SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH KISAH


__ADS_3

Reno dan Langit sudah menempati rumah mereka. Nai dan Arimbi sangat menyukai hunian baru mereka.


"Nai ngebayangin anak-anak pada lari-lari di halaman, terus ngerusak rumput sintetis buat garis gobak sodor!" kekeh Nai melihat halaman rumah yang luas.


Langit memeluk istrinya mesra. Ia juga sudah membayangkan betapa ramainya nanti.


"Sayang, kita harus nikah ulang kan?" ujar Langit mengingatkan.


"Iya sayang, Daddy udah urus semuanya," jawab Nai.


"Mama sama papa datang kan?" tanya Nai menatap sang suami.


Langit menggeleng sambil mengangkat bahu tanda tak tau.


"Kok, kesannya kita kawin lari ya?" ujar Nai kecewa.


"Nggak kita nggak lari sayang, cape kalo lari terus," guyon Langit.


"Kak," rengek Nai cemberut.


Langit tertawa lirih. Tapi ia sangat mengenal kedua orang tuanya. Pria itu mengecup bibir sang istri dan memagutnya perlahan.


"Kak," Nai menahan tangan sang suami yang hendak menjamah ke area paling sensitif.


"Sayang," rengek Langit sudah terbakar gairah.


"Ke kamar yuk," ajak Nai.


"Ayo!" Langit langsung menggendong istrinya dan membawa ke peraduan hangat mereka.


Sementara di tempat lain. Anggono mengerutkan kening. Istrinya menolak pergi ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan ulang putranya.


"Kenapa sih kamu nurutin putra kamu itu!" sungut Luisa kesal.


"Dia jadi besar kepala! Lihat kemarin, dia berani melawanku!" lanjutnya berang.


"Kau terlalu memaksanya Sayang," sahut Anggono masih sabar.


"Memaksa bagaimana! Dia putraku, aku ibunya pasti lebih tau apa yang terbaik untuk putraku!" teriak wanita itu.


"Aku sudah banyak mengalah untuk dia. Istri, dia cari sendiri, oke ... aku tak masalah. Nikah secara agama ... aku juga oke!" lanjutnya berapi-api.


"Kau hanya minta dia membuat pesta pernikahan di sini! Hanya itu!" Luisa sampai terengah mengatakan hal tersebut.


"Yakin hanya pesta saja?" tanya Anggono.


"Dia adalah putra kita satu-satunya! Masa kita biarkan dia bekerja hanya sebagai bodyguard!" sahut wanita itu kesal.


"Gajinya sama dengan gaji CEO sayang," ujar Anggono memberitahu.


"Walau gaji besar, tapi jika hanya seorang pengawal, apa bagusnya!" sinis Luisa menghina.


"Jangan menghina pekerjaan seseorang Luisa!" peringat Anggono mulai terpancing emosi.


"Kau tau, aku saja tak sanggup membayar seorang pengawal dari perusahaan SavedLived!" lanjutnya kesal.

__ADS_1


"Aku hanya sanggup mengambil pengawal kelas dua," cicitnya lirih.


Luisa menghentakkan kakinya kesal. Ia selalu kalah jika berdebat dengan suaminya. Ia berpikir jika Nai adalah seorang putri dari kalangan elit yang mampu menaikkan derajatnya di kalangan sosialita.


"Kau sangat bodoh Langit tak memanfaatkan istrimu," dumalnya entah pada siapa.


"Kau bisa memenangkan tender manapun hanya dengan menggandeng Naisya Putri Hovert Pratama. Jangan lupa ada Dougher Young sebagai ibu mertuamu!"


Wanita itu menatap cermin, ada sedikit kerutan di sekita matanya. Rambutnya sudah ia warnai kecoklatan.


"Aku dan Terra hanya beda beberapa tahun. Tapi kenapa wajah Terra mulus tanpa kerutan ya?" tanyanya sambil meraba kulit pipinya.


"Pasti perawatannya mahal!" terkanya sinis.


Luisa mengambil beberapa mini dress yang berbahan sutra nomor satu. Wanita itu mengenakan perhiasan yang sangat cantik dan sesuai dengan apa yang ia kenakan.


"Hmmm ...," Luisa mengangguk puas.


Hanya menyemprotkan minyak wangi mahal ke tubuhnya. Wanita itu sudah bersiap untuk pergi ke sebuah pertemuan sosialita di mana ia menjadi wakil perkumpulan itu.


"Mau kemana kau?" tanya Anggono gusar.


"Kau tau ini tanggal berapa?" sahut Luisa sinis. "Aku harus melaporkan semua keuangan dan kegiatan, kami akan mengadakan tour amal ke beberapa kota di Eropa."


"Tour amal apa? Kalian hanya jalan-jalan!" sinis Anggono sampai berdecih.


Luisa tak peduli, wanita itu melangkah begitu anggun. Supir sudah siap mengantarkannya ke sebuah restoran ternama. Anggono ingin sekali membekukan kartu kredit istrinya. Tetapi hal itu malah akan membuatnya malu.


"Ya ... Tuhan ... beri dia pelajaran!" umpat pria itu mendoakan keburukan untuk istrinya.


"Astagfirullah!" ia beristighfar setelah tersadar.


"Oke Mom, aku pergi sendiri untuk menghadiri pesta pernikahan putraku!" tekadnya kesal.


Pria itu meminta para maid menyusun semua pakaiannya. Namun, bayangan istrinya yang menangis karena ditinggal olehnya, membuat ia memaki dirinya sendiri.


"Sialan ... kenapa aku cinta banget sama istriku!"


Sementara di Indonesia, Reno juga telah menyusun semua perabotan rumah yang diinginkan istrinya.


"Kau suka sayang?" tanya pria itu dengan pandangan penuh cinta.


Arimbi mengangguk antusias. Mereka akan mengadakan pengajian untuk selamatan rumah barunya.


"Setelah selamatan rumah, kita adakan pernikahan ulang sayang," ujar wanita itu.


Arimbi duduk dipangkuan suaminya. Tak ada orang, tukang-tukang sudah pergi. Mereka berciuman mesra di sofa empuk.


"Apa boleh?" pinta pria itu dengan pandangan bergairah.


Arimbi mengangguk. Dengan sigap Reno menggendong istrinya dan memadu kasih di peraduan hangatnya.


Sementara di rumah Terra. Wanita itu menatap kamar putrinya yang sepi, ia masuk dan membuka lemari, ia tersenyum namun air matanya mengalir pelan.


"Putriku sudah ada yang memiliki," ujarnya lirih.

__ADS_1


Haidar kecarian istrinya. Pria itu pun mencari Terra dan mendapatkan sang istri berada di kamar putrinya.


"Sayang," panggilnya.


Pria itu masuk dan memeluk Terra. Wanita itu menangis di dada suaminya.


"Sayang, putri kita sudah ada yang memiliki," ujarnya lirih.


"Sayang, masih ada Arraya," ujar Haidar.


"Sayang!" rengek Terra kesal.


Haidar terkekeh, namun sejurus kemudian ia juga sedih. Nai sudah ada yang memiliki dan bertanggung jawab, pria itu sudah tak memiliki hak lagi pada Nai.


"Putri kita ada di tangan yang tepat sayang," ujar Haidar menenangkan istrinya.


"Baru kemarin ia memakai baju ini," ujar Terra memperlihatkan baju kodok warna pink.


"Baby Aya nggak pernah mau pakai baju kodok," kekeh Haidar.


Terra terkekeh, Haidar membawa sang istri keluar kamar. Pria itu menutup pintunya.


"Dia bisa ke sini kapan saja, kamar ini tetap kamarnya," ujar pria itu.


"Mama ... Papa!" pekik Arsh.


"Ayo turun, boss kita memanggil," gemas Haidar.


Terra tersenyum lebar, wanita itu sangat antusias jika mengerjai bayi galak itu.


"Baby ... kenapa teriak manggil Mama!" peringat Widya.


Gabe tinggal di rumah Bart yang lama, pria itu belum memiliki rumah. Sedang Bart sendiri sudah membeli mansion berukuran besar, ia hidup bersama lima puluh anak angkatnya.


Sore menjelang, rumah Terra sudah penuh manusia. Semua wanita sibuk menyusun kudapan. Sedang di halaman belakang perusuh paling junior sedang bermain kejar jongkok.


"Banunin Ata' Penua, Papan Fafan!" pekik Maryam kesal.


Arfan menyentuh tangan Benua agar bangkit dari jongkok. Tim jaga yang terdiri dari Sky, Samudera, Azlan dan Setya tampak terengah-engah.


"Itu Bomesh tangkap!" teriak Setya.


Sky yang memang menjadi rival Bomesh mengejar saudaranya itu. Gelak tawa terdengar. Tim Sky akhirnya menang setelah berhasil menangkap Bomesh.


"Atuh ain sudha!" pekik Arsh tak mau diam saja.


"Bensuwjjwjmsnbakwjshsbnwhwhsbsnjw!" ocehnya.


"Baby ... eundat poleh nomon dithu ... panti tamuh talah nayis!" ledek Bariana.


"Tuh ndat ais!" elak bayi tampan itu sangat yakin.


Sejurus kemudian, Arsh kalah suit oleh Arsyad. Bayi itu pun menangis tak terima.


"Addy ... Ata' Syad sulan ... huuuwwaaaa!"

__ADS_1


bersambung.


Duh ... Arsh! 🤦🤭


__ADS_2