi aku yang nggak mau Baby Mai nikah cepet-cepet!" sungut Haidar.


Terra tertawa. Sedang di kamar pengantin, Nai tak bisa melayani sang suami karena ia juga tengah datang bulan. Gadis itu tiba-tiba ingin pipis di sesi cumbuan sang suami.


"Kak ... pending dulu ya malam pertamanya," ujar Nai dengan wajah memerah karena malu.


Langit menghela napas panjang. Sepertinya ia harus bermain sabun untuk menenangkan dirinya.


Bersambung.


Halah ...


Othor polos ini 🤣🤭

__ADS_1


next?


__ADS_2