
Satrio membelokkan mobil ke arah selatan. Pemuda itu sangat tau mau kemana mereka. Kean sangat percaya jika adik misannya itu.
"Kita lewat jalur yang tak pernah disangka semua orang!" ujarnya menyeringai.
Mobil bergerak perlahan. Ketika memasuki area yang sedikit sunyi, tiba-tiba sebuah mobil menghentikan laju mereka.
"Astagfirullah!' pekik semua kaget.
"Berengsek!" pekik Kean marah.
"Eh ... Papa Baby?" Sean melihat siapa yang turun dari mobil yang memotong jalur mereka.
"Papa!" Kean membuka pintu.
Pemuda itu langsung berlari memeluk yang semestinya jadi pamannya itu.
"Papa kok tau Kean ada di sini?" tanyanya dengan binaran mata bahagia.
"Tentu saja tau, walau bravesmart ponsel nggak sampai bisa tau pergerakan mendadak kalian!" jawab Rion menjelaskan.
Kean tersenyum bangga. Pemuda itu cukup terkejut dengan adanya Azizah.
"Mama ... kok ikut?"
'Babynya pengen sayang," jawab wanita itu enteng.
Akhirnya mereka masuk. Sedangkan Terra masih memacu motornya. Della memekik kesenangan karena wajahnya disapu oleh angin. Terra lupa jika putri angkat Virgou itu tak memakai kacamata untuk melindungi dirinya.
"Mama ... peyih Ma!"
"Astagfirullah!' Terra memelankan laju motornya.
Gara-gara itu pergerakannya tertangkap oleh Bart. Pria itu menjewer keras telinga cucu kesayangannya.
"Kau bawa bayi!" Bayi!"
"Penpa ... huwwaaaa!' Della menangis melihat ibunya disakiti.
Haidar menatap garang sang istri. Ia benar-benar marah. Della diambil alih oleh Budiman. Sedang motor yang dikendarai Terra diambil alih oleh Gio.
"Masuk!' tekan Haidar.
Terra menurut, wanita itu diam sepanjang perjalanan. Akibat sangat penasaran dengan kakak sepupunya. Ia jadi kena getahnya.
"Ini karena Kak Virgou Grandpa .. Te kan jadi penasaran, bener kan Baby?" Della mengangguk membenarkan.
"Aku tidak menyuruhmu bicara Terra!" sentak Bart benar-benar marah.
"Bawa mereka pulang dulu. Biar Herman yang menangani mereka!" perintahnya pada Budiman.
"Grandpa ... Baby besar kita juga sudah menyusul Babies lainnya," ujar Budiman setengah berbisik.
"Sialan ... benar-benar anak sialan!' maki Bart benar-benar kesal.
Mereka diam, hanya butuh lima belas menit mereka sampai. Bram, Herman dan Kanya sudah ada di depan pintu dengan tangan dilipat di dada. Terra menelan saliva kasar. Ia melirik Della.
"Jangan bawa putriku pada kemarahan Ayah, Papa dan Mama!" tolak Haidar lalu menarik Della dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mas ...," rengek Terra.
Haidar membuang muka, ia benar-benar kesal. Mestinya ia ikut andil diajak serta.
Terra turun dengan kepala tertunduk. Herman yang benar-benar kesal lalu menarik tangan keponakannya itu.
"Ayah jangan marahin Mama ... huwwaaa!" tangisan anak-anak membuat Herman menghentikan langkahnya.
Rasya, Rasyid dan anak-anak lainnya menangis. Mereka sangat tau jika Herman begitu marah.
'Ayah ...," Khasya menenangkan suaminya.
"Dia anak kita. Baik dan buruknya karena ajaran kita," lanjut wanita itu menasihati.
"Della yan inin itut peundili Yayah!' sahut Della memberi pembelaan pada perempuan kesayangannya itu.
Puspita langsung mengambil alih Della. Ia sampai menangis memikirkan putrinya. Tetapi, ia yakin jika Terra tak akan membuat putrinya itu celaka.
Herman memeluk Terra, ia sebenarnya sangat takut terjadi apa-apa pada keponakan kesayangannya itu.
"Aku bisa mati jika kau kenapa-kenapa Nak ... aku bisa mati!"
"Maaf ayah ... maaf ... hiks ... hiks!'
Sementara di markas mafia milik Virgou Rion, istri dan enam adiknya turun. Semua anak buah membungkuk hormat atas kedatangan mereka semua.
"Tuan DeathAngel, ShadowAngel selamat datang!' seru Leo dan semua anak buah membungkuk hormat.
Mereka masuk menuju ruang kerja Virgou. Sean sangat antusias dengan grafik yang ada di dinding.
"Leo, apa ada pergerakan mencurigakan hari ini?" tanya Rion lalu duduk di kursi kebesaran ayahnya.
"Ganja?" tanya Kean seperti baru mendengar nama itu.
"Apa itu?' Satrio melongo.
"Nggak tau ganja?" tanyanya benar-benar tak percaya.
"Oh daun buat mabok itu kan?!' sahut Kean baru ingat.
Rion menghela napas panjang. Kean seperti bocah seusia Samudera bahkan bisa seusia Aarick.
"Banyak belajar Baby, Daddy itu mafia," ujar Rion.
Azizah sangat antusias memegang komputer di depannya. Ia memasukkan banyak pengaman data di dalam tanpa chip. Data yang bisa berganti peran bahkan bisa menghilang jika terdeteksi.
"Mas Baby ... ada pergerakan di lorong B! Sepertinya ada yang menyusup?" seru Azizah menunjuk layar komputer.
Rion tersenyum ketika melihat hal itu. Ia meminta istrinya untuk pergi.
"Biar Mas yang buat mereka lari!" ujarnya menyeringai.
Beberapa orang penyusup adalah pemasok senjata ilegal. Mereka membuat gorong-gorong baru untuk pergerakan mereka. Semua kawasan memang dikuasai oleh tiga klan terkuat, Black Angel, The Titan dan juga Exterminator.
Semua jalur dipasang alarm hingga mampu mendeteksi penyusup-penyusup ilegal.
'Mereka menuju klan The Titan!" seru Azizah.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita beri signal pada The Titan jika ada orang yang hendak berkhianat dengan menyusupkan senjata-senjata itu?"
"Pencet belnya Papa!' seru Calvin antusias.
Rion memencet bel. Tampak kepanikan terjadi.
"Leo ... jaga ketat gerbang dan semua bangunan agar tak ada yang merangsek masuk!" titah Satrio langsung.
'Baik Tuan ShadowAngel!'
Pria itu langsung melakukan pekerjaan yang diperintahkan. Benar saja, tak lama adu tembak terjadi. Semua saling serang, gorong-gorong dibom oleh ketua The Titan. Giant Almero, pria kebangsaan Itali-Slovaskia membumihanguskan gorong-gorong itu dan membinasakan seratus orang di dalamnya.
"Kejam sekali!' ujar Azizah bergidik lalu mengusap perutnya.
"Kamu jangan gitu ya Baby," lanjutnya lembut.
Kean memutar mata malas. Data yang dimasukkan Azizah pada komputer jauh lebih jahat dibanding memusnahkan para mafia kroco itu.
"Papa ... laper Papa," ujar Al yang mengelus perutnya.
"Iya ... tadi cuma makan nasi goreng," sahut Cal.
"Biar Mama Baby yang masak!' ujar Azizah langsung bergerak.
Di dalam markas tentu tenang dan damai. Tidak seperti yang ada di luar. Begitu mencekam terlebih Giant Almero langsung melakukan sweeping area dengan anak-anak buah yang bersenjatakan laras panjang.
Virgou memasuki gerbang mafia melului depan. Ia disambut dengan beberapa tembakan. Pria itu hampir saja terkena jika saja ia tak langsung berlindung di balik pilar.
"Bangsat!' makinya.
Tak lama Gio datang bersama yang lainnya. Pria itu langsung melindungi Virgou.
"Leo! Aku terjebak di gerbang depan!' Virgou menelepon pengganti Krenz yang tewas terbunuh.
Beberapa anak buah datang dan membantu ketua mereka masuk ke dalam markas.
"Babies!" teriak Virgou pada semua anaknya.
"Daddy masuk Daddy. Mama Baby masak buat kita!' sambut Kean tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Virgou mendumal panjang pendek. Semua anak diam tak menanggapi bahkan mereka menebalkan telinga mereka.
"Daddy, ayo makan!" ajak Azizah dengan perut besarnya..
Virgou mau menangis melihatnya. Tetapi melihat wajah semua anaknya bahagia, ia jadi urung marah.
"Enak nggak Daddy?" tanya Azizah dengan nada manja.
"Enak sayang ...," jawab pria sejuta pesona itu melunak.
Semua bernapas lega. Selama Virgou ada di pihak mereka. Maka mereka aman dari amukan ayah yang paling mereka takuti.
Drrrt ... drrrt ... drrrt ... ponsel Azizah berbunyi. Wanita itu mengangkatnua dengan tenang.
"Assalamualaikum Ayah ... Azizah ada di markas mafia dong!" ujarnya memberitahu.
Bersambung.
__ADS_1
Halah tepok jidat deh.
Next?