SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERESMIAN RUMAH SAKIT NAISYA


__ADS_3

Azizah sudah sembuh dari lukanya. Bahkan jahitannya sudah dibuka. Hanya meninggalkan bekas panjang di kaki mulus gadis itu.


Kini ia sudah kembali bekerja tanpa ada keluhan. Istri Dahlan diperkenalkan pada seluruh keluarga, keduanya kini tengah mengurus agar pernikahan mereka tercatat di negara.


"Selamat ya Om, nggak nyangka tiba-tiba udah nikah," ujar Satrio.


"Makasih Tuan Muda!" sahut Dahlan.


Rahma membawakan makanan bolu kukus yang ia buat sendiri. Makanan itu jadi rebutan para perusuh dan remaja.


"Tante ... mestinya rada banyak buatnya!" keluh Rasya yang hanya kebagian satu bolu.


"Duh ... jangan panggil Tante dong," pinta wanita itu.


"Habis panggil apa?" tanya Kaila sambil mengunyah bolu.


Rahma terkekeh melihat kelakuan gadis cantik itu. Ia mengusap remahan bolu yang mengotori pinggiran bibir Kaila.


"Panggil ibu atau bunda juga boleh," jawabnya.


"Gimana kalau panggil Emak aja!" sahut Dimas memberi usul.


"Boleh juga, trus Om Dahlan kita panggil Bapak!" saran Dewa antusias.


"Emat pan bapat!" sahut Harun mengangguk setuju.


Rahma yang memang suka anak kecil karena ia adalah seorang guru di sekolah khusus anak-anak jalanan. Ia adalah guru honorer di sebuah sekolah dasar negeri yang ada di bantaran kali. Wanita itu sudah mengabdi selama ia enam tahun di sekolah yang hanya ada lima guru, salah satunya menjabat kepala sekolah.


Para perusuh dan anak-anak lainnya sudah langsung lengket dengan Rahma. Wanita itu memiliki permainan yang membuat semua anak berpikir. Terra menyukai cara Rahma mengajak anak-anak bermain.


"Kau pintar sekali cari istri kak," pujinya pada Dahlan.


"Saya yang beruntung mendapatkan dia, nona!" sahut pria itu.


"Emat ... Alun bunya beulpanaan!" sahut bayi tampan itu.


Harun tentu tak mau ia ditanya terus menerus. Ia juga pintar dan bisa membuat pertanyaan sulit yang tak mungkin bisa dijawab oleh wanita yang baru ia kenal itu.


"Tanya apa baby?"


"Jita Alun binta mama peulmen pima ... pati mama palah tasyih Alun tidha. Pa'a tah Mama meulandal hutum?" tanya bayi itu.


Terra membelalak sempurna, ia tak pernah memberikan bayinya kurang dari apa yang diminta.

__ADS_1


"Interupsi Mak!" sahutnya tak terima.


"Mama enggak pernah ngasih baby kurang dari yang baby minta!" lanjutnya protes.


"Mama ... imi banya beultanaan ..


butan peunelan!" sahut Harun membela diri.


"Biya mama imi ... pasa eundat pisa beulpedaan antala peunelan pan bolonan!" sela Bariana sambil menggeleng.


"Payo mat ... pa'a mama pidat apil?" tanya Bariana sok tau.


Rahma terkekeh, ia merasa geli dengan percakapan para bayi yang memaksa bicara.


"Baby, tidak adil itu jika mama tidak rata dalam memberikan kue," jelas Rahma.


"Nah, kalau pertanyaan Baby Harun. Mama tidak melanggar hukum sama sekali. Bahkan mestinya mama tidak memberi Harun permen," jelas wanita itu.


"Pana pisa beudithu!" sahut Azha tak terima.


"Beustina wowan ipu jita eundat mamanat halus tena hutuman!" lanjutnya berapi-api.


"Baby permen itu kan tidak baik untuk kesehatan gigi!?" Sahut Rahma.


Rahma tertawa. Wanita itu mengaku kalah dengan bayi dua tahun itu. Tentu saja permen hanya boleh untuk Harun, Azha, Arion, Arraya dan juga Bariana, tapi tidak untuk adik-adiknya yang belum satu tahun.


Satu minggu berlalu dengan cepat. Peresmian rumah sakit milik Nai sedang diselenggarakan. Banyak wartawan kembali berkumpul dan mulai menghitung kekayaan empat keluarga pebisnis ternama itu.


"Setengah tahun lalu, rumah sakit milik Nona Arimbi dibuka secara umum. Rumah sakit mewah dan fasilitas yang lengkap, kini rumah sakit milik Nona Naisya Pratama juga tak kalah mewahnya!" ujar wartawan memuji.


"Kira-kira kekayaan Tuan Dougher Young, Tuan Pratama, Tuan Triatmodjo dan juga Tuan Starlight itu apa bisa membayar hutang negara ya?" seloroh salah satu wartawan.


Gunting pita telah dilakukan rumah sakit dengan nama Mitra Sehat Ibu dan Anak Medika. Konsep sama dilakukan rumah sakit ini, mendahulukan yang sakit tanpa memandang status pasien. Semua diperlakukan sama. Nai sendiri yang menggelar sumpah pada seluruh staf rumah sakit termasuk perawat dan dokter yang bekerja.


"Kami bersumpah untuk melayani kaum lemah!" sahut semuanya berikrar.


Bahkan semuanya menandatangani surat perjanjian. Jika melanggar, jaminannya adalah jabatan dan gelar mereka.


Rumah sakit penuh dengan ibu-ibu hamil. Kematian bagi para wanita yang tengah mengandung itu memang masih sangat tinggi apa lagi kasus kematian ibu yang melahirkan.


Berdasarkan data Sampling Registration System (SRS), sekitar 76% kematian ibu terjadi di fase persalinan dan pasca persalinan dengan proporsi 24% terjadi saat hamil, 36% saat persalinan dan 40% pasca persalinan. Kemungkinan, kasus itu makin banyak, dibuktikan banyaknya penanganan ibu pendarahan usai melahirkan dan berujung pada kematiannya.


Umumnya, perdarahan ini disebabkan oleh otot rahim yang lemas (atonia uteri), tapi bisa juga karena retensi plasenta, luka robek pada rahim, leher rahim, atau vag.ina, serta gangguan pembekuan darah. Nai juga menerapkan Family's support agar ibu yang melahirkan merasa didukung dan diberi kasih sayang penuh. Nai juga memberikan penenangan traumatik pada ibu kepada para ahli.

__ADS_1


Terobosan-terobosan Nai menjadi sorotan dunia medis. Gadis yang baru saja menginjak tujuh belas tahun itu sangat memperhatikan ibu hamil.


"Ibu saya banyak dan suka sekali hamil, jadi saya ingin semua wanita merasa tidak takut untuk hamil dan melahirkan, karena rumah sakit ini insyaallah menangani semua kasus kehamilan tanpa memandang kenapa ibu itu hamil!" tekannya.


Semua orang tua begitu bangga akan kecerdasan semua keturunannya.


"Mereka cepat sekali besar ya?" sahut Kanya haru.


Bram juga haru, ia mencium Bart yang mendirikan rumah sakit untuk ketiga cucunya.


"Makasih dad, aku tak menyangka kau sekaya itu," kekehnya setengah meledek.


Bart berdecak kesal pada pria itu. Herman mengangguk setuju dengan perkataan besannya.


"Dad, pinjami aku uang dong!?" ujar Herman usil.


"Apa perlu kau kupukul Herman!?" ancam pria itu kesal.


"Oh ayolah dad. Anakku banyak dan mereka akan menikah semuanya. Kau bisa bayangkan Dua puluh dua putriku menikah secara beruntun?!" sahut Herman.


Bart terdiam, ia juga berpikir berapa uang yang akan dihabiskan Herman untuk menyelenggarakan pesta pernikahan seluruh putrinya. Belum lagi tujuh belas putranya, walau semua sudah sukses, tapi Herman tentu tak berpangku tangan membiarkan putranya mengeluarkan uang sendirian.


"Kau benar juga, memang kau butuh berapa?" tanya Bart.


Haidar memutar mata malas. Kakek mertuanya itu memang sedikit polos. Herman hanya termangu tak menyangka jika keusilannya dianggap serius oleh pria gaek itu.


"Aku hanya bercanda Dad!" ujar pria itu pada akhirnya.


Bart memukuli lengan Herman dan membuat Aaima memarahinya.


"Penpa .. nan putul Yayah!"


"Hai bayi kau mau menantangku?!" sahut Bart gemas.


Aaima diambil dari gendongan Jac. Bayi itu disembur perutnya hingga tergelak dan minta ampun.


bersambung.


selamat ya Nai!


readers maaf hanya satu up ... makasih ba bowu ❤️😍😍


next?

__ADS_1


__ADS_2