SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH PERISTIWA


__ADS_3

Affhan, Dimas dan Maisya sudah bekerja di PT Tridhoyo SaveAcounting. Dimas sebagai CEO dari perusahaan tersebut. Remaja berusia mau enam belas tahun itu begitu teliti melihat beberapa berkas.


"Tuan, ada utusan dari PT GunaSuna!" lapor Rando, asisten pribadi remaja itu


"Oke Om, ayo!" ajaknya.


Maisya yang menggantikan posisi Terra management pengelolaan dan program, sedang Affhan menggantikan posisi Puspita, ibunya yakni sebagai pengendali dan perancang data. Maisya tengah bersama tim dalam pembenaran neraca di ruangan kedap suara. Tak ada yang akan mendengar percakapan mereka. Karena memang layanannya adalah top secret.


Dua jam mereka berkutat membenahi error akunting, akhirnya sudah selesai setelah pemeriksaan selama sepuluh hari.


"Puji Tuhan! Akhirnya selesai juga!" pekik lega salah satu management.


Mereka keluar dengan wajah penuh kelegaan. Akhirnya masalah data telah selesai, perusahaan tak jadi diaudit bank. Perusahaan dinyatakan aman dan bisa membayar hutang mereka ke bank.


"Terima kasih Nona Black Dougher Young, kinerja anda dan tim begitu teliti!" ujarnya menjulurkan tangan pada gadis cantik itu.


"Sama-sama Tuan Anggara, memang sudah tugas kami!" sahut Maisya menyambut uluran tangan pria tampan itu.


Johanes Anggara, dua puluh lima tahun menatap remaja cantik belia yang begitu genius. Maisya nyaris tak menyentuh kalkulator untuk menghitung semua angka penjumlahan di work sheet. Gadis itu hanya mengetuk jarinya untuk menghitung semua bilangan.


"Nona, sebagai tanda terima kasih Saya ingin mengundang anda untuk makan malam bersama," ajak pria itu.


"Adik saya tidak bisa menerima undangan itu Tuan Anggara!" sahut Dimas menyela.


Dimas memang tua bulan dengan Maisya, walau Mereke seumuran. Gadis itu hanya menurut pada saudaranya, kebiasaan para pria yang posesif melindungi semua saudara perempuannya.


"Bagaimana jika Tuan juga ikut serta," ajak Johanes berkompromi.


"Maaf Tuan, ibu saya selalu memasak di rumah, tidak enak jika menolak masakannya!" jawab Dimas tegas.


Johanes menghela napas panjang, ia mengangguk. Rumor jika perawan dari Black Dougher Young, Pratama dan Triatmodjo tidak tersentuh, benar adanya.


Dimas menggandeng Masya mengajaknya makan siang. Remaja itu tadi sudah menerima lagi berkas error akunting dari PT GunaSuna. Perusahaan yang dibangun oleh seorang pebisnis handal Mendiang Tuan Adi Suratmo yang tiba-tiba dinyatakan pailit oleh bank.


"Kita ajak Affhan makan siang juga ya," ujar Dimas.


"Tuan!" sapa sang sekretaris dengan pakaian super mini.


Dimas menatap polos gadis yang ia panggil kakak itu, hingga sang sekretaris berdecak kesal. Maisya sampai mengerutkan kening Mendengar decakan itu.


"Kakak berdecak?"


"Ah ... eh ... nggak Nona," jawab sekretaris bermake-up tebal itu.


"Affhan, yuk makan siang!" Affhan pun keluar dari ruangan dan menyimpan semua data.


"Yuk!" sahutnya.

__ADS_1


"Eh ... itu sekretaris kamu punya kerjaan sampingan ya?" tanya Dimas berbisik.


Affhan yang memang jarang berinteraksi dengan sekretarisnya menoleh langsung terkejut.


"Hah!" teriaknya.


"Astaga Kakak! Kenapa mata Kakak biru-biru begitu?!" tanyanya kaget.


"Itu make up Affhan!" sahut Maisya memutar mata malas.


"Ih ... Mommy dandan nggak gitu deh!' sahut Affhan nyinyir terhadap sekretarisnya.


"Trus baju kakak ini. Kecil banget, emang ketuker sama punya adik kakak?" tanya Affhan lagi begitu gamblang.


"Dia pake pakaian seksi, Fhan!" sahut Maisya lagi memutar mata malas.


"Biar apa dia pake pakaian seksi?" tanya remaja itu sambil menilai sang sekretaris dari ujung kepala hingga batas pinggang gadis itu.


Lia, sang sekretaris hanya menunduk malu. Ia lupa jika atasannya masih berusia belasan tahun.


"Sudah ayo. Nggak usah dilihatin!" tukas Dimas. "Aku lapar, yuk makan!"


Ketiga bersaudara itu pun berjalan meninggalkan Lia yang kini dongkol setengah mati. Ia mengumpat habis-habisan atasannya yang masih anak kecil itu.


"Dasar bocil!"


"Pak Rando!" pria itu menoleh.


"Lia, ada apa?" sahutnya ramah.


"Apa bapak mau makan siang? Saya ikut ya," pinta gadis itu setengah merajuk.


Lia hendak memegang tangan pria beranak satu itu. Tapi langsung ditepis oleh Rando.


"Maaf, saya sudah ada janji dengan istri dan anak saya makan siang di rumah!" tolaknya tegas.


Lia berdecak kesal melihat Rando pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


"Apa semua laki-laki sudah buta apa!" sungutnya kesal.


Lia akhirnya menunggu lift selanjutnya. Ia pun turun dan mencari rekan pria lain agar ia bisa sedikit berhemat. Uang gajinya tidak akan sampai gaji berikutnya.


Akhirnya sore menjelang, semua karyawan pulang dengan wajah lega. Mereka bisa weekend dengan tenang karena pekerjaan kemarin sudah selesai. Maisya keluar dari ruangannya terlebih dahulu.


"Mari Nona," pamit beberapa staf yang ada di lantai paling atas itu.


Perusahaan Tridhoyo SaveAcounting memang sudah terkenal. bahkan kliennya makin bertambah. Banyak perusahaan yang nyaris gulung tikar jadi terselamatkan karena perhitungan yang tepat dari perusahaan tersebut. Banyak perusahaan yang mengusung pekerjaan sama dengan PT Tridhoyo SaveAcounting. Tetapi, karena nama besar dari tiga pebisnis besar yang menaunginya. Membuat semua perusahaan mempercayakan data keuangan mereka pada perusahaan jasa akuntansi tersebut.

__ADS_1


Empat pengawal naik ke lantai di mana tiga kliennya berada. Hendrik, Leo, Deden dan Dino menjemput tiga remaja itu.


"Mari Nona, Tuan muda!"


Dimas, Affhan dan Maisya mengangguk. Rando, Lia dan Vanisa membungkuk hormat pada atasan mereka. semua turun melalui tangga.


"Nona, ada bingkisan yang ketinggalan!" seru sekretaris gadis itu membawa bingkisan berupa snack berbentuk hati. Dimas merampas bingkisan itu.


"Jangan dibuang!" larang Maisya.


"Mending kasih siapa gitu!" lanjutnya sedikit kesal pada saudara laki-lakinya yang terlalu posesif itu.


"Sini!"


Affhan mengambil bungkus Snack yang disusun menjadi hati itu. Ia melepas semua rangkaian dan menjadi satu-satu bagian. Ia mulai membaginya pada Rando, Lia, Vanisa dan Bilqis sekretaris Maisya.


"Terima kasih Tuan muda!" sahut keempatnya.


Ketika di lantai bawah. Affhan membaginya pada yang lain hingga bungkusan snack itu habis.


"Dah ... beres!" tukasnya sambil menepuk tangannya.


Mereka pun naik mobil dan pulang ke mansion masing-masing. Sampai rumah, tak ada yang menceritakan apa yang terjadi. Kecuali Maisya sendiri. Ia mengadu pada ibunya.


"Mommy, tadi ada yang ngasih bingkisan ke Mai,"


"Bingkisan?" Mai mengangguk.


"Tapi bingkisannya langsung direbut Dimas terus dibagiin sama karyawan. Padahal kan bingkisan itu punya Mai," keluhnya.


"Memang siapa yang ngasih bingkisan itu sayang?" tanya Puspita lembut.


"Kalau baca di kartu pengirimnya sih Johanes Anggara, manager di PT LekTindo Perkasa," jawab Mai jujur.


"Apa Mai keberatan dengan tindakan Dimas?" tanya Puspita.


Mai tak menjawabnya. Puspita tersenyum, ia memang tau betapa posesif semua anak laki-laki pada saudara perempuannya. Bahkan Harun yang baru berumur empat tahun itu akan marah pada laki-laki yang menggoda kakak perempuannya.


"Sayang, lebih baik Dimas yang merampas bingkisan itu dari pada Daddy yang tau," sahut Puspita mengingatkan putrinya.


"Ih ... jangan sampai Daddy tau Mommy!" sahut Maisya langsung takut.


Bersambung.


Iya Mai ... kalo Daddy yang tau, cowok itu pasti jadi perkedel sama Daddymu, belum lagi Papa Gom yang bertindak. 🤦


next?

__ADS_1


__ADS_2