SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BERITA


__ADS_3

"Aku mencintai Sashi," ujar Rodrigo lagi dengan suara lirih.


"Setelah kau meminta dibawakan perempuan, kau jatuh cinta padanya?" tanya Virgou sampai berkacak pinggang.


"Kau harus cepat mengubur perasaanmu Andriano!" tekannya lagi. "Karena kau telah mencoreng namamu sendiri!"


"Dari mana Tuan tau aku ...."


"Ck ... kau pikir tingkahmu selama ini tidak disorot oleh media?" sahut Virgou menggeleng.


Gomesh memilih membawa Firman keluar dari ruangan itu. Bayi tampan itu terlelap di dada besar raksasa yang mendekapnya penuh kasih sayang.


Di kamar Rodrigo terdiam. Perkataan Virgou menohok jantungnya. Begitu sakit hingga ia menekan dalam-dalam dadanya.


"Uuhhh!" keluhnya sampai keningnya berkerut menahan sakit.


"Tuan ...," Norman begitu takut.


"Saya panggilkan dokter!" ujarnya.


Rodrigo menahan laju asisten pribadinya. Ia menggeleng, kini ia paham rasa sakit yang diterimanya saat ini.


"Maaf aku harus mengatakan sebenarnya Rodrigo Andriano. Kau sudah menghancurkan reputasimu sendiri di depan Sashi," ujar Virgou membuat Rodrigo menutup matanya.


Pria sejuta pesona itu menghela napas. Ia juga dulu sama berengseknya dengan Rodrigo. Namun hanya ada tiga wanita yang ia ajak ke ranjang, Firsha, Selena dan istrinya.


"Aku memang bermain dengan mereka secara oral Tuan," aku Rodrigo. "Aku tak pernah menebar benihku kemana-mana."


Virgou tersenyum miring. Ia menggeleng, Sashi bukan Puspita yang gampang luluh karena pesona pria tampan. Virgou sangat mengenal perempuan seperti apa. Sashi semodel dengan Terra yang super dingin terhadap lawan jenis kecuali terhadap suaminya.


Virgou memilih keluar ruangan meninggalkan Rodrigo yang patah hati. Pria itu menangis sepeninggalan Virgou hingga membuat asistennya panik.


Sashi masih menunggu hasil ibunya. Pria itu menatap betapa Sashi butuh seseorang yang menguatkannya.


"Sashi!" panggilnya dengan suara tegas.


Gadis itu mendongak, ada genangan air di pelupuk mata gadis cantik itu.


"Jika kau baik hati. Buka hatimu, ada pria yang hebat menaruh rasa padamu," ujar Virgou.


Sashi mengernyitkan keningnya. Virgou tak berkata apa-apa lagi. Pria itu harus segera pulang, ia cukup lama di rumah sakit membawa Firman. Gomesh menunggunya.


"Tuan, ada kabar buruk," ujar Gomesh setengah berbisik.


"Nanti saja Gom," sahut Virgou.


Gomesh mengikuti tuannya. Pria raksasa itu memang tak mau lepas dari Virgou kemanapun pria sejuta pesona itu pergi.


Sementara itu dokter keluar dari ruangan. Sashi langsung berdiri dan menanyakan keadaan ibunya.


"Dok?"


Sebuah gelengan lemah tercipta. Dokter tak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


"Kemoterapinya gagal Nona," ucapnya lirih.


Sashi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Gadis itu diminta masuk. Sosok kurus berbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.


"Ma," panggilnya lirih.


Sang wanita menoleh, sebuah senyum terbit dari bibirnya yang keriput.


"Nak, kemari sayang," pintanya lembut dan lirih.


Sashi mendekat, ia begitu takut menyentuh kulit pembungkus tulang itu. Ayahnya lebih dulu berpulang tiga tahun lalu, kini sang ibu tengah bertarung melawan maut.


"Sayang, kau cantik sekali," puji Lina mengusap pipi mulus anak gadisnya.


"Mama, istirahat ya. Biar cepet sembuh," pinta Sashi lirih.


Lina menggeleng, ia merasa waktunya tak lama lagi. Wanita itu menatap lama putri satu-satunya itu. Sashi mengorbankan banyak untuknya.


"Mama ingin kau segera menikah Nak," ujar sang ibu.


"Mama sembuh dulu, baru Sashi nikah ya," ujar Sashi meyakinkan sang ibu.


"Tidak, Mama mau kau bawa kekasihmu ke sini dan menikah di depan Mama!" ujar Lina lalu membuang muka.


"Ma ...," panggil Sashi lirih.


"Mama kan tau, Sashi jomlo ... hiks!" isak gadis itu.


Tiiit ... tiiit! Bunyi monitor membuat Sashi terkejut bukan main. Para dokter langsung menangani pasien.


Sashi menutup mulutnya lagi dengan kedua tangannya. Gadis itu menangis, para perawat menggiringnya keluar ruangan.


"Maaf Nona, jika sudah tenang. Baru anda boleh menemani ibu anda," ujar salah satu perawat.


Sashi kembali duduk, bahunya terguncang. Rodrigo keluar ruangan, ia merasa lebih baik walau hatinya hancur berkeping-keping.


"Sashi?" panggilnya lirih.


Melihat gadis yang mencuri hatinya itu menangis membuat Rodrigo mendekatinya. Pria itu bersimpuh di hadapan Sashi yang menangis dengan menutup mukanya dengan tangan.


"Sashi?" panggil Rodrigo lagi.


Sashi yang memang butuh pegangan dan dada bidang untuk menumpahkan semua tangisannya. Tiba-tiba memeluk Rodrigo dan menangis di dada pria itu.


"Tidak apa-apa, menangis lah," ujar pria itu lirih.


Norman memilih ke ruang administrasi untuk membayar tagihan rumah sakit bersama dua pengawal atasannya.


"Tenanglah sayang," ujar Rodrigo mengurai pelukan dan mengusap air mata gadis itu.


"Ingusku nempel di kemejamu ... huuuwwaa!" tunjuk Sashi pada lendir yang membentuk panjang dari hidung dan kemeja Rodrigo.


Pria beriris hijau itu tertawa lirih. Ia tak jijik sama sekali dengan ingus yang membentang antara hidung gadis yang ia cintai dan kemejanya.

__ADS_1


"Sashi ... aku harus pulang," ujarnya.


Sepasang manik hitam menatapnya dengan genangan di pelupuk matanya. Sangat indah dan mampu menenggelamkan Rodrigo dalam pandangan itu.


"Apa kau tidak mau mengajakku?" tanya Sashi lirih.


Rodrigo terhenyak, ia meyakini jika Sashi sedang kalut dan tak serius dengan ucapannya. Pria itu menebalkan keberaniannya dengan mengecup mesra kening gadis itu.


"I love you," ujarnya lirih.


Rodrigo berdiri, Sashi masih setia menatapnya. Sekali lagi Rodrigo mengecup kening gadis itu perlahan.


Dengan tergesa, pria itu berbalik dan melangkah lebar. Sashi meraba dadanya yang berdebar ketika pria itu meninggalkannya.


"Kita menikah yuk!" teriak gadis itu.


Rodrigo berhenti dan menoleh. Rona merah menjalar di pipi sang gadis. Pria itu mendekatinya dengan langkah gusar.


"Katakan lagi?" pintanya penuh dengan tekanan.


"Kita menikah," cicit Sashi menjawab permintaan Rodrigo.


"Kau tau Sashi, jika aku maju. Aku tak akan menyurutkan langkahku sejengkal pun!" sahut pria itu sangat tegas.


"Katakan sekali lagi!" lanjutnya.


Manik hijau itu menatap tegas pupil hitam di depannya. Sashi hanya mengingat perkataan Virgou barusan, jika ada pria hebat yang mampu mencintainya secara tulus. Sashi mendapatkannya di mata Rodrigo.


"Menikahlah denganku," pinta gadis itu dengan bibir bergetar.


Rodrigo langsung mencium bibir gadis itu kasar. Netra Sashi melebar, ciuman pertamanya. Perlahan ciuman itu melembut dan membuat Sashi membalas pagutan indah itu.


Sementara di mansion Virgou. Arfhan menatap layar datar yang menampilkan wajah pamannya.


"Jaga keponakanmu Ya Dek, maaf Paman tak bisa menjadi paman yang hebat buat kamu dan ayah yang sempurna buat Della, Firman dan Alia. Katakan pada mereka jika Paman sangat-sangat mencintai mereka ...."


Sebuah tembakan terdengar di mana-mana, Jono dan tujuh temannya gugur sebagai pahlawan di negara itu.


"Apan ... Papak udah eundat lada ladhi ya?" tanya Della lirih.


Semua menahan isak, Virgou memeluk keempat anak kecil yang baru saja kehilangan lagi orang tuanya. Firman yang baru bangun dari obat bius hanya bingung dengan semua yang menangis.


"Daddy ... pa'a yan seulsadhi?" tanyanya lirih.


"Ada berita duka Baby, papamu gugur di Medan perang," jawab Virgou jujur.


Firman terdiam, di layar ia menatap senyum ayahnya yang melambai sebelum mengangkat senjata. Sebuah bom meledak di dekat area mereka, semua tewas dengan tubuh bercerai-berai.


Bersambung.


Innalilahi wa innailaihi radjiun.


😭😭😭😭😭

__ADS_1


next?


__ADS_2