SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
GALA DINNER


__ADS_3

Bart mengundang semua kolega ke pulau pribadi miliknya. Ia akan memperkenalkan lima puluh anak angkatnya. Najwa dan Lastri telah mendandani mereka. Dua puluh tiga anak perempuan dan dua puluh tujuh anak laki-laki. Berusia sekitar enam hingga sepuluh tahun. Ada lima anak itu yang berusia dua belas tahun. Semua memakai nama belakang Dougher Young.


Ruangan besar dihias dengan mewah dengan gradasi emas dan perak juga butiran kristal yang menggantung. Bunga-bunga hidup dihias sedemikian rupa hingga membuat harum seluruh ruangan.


"Kita buka tirai yang menutupi pemandangan!" seru manager cottage.


Tirai-tirai terbuka, pemandangan laut langsung terpampang. Bart memang memilih arsitektur yang bisa melihat pemandangan laut, bahkan atap-atap terbuka, langit masih merah akibat matahari yang terbenam di ufuk barat.


Semua orang berdecak kagum. Bram menempel pada Bart memeluknya. Pria itu mendadak manja hingga membuat Leon, Frans dan Dominic kesal.


"Kau mau apa?" tanya Frans menyindir.


"Aku tidak mau apa-apa," sahut Bram.


"Menyingkir kau!" usir Bart.


"Daddy, kau kaya ternyata!" celetuk Herman.


"Wah ... indah sekali!" puji Azlan.


"Sayang, aku juga ingin kalian belajar tentang manajemen cottage ini!" pinta Bart pada salah satu putra angkatnya itu.


"Daddy, aku bisa menanganinya," sahut Bram yang langsung dihadiahi pukulan pelan oleh Khasya.


"Mas ... aku dipukul istrimu!" adu Bram.


Herman hanya memutar mata malas. Para perusuh cilik tampak sibuk melihat laut. Ombak sedikit tenang, Bart telah meminta para ahli untuk membaca cuaca.


"Langit bersih, kemungkinan kita bisa melihat aurora di langit malam ini!" ujar staf ahli meteorologi cuaca.


"Mama Izah!" pekik Arsh.


Azizah memakai gaun warna merah dengan potongan dada sabrina. Bahunya yang terbuka memperlihatkan tulang selangka yang indah dan kulit yang putih bersih. Rion langsung menyampirkan jasnya di pundak sang istri.


"Kenapa kau pakai baju itu?"


"Mama yang suruh," Rion mengambil Arsh dari gendongan Azizah.


"Aku ingin kau menutup auratmu nanti!" pinta Rion tegas.


Azizah mengangguk, ia memang belum menutup auratnya, wanita itu memang tak pernah memakai baju terbuka dari ia gadis.


"Apa kau dengar?"


"Iya Mas Baby," sahut Azizah menurut.


Adiba juga sangat cantik, Khasya memakai gamis warna hijau mint dengan jilbab warna putih.


"Eh ... kita nggak ngasih persembahan gitu?" tanya Kean pada para perusuh.


"Eundat lada pandun Ata' Tean," jawab Aaima.


Kean memang tidak melihat panggung kecil di sana bahkan alat musik pun tidak. Bart hanya menyalakan musik dari player.


"Kita akapela aja!" ide Samudera.


"Ah ... atuh pisa atapela!" sahut Harun antusias.

__ADS_1


"Oke kalau begitu Baby yang buat acaranya ya!" ujar Kean.


"Siyap Poss!" Harun mengangkat tangan ke pelipis.


Balita itu pun berkumpul, Arsh yang ada digendongan Rion, langsung mau turun.


"Ata' Aziz tan suta pitin ladhu ... siptain ladhu don," pinta Azha.


"


Oh ... bagaimana jika kita mengucap terima kasih buat Grandpa eh ... uyut Bart?" Ajis memberi saran.


"Oh ... tayat badhaibana?"


"Terima kasih ... kau mencintaiku, terima kasih kau menyayangiku ... seperti hujan, seperti waktu ... yang tak habis tak pernah surut ... "


"Ih ... kok bagus sih!" seru Sean menikmati lagu yang baru saja diciptakan oleh Ajis.


"Nah, kita bisa tambahin kata-katanya," ujar Ajis lagi.


"Oh yang tadi buat refrain lagu ya!" seru Dita, salah satu anak angkat Bart.


"Leno juga mau nyumbang lagu!' tunjuk balita itu.


"Radit mau baca puisi deh!"


"Ah ... komplit, ayo kita diskusi!' sahut Kean.


"Para perusuh lebih dulu tampil," ujar Kean.


"Yan lusuh spasa?" tanya Arion bingung.


Kean mencebik kesal. Akhirnya semua sepakat jika pada bayi seperti Maryam akan tampil terlebih dahulu. Kean memakai ponselnya sebagai musik.


Semakin lama, banyak tamu datang. Remario Sanz datang Virgou mengenal pria itu. Sebagai sesama mafia dan pebisnis. Pria sejuta pesona itu langsung berdiri di depan Remario.


"Kau datang?"


Remario menelan saliva kasar. Pria itu berharap jika Virgou lupa dengan kejadian puluhan tahun lalu ketika ia berkelahi melawan beberapa anggota mafia.


"Aku mengundangnya Nak!" sahut Bart.


Virgou mengawasi Remario dengan seksama. Walau pria itu tak mendapat kabar yang buruk, bahkan Remario sangat kaya raya dan pebisnis handal.


Tak lama Andoro Clemnetino Dewangga datang bersama istrinya. Sepasang suami istri itu mengangguk puas dengan kemewahan yang disugukan di mata mereka.


"Selamat datang Tuan Dewangga!" sambut Bart.


Keduanya bersalaman. Langit dan Reno tengah berjaga, namun keduanya memperhatikan ayah dan ibu mereka datang.


"Oh ya kenalkan ini Bram Hovert Pratama dan istrinya Kanya Luigi!" ujar Bart memperkenalkan Bram.


Mereka berkenalan, Virgou dan istrinya diperkenalkan, Lalu Terra dan Haidar, Frans dan Lastri juga dua anak kembarnya kemudian Leon dan Najwa dengan perut besarnya.


"Astaga, apa ini baik-baik saja?" tanya Luisa Hardoyo istri dari Andoro Clementino Dewangga.


"Mana Herman?" tanya Bart.

__ADS_1


Andoro dan Luisa masih mengangkat dagu, kekayaan mereka memang hampir menyamai Bart. Tetapi, ketika melihat Virgou, keduanya mendadak tak banyak tingkah.


"Ah ... itu dia!" sahut Bart.


"Herman!" pria itu menoleh.


Andoro terpaku, Herman melangkah seperti slow motion di pandangan pria itu. Luisa pun menggenggam tangan suaminya erat. Wajah datar, dengan sorot mata tajam, penuh karisma. Tinggi Herman memang hanya 167cm. Pria itu tak perlu mendongakkan kepala, karena kepala Andoro yang menunduk pada Herman.


"Ini dia salah satu putra kesayanganku Herman Triatmodjo dan istrinya Khasya!'


Andoro menjulurkan tangannya, Herman menatap sekilas lalu menjulurkan tangan dan membalas jabat tangan pria itu yang mendadak dingin.


"Andoro," ujar pria itu setengah mencicit.


"Herman!"


Andoro menelan saliva. Ketika Remario diperkenalkan pun seperti itu. Sudahlah ia ciut menghadap Virgou kini berhadapan dengan Herman. Mata kelam Herman mampu membunuh karakter siapapun di sana. Banyak kolega yang menunduk jika berhadapan dengan pria tua itu.


"Kenapa mereka Dad?" tanya Herman bingung.


"Kok kayak tikus kecebur got?" lanjutnya.


Bart berdecak, ia memang juga takut jika Herman memasang tampang datar dan tak tersentuh seperti itu. Khasya menenangkan suaminya..


"Mas ... jangan pasang muka begitu ah,"


"Muka apa yang mesti aku pasang?" tanya Herman kesal.


"Mereka semua pebisnis, muka mereka saja lebih arogan dari pada aku!" lanjutnya kesal.


Khasya menghela napas panjang. Ketika bekerja pertama kali dengan pria yang kini menjadi suaminya, ia sendiri mengaku takut. Terlebih pria itu begitu tegas..


"Ayah ... Kak Daud masa nggak ngasih Ras makan ini coba!" adu Rasya merengek.


"Baby!" peringat Herman.


Andoro dan Remario langsung jatuh hati mendengar suara lembut Herman, dua pria yang tak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah, kini mereka melihat dari sosok Herman.


"Daud bilang jangan kebanyakan Ayah. Katanya jarinya suka kesemutan!" sahut Daud.


"Apa itu bahaya?" tanya Herman langsung khawatir.


"Ayah, Rasya kan patung. Jadi jangan khawatir," sindir Daud pada adiknya itu.


"Jangan kau sindir saudaramu!" peringat Rion.


"Ayah!" Daud langsung berlindung pada Herman.


"Baby," keluh Herman..


Rion mencebik, pria itu pun menyingkirkan Daud dari balik tubuh Herman. Pria itu melarang Rion melakukan itu, ia memeluk Daud, Rasya dan Rion. Mengecup mereka dengan penuh kasih sayang.


"Ayah ... aku juga mau disayang," pinta Remario tiba-tiba.


Bersambung.


Weleh ... mafia aja harus tunduk sama Herman.

__ADS_1


Next?


__ADS_2