
Semua remaja keluar dari bangunan itu. Virgou menatap kesal pada tiga pria dewasa yang tak bisa membedakan mana toko mana klub malam. Memang tempat-tempat seperti itu dibuat sama untuk menyamarkan.
"Sepertinya kalian mesti ditugaskan lagi di dunia mafia?!" dumalnya ketus.
"Ketua," rengek ketiga pria itu.
Akhirnya, Virgou menjelaskan apa yang baru saja dilihat oleh para remaja. Semua mengangguk tanda mengerti.
"Jadi kalian cermati, tempat apa ini!" tekan Virgou lagi.
"Ini adalah teras pasar malam, jika kalian masuk ke dalam akan banyak lagi barang dijual bahkan manusia juga dijual!" lanjutnya.
"Manusia dijual?" tanya Dewa dengan mata lebar.
"Iya, Baby. Mau masuk lebih dalam?"
Semua saling lirik, karena jiwa mereka yang penasaran, Virgou juga memaksa mereka semua masuk lebih dalam. Semua bergandengan tangan, Satrio tentu digandeng Gomesh. Dewa memilih menggenggam erat tangan Gio. Tak lama beberapa pengawal datang, Langit, Reno, Rio dan Fabian juga Pablo ikut. Mereka menggandeng pada remaja. Sedang Al dan Daud memilih menggandeng Virgou.
"Ini dia pasar malam," ujar Virgou setelah mereka berjalan cukup jauh.
Banyak hewan-hewan langka di kerangkeng besi, Harimau Sumatera, Jawa ada di sana. Hewan-hewan itu mengaum keras. Daud dan Al mulai menangis.
"Daddy ... lepaskan mereka," cicitnya.
"Tenang Baby," bisik Virgou.
"Tuan ... Tuan bebaskan kami Tuan!" pekik manusia-manusia dalam kerangkeng.
Mereka ada yang diikat lehernya dengan rantai besi, pakaian kotor dan compang-camping. Ada anak-anak kecil yang menangis. Tentu saja membuat semua remaja malah memeluk para pria yang menggandengnya.
"Papa ... kita keluar yuk ... huuu ... hiks ... hiks!" ajak Dewa.
Satrio jadi ikut gelisah, ia memeluk Gomesh ketika ada satu penjaga memukuli seorang ibu. Tak ada yang berani bergerak. Virgou melihat benda yang melingkar di lengan kanannya.
"Kita keluar ya," ajaknya.
Semua remaja memeluk pria-pria dewasa. Mereka gemetar melihat apa yang tersaji di dalam.
"Daddy pulang yuk ... aku mau Bunda," rengek Dimas.
"Ayo sayang," ajak Virgou.
Semua akhirnya pulang, hanya tinggal Virgou, Gomesh, Budiman, Pablo dan Fabio yang tinggal. Mereka adalah anggota mafia. Budiman berjulukan The LittleAngry. Tubuhnya memang hanya 187cm, tetapi kekuatan dan ketajaman pikirannya tak ada yang mampu menyelami.
Hanya butuh waktu dua jam membereskan tempat itu. Beberapa hewan diambil oleh pihak observasi lingkungan, manusia-manusia yang diculik didata. Mereka kebanyakan dicekoki obat penenang dan juga disuntikkan penghilang ingatan.
"Semua beres Tuan!" lapor Diablo.
"Mereka meminta jaminan seratus juta euro," lanjutnya.
"Tembak mereka!" titah Virgou tegas.
__ADS_1
Tak ada ampun, ketua bahkan penyelenggara pasar gelap tewas di tangan kepolisian setempat. Mereka berhak untuk itu.
Setelah semua beres, mereka pun pulang ketika menjelang dini hari.
"Sayang, anak-anak pulang dalam keadaan demam," lapor Puspita ketika Virgou masuk kamarnya.
"Hmmm ... mereka baru saja mendatangi pasar gelap. Jadi mereka melihat banyak yang di luar jangkauan otak mereka," jelas Virgou.
"Pantas saja, sampai rumah mereka menangis, pelukin Mommy," sahut Puspita sedih.
"Ya, sudah tidak apa-apa. Kan ada banyak dokter hebat di keluarga kita, mereka pasti baik-baik saja," ujar Virgou menenangkan istrinya.
Pria itu merebahkan diri dan langsung terlelap. Puspita mendatangi lagi kamar di mana semua remaja dirawat. Terra, Khasya, Aini dan Lidya ada di sana.
"Mereka sakit, kembaran mereka pun ikut sakit," lapor Terra.
Puspita memeluk adik iparnya itu. Dua putranya tadi sempat demam tinggi karena melihat anak-anak kecil yang menangis memanggil ibu dan ayah mereka.
"Lepasin ... lepasin mereka!" igau Kean.
"Mommy ... lepasin mereka Mommy ... hiks!"
Puspita mencium kening Kean. Putra pertamanya itu memang usil dari yang lain, tapi paling halus dan paling peka perasaannya. Kean gampang tersentuh, bahkan dengan cicak yang mati pun remaja itu bisa murung seharian.
"Baby demam lagi," keluhnya.
"Biar Iya tangani Mom," ujar wanita itu.
Lidya merebahkan diri di sisi Kean yang merupakan keponakannya. Remaja itu langsung memeluk Lidya erat, wanita itu memberi kenyamanan dan mengobati semua luka yang dirasakan Kean.
Pagi menjelang, kondisi para remaja mulai pulih. Para balita masuk ruangan. Arsh menggeleng kepala melihat semua kakak-kakaknya sakit.
"Man pis papain pe tit nih?!" omelnya.
"Biya, tan pabis salan-salan ... peustina pawa woleh-woleh!' omel Al Bara.
"Nggak ngajak-ngajak jadi kena tulah!" cibir Kaila.
"Baby!" peringat Khasya.
"Bunda ... Kaila kan juga mau jalan-jalan!" rengeknya.
"Ini akibat mereka jalan-jalan Baby," ujar Putri mengingatkan.
Kaila diam, Dewi, Maisya, Nai dan Arimbi sudah lebih baik, walau mereka sedikit kurang bergairah karena saudara kembar mereka belum pulih.
Bart dan Bram datang, Herman bersama mereka.
"Ayah," rengek semua remaja pria.
Bart dan Bram berdecak kesal. Memang jika sudah mood manja seperti ini. Hanya Herman yang mampu meladeni semua anak bahkan Virgou dan lainnya jika sudah manja hanya Herman yang bisa menanggulangi mereka.
__ADS_1
"Gimana petualangan kalian, heemm?" tanya Herman.
"Ayah ... Mas Satrio tuh yang ngajak kita ke daerah itu!" sahut Dimas.
"Eh ... kita pilih bareng-bareng ya!" tukas Satrio tak terima.
"Tot lada palah-palahin sih! Wowan peuldi palen-palen .... yan pitnatin palen-palen ... tusyah senan peulsama!" ketus Harun.
Dimas mencebik, ia merengek lagi, akhirnya semua perusuh junior diminta keluar karena harus sarapan. Seruni, Gisel, Widya, Aini dan Layla menuntun semua anak-anak.
"Mom, mereka habis kemana sih pulang-pulang sakit?" tanya Ella.
"Nggak tau sayang," jawab Maria.
Mereka sarapan bersama. Hanya para orang tua yang melayani para remaja dengan menyuapi mereka.
"Ayo ... bangun ... kalian laki-laki!" tukas Herman mulai tegas.
"Mulai saat ini dan seterusnya, Ayah akan mengajari kalian semua dan menjelaskan apa yang mestinya kalian tau di usia kalian!" lanjutnya.
Haidar, Gabe dan David membiarkan Herman. Bart dan Bram setuju, sudah saatnya para remaja lepas dari kepolosan mereka.
Kini semua remaja laki-laki dan perempuan dijadikan satu hanya Samudera, Benua, Ajis, Amran, Ahmad, Alim dan semua anak angkat Bart termasuk pada perusuh junior tidak ikut bergabung.
"Jadi yang pertama kalian lihat perempuan tanpa busana menaiki tiang itu adalah penari striptis!"
Semua menatap Virgou dengan pandangan polos. Benar kata Demian waktu itu, akan sulit menjelaskan sesuatu yang baru pada semua remaja yang memang tidak pernah terkontaminasi perihal buruk di luaran sana. Herman menghela napas panjang.
"Emang nari tanpa busana pake tiang itu bukan ulet panjang tiang?" tanya Satrio bingung. "Kata Om Pablo dulu iya pas Trio nanya!"
"Mana ada ulet bentuk manusia Baby!" Jac begitu gemas.
"Ya kali aja kan! Mereka lagi pertunjukan drama teather yang mengharuskan peran maksimal!" kilah Satrio.
"Bukan sayang, mereka bukan pemeran itu," sahut Herman.
"Mereka melakukan itu atas bayaran dan membuat libido laki-laki naik," lanjutnya.
Daud baru mengerti, remaja itu adalah dokter, tentu langsung paham.
"Oh jadi tugas mereka menaikkan hasrat laki-laki toh?"
"Benar Baby," sahut Haidar kini.
"Tapi kan bisa pake perangsang?" sahut Daud heran. "Kenapa mesti suruh perempuan telanjang manjat tiang?"
Semua pria dewasa menggaruk kepala mereka. Sepertinya percakapan ini masih panjang, karena semua benar-benar polos.
Bersambung.
Bukan masalah biar mereka tahu aja tapi kadang para remaja genius ini sangat tidak bisa dibuat mengerti akan hal-hal yang menurut mereka bisa dilakukan secara simpel.
__ADS_1
binun tan? Othol aja pinun.
Next?