
Arsh tengah menikmati kudapan yang dibuat oleh Seruni. Bayi itu duduk sambil memperlihatkan perutnya yang bundar. Pipinya mengembung karena sibuk mengunyah.
"Alsh ... tamuh matan pa'a?" tanya Firman kemudian duduk di sebelah bayi tampan itu.
"Nih tan ninih!" jawab Arsh menunjuk pangsit rebus isi bayam dan daging cincang.
Seruni memang mengembangkan kudapan yang ia buat khusus anak yang sudah mengkonsumsi pendamping ASI. Wanita itu banyak belajar pada Safitri, adik iparnya.
"Ata' soba!" tawarnya.
Firman mencoba makanan itu, ia mengangguk puas.
"Lasana pas, enat. Masatna eundat voveltut!" review Firman pada makanan yang dipegangnya.
"Nat Ata' ... asatan Amih nat!" angguk Arsh setuju.
"Pati Ata' eundat teulalu suta sayun," ujar Firman.
"Sayuna teupanyatan!" lanjutnya.
Ari datang menyambangi, ia melihat saudaranya sedang memakan kudapan. Ia ikut duduk dan langsung mengambil makanan itu.
"Enat tot ... sayuna bas!" sahut Ari ikut mengomentari makanan yang ia makan.
"Sayun hayus peubih banyat pupaya pita binten!' lanjutnya.
"Pati tan eundat pemua anat suta pama sayun!" sahut Firman.
Arsh yang mendengar percakapan keduanya hanya menoleh ke kiri dan ke kanan, karena Ari ada di sebelah kanannya dan Firman di sebelah kirinya.
"Soba pita peulpanya syama yan peubih pahu!" saran Ari.
"Talo pita beulpanya syama Mama, basti pisyuluh matan sayun banyat!" sahut Firman yang diikuti tolehan kepala Arsh yang melihatnya.
Arsh merasa pusing kepalanya karena selalu menoleh kanan dan kiri. Bayi tampan itu nampak kesal.
"Piam!" pekiknya sambil memegang kepalanya.
Ari dan Firman terdiam. Arsh turun dari kursi dan menghadap dua kakaknya itu.
"Sewewet ... Alsh supin au!" protesnya kesal.
"Bohon baaf Paypi," pinta Ari menyesal.
Arsh menghela napas panjang. Tentu ia tak akan bisa marah. Bayi itu menyuruh Ari duduk bersebelahan dengan Firman agar ia tak selalu menoleh ke kanan atau ke kiri.
"Ata' Li udut nih ... Ata'Man dut nih!"
Ari menurut, ia pun pindah duduk bersebelahan dengan Firman dan melanjutkan perdebatan mereka. Najwa, Lastri dan Luisa tersenyum lebar melihat tingkah para bayi yang begitu menggemaskan.
"Mama Paypi Iyah basut duci!" pekik Maryam.
__ADS_1
Aliya putri Seruni itu naik guci besar dan memasukkan kakinya ke dalam sana. Seruni sampai menutup matanya karena takut guci itu jatuh karena dipanjat putrinya. Rendra salah satu pengawal, langsung mengangkat bayi super itu.
"Aaahhh ... beushsbgansbudhenwusjwnehshsbwhwyshsjwkailnunusjsush!" ocehnya pada pengawal yang mengambilnya.
"Baby janan nomon tayat dithu!" teriak Bariana.
Della sepertinya sudah tak bisa melarang adik-adiknya, ia kualahan dengan banyak bayi yang harus ia awasi.
"Della dudah lalan Ata'. Pati Paypi Iyah eundat bawu deunel," adunya mengeluh.
"Uh gemes banget si mereka itu!" ujar Lastri begitulah gereget.
"Aku ngebayangin Baby Zaa, Baby Nisa, Baby Chira dan Baby Aarav jika tumbuh bersama," sahut Najwa.
"Jangan lupa sama Baby Sena, Baby Alva dan Baby Aaric sayang," sahut Lastri mengingat.
"Ah ... tiga jagoan Dinar juga sudah mulai memperlihatkan kenakalannya," ujar Najwa gemas.
Luisa hanya diam mengamati. Matanya terus tak berhenti mengawasi semua bayi yang bergerak begitu bebas. Para pengawal hanya mencegah agar semua anak aman dan tak terluka. Tak ada yang peduli dengan barang-barang mewah yang terpajang di sana.
Aliyah tertidur digendongan sang pengawal yang tadi dimarahinya. Bayi itu ternyata mengantuk hingga membuat ulah.
Rendra meletakan bayi cantik itu dalam kereta dorong. Seruni mengucap terima kasih. Pria itu membungkuk hormat dan kembali mengawasi semua anak, membantu Della.
"Paypi Enjel!" pekik Aisya kini.
Maria sampai membola matanya. Ia melihat bagaimana Angel putrinya sudah berada di atas lemari.
"Icat! Icat!" tunjuknya.
"Tasal posil!" dumal Harun sambil menggeleng.
Akhirnya hunian Terra penuh dengan manusia. Semua anak sudah pulang sekolah. Ella, Billy, Bastian dan Martha juga sudah bersekolah di sekolah Internasional.
"Kak, masak apa?" tanya Gisel pada kakak iparnya.
"Ini, ayam kecap dan sayur capcay," jawab Seruni.
Gisel lalu mengambil piring. Kehamilannya kali ini membuat ia rakus dengan makan, di rumah Mia tak berhenti membuatkan makanan untuk menantunya itu.
"Sayang," panggil Budiman pada istrinya.
"Ibu nanya kamu makan malam di rumah atau di sini?" lanjutnya bertanya.
"Di sini sama di rumah," jawab Gisel lalu mencomot pastel goreng buatan Najwa.
Budiman tersenyum, ia sangat tau betapa istrinya itu memang selalu lapar. Terlihat dari bentuk tubuhnya yang sedikit berbobot.
"Ari ... bobo sama nenek yuk!" ajak Luisa sambil merayu bayi dua tahun itu.
"Eundat mawu ... mawu bobo syama Ata'Izah," tolak bayi itu.
__ADS_1
"Aminah deh ... kau ya Baby!" ujar Luisa lagi pada bayi yang lain.
"Eundat mawu!" tolak Aminah lalu menggeleng.
Luisa sedih, tak satupun bayi yang mau ikut dengannya. Padahal ia mengimingi makanan enak.
"Sudah, tidak apa-apa. Mereka baru mengenal kalian, jadi tentu belum mau. Nanti jika sudah akrab, mereka akan minta sendiri kok," ujar Bart panjang lebar.
Luisa masih sedih ketika pulang bersama anak dan menantunya. Andoro menggandeng mesra sang istri.
"Sudah, ayo ... kita berusaha lebih keras lagi agar punya anak!"
Plak! Aduh! Andoro mengaduh karena Luisa menghadiahi pukulan kecil di lengannya. Perih, itu yang ia rasakan sambil mengusap lengan yang dipukul sang istri.
Luisa cemberut, usianya sudah terlalu tua untuk hamil, walau Lastri memenangkannya, tetapi usianya juga jauh lebih tua dari Lastri.
Satrio kini mengganti Langit dengan Hendri. Pria itu ditugaskan untuk mengawal istrinya sendiri.
"Terima kasih Mas!" ujar pria itu lalu memeluk kakak ipar yang usianya lebih muda darinya.
"Tak masalah. Tapi, jika aku perlu, aku manggil kamu ya!" ujar Satrio santai.
"Siap Mas!" sahut Langit sigap.
Rumah Terra kembali sepi. Kini semua anak-anak ingin menginap di mansion Bart, akhirnya Terra dan lainnya menginap di sana.
"Mas Baby," panggil Azizah pada suaminya.
Wanita itu masuk dalam pelukan hangat Rion. Pria itu mengecup seluruh wajah istrinya, lalu berakhir pada bibir Azizah.
"Apa sayang," jawab Rion dengan napas memburu.
"Sayang kalau anak kita hanya satu tidak apa-apa kan?" tanya Azizah takut-takut.
"Kenapa kau tanya seperti itu?" tanya Rion dengan nada tak suka.
"Maaf," ujar Azizah lirih.
Rion memeluk erat sang istri dan kembali melabuhkan ciuman di bibir yang membuatnya candu itu.
"Tidak masalah sayang. Yang penting kamu sehat dan dia juga sehat," ujarnya mengelus perut Azizah yang sudah mulai tampak bentuknya.
Azizah terkikik geli ketika Rion mengecup perutnya. Lambat laun, tawa Azizah berubah menjadi sebuah suara melenguh akibat cumbuan Rion.
Bayi besar itu sudah mengerti bagaimana cara bercinta dengan baik dan benar. Pria itu makin mahir bagaimana memuaskan sang istri di atas ranjang.
"Sayang!" rengek Azizah meminta lebih.
Kamar itu pun memanas akibat perbuatan keduanya yang saling mengejar dan memberi kenikmatan bercinta.
Bersambung.
__ADS_1
Dan othor di sini masih volos ðŸ¤ðŸ˜Ž
next?