
Kini seluruh keluarga menginap di mansion Bram. Kanya tengah memangku Ari yang mendadak manja dengannya.
"Baby, kamu gemesin amat sih!"
Bram tersenyum melihatnya. Ia suka dengan kehangatan ini. Hingga tiba-tiba ....
"Paypi tuyun!" pekik Maryam pada adiknya yang memang tak bisa diam.
Arsh sudah bergelantungan di tiang tangga. Bayi itu hendak melompat dari sana. Kean buru-buru menolong bayi itu sebelum benar-benar terjun ke bawah.
"Alsh Pisa!" pekik bayi itu marah.
"Baby!" peringat Rion yang membuat Arsh memeluk kuat Kean.
"Ata' Ael au yaya Alsh!" pinta Fael yang juga ingin naik tangga.
"Eundat poleh Paypi!" larang Della.
"Icam jaja ait!" Zizam merangkak cepat naik undakan beralas karpet itu.
"Baby!" Harun menghalangi Zizam.
"Ata' acuhbeulsushbenajekakahsbduahwbsgvevehwuabzgwy!' oceh bayi tampan itu.
"Baby tot nomonna dithu?" sahut Bariana tak suka.
"Banti talo satuh, Mommy sedih loh!" lanjutnya.
"Sayang, sini sama Kak Riri aja!" ajak Riri salah satu putri angkat Bart.
Riri menggendong Rafael, lalu yang lain menggendong adik-adik bayi lainnya. Arsh juga mau digendong oleh Deta.
Semua bayi tampak tergelak karena kakak-kakak mereka melompat-lompat.
"Ata'banti satuh!' peringat Della yang selalu khawatir.
"Tidak apa-apa baby, biarkan mereka ya. Percayalah jika kakak-kakakmu bisa melindungi semua adik-adik," ujar Gabe.
Gino tertawa nyaring karena Azlan memutarnya. Gomesh datang dan membisikkan lagi pada Virgou tentang keadaan ibu dari Lilo, Seno, Verra dan Dita.
"Keadaan Nyonya Hapsa, Sista dan Sania makin memburuk Tuan," bisiknya.
Zhein bersama Raka ke luar kota. Pria itu menemani sang putra untuk sebuah kerjasama. Virgou mendekati Bram. Ia membisikkan hal sama pada pria itu.
"Kau yakin?" Virgou mengangguk.
"Dokter angkat tangan Pa. Kita diminta untuk memutuskan mencabut alat penunjang kehidupan mereka," bisik Virgou dengan suara tercekat.
Bram terdiam, pria itu tak bisa mengambil keputusan. Ia menatap Karina. Wanita itu pun mendatangi ayahnya.
"Pa, ada apa?" tanyanya.
"Sania, Hapsa dan Sista tak bisa bertahan. Dokter angkat tangan dan meminta kesediaan kita mencabut ventilator itu," jawab Bram sangat lirih.
Karina menutup mulutnya. Ia sangat shock dengan apa yang baru ia dengar. Kanya juga ikut terkejut.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan Pa?" tanya Kanya sedih.
"Suami mereka yang harus memutuskan, mau tak mau," ujar Bram dengan wajah datar.
"Kita minta dokternya lakukan semampunya. Aku dan Virgou yang akan mengunjungi mereka besok!" putus Bram.
"Nggak telepon Mas Zhein aja Pa?" tanya Karina.
"Tidak bisa, hanya para suami yang berhak atas istri mereka!" jawab Bram sedikit kesal.
"Kita minta akses ekslusif agar bisa menjenguk tahanan hari ini Pa?" tanya Virgou.
"Lakukan Boy. Papa hanya bisa mengandalkan kamu sekarang!" sahut Bram pada Virgou.
Keadaan mendadak tegang. Semua bayi seperti mengerti jika orang tua mereka tengah tidak baik-baik saja. Gino, Lilo, Seno, Verra dan Dita menatap semua orang tua yang tengah berbisik dan sesekali menatap mereka.
"Meuleta teunapa Ata'?" tanya Verra.
"Pidat pahu Dek," jawab Gino.
Bram, Virgou dan Gomesh bergerak. Ketiga pria itu pergi ke rumah tahanan di mana para ayah dari lima anak malang itu berada.
Prapto, Heru, Apriadi dan Aldo duduk di kursi panjang. Gomesh ada di sana bersama Virgou, Bram dan Budiman. Ternyata suami Gisel ingin ikut serta.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Prapto masih sombong.
"Kau tau jika istrimu meninggal?" tanya Virgou dengan nada dingin.
Prapto bungkam. Ia bukan tidak tau perkara itu. Tetapi, pria itu memilih diam. Semua rencana yang ia bangun hancur sudah.
"Kau punya anak Prap!" geram Bram benar-benar tak habis pikir.
"Anak haram itu ...."
Brak! Virgou menggebrak meja. Beberapa polisi meminta mereka untuk menahan diri.
"Pak jangan bertindak gegabah!"
"Kau yang membuat Weni hingga hamil Gino!" teriak Bram makin kesal.
"Agar kau bisa hidup enak!" lanjutnya kini dengan nada menyindir.
Prapto diam. Mereka diberitahu keadaan istri-istri mereka masing-masing yang sedang bertahan hidup.
"Dokter menyerah dengan keadaan mereka. Jadi bagaimana keputusan kalian?" tanya Virgou.
"Kalian pembunuh jika mencabut alat itu!" seringai Aldo licik.
"Kau akan menyiksa mereka jika terus hidup!" Virgou balas menyerang perkataan Aldo.
Keempat pria itu berhadapan dengan sosok mafia yang paling ditakuti sedunia. Mereka tentu tidak tau apa yang akan dilakukan Virgou untuk menyiksa mereka selama ini di tahanan.
"Kami lepas tanggung jawab soal itu!" sahut keempat pria itu menolak tanggung jawab.
Virgou mengumpat habis-habisan. Pria itu hanya memberi kode pada Gomesh. Tentu saja pria raksasa itu tau apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
Kecewa dengan jawaban empat laki-laki itu. Membuat semua kini duduk dengan gelisah. Dokter sudah menelepon berkali-kali untuk segera mengambil keputusan.
"Daddy, ada pa'a?" tanya Gino lirih.
Balita itu mendatangi Virgou yang mengurutkan keningnya. Pria dengan sejuta pesona itu langsung memangku Gino.
"Baby, ada yang Daddy ingin katakan," ujar pria itu lalu menghela napas besar.
"Baby tau Mama Hapsa, Mama Sania dan Mama Sista masih dirawat di rumah sakit?' Gino mengangguk.
Virgou menjelaskan keadaan tiga wanita malang nan jahat itu. Gino mendengarkan dengan seksama.
"Jadi, pa'a Mama-mama halus menindhal dunia Daddy?" Virgou mengangguk.
"Dek sini Dek!" panggil Gino pada empat adiknya.
Lilo, Seno, Verra dan Dita mendatangi kakak mereka. Gino langsung memberitahu.
"Teuadaan Mama pidat bait-bait saja," ujar Gino menjelaskan.
"Pita halus memutuskan Mama hidup atau pidat!" lanjutnya lirih.
"Pa'a pita atan peumpunuh Mama?" tanya Lilo memastikan jawabannya.
"Punuh aja!" teriak Dita.
"Atuh eundat bawu pama Mama. Mama sahat!" lanjutnya.
"Baby ...."
Virgou tak jadi meminta pendapat anak kecil. Gino dan empat adiknya masih terlalu dini untuk memutuskan sesuatu.
"Pa, tadi Zhein bilang kalau semua keputusan diserahkan sama kita," ujar Karina memberitahu.
Bram mengurutkan keningnya. Semua terdiam dengan apa yang terjadi. Para ibu meminta semua anak makan malam. Hari telah larut.
"Biarkan mereka hidup semampu mereka!" putus Bram tak peduli.
Dokter pun melakukan apa yang diminta keluarga. Soal biaya tentu bukan masalah bagi keluarga kaya raya itu.
Semua hanya tinggal menunggu waktu. Gino diminta Khasya mendoakan ketiga bibinya agar selamat dan sehat.
"Butan Gino menolak Bunda," jawab balita itu.
"Tapi, Gino memilih Mama Sista, Mama Hapsa dan Mama Sania menindhal aja," jawabnya tentu dengan tetesan air mata di pipi.
"Gino endat mawu teumpali te pelutan meleta Bunda," lanjutnya lirih. "Gino tatut!'
Balita itu menangis, Khasya memeluknya erat. Keputusan sudah diambil, Bram memilih ketiganya hidup semampu mereka. Pria itu tak mau jadi pembunuh dan dijadikan alasan keempat pria yang ada di tahanan untuk memerasnya nanti.
"Hukuman mereka hanya dua puluh tahun penjara. Aku tidak mau mereka datang dan mengotori otak anak-anakku dan menuduhnya membunuh istri mereka!" terang pria itu tak mau ambil resiko.
Bersambung.
hmmm menurut Readers gimana?
__ADS_1
Next?