
Dewi memang belum boleh bertemu dengan keluarga. Gadis itu masih bersama Tiana, pengawalnya.
"Nona Baby," panggil Tiana.
"Kita harus gladik resik untuk penobatan gelar master anda," lanjutnya memberitahu.
Dewi sedikit merengek, gadis itu merindukan seluruh keluarga terlebih ayahnya.
"Ayo Nona ... waktu terus berjalan. Anda tidak mau kan jadi pemenang tapi tak menunjukkan kedisplinan!'
Tiana harus mengangkat tubuh Dewi. Gadis itu benar-benar manja, ia dimandikan oleh Tiana.
"Baby,"
Dengan sayang Tiana mengurusi nona mudanya. Ia seperti mengurusi tiga adiknya yang masih balita.
"Kok jagoan manja?" ledeknya.
"Aaaahhh!" rengek Dewi.
"Ayo ... ayo ... bergerak!" perintah Tiana.
Dewi memakai baju yang telah disiapkan dan sesuai dengan seragam yang diinginkan panitia. Baju tongsam warna hitam. Tiana menggelung rambut nona mudanya.
Dewi sangat cantik, di depan dada sebelah kanan ada bendera negaranya. Sedang belakang punggung gadis itu tersemat nama "Athena".
"Anda jadi gadis yang gagah Nona!" puji Tiana.
Dewi cemberut, gadis itu keluar bersama sang pengawal lalu peserta lainnya. Nguan, Chilia, Clark, Pooja, Denis, Rahmed, Yusoof dan lainnya. Mereka memakai baju yang sama.
Semua keluar dari bangunan bertingkat itu. Mereka pergi ke stadion di mana kemarin mereka bertanding. Lima belas atlit yang tak dijagokan menjadi viral karena memenangkan pertandingan.
Baik pertandingan, seni, bela diri dan tarung. Banyak wartawan memburu mereka. Rahmed dan Dewi jadi incaran karena mereka mengalahkan tuan rumah dengan kemenangan mutlak.
"Athena, Rahmed!" pekik para pemburu berita.
Para penjaga dari pihak penyelenggara sedikit kualahan. Mereka menahan laju para wartawan untuk mendekat.
"Athena ... kau tau jika sistem dicurangi dari awal. Kenapa kau tidak melapor? Kenapa kau malah menyuruh ayahmu yang membongkar semua kecurangan!' wartawan memberondong pertanyaan.
'Saya tidak tau jika ada kecurangan. Tetapi ayah saya adalah orang yang pintar, pasti dia tau ada kecurangan terselubung di sini!" jawab Dewi tenang.
"Kenapa tidak melapor?!"
"Kalau melapor ... apakah langsung ditanggapi. Mereka tentu mencari bukti dulu. Ya dengan satu cara menjadikan kami korban?" tanya Dewi.
"Ayahku bertindak cepat karena mau semua berawal dari kejujuran. Bukankah itu semboyan beladiri. Mengangkat kejujuran?" lanjutnya.
"Anda menang mudah karena banyak lawan cidera. Apa anda tidak merasa bersalah atau memanfaatkan keadaan?" tanya wartawan lagi.
"Memanfaatkan bagaimana, mereka melawan teman-temanku sebelumnya. Teman-temanku tak mau mengalah, jadi bukan salahku juga jika lawan cedera sebelum melawanku?!" tandas Dewi.
Wartawan bungkam, akhirnya semua masuk. Acara dilanjutkan untuk memberi gelar master pada Dewi.
Gadis itu harus melakukan sebuah gerak seni beladiri. Dewi telah belajar dan memakai jurusnya yang ia ciptakan sendiri.
"Gerakannya indah sekali!' puji Ernest.
__ADS_1
Virgou tersenyum, ia datang sebagai tamu kehormatan karena berasal dari ketua komite beladiri internasional.
"Hadirin sekalian, setelah menyaksikan kehebatan dari Nona Triatmodjo Athena, maka kami mendeklarasikan gelar master beladiri termuda yang pernah ada!" seru Ernest.
"Athena Dewi Triatmodjo!"
Dewi naik ke atas mimbar, ia melakukan gerakan beladiri yang sangat cantik tetapi mematikan. Semua bergidik ngeri melihat jurus yang diperlihatkan Dewi.
Sabuk hitam yang dikenakan Dewi dilepas. Virgou diberi kehormatan untuk mengikatkan sabuk hitam dengan balok 4 dan satu emas di ujung sabuk.
Dewi menahan airmatanya, begitu juga Virgou. Pria itu menahan untuk tidak memeluk dan mengangkat tinggi-tinggi anak perempuan yang ia asuh dengan tangannya sendiri.
Berbeda dengan Maisya dan Kaila, atau Arimbi juga Nai. Dewi menjadi perhatian Virgou karena bakat yang ada di gadis itu.
'Congratulation baby," bisiknya lirih.
Hanya embusan napas besar Dewi yang terdengar. Gadis itu benar-benar menahan seluruh emosinya.
Ernest menatap gadis yang hanya setinggi dadanya. Dewi begitu tenang menghadapi pria beriris abu-abu itu.
Sebuah tradisi master harus melawan master. Keduanya memasang kuda-kuda. Dewi memilih kuda-kuda bawah. Tentu saja itu menyulitkan Ernest.
"Dia sudah menang!" ujarnya kalah.
Tentu saja, pria seusia Bram itu tak akan mampu mengimbangi kecepatan Dewi yang masih muda, walau ia banyak makan asam garam pertandingan.
"Kau harus melawannya Mr president!" sahut Virgou.
Ernest bergerak, pria itu menyerang ringan arah Dewi. Dengan cepat, gadis itu memberi gerakan pendek dan memukul dada, perut dan juga pinggang pria itu dengan gerakan cepat.
"Hea!"
"Putrimu luar biasa Ketua!" ujarnya memuji.
Virgou hanya tersenyum, ia memang sangat bangga hasil didikannya sangat berhasil.
Sementara di tempat lain. Sosok pria tua mendekorasi cepat sebuah ruangan. Ia menatap ruangan besar itu dengan warna kesukaan putrinya itu.
"Makanan sudah disiapkan Yah!" ujar Reno.
Herman mengangguk, pria itu sangat merindukan putrinya. Arimbi, Nai, Maisya dan Kaila sampai iri dengan apa yang dipersiapkan Herman untuk Dewi.
"Ayah!" rengek Nai cemberut.
"Hais ... kalian ini!" ketus Zhein.
Pria itu menangkan semua anak perempuan. Walau akhirnya mereka mengerti jika Dewi pantas mendapatkan semua ini.
"Kalian sudah dibelikan baju cantik dan tampan. Ayo bersiap!' Karina mengomando.
Semua anak menurut, para bayi dan balita ditangani ibu-ibu mereka.
Semua bersiap menyambut pemenang. Kembali ke stadion. Dewi masih harus melakukan beberapa acara lainnya.
Hari beranjak sore, semua sudah selesai. Dewi dan semua atlit akhirnya selesai mengikuti keseluruhan acara hingga penutupan.
Tak ada lagi diskriminasi, bahkan banyak atlit yang kemarin digadang-gadang menang kini duduk bersama para atlit yang mengalahkan mereka.
__ADS_1
"Pooja!' seorang atlit bermata sipit mendekati.
Clark langsung menghalangi pemuda itu. Terjadi adu tatap. Pooja hanya bengong karena diperebutkan dua pria tampan sekaligus.
"Athena!" gadis itu menoleh.
Rahmed memberinya bunga dan menyelipikannya di telinga gadis itu. Virgou ingin membuang Rahmed hingga planet Jupiter.
"Baby!" panggilnya.
Rahmed tersenyum kikuk. Pria itu tentu takut setengah mati berhadapan dengan pria sejuta pesona itu.
"Pergi!" usirnya.
Rahmed mengangguk, Dewi merengek manja pada pria kesayangannya itu.
Gadis itu minta gendong. Virgou menurunkan bahunya, Dewi naik ke atas bahu kekar pria itu.
"Daddy!" pekik Dewi girang.
Semua menatapnya. Virgou melenggang dengan Dewi yang ada dipundaknya. Gadis itu memegang arat dagu salah satu ayahnya itu. Sesekali ia mengecup pucuk kepala Virgou.
"Rambut Daddy wangi!" pujinya.
Virgou hanya tersenyum, Dahlan mendatangi semua atlit dan mengajaknya ikut serta. Semua pun ikut termasuk atlit tuan rumah.
Hingga di sebuah hotel megah. Dewi diturunkan Virgou, Gomesh membantunya. Dewi memeluk pria raksasa itu.
"Papa kangen!" isaknya.
Budiman juga jadi incaran pelukan gadis itu, begitu juga Dahlan dan Gio. Pria-pria yang ikut andil membentuk Dewi.
"Baba ... baba ... Dewi menang Baba!"
Budiman tak dapat berkata apa-apa. Pria itu sibuk menahan tangis haru dan bangga. Ketika pintu besar dibuka.
"Barakallah fii umrik Baby!" teriak semua keluarga.
Dewi terperanjat, gadis itu menutup mulutnya. Satrio datang dan memeluk adiknya, disusul Arimbi dan Dimas juga Dewa.
"Selamat sayang!' ujar Satrio mengecup pucuk kepala Dewi dengan sayang.
Arimbi mengecup pipi adiknya begitu juga Dimas. Dewa memeluknya erat, ia adalah kakak kembar Dewi yang juga sangat merindukannya.
"Baby?!" sebuah suara yang sangat dirindukan Dewi.
"Ayah ... ayah datang?" Dewi berkaca-kaca.
'Iya sayang ... ayah datang. Barakallah fii umrik anak gadis ayah!"
Dewi langsung berlari dan memeluk ayahnya. Ia menangis dan langsung mengadu jika seluruh tubuhnya sakit.
"Ayah ... huuu ... ayah ...!" Khasya memeluk putrinya yang paling berani itu.
'Selamat ulang tahun baby ... kami mencintaimu!'
Bersambung.
__ADS_1
Barakallah fii umrik Dewi!
Next?