SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ADIBA


__ADS_3

Gadis berusia tiga belas tahun itu menatap tubuhnya di cermin. Dadanya sudah tumbuh sebesar buah jambu biji. Kulitnya yang dulu beda warna antara tangan dan bagian dalamnya. Kini sudah merata menjadi putih bersih. Rambutnya hitam kemerahan, sama seperti kakaknya yang memiliki rambut tebal dan ikal panjang sepunggung. Di bawah sana ada rambut halus yang tumbuh.


"Aku sudah sebesar ini?" tanyanya tak percaya. "Aku juga sudah haid!"


Adiba lalu memakai semua pakaiannya dari yang dalam hingga yang luar. Dadanya terasa sakit jika tersentuh.


"Punya Kak Azizah apa dulu juga sakit ya?" pikirnya bertanya.


Gadis itu pun keluar dari kamarnya. Semua adik tampak bercengkrama. Hari ini mereka menginap di rumah Terra. Rion memang sangat dekat dengan ibunya itu. Semua anak pun juga menginap di sini.


"Dik!" sapa Lidya.


"Kak," balas Adiba.


"Kak, boleh nanya enggak?" lanjutnya malu.


"Boleh ... tanya apa?" sahut Lidya.


Demian menghampiri, Adiba urung bertanya. Hingga Lidya bingung.


"Loh katanya mau nanya?" ujarnya.


"Nggak ah malu," jawab Adiba lalu hendak berlalu.


"Eh ... nggak boleh. Sini sama Kakak!" ajaknya.


"Mas sana ih!" usir Lidya ketika Demian mengikutinya.


"Ih ... kenapa sih Ma!" rajuk pria itu protes.


"Ini bahasan anak gadis. Sana!" usir Lidya lagi.


Demian cemberut, ketika hendak pergi. Sempat-sempatnya ia mengacak hijab yang melekat di kepala Adiba kesal.


"Kak!" seru gadis itu.


"Mas ih!" tegur Lidya pada suaminya.


"Jelek!"


"Biar ... Wee!" balas Adiba sengit.


"Eh ... udah sana!" usir Lidya lagi pada suaminya.


Demian akhirnya pergi meninggalkan mereka. Lidya menarik gadis tanggung itu ke balkon lantai dua di mana ada kursi dan taman bunga. Keduanya duduk di sana.


"Kak, waktu dada kakak tumbuh apa sakit gitu?" tanya Adiba langsung.


Lidya menatap anak gadis yang berwajah muram di depannya. Sungguh Adiba itu sangat manis dan tak bosan dipandang. Orang akan senang jika diminta untuk memandangi Adiba.


"Kakak dulu sih nggak pernah pegang-pegang jadi nggak tau," jawabnya.


"Lah ... emang kakak nggak handukan?" tanya Adiba polos.


"Eh ... iya juga ya ... tapi Kakak emang nggak merhatiin sakit atau enggaknya. Pas lagi haid aja ... eh iya sakit ... pas haid pertama dada kakak rasanya nyeri gitu!" jawab Lidya mengingat pertama kali ia menginjak masa puber.


"Nggak enak ya kak. Ini sakit banget, mana gede lagi!" keluhnya lagi.


"Hus ... nggak boleh gitu. Harus bersyukur, berarti sekarang Adiba sudah bertanggung jawab atas diri sendiri. Dosa sudah ditanggung sendiri," sahut Lidya.

__ADS_1


Adiba mengangguk tanda mengerti. Ia tiba-tiba meringis ketika menggaruk pucuk dadanya.


"Jangan digaruk!" larang Lidya.


"Gatal Kak!" sahut Adiba.


"Nanti timbul Stretch Mark loh!" peringatnya.


"Digosok aja yang pelan," lanjutnya. "Jangan menggosok di depan laki-laki walau di depan adik kandungmu sekalipun!"


Adiba mengangguk, ia sudah besar sekarang, gadis itu harus membatasi diri dalam pergaulan dan juga lingkungan pertemanannya. Lidya mengajak gadis tumbuh itu ke ruang makan. Di sana semua anak tengah sarapan.


"Kok lama baru datang!" tanya Terra.


"Biasa Ma ... masalah wanita," jawab Lidya.


Azizah menaruh mangkuk besar di tengah meja. Semua anak sudah ribut ingin makan.


"Mama ... tuh apal!" pekik Arsh tak sabaran, padahal bayi itu belum boleh makan nasi.


"Wu si olen!" pintanya.


Widya yang cerdas memasak nasi tim dari beras merah bersama sosis dan ceker ayam. Perempuan itu memperlihatkan makanan bayi itu.


"Ini nasi goreng Baby," ujarnya yang membuat bayinya diam.


Semua makan dengan tenang. Bariana bahkan nambah sampai dua piring.


"Hohoho ... peyut Baliana puncit Mama!" ujarnya mengelus perutnya yang bundar.


"Atuh judha puncit!" seru Maryam.


Terra gemas dengan semua bayi dan menyembur perut bundar mereka. Terdengar gelak tawa dari semua perusuh.


"Ma, Pa, Kak. Adiba boleh ijin pergi latihan nggak nanti jam sepuluh?!' ujar Adiba.


"Boleh," jawab Azizah.


"Sama Om Ricky dan Om Juno ya sayang," ujar Terra.


Adiba mengangguk. Rupanya sikap posesif kakak iparnya menurun dari sang Mama. Mungkin karena begitu sayangnya makanya mereka mengawal ketat semua anak-anak.


"Oh ya, Minggu besok kami akan pulang ke Eropa," ujar Gabe yang membuat semua sedih.


"Sayang," rajuk Terra.


"Kak," Rion ikutan sedih.


"Perusahaan ku bagaimana jika Gabe terus-menerus di sini!" ketus Bart.


"Pindah aja sih perusahaan utamanya!" sahut Darren.


"Nggak bisa sayang. Terlalu besar dan pastinya Indonesia tak menerima jika perusahaan Grandpa ada di sini," sahut Gabe, Bart mengangguk membenarkan.


"Omsetnya bisa membuat monopoli pasar di Indonesia, kita bisa diteluh sama lawan bisnis kita," lanjutnya.


Rion langsung menyambangi Arsh, bayi itu memang jadi rebutan semua orang tua. Bahkan Herman akan marah jika ada yang mengambil bayi itu jika sudah ada di tangannya.


"Kan kita bisa kumpul-kumpul lagi nanti," ujar Widya.

__ADS_1


Akhirnya semua mengangguk. Adiba sudah rapi, ia mengenakan hoodie warna beggie dan celana jeans oversize. Hijabnya ia sembunyikan di balik Hoodie yang ia sampirkan ke kepalanya.


"Wuih ... ngetrend amat modelnya. Mau kemana?" tanya Arimbi suka dengan penampilan Adiba yang modis.


"Mau latihan Kak," jawab gadis tanggung itu.


"Latihan di mana?" tanya Satrio dengan pandangan tajam.


"Pesantren, dibimbing sama Ustazah Lyla," jawab Adiba.


"Kamu kalo ceramah modis gini pasti anak-anak muda banyak yang mau dengerin deh," sahut Rasya ketika melihat penampilan Adiba.


"Iya, kita mana mau denger sama ustadz atau ustadzah yang pakai pakaian gamis dengan warna itu-itu aja!" sahut kembarannya, Rasyid.


"Mana bisa masuk kalo pake ginian ceramah!" sahut Adiba.


"Loh, kamu sasaran ceramahnya siapa?" tanya Rasya. "Emak-emak?"


"Trus kapan nih anak-anak muda dideketin sama ustadz atau ustadzah?" tanya Rasya lagi.


"Bener Dib, kita kalau dengerin Ustadz atau ustadzah ya hanya denger pas saat dia ceramah. Tapi setelah ceramah? Kita sering lupa tuh!" lanjut Rasyid.


"Kamu latihan mau ikut lomba biar menang?" Adiba mengangguk.


"Eh ... gimana kalau kamu buat konten aja tentang masalah remaja dan kamu masukin ayat, hadist atau apapun itu untuk solusi dari remaja itu sendiri, kamu juga bisa cari dari semua artikel yang menulis tetang problem remaja!" sebuah ide terlintas dari Rasya.


"Eh iya juga ya?" sahut Adiba.


"Iya, lagian kamu ikut jadi da'i biar apa sih?" tanya Rasyid.


"Mau nambah modal MilkTime Out Babies," jawab gadis itu polos.


Semua berdecak mendengar jawaban Adiba.


"Ah ... sama satu lagi! Mau umroh!" serunya.


Bart mengingat jika seluruh keluarganya belum ada yang ke tanah suci untuk beribadah haji. Jika mereka semua berangkat menggunakan pesawat mereka untuk naik haji pasti bisa.


"Dav!" panggilnya.


"Ya Grandpa!" sahut pria yang punya nama.


"Urus pesawat kita agar bisa ikut serta penerbangan kuota haji tahun depan paling cepat!" titahnya.


"Baik Grandpa!" sahut David senang.


"Insyaallah, jika Allah berkehendak. Kamu bukan hanya Umroh Nak, tapi Hajjah langsung!" sahut Bart.


"Persiapkan kalian. Kita akan bawa semua keluarga untuk naik haji tahun depan!" lanjutnya yang ditanggapi ujaran hamdalah dari semua orang.


Bersambung.


Makasih Adiba ... hanya gara-gara keinginanmu Umroh. Grandpa Bart terbuka pikiran untuk naik haji semua keluarga.


Othor doakan agar semua readers bisa berangkat haji tahun depan. Aamiin!


Ba bowu semuanya ❤️❤️❤️😍😍


next?

__ADS_1


__ADS_2