
"Apa katamu?" tanya Herman dengan wajah datar.
Remario nyaris mengigit lidahnya sendiri. Pria itu menggeleng cepat, tentu ia tak mau putranya mendapat masalah.
"Tiātidak ada Tuan," jawabnya cepat.
Herman meminta Rion membawa semua saudaranya. Nai datang bersama Arimbi. Luisa menatap gadis cantik yang selalu di foto dan dikirim oleh putranya. Wanita itu kembali menggenggam tangan suaminya. Ia langsung jatuh hati pada gadis itu.
"Ah perkenalkan, mereka berdua adalah cicitku!" ujar Bart.
"Naisya, Om, Tante," ujar Nai lalu mencium punggung tangan sepasang suami istri itu bergantian. Begitu juga pada Remario.
"Arimbi," sahut Arimbi singkat dan mengikuti apa yang diperbuat saudaranya.
Arimbi adalah bibi dari Naisya, tetapi mereka seumuran, hanya beda sepuluh bulan saja. Tetapi mereka berdua memanggil Herman dengan sebutan ayah.
"Mestinya Nai adalah cucu anda bukan Tuan Triatmodjo," ujar Andoro mencoba akrab.
"Aku tak masalah, babyku memanggilku apa!' tukas Herman datar.
Andoro kembali menelan saliva kasar. Itu yang dikeluhkan putranya. Menghadap Herman, pria itu benar-benar memasang muka datar dan tak tersentuh. Herman memasang tembok kokoh agar tak satu pun manusia bisa masuk ke dalamnya.
"Ayah ... Nai dan Arimbi mau keluar di situ boleh?" pinta Nai.
"Baby, di luar dingin sayang," Nai cemberut.
"Baby," peringat Bart.
"Hanya sebentar," pinta Arimbi kini memelas.
"Baik, tapi ditemani pengawal ya!' sahut Herman pada akhirnya.
Nai dan Arimbi hanya mengangguk. Dua gadis itu berlalu, Luisa mendekati beberapa istri para pebisnis yang ia kenal. Terra menjadi sorotan karena dia adalah seorang istri dan pebisnis handal, Virgou dan Haidar bersamanya.
Herman menggandeng istrinya, melihat para perusuh seperti ingin menampilkan sesuatu. Andoro dan Remario mengikuti pria itu.
"Tuan, silahkan nikmati pestanya!" cegah Gio pada dua pria yang mengikuti tuannya.
"Saya sedang menikmati pesta!" sungut Andoro kesal.
Pria itu memaksa maju, hanya satu gerakan saja. Andoro nyaris terjungkal oleh Gio. Kini pria itu tau jika semua pengawal yang bekerja di SavedLived sangat kuat. Remario memilih mundur dan mengajak Andoro lalu bergabung dengan pebisnis lainnya.
Sementara itu Herman mengawasi dua putrinya yang dikawal oleh dua pengawal perempuan. Wajah datar dan bengis milik Herman seketika berubah di hadapan semua bayi-bayi perusuh.
"Babies sedang apa?" tanyanya.
"Mawu namen uyut!" jawab Aisya.
"Ngamen?" bayi cantik itu mengangguk kuat.
"Syisyah bawu pampil pulu ya," ujarnya.
__ADS_1
Maryam, Aisya, Al Fatih, Aaima, Arsyad, Fathiyya, Al Bara dan El Bara berdiri berjejer. Arsyad adalah bayi paling tua di sana.
"Halo pemuana ... dud fifnin!"
Semua menoleh pada sudut ruang. Kean, Sean dan Al mengosongkan ruang itu khusus para bayi yang ingin tampil.
"Peulbubun ...."
"Berhubung Baby," ralat Herman.
"Ya matsudna ipu," sahut Arsyad lagi.
"Tami pidat pisa palasa Blindis ... sadhi tami atan beulpanyitan ladhu palasa Indonesia!" sahut bayi mau dua tahun itu.
Kean menyalakan musik dari ponselnya. Bart menepuk keningnya, ia lupa jika para perusuh pasti akan memberikan pertunjukan jika ada pesta. Lalu hanya dalam hitungan menit, panggung sudah tersedia berikut alat musik berupa piano elektronik. Kean memindahkan semua adiknya.
"Sadhi pita janan bulu pampil?" tanya Arsyad kesal karena baru saja tadi ia membuka mulut, Bart menghentikannya.
"Sabar Baby, kan mau musik beneran?!" sahut Kean.
"Ah ... tami pudah tat lada mut ladhi Ata'!" keluh Arsyad.
"Kalau begitu siapa yang siap?" tanya Kean.
"Uangnya buat yang nyanyi duluan ya!" lanjutnya.
"Janan!" pekik Maryam dan lainnya.
Dua gadis itu sibuk berfoto ria. Luisa dengan begitu percaya diri mendekati mereka.
"Hai ... kenapa kalian tidak masuk, udara makin dingin sayang," peringat wanita itu perhatian.
"Terima kasih Tante, kami memang sebentar lagi mau masuk," sahut Arimbi ramah.
Dua gadis itu masuk bersama dengan Luisa. Wanita itu mencoba mengakrabkan diri terlebih pada Nai.
"Aku dengar kalian berdua dokter kandungan termuda yang pernah ada. Apa benar begitu?" tanya Luisa setengah tak percaya.
"Alhamdulillah, sepertinya begitu Tante," jawab Nai.
Pembawaan Luisa yang sedikit angkuh, membuat Nai tak nyaman. Langit sangat mengenal ibunya. Wanita sosialita itu tentu tak bisa membaur dengan Nai atau keluarga atasannya.
"Mom ... jangan sampai kau membuat aku kehilangan gadis idamanku," gumam pemuda itu.
"Kau bilang apa?" tanya Reno.
Reno melihat apa yang ditatap rekan seprofesinya itu. Ia menghela napas, bahkan ayahnya seperti patung di sana. Bibirnya hanya menyungging senyum sinis.
"Bahkan julukan The Bandit sepertinya tak menjadi momok yang menakutkan di keluarga Tuan Black Dougher Young," ujarnya.
"Jangan bandingkan dengan kekuatan BlackAngel, Reno!" sahut Langit.
__ADS_1
"Bahkan julukan ayahmu masih dibawah ShadowAngel milik Tuan muda Satrio!" lanjutnya.
"Ya, aku tau. Makanya aku merekamnya dari sini," kekehnya usil.
Reno merekam bagaimana ayahnya seperti tikus kecebur got di tengah-tengah keluarga besar itu. Padahal Bram dan lainnya berbicara ramah pada Remario.
"Ayahku tak jauh beda," sahut Langit menatap ayahnya.
"Kekayaannya tak ada seujung kuku di mata ayah," lanjutnya.
Reno nyaris terbahak melihat betapa Andoro seperti orang kehilangan arah di sana. Padahal pria itu pebisnis handal dan bisa bersaing dengan Bart Dougher Young, tetapi di mata Herman, Andoro seperti tak memiliki taring sama sekali.
"Sebaiknya kita masuk dan memastikan ibumu tak mengacaukan semuanya," ajak Langit pada rekannya.
Kedua pria tampan itu masuk dan mengawasi semua. Andoro melihat putranya, pria yang tadinya meremehkan semua orang kini seperti debu di antara padang pasir yang luas. Ia menatap istrinya yang tengah berbincang dengan salah satu gadis incaran putranya.
"Good evening ladies and gentleman. We are The big familly of Dougher Young, Pratama Triatmodjo, Starlight and Budiman Samudera want to dedicate a song to the Great Grandfather Bart Dougher Young!' ujar Ajis menggunakan bahasa Inggris.
Bart terdiam. Samudera bernyanyi lebih dulu.
"Kau lah matahari kami ... yang bersinar dengan terang sepanjang hari ...,"
"Kau Papa, kakek dan buyut kami tercinta, tanpamu kami semua tidak ada ....," lanjut Benua dan Domesh ikut bernyanyi.
Keluarga Diablo juga hadir, semua anak juga mau mempersembahkan sebuah pertunjukan.
"Terima kasih ... kau mencintaiku ... terima kasih, kau menyayangiku ... seperti hujan ... seperti waktu ... yang tak pernah surut ...!" sahut Sky dan Bomesh melanjutkan lagunya.
"Terima kasih Papa kami tercinta, terima kasih kakek kami tersayang ... terima kasih buyut kami yang terkasih ...!" tiba-tiba semua anak angkat Bart bernyanyi.
Bart menangis haru. Terra memeluknya, suasana mendadak haru dan penuh kasih sayang. Banyak kolega yang tau bagaimana Kekuarga besar ini saling menguatkan satu sama lain. Andoro, Remario dan Luisa merasakan sesuatu yang berbeda dari pesta yang sering mereka hadiri.
"Rasa apa ini?' tanya Luisa meraba dadanya yang tiba-tiba berdesir.
"Anda tidak apa-apa, Tante?" tanya Nai khawatir.
Luisa menatap gadis yang selalu disebut namanya oleh putra kesayangannya, betapa hebat Naisya Putri Hovert Pratama. Muda, genius dan sangat cantik juga berhati lembut.
"Aku merasa jantungku berdesir," jawab wanita itu.
Nai menatap wanita cantik di depannya. Ia tersenyum begitu manis.
"Itu karena anda tengah jatuh cinta, Tante," jawab Nai.
"Jatuh cinta?" Nai mengangguk.
"Selamat datang di keluarga kami, Familly full of love!" ujarnya lagi.
Bersambung.
Keluarga adalah cinta.
__ADS_1
Next?