
Sore beranjak, Satrio barus saja mengimami saudara-saudaranya shalat isya di mushala dekat kantin Sean. Remaja itu menuju panggung dan mengambil gitar. Kean, Arimbi, Rasya, Rasyid, Nai, Daud, Al, Ella, Dimas, Maisya, Dewa, Dewi, Affhan, Kaila, Bastian, Billy, Calvin dan Martha berada di depan panggung duduk menikmati persembahan saudaranya itu.
I give her all my love
That's all I do
And if you saw my love
You'd love her too
I love her
She gives me everything
And tenderly
The kiss my lover brings
She brings to me
And I love her
Lagu mengalun dengan indah dan merdu banyak pasangan kekasih yang tengah mengadakan kencan di sana larut dalam nyanyian Satrio. Ella dan lainnya mengikuti kakaknya bernyanyi. Nai menyiarkan acara di chat grup. Hal itu membuat semuanya heboh. Nai terus menyiarkan persembahan Satrio secara unplugged.
A love like ours
Could never die
As long as I
Have you near me
Bright are the stars that shine
Dark is the sky
I know this love of mine
Will never die
And I love her
Bright are the stars that shine
Dark is the sky
I know this love of mine
Will never die
And I love her
Lagu berakhir, semua bertepuk tangan. Hanya dalam hitungan menit. Virgou, Haidar, Herman, Gabe dan David ada di sana. David sebenarnya dilarang oleh Seruni, tetapi pria itu membawa sang istri ke rumah kakak sepupunya dan ikut para pria posesif.
“Papa ke sini?” desis Nai tak percaya.
__ADS_1
“Iya lah, Papa dan lainnya akan menjaga kalian sampai tutup kafe!” tekan Haidar.
“Kemana Baba dan Papa Gom? Nggak sekalian diajak?” tanya Al menyindir.
“Jangan khawatir Tuan Muda. Kami di sini!” sahut keduanya baru datang dengan wajah kesal.
“Lagi dong Mas!” pekik salah satu pengunjung kafe.
“Kita lagi melow nih,” lanjutnya sendu.
Semua menoleh pada salah satu makhluk antik yang biasa disebut pria tulang lunak. Satrio menelan saliva kasar, namun melihat banyak ayahnya ada di sana, ia merasa lega dan aman. Satrio meminta Daud dan Al menemaninya bermain. Al memegang bass sedang Daud memegang gitar listrik, Satrio sendiri memegang gitar akustik.
Malam belum bergulir, para pengunjung mulai berdatangan, terlebih ada live musik yang dimainkan oleh tiga remaja tampan. Kean maju memainkan alat tabuh yang diduduki, sedang Calvin memilih jadi backing vokal.
"Lagu Hotel California, untuk anda semuanya,” sahut Satrio di depan mik.
Semua penonton bertepuk tangan. Kursi-kursi makin penuh dan banyak yang tak kebagian. Beberapa orang memilih duduk di bar, walau tak terlihat pemain di panggung. Mereka menikmati suara indah milik Satrio.
On a dark desert highway
Cool wind in my hair
Warm smell of colitas
Rising up through the air
Up ahead in the distance
I saw a shimmering light
I had to stop for the night
Semua ikut bernyanyi banyak pengawal mencegah beberapa orang hendak merangsek ke bagian keluarga Dougher Young dan Triatmodjo berada. Budiman sedikit kasar karena banyak pria tulang lunak berusaha masuk dan ingin duduk di sana.
“Ih ... kita mau duduk Om ... itu ada banyak bangku kosong!” rajuk pemuda itu kesal.
Gomesh menarik kursi-kursi kosong itu dan meletakkannya jauh dari area keluarga yang duduk. Pemuda itu menghentakkan kaki kesal, lalu duduk di sana dan ada beberapa gadis ikut duduk di situ.
Welcome to the Hotel California
Such a lovely place (such a lovely place)
Such a lovely face
Plenty of room at the Hotel California
Any time of year (any time of year)
You can find it here.
“Huuuu!!” penonton bersorak histeris. “I love you Siblings Brothers!”
Mereka pun bernyanyi bersama ketika reffrain lagu. Nyanyian selesai, semua bersorak histeris dan bertepuk tangan. Kafe sean akhirnya tutup. Semua makanan dan minuman habis.
“Wah untung banyak nih!” sahut Sean gembira ketika melihat pemasukan hari ini.
__ADS_1
“Iya Boss, semua bahan habis tanpa sisa. Kita harus buka baru yang ada di gudang,” sahut Lorry manager kafe milik Sean.
Lampu-lampu dimatikan. Satrio diberi buket bunga dan pelakunya adalah seorang pria. Nyaris saja Satrio meninju pria itu jika saja Gomesh tidak mengangkut remaja bertubuh besar itu masuk ke dalam mobil.
“Mba atau Mas ya, saya panggilnya,” sahut Haidar menahan geram pada pria yang memberi buket bunga pada salah satu putranya itu.
“Saya pria,” jawab pria itu.
“Buketnya mendingan kasih ke pacar anda saja. Jangan putra saya!’ tekan Haidar lagi.
“Tapi sebagai penggemar, boleh dong saya beri bunga pada idola saya,” sahut pemuda itu penuh percaya diri.
“Untuk artis lain iya. Tapi tidak untuk putra saya!’ tekan Haidar lagi sambil menatap tajam pemuda itu.
“Juan!” panggilnya kemudian pada salah satu pengawal.
“Mas, bawa lagi bunganya kasih wanita lain!” titah Juan maju dan menggeret lengan pemuda itu untuk menjauh dari keluarga atasannya.
Juan menikah dengan salah satu putri angkat Herman, istrinya kini tengah mengandung tiga bulan. Pria berusia sama dengan Gomesh itu memang baru saja menemukan tambatan hatinya.
Semua akhirnya pulang ke rumah Terra. Semua anak tidur di sana tanpa kecuali. Rion terlalu lelah karena baru saja tiba dari luar kota. Pemuda itu juga mempersiapkan pernikahan ulangnya dengan Azizah.
Pagi menjelang, Sean masih terlalu ngantuk untuk mengantar semua adiknya sekolah. Al yang melakukannya. Remaja itu membawa Samudera, Benua, Domesh, Bomesh dan Sky. Sedang Affhan, Dimas dan Maisya diantar oleh pengawal mereka. Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila juga diantar oleh pengawal mereka.
“Sarapan dulu sayang,” ujar Terra pada Satrio yang turun menggendong Arion dan Arraya.
Dua batita itu turun dari gendongan dan duduk di kursi khusus, lalu semua bayi datang dan membuat rumah Terra penuh dan riuh dengan suara anak-anak. Yang ke kantor dan yang sekolah sudah pergi. Sean selesai makan menjemput adik-adiknya sekolah, karena Al sudah berangkat ke kantor.
“Eh ... deunel-deunel. Padhi balam Ata’ Pastlio banyi ladhu pate dital.” ujar Harun memulai pembicaraan.
“Tata spasa?” tanya Azha sambil menguap.
“Atuh deunal Mommy yan pilan talo suala Ata’ Pastlio badhus,” jawab Harun.
“Bemana ladhu pa’a?” tanya Fathiyya menyela pembicaraan.
“Tatana syih ladhu pahasa bindlis,” jawab Harun.
“Pahasa plindis tayat dimana Ata’?” tanya Fatih sampai miring kepalanya.
“Oh yan tayat ladhu pepi besdey?” sahut Bariana menimpali.
“Oh yan tayat dithu!” sahut Fatih dan Aisya bersamaan.
“Pemana padhi balam spasa yan pulan pahun?” tanya El Bara bingung.
“Ladhu pahasa lindis ipu butan pepi pesday Baby,” jawab Harun.
“Tlus yan tayat badhaipana?” tanya Al Bara kini.
“Ah buntin tayat dhini, yes ... no ... yes .. nooo ... ai pol yu lolevel, eplibadi ... noo ... yes!” sahut Bariana menadakan lagu bahasa Inggris versi dia.
Bersambung ....
Atur aja Baby ...😅🤭
__ADS_1
Next?