SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEL POHA!


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun datang. Semua orang mulai berdatangan satu persatu. Sebuah resepsi besar-besaran terjadi, setelah sekian lama. Kini Dua pasang pengantin duduk di pelaminan. Rion bersama sang istri begitu tampan dan cantik dengan balutan mewah dan sangat indah. Begitu juga Juno dan Layla.


"Istrimu cantik sekali Tuan Dougher Young!' puji salah satu kolega.


"Tentu dan terima kasih!" sahut Rion datar.


Pria itu tak suka sang istri dipuji oleh pria lain. Bayi besar itu gampang cemburu, jika ada yang memuji istrinya. Rion menatap Azizah yang memang begitu cantik malam ini.


Sepuluh adiknya juga memakai pakaian terbaik. Ari dan Aminah berada digendongan Demian dan Gio. Karena bayi mereka tidak mau digendong karena merasa sudah besar.


"Papa tulunin aja kita,' pinta Aminah.


'Biya Papa tan sape!" sahut Ari.


Demian mencium gemas Ari. Bayi dua tahun itu memang sangat menyenangkan, hidung mancung dengan mata gelap dan belahan dagu samar. Ari Sabeni memang tampan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" seru Lana di atas panggung.


Tiga kembar itu kini sedang ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk kakak mereka. Lana, Leno dan Lino memakai baju terbaik.


Lana memakai baju terusan dengan rok mengembang dengan warna peach, sedang dua saudaranya memakai setelan formal membuat kedua bocah berusia lima tahun itu sangat tampan.


Semua orang tentu duduk dan melihat pertunjukan itu. Tak ada yang ingin melewatkan apa yang akan dilakukan para perusuh nantinya.


"Sebuah lagu untuk Kak Azizah!"


Bunyi musik qasidah terdengar. Rupanya tiga eL ini menyanyikan judul lagu pengantin baru.


"Duhai senangnya pengantin baru


Duduk bersanding bersenda gurau


Duhai senangnya pengantin baru


Duduk bersanding bersenda gurau ... Bagaikan raja dan permaisuri


Tersenyum simpul bagaikan bidadari


Duhai senangnya menjadi pengantin baru!"


Banyak kolega dari Eropa tentu tidak mengerti apa yang dinyanyikan oleh tiga balita di atas panggung. Namun, ketulusan mereka bernyanyi sampai pada hati para tamu undangan hingga mereka menikmati musik dan lagu yang mengalun. Beberapa di antaranya malah ikut menggoyangkan kepala mereka mengikuti musik.


Lagu berakhir semua bertepuk tangan. Para perusuh belum tampil. Semua tamu ingin sekali mereka menggoyang panggung dan membuat pesta jadi heboh.


Semua kini menikmati hidangan. Sedang Harun sudah sibuk mengatur adik-adiknya bahkan Arsh juga mau ikut walau kini mereka kebanyakan menguap.


"Pita halus pantil setalan seupelum pita menantut!" ujar Harun.


'Pita banyi pa'a?' tanya Maryam.

__ADS_1


"Nait padun dulu aja!" ajak Azha.


Akhirnya mereka semua naik panggung. Bahkan Ajis, Amran, Ahmad dan Alim juga ikut serta. Hanya Ari dan Aminah yang tidak. Dua bayi itu dalam gendongan Gio dan Demian.


"Wah ... waah ... ini dia inti pesta mau tampil!" seru salah satu tamu.


"Halo peslamat balam pemua!' seru Harun di depan mik.


"Dut nait eplipadi!" ujarnya berbahasa Inggris ala bayi.


Semua tertawa mendengarnya, mereka memaklumi, lalu menjawab dengan benar.


"Oh ... peustina dut fifnin ya?" sahutnya.


"Oteh lah ... setalan pita atan beulbanyitan ladhu pandut!" pekik Harun.


Musik pun mengalun sebuah lagu dengan judul kopi dangdut pun berbunyi.


"Papi sasmala yan pahulu peulna pempala ... sematin hanat badhai siuman yan peultama ... badhaitan peumbali delola siwa mudatuh ... badhai teulsentuh balunan ladhu semeldu topi dandut!"


"Sel poha!' pekik Arsh memutar pinggul bersama Arsyad, Aaima dan Fathiyya.


Al dan El Bara tak mau kalah, dua bayi bermata biru itu ikut memutar pinggul mereka.


"Sel ... poha!"


"Papi sasmala yan pahulu peulna pempala ... sematin hanat badhai siuman yan peultama ... badhaitan peumbali delola siwa mudatuh ... badhai teulsentuh balunan ladhu semeldu topi dandut!"


"Daddy doyan Daddy!' pekik Harun memanggil ayahnya.


Virgou langsung bergoyang heboh di bawah panggung. Anak-anak ikut goyangan pria sejuta pesona itu. Demian langsung menarik kakak iparnya untuk berjoged bersama.


Kini di bawah panggung keluarga Triatmodjo, Starlight dan Dougher Young bergoyang bersama kolega mereka. Para kolega tertawa bahagia.


Langit mendekati Nai, pria itu ingin sekali berdiri bersisian dengan gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta. Naisya Hovert Putri Pratama, gadis yang sebentar lagi sembilan belas tahun. Cantik, dengan mata coklat terang seperti mata ibunya, kulitnya putih kemerahan khas bule, seperti Omanya. Nai memakai gamis berwarna dusty pink yang cantik buatan designer Khanel. Gaun pemberian Langit.


"Anda cantik sekali Nona," pujinya berbisik.


Nai menoleh pada sosok tinggi, gadis itu tersenyum.


"Kak Langit," sapanya.


Langit terpana menatap senyum indah nona mudanya. Pemuda itu benar-benar jatuh dalam pesona sang gadis.


Sedang Reno Alejandro Sanz menatap Arimbi yang sibuk makan kue. Gadis itu memang penyuka makanan manis, jika tak diingatkan pasti ia kebablasan dan membuat ia lemas seharian karena banyak mengkonsumsi gula.


"Nona!" panggil Reno.


Dua pemuda mengambil kesempatan, para pria posesif tengah sibuk berjoged di bawah panggung. Sudah saatnya mendekati gadis incaran mereka.

__ADS_1


"Nona, anda ingat ini?" tunjuk Reno pada sebuah benda di tangannya.


Arimbi menatap benda kecil itu. Ia mengerutkan keningnya. Anting strawberry kesayangannya, anting pemberian dari Virgou.


"Antingku?" Arimbi menatap Reno.


Pemuda tampan itu berharap gadis itu mengingat sebuah kisah masa lalu. Arimbi mengerutkan keningnya di hadapan pria tampan itu.


"Dari mana Kakak punya antingku?" tanyanya.


"Papa yang memberikannya padaku," jawab Reno dengan hati berdebar-debar.


Arimbi mengangguk tanda mengerti. Gadis itu tersenyum manis, ia memang ingat kejadian masa bayinya tetapi ia tak ingat perkataan pria yang ia beri hadiah antingnya ini.


"Apa kakak mau mengembalikannya padaku?" tanyanya.


"Papa bilang dikembalikan jika Nona mau menikah dengan saya," jawab Reno.


"Kak?"


Reno terkejut. Ia menutup mata, ternyata jawaban itu hanya tersebut di dalam hatinya.


"Baby!"


Reno langsung pucat. Suara yang memang ditakuti semua pengawal, Herman telah menggandeng Nai. Pria itu menatap horor pemuda tampan yang kini nyaris terkencing di celana itu. Herman memang sosok yang begitu menakutkan.


"Kau mau apa?" tanyanya gusar.


"Tidak ada Tuan!" jawabnya lalu cepat-cepat mengantongi anting milik Arimbi.


Arimbi kini dalam gandengan ayahnya. Reno bernapas lega karena tak mengucap pernikahan di depan gadisnya. Arimbi menatapnya, gadis itu meminta sang pria harus berani pada ayahnya.


Langit mendekati Reno. Pria itu tau jika rekan seprofesinya itu memang menyukai Arimbi seperti dirinya menyukai Nai.


"Astaga ... aku nyaris tak bisa bernapas ketika Tuan Herman ada di dekatku!' ujar Reno menepuk dadanya.


"Sepertinya kita harus menguatkan hati dulu," sahut Langit setuju dengan ucapan rekannya itu.


"Aku yakin, seiring waktu. Jika kita memperlihatkan diri memantaskan kita untuk bersanding dengan putri mereka."


"Sel poha!" pekik para bayi yang bergoyang heboh dipanggung.


Bersambung.


yang sabar ya Langit ... Reno ...


Sel ... poha!


next?

__ADS_1


__ADS_2