SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BEAUX PEINTRES (pelukis cantik)


__ADS_3

Kemahiran Dewi dalam menoreh pensil di atas kertas jadi sorotan. Semua kakak akhirnya berjaga di sekeliling adiknya. Sedang para orang tua membiarkan anak-anak mereka. Hanya Virgou dan Bart yang tak lepas dari sisi Dewi. Sedang yang lain menikmati keindahan menara Eiffel bersama pasangannya masing-masing.


"Le tableau est très beau, le peintre est aussi beau." (Lukisannya cantiknya sekali. Pelukisnya juga cantik,) puji salah satu pria yang ingin di gambar dengan ekspresi menunggu.


"Ehem!" Virgou berdehem keras dan menatap tajam ke arah pemuda yang seusia Langit itu.


Pemuda itu tertawa mendapat pria posesif yang ada di sisi gadis kecil yang asik mencoret kertas. Tak ada yang salah sama sekali. Dewi begitu tegas dan berani mencoret pensilnya. Jemarinya menghitam karena harus mengarsir gambar agar mendapat bayangan yang ia inginkan.


Hadirnya Dewi yang menawar lukisan membuat para penjaga menara mendatangi gadis itu dan melarangnya.


"Maaf tuan, kami tak mau para pengunjung terganggu dengan hadirnya anak ini!" pinta petugas penjaga itu.


"Hei ... mereka yang menawarkan diri ya!" teriak Virgou yang tentu tak dimengerti oleh para penjaga.


"Tolong ketertibannya, nona berhenti!" Maisya meminta Dewi berhenti melukis.


Semua pengunjung kecewa dengan petugas. Padahal mereka sudah mengantri terlalu lama untuk dilukis.


"Memang benar, malah kami ingin dilukis oleh nona cantik itu, kau lah yang mengganggu!" usir para turis pada penjaga menara.


Semua menentang dua penjaga itu hingga tak bisa berkutik. Keduanya diusir dari tempat.


"Kamu akan melaporkanmu di dinas terkait agar kalian dipecat!" ancam para turis.


Dewi yang jika sudah mulai melukis dan tiba-tiba dihentikan secara mendadak langsung kehilangan moodnya.


"Aku malas ... tanganku pegal!" keluhnya.


"Tadi lagi semangat diberhentiin ya gini jadinya!" protesnya.


"Miss belle ... s'il vous plaît ... nous voulons être peints par vous. Nous avons payé dix euros !" (Nona cantik tolonglah ... kami ingin dilukis olehmu, bayar sepuluh euro!) tawar mereka.


"Ce tableau coûte plus de dix euros!" (Lukisan ini lebih dari sepuluh euro harganya!) celetuk salah seorang pengunjung.


"Daddy mau minum coklat hangat!" pinta Dewi manja.


"Qu'a t'il dit?" (Dia bilang apa?) tanya salah seorang turis.

__ADS_1


"Il veut du chocolat !"(dia mau minum coklat!) jawab Virgou.


Entah dari mana datangnya. Seorang turis wanita membawakan satu gelas coklat hangat untuk Dewi. Gadis kecil itu begitu senang dan. langsung mengucap terima kasih.


Dewi kembali semangat. Ia lalu menggambar lagi. Semua mulai mengantri. Virgou langsung memerintahkan para pengawal untuk mengurangi antrian. Hari sudah mulai terik. Pria sejuta pesona itu tak mau anak gadisnya terlalu fokus. Sedang keranjang uang milik Dewi sudah penuh.


Beberapa pengunjung kecewa akibat pengurangan itu.


"Sudah selesai!" ujar Dewi menyerahkan coretan tangannya pada salah satu turis wanita.


"Oh ... Comment savez-vous que quelqu'un me manque ?" (Oh ... dari mana kau tau jika aku tengah merindukan seseorang?) tanyanya penuh haru.


Gambar wajah wanita itu menatap Eiffel dengan sorot mata rindu.


Wanita tadi adalah turis terakhir yang Dewi lukis. Virgou mengelap jemari gadis itu dengan tisu basah. Kaila memfoto moment kasih sayang itu melalui bidikannya. Tak hanya itu, gadis bermata biru itu juga membidik secara candid semua pasangan orang tuanya yang begitu mesra. Bahkan para bodyguard juga tak luput dari jepretan kamera ponsel gadis itu.


"Wah ... ada apa nih tatapan Kak Reno sama Mba Arimbi?" gumamnya ketika melihat satu foto di mana Reno yang tengah menggendong Bariana menatap Arimbi sedemikan rupa.


"Kok jadi kesannya suami yang mendatangi istri penuh kerinduan ya?" tanyanya lagi sambil memiringkan kepalanya.


Kaila mengabaikan tangkapan kamera. Lagi-lagi ia mendapat bagaimana senyum Nai, sang kakak begitu indah ketika berdiri bersama salah satu pengawal paling muda di sana. Gadis kecil itu menggaruk kepalanya yang memang gatal hingga rambutnya acak-acakan. Lalu satu foto di mana Rion ditatap banyak turis wanita dengan pandangan memuja sama ketika memandang ayahnya—Virgou.


"Wah, banyak sekali uangmu baby, ada 2000 euro dan 300 poundsterling!" sahut Frans takjub.


Dewi tersenyum senang. Ia tadinya mengumpulkan uang ingin membeli boneka beruang coklat bersama Maisya dan Kaila.


"Kenapa nggak minta Daddy baby?" tanya Virgou haru.


"Kaila bilang jangan ganggu uang Daddy, kalau kita bisa cari sendiri," jawab putri bungsu Herman itu.


Virgou mencium sayang kepala yang mestinya adik iparnya itu. Tapi, karena usia Dewi yang sama dengan Kaila. Membuatnya sama kedudukan sebagai anak di mata laki-laki bermata biru itu.


Sedang kembaran gadis itu tentu bersama kakaknya Dimas dan Affhan. Dewa juga bisa menggambar tapi bocah itu menuangnya di media komputer. Gambar kartun hasil review untuk kebaikan lebaran kemarin adalah hasil cipta anak itu.


Virgou membeli boneka beruang pada semua anak perempuan. Tentu bukan dari uang hasil jerih payah putrinya. Padahal Maisya, Kaila dan Dewi ingin sekali menggunakan hasil jerih payah mereka. Sedang untuk anak laki-laki seperti Ditya, Radit, Samudera, Benua, Domesh minta dibelikan bus merah. Para perusuh menolak dibelikan apapun. Virgou menurut saja.


"Simpan uang kalian baby," ujar Terra bangga, ketika Kaila mengutarakan ingin membeli mainan dari hasil uangnya.

__ADS_1


Bram sangat bahagia. Ia berkali-kali memuji kecerdasan dan mandirinya cucu-cucunya.


Usai membeli oleh-oleh. Mereka naik. Bus cukup lama menunggu karena Langit merampas salah satu ponsel turis hingga terjadi keributan di sana. Setelah menghapus semua gambar yang ada di galeri pria itu. Langit mengembalikan ponselnya.


"Si vulgaire! J'ai juste gardé quelques photos du beau peintre !"


(Kasar sekali. Aku hanya menyimpan beberapa foto pelukis cantik itu!) gerutunya. "Mais à la place, il a supprimé toutes mes galeries de photos!" (Tapi dia malah menghapus semua galeri foto!)


Begitu langit naik. Bus baru berjalan menuju satu kota. Karina mengatakan jika mereka telah di sana terlebih dahulu. Mereka bersama Labertha.


"Tunggu kami sekitar tiga jam lagi, kami mau makan siang dulu," jawab Kanya yang ikut rombongan bus bersama suaminya.


Mereka mampir di sebuah restauran khusus makanan Indonesia. Lastri menjadi penunjuk jalan, ia mengenal salah satu rekan sesama orang Indonesia yang membuka rumah makan sederhana. Usai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Aini menatap jalan. Di atas ranjangnya dua adik misannya tidur dengan lelap. Sementara sang putra berada didekapnya.


"Mas, aku kangen," ujarnya lirih.


Tadi ia mengirim gambarnya berempat ketika di menara Eiffel. Sang suami menuliskan kerinduannya pada sang istri. Hal sama dilakukan Gisel. Ia mengirim banyak gambar putra dan putrinya di menara itu dan tumben Sky mau difoto bersama. Bahkan Domesh dan Bomesh ada di antara mereka begitu juga Maria. Kecuali Bariana.


(Mana anak gadisku yang satu?) tulis Budiman mencari Bariana.


Gisel memberi foto di mana bayi cantik itu digendong Reno dan tak mau lepas.


(Hai ... Gomesh akan menghukum Reno nanti!) tulis pria itu lalu disematkan emoticon orang senyum dan menutup mulut.


( Ba bowu sayang, aku kangen) tulis Gisel.


(Ba bowu pu sayang. Aku juga kangen). tulis Budiman.


Sedang Maria tengah melakukan Video call pada suaminya. Hanya saling tatap dan pandangan penuh cinta.


"Sayang hari ini satu bayi cantikmu jadi sorotan semua orang dan satunya tak mau lepas dari gendongan pengawal tampanmu," bisik wanita itu.


Gomesh hanya bisa menghela napas panjang mendengar laporan istrinya itu.


bersambung.

__ADS_1


hahaha


next?


__ADS_2