SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DBD


__ADS_3

"Apan Papan!" pekik Firman ketika melihat kakaknya datang pulang dari sekolah.


Alia langsung merangkak menuju sang kakak dan minta gendong.


"Det ... sanan dandu Apan pulu ya ... pasyihan sape," peringat Della pada Firman.


Firman mengangguk, sedang Alia yang memang harus digendong oleh Arfhan baru bisa diam. Bayi yang sudah menunjukkan berat badannya itu menempel layaknya koala.


"Assalamualaikum!" sapa Arfhan, Sky dan Bomesh bersamaan.


Ketiganya mencium punggung tangan para orang tua. Setelah beberapa menit digendong Arfhan baru lah Alia mau diambil oleh Layla.


"Cuci tangan sudah itu makan ya sayang!" perintah Terra.


"Iya Ma," sahut ketiganya.


Ani membantu tiga anak itu naik lantai dua. Perempuan tua itu tetap setia bersama Terra.


Usai ganti baju dan cuci tangan. Kini semua makan siang. Della melepeh semua makanannya.


"Baby kenapa sayang?" tanya Layla khawatir.


"Wuwal Mumi," keluh bayi itu.


Layla memeriksa kening Della, memang sedikit hangat. Wajah bayi itu pun agak kemerahan.


"Kalau begitu makan bubur ya, mau?" Della mengangguk.


Ani segera memasak bubur yang diambil dari nasi yang sudah matang. Bubur terhidang, Layla membiarkan makanan itu sampai hangat, baru memberinya pada Della, walau sedikit susah payah, akhirnya makanan itu habis.


"Apan ... Man uapin," pinta Firman ingin disuap oleh abangnya.


Arfhan menyuapi Firman. Alia juga disuapi oleh bocah laki-laki itu. Keringat menetes di dahi Della.


"Cape banget sayang?" Luisa mengusap keringat yang menetes di pelipis Della.


Bagaimana bayi cantik itu tidak kelelahan. Semua bayi bergantung dan hanya menurut pada Della. Harun dan lainnya tak bisa berbuat apa-apa, tak jarang Della yang memperingati kakak-kakaknya itu.


"Uh sayang, kamu baik banget," puji Luisa.


Luisa kali ini tidak ikut dengan suaminya. Andoro tengah mengurusi semua data yang diinginkan untuk membuat shelter batu bara di Indonesia. Pria itu ditemani Bart. Dahlan, Rendra dan Rio menemani dua pria itu sebagai pengawal Bart.


Usai makan anak-anak disuruh tidur siang. Della, Firman dan Alia ingin tidur bersama kakaknya.


Terra sedikit khawatir dengan empat bersaudara sepupu itu. Wanita itu menyuruh Rahma untuk memeriksa keempatnya.


"Umi, bisa tolong periksa Della, Firman dan Alia?"


"Bisa sayang,"


Rahma pun bangkit menuju kamar Arfhan. Ia memeriksa Della, Firman dan Alia. Tangan Rahma sedikit lama di kening Della.


"Della apa iya anget, apa tanganku yang dingin?" gumamnya memeriksa tangannya sendiri.


"Ah ... Della demam," lanjutnya setelah memeriksa kening bayi cantik itu lagi.


Rahma segera mengangkat Della. Wanita itu tak perlu mengkhawatirkannya putranya Megan. Bayinya sudah tenang tidur bersama bayi lainnya.


"Umi Adek mau dibawa kemana?" tanya Arfhan yang terbangun.


"Della demam sayang, Umi mau bawa ke bawah biar diperiksa ya," jawab Rahma.

__ADS_1


"Kamu bobo lagi, ya," lanjutnya menyuruh.


Karena mengantuk bocah itu pun kembali tidur dan memeluk dua adiknya. Rahma membawa Della yang makin tinggi suhu badannya.


'Te ... Della harus dibawa ke rumah sakit!" ujarnya sedikit panik.


"Suhunya panas banget!" lanjutnya.


Terra meraba punggung bayi itu yang memang panas luar biasa. Ia langsung mengambil kunci mobil. Angga, Ricky dan Sapto menghalangi atasannya.


"Kak!" rengek Terra mulai kesal.


Della berada di tangan Ricki. Terra memandang cemberut tiga pengawal yang sigap itu. Mereka melarikan Della ke rumah sakit.


"Semoga Baby Dell nggak kena DBD," ujar Rahma penuh harap.


"Apa Umi?" tanya Terra.


"Jika dilihat dari gejalanya. Baby Del kena demam berdarah dangue," jawab Rahma lirih.


"Innalilahi, putriku!' Terra terkejut bukan main sampai menutup mulutnya dengan tangan.


Rumah besar dan rapi juga bersih tidak memungkinan penghuni rumah tidak terkena penyakit ini.


Berita Della kena DBD merebak ke seluruh keluarga. Virgou langsung mendatangi rumah sakit untuk menemani putrinya. Semua sedih, para bayi yang baru mau berjalan mendadak tenang dan tak berbuat ulah.


"Ata' Ella!" panggil Angel.


Bayi delapan bulan itu kecarian kakak yang selalu melarangnya ini itu. Selain Angel yang mencari Della. Fael, Izzat, Zizam juga kecarian.


"Mama Ata' Ella pana?" tanya Firman mencari kakaknya.


"Kakak dibawa ke rumah sakit sayang," jawab Maria sedih.


"Sakit panas sayang," jawab Maria.


"Tot eundat pisomples?" tanya Maryam.


"Panasnya kena digigit nyamuk sayang," jawab Maria.


"Mama ... janan boloni tamih ... sejat tapan manyut didhit wowan pisa satit?" tanya Bariana tak percaya.


Maria menghela napas panjang, sepertinya ia harus menjelaskan jika ada nyamuk yang bisa membuat orang sakit.


"Penularan terjadi saat nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus menggigit dan menghisap darah seseorang yang sudah terinfeksi virus dengue, ketika nyamuk tersebut menggigit orang lain, maka virus akan tersebar," jelas Maria.


"Mamut pa'a Mama?" tanya Arsh kepo.


"Aedes aegypti," jawab Maria.


"Apesapeti!" ulang Azha.


"Papespapeti!" ulang Bariana.


"Abes abesi!" ulang Maryam, Al dan El Bara bersamaan.


Arsh menggaruk kepalanya. Nama nyamuk yang sangat sulit ia sebut itu membuat ia kesal sendiri.


"Heh ... amuh mamut epespesti .. ninih wan tuh!" tantangnya berani.


Di rumah sakit Puspita datang bersama Affhan dan Maisya. Mereka sedih melihat kondisi Della yang mendadak kurus akibat sakit itu. Terlebih ruam yang ada di beberapa bagian tubuh bayi cantik itu.

__ADS_1


"Daddy, apa kata dokter?" tanya Affhan cemas.


"Masih gejala awal, belum fase kritis. Suhu tubuhnya masih tinggi," jawab Virgou mengusap air matanya.


Baru kali ini pria itu sedih bukan main. Ia tak mau putrinya kenapa-kenapa.


"Sayang, suruh Terra dan semua anak tinggal di tempat kita. Rumah itu kemarin baru perbaikan kemungkinan, sarang nyamuk baru terbongkar jadi membawa virus denge," pinta pria itu dengan suara tercekat.


Puspita mencium Della dengan penuh kasih sayang. Terra dan anak-anak akhirnya diungsikan ke mansion Bart.


Lokasi kediaman Bart jauh lebih dekat dengan sekolah anak-anak dibanding mansion Virgou ataupun Bram juga Herman.


"Daddy," Arimbi masuk ke ruangan itu.


"Mommy, Babies," sapanya lagi ketika melihat Puspita, Maisya dan Affhan.


"Hiks ... hiks ... Mamak ...!" Della mengigau.


Arimbi langsung memeriksa bayi itu. Mencegah agar tak ada pembuluh darah yang pecah. Menyuntikan obat ke kantung infus.


Tak lama, suhu tubuh Della menurun. Puspita dan dua anaknya diminta pulang. Pria dengan sejuta pesona itu terus berada di sisi putrinya dengan derai air mata.


"Baby ... jangan tinggalin Daddy," pintanya lirih.


Della dalam fase kritis. Arimbi dan beberapa perawat bolak-balik mengunjungi Della untuk memeriksa kondisinya.


"Daddy ... syatit," erang Della yang merasa nyeri di semua sendinya.


"Baby ... tahan ya sayang ... hiks," Virgou benar-benar harus menguatkan diri.


"Daddy istighfar," suruh Arimbi pada ayahnya itu.


Virgou menangis tersedu. Arimbi memeluknya, ia juga menangis.


Sedang di mansion Bart, semua orang tengah berdoa meminta kesembuhan untuk Della. Arfhan tampak duduk dengan tatapan kosong.


"Sayang, jangan seperti ini," pinta Puspita.


Kean dan Calvin menenangkan Firman dan Alia. Sedang remaja lain menenangkan bayi-bayi yang menanyakan Della.


"Ck ... lama sekali kabarnya!" decak Haidar kesal.


Pria itu hendak menyusul ke rumah sakit namun urung karena ponsel Puspita berdering. Arimbi meneleponnya.


"Assalamualaikum Baby ... bagaimana ...."


".........!"


"Alhamdulillah ya Allah!" pekik Puspita lalu menangis penuh kelegaan.


"Kak?" tanya Terra sangat penasaran.


"Baby sembuh sayang ... Baby melewati fase kritisnya, kini sedang fase penyembuhan!" jawab Puspita menenangkan semua orang.


Bersambung.


Ah ... Alhamdulillah.


Buat bunda-bunda ... jaga kebersihan rumah ya. Musim hujan telah datang. pastikan keluarga anda aman dari gigitan nyamuk Aedes aegypti.


ba bowu bunda 😍😍😍❤️❤️❤️😍😍❤️❤️

__ADS_1


Next!


__ADS_2