SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
JALAN-JALAN SERU


__ADS_3

Pagi hari semua anak heboh, mereka semua menginap di hotel. Bram sudah menyewa tiga blok kamar dengan fasilitas president's room.


Tak ada yang memarahi Kean karena berhasil membawa semua saudaranya mendapatkan bingkisan itu.


"Yang mereka ambil hanya kadonya. Dari dulu kan begitu," ujar Seruni membela anak-anak.


"Untung aku siapkan lebih untuk semua anak-anak," ujar Frans lega.


"Sepertinya kita harus membungkus lebih jika ada antrian untuk bingkisan anak yatim-piatu," sahut Bram.


Semua mengangguk setuju. Memang hanya bingkisan yang berisi mainan saja yang diambil, sedang makanannya diberikan pada orang lain seperti cleaning servis.


Para remaja memutuskan untuk jalan-jalan. Walau tidak disertai Nai dan Arimbi karena mereka berdua telah menikah dan bersuami.


"Kita jalan-jalan yuk!" ajak Kean.


"Yuk lah!" sahut Zheinra.


"Bosen juga kalo diem doang," lanjutnya.


Kean sebagai pemimpin, remaja itu memang banyak akal untuk mengecoh para bodyguard. Kini mereka semua ada di depan lobby hotel.


"Kita jalan kaki aja ke luar," ajaknya.


Mereka bergerombol, anak laki-laki menggandeng anak perempuan. Kean menggandeng Kaila dan Dewi. Sedang Sean menggandeng Maisya, Zheinra digandeng Al dan Devina digandeng oleh Setya. Rasya dan Rasyid menggandeng Satrio.


Ketampanan dan kecantikan mereka jadi pusat perhatian. Terlebih mata biru Kean, Cal dan Kaila. Ketiganya menjadi sorotan dan godaan semua orang yang berpapasan dengannya.


"Halo bule ... mau dong digandeng!" goda seorang wanita berpakaian baju olahraga.


"Uh ... matanya biru!"


"Kadang ijo mba kalo liat duit!" sahut Kean usil.


"Ih ... bisa bahasa Indonesia!" seru semua gadis takjub.


Al, Daud, Sean dan lainnya memutar mata malas. Kean memang beda sendiri, remaja itu masih seperti para perusuh paling junior. Siapa sangka anak mafia terkenal bisa sepolos Kean.


"Kak ... beliin bando!" pekik Kaila melihat bando kelinci.


"Boleh," sahut Daud.


"Aku mau Kak!" sahut Zheinra.


Semua anak gadis dibelikan bando, mereka memilih duduk di sebuah tenda pinggir jalan yang menyajikan sarapan.


"Ada nasi kuning, Bu?" tanya Kean.


"Ada Mister, nasi uduk sama nasi pecel juga ada!" jawab penjual itu.


Satrio memilih nasi pecel, Kean nasi kuning sedang yang lain memilih menu mereka masing-masing.


"Mau pake perkedel sama telur mata sapi ya!" pinta Kean.


"Sambel kasih nggak?" tanya penjual.


"Kasih dong!" seru semua remaja antusias.


Beberapa gadis mengambil gambar semua remaja laki-laki secara candid. Mereka dikejutkan dengan beberapa pengawal yang meminta para pengambil gambar itu.


"Hapus fotonya atau saya riset ponsel anda!" ancam Rio.


Dengan terpaksa para gadis pengagum dadakan itu menghapus foto yang mereka ambil, itu pun masih diperiksa secara teliti oleh para pengawal yang mengikuti secara diam-diam.

__ADS_1


Usia sarapan, Kean membayar semua makanan.


"Wah ... makasih Kak Kean!" seru semua adiknya.


"Sama-sama!" sahut remaja itu tersenyum lebar.


"Udah turun nasinya?" semua mengangguk.


"Ayo jalan lagi!" ajaknya.


Semua bergerak. Nyaris semua penjual makanan disambangi oleh semua remaja. Pergerakan pengawal yang memakai baju hitam-hitam sangat kerepotan dengan ulah para remaja.


"Kak, kenyang," ujar Devina mengelus perutnya.


Di tangannya masih ada es krim. Kean menyuruh menghabiskan makanan yang ia ambil.


"Jangan buang-buang makanan!" peringatnya.


"Sini aku abisin!" Setya mengambil es krim saudaranya dan menghabiskannya.


Usai puas jalan-jalan di sekitar hotel. Para remaja pun memilih kembali, mereka mengobrol sambil tertawa-tawa.


"Kak itu kenapa?" Kaila menunjuk seseorang.


Kean melihat apa yang ditunjuk oleh Kaila. Tampak di sana seorang pria berusia dua puluhan tengah cengar-cengir, tangan pria itu masuk ke dalam celana lalu membukanya hingga, beberapa pengawal menutup pemandangan Kean.


"Kak?" tanya Kaila.


"Nggak tau ngapain Baby," jawab Kean tak acuh.


"Yuk ah ... biarin aja dia," Kean menggandeng tangan sang adik.


Mereka pun sampai di lobby, Virgou sudah di sana dengan tangan dilipat di dada.


"Kenapa pergi nggak ajak-ajak?" dengkus pria sejuta pesona itu.


"Habis kan kita mau jalan-jalan, real jalan-jalan Daddy," jawab Kean.


Virgou akhirnya menghela napas panjang. Kini semua orang hendak cek out dari hotel. Rio membisikkan sesuatu pada Budiman.


"Kau yakin mereka tak melihat pelaku eksibisionis itu?" desisnya kesal.


"Yakin Ketua, ketika pria itu membuka kancing celananya, kami langsung menutupi pemandangan para Babies!" lapor Rio.


Budiman mengelus dada. Akan panjang ceritanya jika semua anak polos ini melihat apa yang dilakukan oleh pria pelaku penyimpangan itu.


"Daddy Ila dibeliin bando kelinci dong!" lapor Kaila senang.


"Ata'Tean mah lilih tasyih!' cebik Aaima.


"Biya pita eundat pipeuliin!" sungut Maryam dengan bibir maju dan pipi menggembung.


Kean menggosok tengkuknya, ia lupa dengan semua bayi perempuan.


"Kalo gitu ayo Daddy yang beliin!' ajak Gabe.


"Holeee!"


"Api ... tuh boy ... boy ndat ate dando!" seru Arsh tak setuju.


"Ada topeng hero loh!" ujar Kean mengingat.


"Ayo!" ajak Gabe.

__ADS_1


Mereka menaiki mobil. Jarak yang hanya beberapa ratus meter saja dari hotel tentu tak membuat perjalanan lama. Area langsung disterilkan oleh para pengawal.


Semua turun, para bayi didorong di kereta mereka.


"Mama ses lim!" pekik Alia.


"Baby Yiyah mau es krim?" tanya Arfhan.


"Au!" angguk Alia.


Arfhan merogoh saku celananya. Bocah itu kemarin malam mendapat saweran banyak dari semua orang tua. Ia segera membelikan tiga es krim untuk tiga adiknya.


"Jangan banyak-banyak makan es krim baby," peringat Khasya.


"Iya Bunda," ujar Arfhan.


Semua bayi makan satu es krim, mereka hanya mencicipi saja. Sisanya Arfhan yang makan.


"Duh sakit," keluh bocah itu ketika menelan.


"Minum air hangat sayang," suruh Saf lalu menyodorkan teh hangat pada Arfhan.


"Makasih Uma!"


"Sama-sama,"


Selesai membeli bando dan topeng pahlawan, semua pun kembali ke mobil dan bergerak pulang ke hunian Bram. Mereka akan menginap di sana sampai minggu.


"Kita hancurkan Mansion Kakek!" seru Kean semangat.


"Katanya rumput kakek baru dibenerin. Masa kita rusakin lagi?" tolak Benua tak enak hati.


"Main di halaman depan aja!" usul Sean.


"Iya ada garisnya jadi kita tinggal pake patok aja biar nggak salah!" sambung Al.


"Nggak apa-apa kok kalo kalian main di halaman belakang," sahut Bram.


"Bener Kek?" tanya semua perusuh dengan mata membulat.


"Tentu!" sahut Bram tersenyum.


"Asik! Makasih Kek!" seru semua anak-anak.


Benar saja, rumput yang baru saja dipugar dengan harga menyentuh seratus juta kembali dirusak. Kean dengan semangat menoreh garis lurus membuat petakan.


"Kita main gobak sodor!" serunya girang.


"Wah, Bung Arsyad. Apa kita perlu jadi komentator lagi?" tanya Sean.


"Atuh saza yan sadhi pomensantol Ata'!" unjuk Azha.


"Atuh judha mawu!' sahut Arsyad.


"Oteh!" angguk Sean setuju.


Bersambung.


Maaf Readers ... othor hanya satu kali ini ...


ba bowu 😍


next?

__ADS_1


__ADS_2