
Esok hari, semua telah bersiap. Mereka telah dijadwalkan akan terbang sore hari. Tak ada transit karena memang yang mereka gunakan adalah pesawat terbang milik pribadi.
Semua koper dan oleh-oleh sudah ada dalam bagasi mobil. Gabe dan Widya sedih hunian mereka kembali sepi. Sedang Najwa dan Lastri juga sedih karena ditinggal oleh perusuh.
"Nini eundat pulan syama pita?" tanya Bariana tak percaya.
"Tidak baby, nini Najwa dan Nini Lastri akan tinggal di sini dengan grandad Leon dan grandad Frans," jawab Maria.
"Tenapa bedhitu?" tanya Harun ingin tahu.
"Karena Nini Lastri adalah istri dari Grandpa Frans dan Nini Najwa istri dari Grandpa Leon, jadi mereka harus ikut suami mereka," jawab Maria lagi.
"Nini bait-bait ya bi syimi," ujar bayi cantik itu dengan mata berkaca-kaca.
Najwa dan Lastri sedih dan mencium para perusuh. Gisel memeluk dua ibunya itu begitu juga Dav.
"Mom," ujar keduanya.
"Sayang, jaga kesehatan ya," ujar Najwa.
Mereka melepaskan keluarga mereka kembali pulang. Dari suasana riuh mendadak sepi. Ella, Bastian, Billy dan Martha menangis ketika ditinggal saudara mereka.
"Mommy kita pindah yuk ke Indonesia!" rengek Ella.
"Andai daddy bisa sayang," ujar pria itu.
Perusahaan besar milik Bart sangat luas, bahkan Gabe kini merambah pada perusahaan kapal pesiar. Pria itu baru saja memenangkan lelang sebuah perusahaan kapal pesiar yang mengalami pailit akibat management yang buruk.
"Huueek!" tiba-tiba Widya mual.
"Sayang, apa kau sakit?" tanya Gabe panik.
Empat anaknya ikut panik, begitu juga Leon, Frans dan istri mereka. Semua masuk ke dalam kastil dan Lastri meminta maid menyediakan air hangat.
"Kau kemarin berenang terlalu lama sayang," keluh Gabe sendu.
"Apa perlu ke dokter?" tanya Leon khawatir.
"Tidak perlu dad. Mungkin aku butuh istirahat," ujar wanita itu.
"Baiklah, kau istirahat saja," ujar Najwa lalu membimbing menantunya ke kamar.
Satu jam kemudian, rombongan empat keluarga turun. Dominic juga ikut ke negara menantunya.
"Daddy ikut?" tanya Demian heran.
"Ya, kenapa?" tanya pria itu.
"Perusahaan bagaimana dad?" tanya Demian lagi.
__ADS_1
"Sudah aku urus," sahut pria itu santai.
Demian akhirnya membiarkan ayahnya. Mereka sudah mendata diri sebelumnya begitu juga Dominic. Bart sudah mendaftarkan pria itu.
Semua masuk ke pesawat dan duduk di kursinya masing-masing. Lagi-lagi pramugari mengatraksikan bagaimana cara memakai segala macam benda jika dalam keadaan darurat. Setelah berdoa, tak lama pesawat mulai lepas landas.
Selama perjalanan terbang. Mereka menyamankan diri. Terutama para anak-anak dan ibu hamil. Saf memeriksa semua ibu hamil termasuk dirinya sendiri.
"Mommy Mar, percaya nggak kalo nanti babynya dua?" ujar Saf.
"Jangan bercanda nona," kilah Maria tak percaya.
"Benar, mau bertaruh?" tantang Safitri.
"Kalau Saf benar, mommy harus belikan Maryam dan Aisyah dress cantik dan sepatu boot untuk Fatih!"
"Saf!" tegur Herman.
Safitri cemberut. Maria terkekeh mendengar permintaan dari menantu atasan suaminya itu.
"Mommy akan belikan benar atau tidak ramalanmu sayang," ujar wanita itu.
"Makasih mommy!" seru Saf lalu mencium pipi wanita itu.
Maria terharu. Ia begitu hangat dengan keluarga dari atasan Gomesh, suaminya.
Sedang di tempat lain. Pelaksanaan pernikahan Felix dan Sari sudah mencapai 80%. Tenda sudah dibangun. Undangan telah disebar. Pelaminan sudah terpasang. Tinggal dekorasi saja yang belum. Sari menginginkan bunga hidup sebagai dekorasinya. Gadis cantik itu juga telah menyewa satu wedding organizer untuk kelancaran hari pernikahannya.
Felix juga bersiap diri. Ani, Gina dan Deno menenangkan pria itu. Ani bersedih ia ingat kakak sepupunya yang begitu menyayangi semua pengawal termasuk Felix.
"Mba ... Mas Felix akhirnya menikah dengan Mba Sari. Mba ingatkan?" ujarnya kala mengusap foto Romlah.
Felix yang tengah berpatroli di rumah Terra mendengar perkataan wanita itu. Pria itu tentu ingat siapa Romlah.
"Bi, pasti kau sudah bahagia di sana. Semoga semuanya lancar ya bi," gumamnya dengan tatapan menerawang.
Pria itu kembali ke paviliun untuk mengecek semua kamera. Pria itu kembali mengingat suatu kejadian ketika Romlah masih hidup.
Felix pernah kena demam tinggi. Wanita baik itu datang dan merawatnya penuh kasih sayang. Sebuah perlakuan yang tak pernah didapat oleh pria itu dari keluarga yang mestinya menyayanginya.
"Bi Romlah," panggilnya lalu air mata menetes begitu saja.
"Besok aku akan ke makamnya!"
Dengan cepat Felix menghapus air matanya. Sedang di tempat lain Sari memandang kosong depan jendela kamarnya.
Ia telah mengajukan cuti pada rumah sakit. Gadis itu begitu berdebar hatinya, hari pernikahan tinggal menghitung hari.
Di tangan gadis itu terdapat secarik kertas yang sudah sangat lusuh. Sebuah surat yang diletakkan oleh orang yang meninggalkannya di malam buta yang dingin.
__ADS_1
"Tolong rawat dan beri nama Sari!"
Begitu tulisan itu. Entah itu tulisan ibu atau tulisan ayahnya.
"Apakah aku jadi beban mereka, makanya aku dibuang?" tanyanya lirih pada angin yang menyapu wajahnya.
Tetesan demi tetesan air mata jatuh membasahi pipinya yang halus. Khasya yang menemukannya di antara gerobak dekat pinggir jalan dekat panti. Ibu asuhnya itu juga telah melaporkan penemuan dirinya. Gadis itu tau, karena Khasya yang menceritakan kejadiannya. Bukan hanya pada dirinya tapi pada dua puluh sembilan anak yang lain termasuk almarhumah Anwiyah.
"Yang paling bagus nasibnya di sini hanya Lana, Leno dan Lino," ujarnya tersenyum.
"Mba Sar!" gadis itu menoleh.
"Dinda," sahutnya.
Dinda adalah salah satu anak asuh Herman yang juga menjadi anak angkatnya. Dinda memiliki dua rumah makan besar di tengah kota. Gadis itu berusia hanya beda dua tahun dari Sari.
"Mba kok nangis?" tanyanya ikutan sedih.
"Mestinya jangan sedih. Sebentar lagi mba menikah, mba harus bahagia," ujarnya dengan nada bergetar.
Sari memeluknya. Dinda melihat surat di tangan gadis itu.
"Mba masih beruntung ada surat yang menyatakan jika ada orang tua mba. Aku?"
Sari memeluk. Tidak ada yang ia tidak tau, semua kisah pilu adik-adik satu panti, ia ketahui semua.
"Sudah, jangan ingat lagi. Semua pasti ada hikmah dari setiap kejadian, Allah itu adil sayang," ujarnya.
"Mba nggak akan lupa dengan kita-kita kan?" tanya Dinda khawatir.
"Tidak akan sayang, mba tak akan meninggalkan kalian," ujar Sari menenangkan.
"Eh ... tapi nggak apa lupa, Mbadhe Dinar kan bentar lagi pulang!" sahut Dinda.
"Eh ... jadi nggak apa nih?" gerutu Sari kesal.
"Eh ... jangan dong ... hehehehe ...," kekeh Dinda.
"Mba Dinar datang tepat di hari Mba Sari menikah. Mbadhe kaget loh denger mba akan nikah?!" ujar Dinda.
"Katanya beliau minta uang pelangkah karena mendahului menikah," kekehnya lagi.
Sari tersenyum mendengarnya. Ia akan meminta ijin pada sang suami nanti untuk tidur bersama Mbadhe nya itu.
"Mbadhe masih gemoy nggak ya?" tanya Dinda penasaran dengan Dinar.
bersambung.
next?
__ADS_1