SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENGGOYANG EROPA


__ADS_3

Setelah penyerahan data seluruh anggota keluarga yang ikut. Nyaris lima puluh orang naik ke pesawat yang baru saja dibeli. Banyak mata terbelalak, banyak bibir menyungging sinis, banyak hati iri dan dengki.


Sebuah tabloid portal berita internet membuat tajuk judul "Kekayaan Empat Pilar Pengusaha Terbesar di dunia!"


Pesawat baru dengan maskapai penerbangan bernama RadenEmas Airways menjadi sorotan. Kekayaan empat pengusaha yakni Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan Starlight diduga menyumbang untuk membeli pesawat terbang keluaran terbaru!"


Virgou menatap malas. Sepertinya bukan masalah pembelian pesawat itu yang menjadi tajuk, tapi pemberangkatan seluruh keluarganya yang menjadi buah bibir semua orang.


"Itu bayar tiket nggak?"


"Naik pesawat sendiri masa gratis?!"


"Pasti nyari duitnya pake babi ngepet!"


Virgou tertawa sinis dengan komentar paling terakhir itu. Ia benar-benar tak habis pikir.


"Emang perlu berapa babi yang kukerahkan untuk menggesek rumah orang?" dumalnya kesal. "Bisa-bisa lecet pan.tat itu babi!"


David sampai menoleh mendengar gerutuan kakak tertuanya itu. Semua bayi didudukan bersama orang tua mereka. Keberangkatan seluruh keluarga telah didata oleh pihak bandara tentu saja mereka bayar walau tak sebanyak uang yang dikeluarkan semua orang.


"Selamat pagi para penumpang RadenEmas Airways, kami akan menjelaskan prosedur keselamatan bagi para penumpang sekalian, mohon anda perhatikan bimbingan dari para pramugari kami!"


Para perusuh sangat terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul.


"Daddy lada suala pati eundat lada wowanna!" seru Harun takjub.


Harun sederetan kursi dengan Azha. Tentu mereka naik uang di kelas VVIP. Kenyamanan dan keamanan para bayi diutamakan terlebih di sana ada tiga wanita hamil, Seruni, Safitri dan Maria.


"Penumpang sekalian sebelum kita lepas landas sebaiknya mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing!" pinta sang kepala pramugari.


Semua menunduk kepala. Setelah berdoa, beberapa pramugari berjejer lalu mulai memperagakan bagaimana memakai alat keselamatan dan oksigen jika diperlukan. Walau semua memang belum terjadi dan berharap mereka naik dengan selamat dan turun juga dengan selamat.


"Balo tata lamudali syantit," goda Azha genit.


Seruni membola, dari mana putranya bisa genit seperti ini.


"Baby," peringat wanita itu.


"Halo juga baby ganteng," sahut pramugari cantik itu dengan senyum ramah.


Azha langsung menakup dua pipinya lalu menggeleng malu.

__ADS_1


Pramugari itu terkekeh. Dahlan menatap pramugari cantik itu. Untuk pertama kalinya, pria itu ikut rombongan menggantikan Felix yang sedang masa cuti karena pernikahannya.


"Sambar aja bro, pramugari ayah memang terkenal cantik-cantik dan cerdas," bisik Gio.


Dahlan berdecak kesal. Ia kembali fokus menutup mata. Pria itu belum mau membuka hati setelah ia meyakini perasaannya dengan Azizah itu salah, bahkan perbedaan keyakinan mereka yang membuat pria itu mundur seribu langkah.


Gio tentu membawa istri, dua adik ipar dan putranya, Arsyad. Jac dan Putri juga ikut bersama putrinya. Tadinya, ayah ibu Putri diajak serta, tapi mereka menolak keras dengan alasan takut naik pesawat terlebih putranya Septian juga tidak ada yang mengurus. Semenjak gagal menikah, rupanya pria itu enggan membuka hati juga, ia masih trauma.


"Kak kita terbang!" teriak Radit lalu memejamkan mata takut.


"Berdoalah dik!" bisik Ditya juga takut.


Ini adalah pengalaman pertama mereka menaiki pesawat terbang. Salah satu transportasi paling aman, walau terdengar banyak kecelakaan pesawat di luar sana. Tapi jika dihitung pertahun. Pesawat adalah transportasi paling aman, karena tak ada pilot ugal-ugalan yang harus menyalip pesawat lain untuk mengejar setoran.


Selama delapan belas jam mereka akan mengudara tanpa transit karena pesawat ini khusus diterbangkan langsung dan sudah menyediakan stok avtur dan makanan di udara.


Tak terasa pesawat itu mendarat di pagi hari juga. Semua tertidur ketika pilot mengumumkan pendaratan.


"Para penumpang harap kencangkan sabuk pengaman, kita sebentar lagi akan melakukan lending. Berdoalah agar semua lancar hingga pesawat ini berhenti!"


Semua memasang sabuk pengaman. Para orang tua memasangkan sabuk pengaman pada bayi-bayi mereka. Para ibu hamil diberi bantal empuk untuk melindungi perut mereka dari guncangan apapun.


Pesawat berhenti. Haidar telah memberitahu kedua orang tuanya jika mereka akan datang dengan jumlah yang sangat banyak. Satu bus besar sudah menanti di depan lobby bandara. Kedatangan pesawat baru itu juga menjadi sorotan media asing terlebih nama pesawat yang tak asing di telinga mereka.


Dua puluh orang berjejer rapi. Semua koper dan tas sudah ada di bagasi bus. Mereka naik ke kendaraan besar tersebut yang ternyata memiliki tempat tidur. Lying bus atau sleeping bus diluncurkan untuk kenyamanan semuanya.


Kekayaan Bram Hovert Pratama menjadi bahan bisikan Virgou pada Leon.


"Dad, sepertinya besanmu sangat kaya raya,"


"Husssh ... jangan begitu, bersyukurlah jika memang begitu!" tegur Leon.


Virgou hanya mengerucut. Sebenarnya kekayaan Hovert Pratama memang tak ada seujung kukunya keluarga Dougher Young, terlebih Virgou yang menguasai bisnis mafia. Tapi mereka sama-sama kaya raya.


Hanya butuh setengah jam mereka sudah sampai mansion besar milik keluarga Hovert Pratama. Mansion itu ada lima lantai dengan tiga paviliun besar.


Bram menyambut mereka dengan mata berkaca-kaca. Perkataan Bart tentang menggoyang Eropa benar-benar diwujudkan pria gaek itu.


"Dad!" sambutnya lalu memeluk pria itu.


"Halo son!" ujarnya mengelus punggung mertua dari cucunya itu.

__ADS_1


Kanya juga memeluk Bart. Berita kedatangan Dougher Young benar-benar menggemparkan pemerintah Eropa.


"Apa mereka sudah datang?" sebuah suara serak muncul di sana.


"Hai, Labertha Weist, apa kabarmu?"


Bart menyongsong wanita dengan banyak keriput di wajahnya.


Laberta berusia seratus lima tahun. Ibu dari Bram ini masih terlihat segar dengan ingatan yang baik. Ia sangat mengenali siapa Bart Dougher Young.


"Kau masih cantik saja Berta," kekeh pria tua itu lalu dihadiahi pukulan ringan dari Berta.


"Mana cucu nakal itu. Virgou!"


Pria dengan sejuta pesona hadir dengan senyum khasnya.


"Kemari kau bocah nakal, kau memang selalu membuat ulah, tapi kau tau aku paling keras menentang pria tua ini!" seru wanita itu.


Ya, tentu saja Laberta mengenali keluarga Dougher Young, mereka berbisnis dari suaminya Hovert Pratama masih muda. Laberta yang selalu membela Virgou jika ia datang dan mendapati kelakuan buruk semua keluarganya.


Virgou memeluk wanita tua itu. Ia memperkenalkan semua anak-anak pada wanita itu.


Hebatnya Berta mampu mengingat Azha anak siapa dan Arsyad anak siapa. Belum lagi Fathiyya, yang lahir bersamaan dengan El Bara, Al Bara, Maryam, Aisya dan Fatih.


"Kalian seperti berlomba memperbanyak keturunan ya," kekehnya.


"Mama ... mama ... banita ipu spasa tot dudutna di tulsi yan ada lodana?" bisik Bariana bertanya.


"Baby kemari kau," pendengaran Berta juga masih sangat baik.


"Sana baby, tidak apa-apa," suruh Maria mendorong bayinya.


Bariana dengan berani mendatangi wanita yang sudah lanjut usia itu. Kening dan alis bayi cantik itu seperti berpikir banyak.


"Apa yang kau pikirkan baby?" tanya Berta.


"Mama ... wowan imi pate pahasa pa'a?"


Tentu saja Bariana tidak mengerti karena bahasa yang digunakan Berta dari tadi adalah bahasa Prancis.


bersambung.

__ADS_1


hahahaha


next?


__ADS_2