SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KELUARGA BARU


__ADS_3

Kehadiran Remario membuat semua kesal termasuk Dominic, pria itu menatap sebal pada mertua dari Arimbi itu.


"Daddy," rajuk Arimbi.


"Walau bagaimanapun dia ayah mertua Arimbi sekarang," ujar sang gadis.


Dominic menghela napas panjang. Dinar mengusap lengan suaminya.


"Jangan khawatir sayang. Cinta Ayah itu banyak, pasti kita semua kebagian," ujarnya.


Herman menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Khasya mengelus kepala Remario yang mencium punggung tangannya. Pria itu juga mau ibu seperti Khasya. Wanita itu mengingatkan dirinya akan ibu juga mendiang istrinya.


"Bunda," panggilnya dengan senyum lebar.


Khasya hanya mengangguk. Herman menarik sang istri kepelukannya.


"Kau hanya sayang sama aku!" tekan pria itu.


"Sayang ... kau adalah hidupku, jadi jangan khawatir," sahut Khasya lembut.


Remario dikelilingi oleh para perusuh, Harun menatap pria yang sama dengan Reno. Rion juga ingat dengan pria itu.


"Oh kau paman yang diberi pelatihan oleh Baby Rimbi," sindirnya.


"Pemana Mbat Limpi najal pa'a?" tanya Arsyad.


"Pipu Limbi dulu?' tanya Maryam.


"Bukan ... Mbak bukan guru atau pengajar," jawab Rimbi.


"Tot tata Apah Ion dhitu?" sahut Bariana.


"Woi ... amuh spasa?" tanya Arsh sok jago pada Remario.


"Hai ... baby ... aku Papa dari Reno. Kalian bisa panggil aku Papa juga," sahut Remario berbahasa Indonesia.


"Idat sisa ... idat sisa!" geleng Arsh.


"Baby ...."


"Mpu pimpi ... owan mi lalus pulutin Alsh!"


Arimbi dan Reno gemas dengan persyaratan bayi galak itu. Remario bingung dengan bahasa bayi yang didengarnya.


"Kamu ngomong apa sih?" tanyanya gemas.


Remario hendak mencium Arsh, tapi bayi itu mengelak dengan merentangkan tangannya ke depan.


"Popit!" tolaknya.


Semua tentu gemas dengan apa yang dilakukan oleh bayi sembilan bulan itu. Sedang bayi-bayi lain mulai merambat, seperti Aliyah dan Zizam.


Bayi tujuh bulan itu sudah menggunakan paha dan tangannya untuk merambat ke segala tempat.


"Amamamamah!" pekik Zizam.


Putra dari Darren itu memang tak bisa diam. Al Fatih yang menjaganya.


"Paypi ... wayo janan teumana-pana!" larangnya.


Arsh masih menatap Remario dengan serius. Pria itu begitu gemas dan tak peduli memeluk lalu menciuminya hingga tergelak.


"Hei ... sudah, ayo biarkan Remario tinggal. Reno, Arimbi bawa ayah kalian ke kamarnya!' titah Bart.


Reno mengambil koper milik papanya sedang Arimbi membawa mertuanya ke kamar. Nai menatap Langit, suaminya.


"Apa sayang?' tanya pria itu.


"Apa kita perlu menyambangi ayah dan ibu Kakak?" tanya sang gadis.


Langit menggeleng. "Tidak perlu sayang."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Nai.


"Jika kita menemui mereka, Kita tak akan bisa kembali lagi ke sini," jawab Langit.


"Bagaimana kalau kau bawa Daddy?" tawar Virgou.


"Biar bagaimanapun Nai, harus memberi salam pada mertuanya," lanjut pria sejuta pesona itu.


"Boleh," sahut Langit setuju.


Nai hanya mengangguk, gadis itu tentu tak mau jika harus ditahan bersama mertuanya.


"Addy!" pekik Arsh menyambangi Dominic.


"Paypi Alit pipapain?" tanyanya gusar karena melihat Dominic membalik Aaric menjadi tengkurap.


"Ini Baby, punggung Baby Aaric sedikit memerah," jawab pria itu.


"Apa dia alergi?" tanya Daud.


"Mana lihat?" sahut Nai.


Aaric sudah ada di tangan Nai. Rupanya ada tungau mati di punggung bayi baru dua bulan itu.


"Oh, minta minyak telon Daddy. Ini digigit serangga. Dari mana tungau ini, masa kastil Uyut ada tungau?"


"Besok aku suruh maid membersihkan karpet dan sofa!" ujar Gabe mulai kesal dengan para maid.


Akhirnya Remario bergabung di keluarga Triatmodjo. Pria itu tak mau jauh dari Herman hingga membuat Gomesh ingin melemparnya. Remario benar-benar haus dari kasih sayang seorang ayah.


"Kau punya Papa Gabe!"


"Kau pikir aku tak punya Papa juga?" sahut Leon kesal.


"Iya nih," sahut Frans.


"Astaga ... kalian ini ya!" sungut Bart kesal.


"Jangan cemburu Dad," sahut Frans buru-buru memeluk ayahnya.


Haidar memeluk ayahnya juga agar pria itu tak cemburu karena, ia juga sangat menyayangi Herman.


"Menyingkir lah kalian!' usir Terra.


Wanita itu menyingkirkan Remario, Leon dan Virgou. Terra memeluk pamannya.


"Ih pada nggak mau ngalah sama anak!" gerutu Dewi.


"Itu ayah Dewi loh!" lanjutnya kesal.


"Maaf sayang, ayahmu memang idaman kami. Jadi berbagilah ya," sahut Leon memeluk gadis itu gemas.


"Ih!" rajuk Dewi.


"Bagaimana kami?" tanya Kean.


"Sudahlah ... kalian semua anak-anakku jadi jangan berebutan ya!" sahut Herman mulai kesal.


"Sayang, Ayah bukan pria kuat lagi," ujarnya pada Terra yang ada di pangkuannya.


Terra pun bangun dan mencium pamannya. Makan siang sudah siap, mereka semua makan. Remario berkenalan dengan lima puluh anak yatim Bart.


Usai makan semua anak-anak disuruh tidur siang. Semua anak menurut. Sean sedikit bosan dengan keadaan. Remaja itu ingin sekali keluar jalan-jalan. Tapi, ia mengingat kejadian terakhir mereka pergi, membuat ia jadi demam karena melihat anak-anak yang diikat di jeruji besi.


"Kata Daddy, mereka semua sudah kembali kepada orang tua mereka," gumamnya.


Sean bangkit dari ranjangnya. Remaja itu keluar kamar dan mengetuk pintu kamar saudara kembar lainnya, Al.


"Ada apa Sean?" tanya Al bingung.


"Bangunin Daud, dia pasti juga tidak bisa tidur. Dari kemarin kita tidur mulu," ajak Sean.

__ADS_1


Al dan Sean menuju kamar Daud. Tiga remaja itu kini beranjak ke kamar saudara lainnya. Satrio, Kean dan Calvin.


"Apa?" tanya Satrio sambil menguap.


"Astaga ... apa kau tidak bosan?" tanya Al "Tidur mulu?"


"Eh ... nanti pas pulang, kita nggak bisa bobok siang tau!" sahut Satrio.


Kean dan Calvin mengangguk, ia yakin jika pulang nanti tumpukan berkas menanti dan membuat ia harus memutar otak.


"Tapi kita ini mau sebulan nggak ngapa-ngapain?!' sahut Sean.


"Kata siapa?" sahut Kean.


"Kemarin gimana? Pas ke pasar malam?" lanjutnya.


"Pasar gelap!" ralat Al.


"Nah ... maksudku begitu!'' sahut Kean nyengir kuda.


"Kan sama-sama gelap," lanjutnya membela diri.


"Yuk lah capcus!" ajak Sean.


"Halow ... mau kemana? Apa nggak lihat lapisan pengawal?" tanya Calvin memutar mata malas.


"Duh kepalaku pusing disuruh tidur mulu!" sahut Sean.


"Kita ke kincir angin raksasa itu yuk!" ajak Al.


"Eh ... itu di mana?" tanya Sean.


"Di pusat kota. Jaraknya hanya dua puluh menit kalo pake mobil, sepuluh menit kalo pake motor," jawab Al.


"Kita nyuri motor pengawal?" sebuah ide yang membuat kesal semuanya.


"Halow lagi ... gimana mau nyolong motornya?" tanya Calvin memutar mata malas.


"Ih ... sumpah gue bosen tidur mulu!" sahut Sean kesal sendiri.


Dimas yang mendengar ada ribut-ribut di luar kamar, ia pun keluar. Selain Dimas, Affhan, Maisya, Dewa, Dewi, Kaila, Rasya dan Rasyid juga keluar kamar.


"Kak, Mas?" panggil mereka.


"Hayo mau ngapain? Mau kabur ya?" terka Kaila.


Sean langsung mengangguk. Kepalanya benar-benar sudah pusing karena kebanyakan tidur.


''Kalau kita banyakan begini pasti mereka nggak melarang," ujar Dewi.


"Ayo lah ... kita naiki kincir raksasa!' ajak Sean.


"Ayo!"


Akhirnya semua keluar kastil dengan tenang. Para pengawal yang berjaga pun tak bisa berkutik.


"Ketua!' panggil mereka.


Semua remaja sudah menaiki dua mobil yang membawa mereka ke kincir angin raksasa. Budiman menatap kepergian anak-anak itu.


"Sudah tidak apa-apa," sahutnya.


Pria itu memanggil Rio dan anggota lainnya untuk mengawasi semua anak-anak dari kejauhan.


"Jaga mereka dari jauh hingga pulang!" titahnya.


"Baik Ketua!" sahut Rio sebagai kepala pengawal.


Bersambung.


Hah ... mau kabur gimana juga bakalan ketauan Babies.

__ADS_1


Next?


__ADS_2