
Sepasang bayi kembar tertidur lelap dalam boks mereka. Najwa tertidur lelap setelah Lidya memberikan treatment penenang pada wanita itu. Setelah nyaris empat jam berjuang melahirkan, dibantu oleh Saf, Nai dan Arimbi. Akhirnya dua bayi keluar tanpa kendala dengan selisih waktu hanya tiga menit saja.
"Terima kasih sayang," ujar Leon pada Lidya.
"Sama-sama Daddy," sahut wanita itu.
Semua tamu telah pulang, acara telah selesai dua jam yang lalu. Para perusuh telah terlelap sebelum pesta berakhir.
"Kalian istirahat lah," ujar Leon pada David, Gabe dan Gisel.
"Mommy baik-baik saja," lanjutnya.
Akhirnya ketiga orang itu pun pergi ke kamar mereka. Di tempat lain, Kean, Satrio sudah bosan dengan mainan mereka.
"Eh ... apa Nini udah lahiran ya?" tanya Sean sambil menguap.
"Iya, tumben juga kita nggak dicariin," sahut Kean merasa aneh.
"Ah, ya sudah. Kita masuk yuk. Ngantuk nih!" ajak Al.
"Ini balon kita kasih para Babies pasti seneng," sahut Calvin.
Budiman dan Gomesh langsung panik. Mereka berdua memang tak segera menghentikan perbuatan tuan muda mereka. Keduanya hanya menunggu semua selesai bermain dengan benda pembungkus itu.
''Yang masih baru aja dikasihnya," sahut Sean.
"Yang baru bakalan susah niupnya mereka," sahut Al.
Daud diam saja, ia merasa ada yang salah dengan benda yang dipegang oleh saudaranya itu. Ia berusaha mengingat, tapi otaknya buntu seketika. Ia pun akhirnya membiarkan semua.
"Babies," panggil Gomesh.
"Pa!" sahut semuanya menoleh.
"Apa yang kalian bawa?" tanya pria itu sedikit gusar.
"Oh ... ini balon," jawab Sean santai.
Satrio yang menguap memeluk Budiman yang berdiri di sebelah Gomesh. Remaja itu mengantuk sekali.
"Biar Papa pegang ya," pinta Gomesh.
Sean memberikannya pada pria raksasa itu. Kotak alat pembungkus itu tinggal satu, Gomesh memasukkannya di dalam saku.
"Baba ... ngantuk," ujar Satrio mengeratkan pelukannya pada Budiman.
Kedua pria itu menggiring semua remaja laki-laki masuk ke kamar mereka. Setelah semua aman, Gomesh bernapas lega. Ia mengeluarkan kotak itu. Bart melihatnya.
"Astaga Gom. Untuk apa kau beli benda itu?" tanya pria itu gusar.
Bart mendekati, Gomesh menjelaskan peristiwa yang tadi mereka saksikan. Bart menganga tak percaya.
"Mereka benar-benar tidak tau benda apa ini?"
Baik Budiman dan Gomesh menggeleng. Bart menghela napas panjang. Ia membawa benda itu, Bram terbelalak dengan apa yang dipegang oleh pria tua yang ia panggil Daddy itu.
"Dad ... mau apa Daddy dengan benda itu?" tanya pria itu gusar setengah mati.
Kanya sudah terlelap, wanita itu kelelahan menunggu lahirnya dua bayi yang tiba-tiba keluar seperti ingin menikmati indahnya pantai.
__ADS_1
"Aku mau membuangnya!' jawab Bart kesal.
"Daddy beli terus mau dibuang?" Bart berdecak kesal.
Virgou keluar kamar karena mendengar keributan di luar kamarnya.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan wajah mengantuk.
"Lihat kakekmu membawa apa!" tunjuk Bram.
Virgou melihat benda itu di tangan sang kakek. Bart sangat kesal melihat seringai jahil pria sejuta pesona itu.
"Grandpa mau main dengan siapa?" bisik Virgou sambil menaik turunkan alisnya.
"Astagfirullah!" umpat Bart kesal.
"Kalian tau aku dapat ini dari mana?" tanyanya mulai kesal.
Baik Bram dan Virgou menggeleng. Herman keluar kamar dan mendapati tiga pria seperti berdebat, ia melihat benda yang ada di tangan Bart.
"Daddy?" pria itu menampakkan wajah bingung.
"Ini aku dapat dari anak-anak kalian!" ketus Bart kesal.
"Jangan bercanda Daddy, mereka mana tau itu apa?" ujar Virgou tak percaya.
Herman terdiam, ia seperti mengingat satu hal ketika melihat benda itu dan menyangkutkannya pada perkataan Bart.
'Apa kata Daddy tadi?" tanyanya memastikan. "Daddy dapat ini dari anak-anak?"
Bart mengangguk, ia pun menceritakan apa yang dilakukan oleh perusuh senior itu pada benda ini. Virgou, Bram dan Herman menganga tak percaya.
"Ya ... memang itu yang mereka lakukan," jawab Bart.
"Tapi Daud kan dokter. Masa dia nggak tau?!" sahut Virgou masih tak percaya.
"Kau lupa jika anakmu itu juga polos, mungkin dia lupa benda apa ini!" jawab Bart sambil menunjukkan kotak yang dipegangnya.
"Aku baru ingat, ini pasti kerjaannya Baby Trio," sahut Herman.
"Kenapa dengan baby raksasa itu?" tanya Bram yang gemas dengan tingkah para remaja.
"Baby Trio tanya apa ini yang rasa pisang, aku jawab alat pembungkus," jawab Herman.
"Pantas Baby penasaran," sahut Virgou mencibir.
"Dan Babies kita begitu polos hingga lupa bertanya pada google," lanjutnya sambil terkekeh.
Herman menghela napas lega. Kepolosan anak-anak sedikit membuatnya takut. Mereka sebentar lagi akan lepas dari pengawasan orang tua.
"Sepertinya kita harus segera mengajari mereka perihal dewasa," ujarnya.
"Aku takut jika nanti para pebisnis memanfaatkan kepolosan mereka," lanjutnya.
"Bagaimana caranya. Kau tau kata Haidar, Demian pernah menjelaskan tentang pacar pada tiga cucu laki-lakiku, mereka benar-benar tak bisa menjangkau itu," keluh Bram.
"Sudahlah, biarkan mereka seperti itu. Aku malah menyukainya, soal bisnis aku tak takut dengan pengetahuan mereka yang bahkan melebihi otakku," sahut Bart.
Pria itu keluar dan membakar kotak pembungkus alat vital manusia itu. Ia akan segera memberi ultimatum pada pemilik toko agar tak menjual alat-alat seperti itu. Ia akan memperketat cottage dan hanya menyewakan pada pasangan suami istri yang sah atau keluarga seperti mereka.
__ADS_1
Pagi menjelang, kamar Najwa penuh dengan manusia. Dua bayi dalam gendongan Khasya dan Kanya.
"Kalian cantik dan tampan, apa sudah diberi nama?" tanya Khasya.
"Aku belum siapin namanya," jawab Leon jujur.
Khasya memikirkan nama yang indah untuk keduanya.
"Baby Zachira Navya Dougher Young. Yang artinya wanita berpikiran baik , cerdas dan dihormati," ujarnya.
"Baby Chira!" panggil Najwa senang mendengar nama itu.
"Kalau yang cowo?" tanya Leon.
"Aarav Malik Dougher Young!" seru Rion tiba-tiba.
"Hai Baby Aarav!' panggil Najwa senang.
Akhirnya Baby Chira dan Baby Aarav dicatat namanya oleh Rion.
"Oke Ion sebut semua nih nama-nama perusuh!" kekehnya.
"Darren, Lidya, Rion, Nai, Sean, Al, Daud, Rasya,. Rasyid, Arion dan Arraya dari Papa Haidar dan Mama Terra!"
"Terus lanjut ke Kean, Calvin, Affhan, Maisya, Kaila dan Harun dari Daddy dan Mommy Puspita!" lanjutnya.
"Satrio, Arimbi, Dimas, Dewa dan Dewi dari Ayah dan Bunda Khasya!" Rion menghela napas sejenak.
"Lanjut ke Baba Pudi ... eh Baba Budi sama Bommy Gisel ada Samudera, Benua, Muhammad Sky dan Fathiyya ocean!" lanjutnya.
"Lanjut ke Papi David dan Mami Seruni, ada Azha dan Aliyah,"
"Hah!" Aliyah tampak senang akhirnya dia disebut juga.
Terra mencium bayi sepuluh bulan itu dengan gemas.
"Kita berlanjut ke Daddy Gabe dan Mommy Widya, ada Gabriella, Bastian, Billy, Martha dan Arshaka!"
"Hole!" seru Arsh bertepuk tangan.
"Lanjut ke Papa Gomesh, ada Domesh, Bomesh, Bariana lalu Fael dan Angel!"
"Eh ... cape ... sayang lanjutin!' pintanya pada sang istri.
"Ini lanjutnya ke Grandpa Leon dan Grandpa Frans?" Rion mengangguk.
"Grandpa Frans ada Daddy Gabe, Baby Zaa dan Baby Nisa, lalu Grandpa Leon ada Papi Dav, Bommy Gisel, Baby Chira dan Baby Aarav!"
"Lanjut ke Abah Darren dan Uma ada Maryam, Al Fatih, Aisya dan Izzat kemudian Mama Lidya dan Papa Demian ada El Bara dan Al Bara!"
"Lanjut ke Papa Dominic dan Bibu Dinar ada Papa Demian, Papa Jac Baby Sena, Baby Alvan dan Baby Aaric! Papa Jac dan Ibu Putri ada Baby Aaima dan Baby Zizam!"
Sepertinya nama-nama bayi terus diucapkan oleh Azizah begitu banyak.
Bersambung.
Nah ... masih kurang kah?
Next?
__ADS_1