SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
CAN FLY WITHOUT WINGS


__ADS_3

Ari, Della, Firman, Alia dan Aminah tengah duduk santai. Kakak-kakak mereka tengah asik bermain gundu. Para bayi yang lain juga sedang mengganggu kakak mereka.


"Baby!" keluh Kean yang kelerengnya diacak oleh Arsh.


"Pa'a Ata'?" sahut bayi itu dengan mata polosnya.


Kean berdecak, jika ia marah. Di sana baik mata para ayah dan ibu bersiap untuk menghukumnya.


"Mentang-mentang anak kecil!" gerutunya.


"Bersiaplah kamu besar Baby ... kamu akan disingkirkan dengan kelahiran bayi yang lain!" dumalnya menatap kesal pada Arsh.


"Addy!" pekik Arsh.


Remaja itu tentu tak mau dimarahi semua orang tuanya jika Arsh mengadu yang tidak-tidak. Arsh menatap sinis pada kakaknya itu.


'Muh ... tan spasa-spasa!" tunjuknya angkuh.


Kean mengangkat adiknya tinggi-tinggi dan menggelitik perut bulat Arsh hingga tergelak.


"Baby ini acak punya kak Sean!" suruh Kean langsung setelah menurunkan Arsh.


"Anah?" tanya Arsh.


Semua bayi akhirnya diambil oleh ayah-ayah mereka.


"Papa ... ial Alsh anduin Ata' ... ial selsel!" berontak Arsh.


Haidar gemas dengan bayi bossy itu. Ia tak akan membiarkan Arsh menganggu kakak mereka lagi, karena sudah terlihat wajah kesal Sean, Satrio, Kean, Al, Daud, Calvin, Raffhan, Affhan, Setya, Rasya, Rasyid dan Dewa.


"Senen ya pihat Paypi Alsh pentawa," ujar Ari lirih.


"Pemua tentawa Ali," sahut Della.


"El, tamuh pasih inat pajah Mama tamuh eundat?" tanya Ari lirih.


Della terdiam, ia mencoba mengingat wajah ibunya yang hanya ia lihat pergi malam dan pulang hingga dini hari kadang tidak pulang.


"Sucul, eundat inat," jawab Della.


"Talo pamuh Inah?" tanya Ari.


Aminah juga menggeleng, Azizah tak pernah memperlihatkan foto ayah dan ibu mereka.


"Tata Ata' Bijah, Amak peuldhi syatu mindhu pestelah atuh lahin," jawab bayi cantik itu.


"Tamuh anen Mama pama Papa tamuh eundat?" tanya Ari lagi.


Aminah menggeleng tegas, sedang Della ragu untuk menggerakkan kepalanya.


"Atuh bunya Ata'yan sayan atuh, bunya panyat Mama lan Papa," ujar Aminah.


"Pa'a tamuh tanen Mama pama Papa tamuh?" tanyanya ulang pada Ari.


"Atuh butan tanen, suma atuh peunalasan!" jawab Ari dengan kening berkerut.


"Peunasalan Ali," ralat Della.

__ADS_1


"Matsutna ipu," sahut Ari.


"Teunapah peunasalan?" tanya Aminah.


"Jita Mama pama Papa peumua sayan pita, badahal pita butan anat meuleta. Pati teunapa Mama Papa sasli pita beumbuan atuh anatna?" tanyanya benar-benar tak habis pikir.


Dinar mendengarkan percakapan semua bayi malang itu. Ari adalah bayi yang kisahnya mirip dengannya. Tentu ia sangat sedih mendengar hal itu.


Dinar dibuang ketika berusia tiga belas tahun, sedang Ari dibuang ketika berusia mau satu tahun dengan kondisi menyedihkan.


"Bibu," panggil Layla menggosok punggung lengan wanita itu.


"Sayang," sahut Dinar tersenyum.


Layla duduk di sisi Dinar. Kehamilannya kali ini tak membuat ia kesusahan, Nai, Saf dan Arimbi memperhatikan kesehatan dirinya. Ia begitu merasa spesial tinggal bersama keluarga luar biasa ini. Rahma datang ikut bergabung.


"Bibu, Umi ... kalian ngapain nguping bayi bergosip?" tanyanya sambil terkekeh.


Dinar dan Layla tersenyum lebar. Rahma duduk di sisi Dinar sebelah kiri, tak lupa ia mengigit bahu wanita bertubuh montok itu.


"Sayang, sakit!" keluh Dinar.


Rahma mencebik manja, bayinya kini mulai mengoceh tak jelas bersama ketuanya, Arsh. Begitu juga bayi yang lainnya.


"Kita dengarkan lagi mereka bicara yuk," ajak Dinar, keduanya mengangguk. Dinar sudah merekam percakapan mereka.


"Tata Apan Fafan, janan inat wowan yan pidat mensintai pita," sahut Della dengan tatapan menerawang.


"Sejat lahin, Paypi Alia eundat peulnah nen pama Mama, Apan Fafan yan peuliin pita tutu," lanjutnya.


"Apan Fafan wuwitna tali pana?" tanya Aminah.


"Binumna pate dot?" tanya Ari kini.


Della menggeleng, "Apan sendotin."


Baik, Rahma, Dinar dan Layla menutup mulut. Ketiga wanita itu tak percaya dengan apa yang dialami Della sebelum bersama mereka.


"Peulnah Apan pulan mutana papat peyul ... hiks!" lanjutnya lalu buliran bening luruh dari kelopak matanya.


"Apan syatit banas, meundidhil tayat wowan teudininan," lanjutnya lalu Della mengusap air matanya cepat ketika sang kakak menatapnya dengan senyum lebar di sana. Della pun membalas senyuman itu.


"Pita eundat poleh syedih ladhi!" sahut Aminah tegas.


"Tasyihan Ata'-Ata' pita yan peulsuan buntut pita!' lanjutnya lagi memberi semangat pada saudaranya..


"Biya ... atuh judha penen beudithu," sahut Della.


"Soba pita bihat Ata Lana, Ata' Lino pama Ata' Leno!" lanjut Aminah.


Ketiga Kakak kembarnya itu tengah menyoraki kakak-kakaknya. Ketiganya ikut menghukum sang kakak yang kalah.


"Meuleta nulusin Mamana yan syatit woh!" ujar Aminah yang tau bagaimana cerita tripel eL itu.


"Biya tamuh beunal!" sahut Ari.


"Apan Fafan judha peunal!" sambungnya. "Janan inat wowan yan pidat meunsintai pita!"

__ADS_1


"Pita bunya Papa, Mama, Daddy, Mommy, Papi, Mami, Umi, Abi yan panyat!" sahut Della.


"Babies! Sudah mainnya!" teriak Khasya.


"Ayo mandi, bentar lagi mau Maghrib!" lanjutnya.


"Oteh Bunda!" sahut semua anak.


"Wawo ... ndi muana!" teriak Arsh bossy.


"Kamu juga Baby!" sahut Calvin gemas dengan adiknya itu.


Calvin mengangkut Arsh layaknya karung. Bayi itu tergelak. Terra melotot, Calvin mencebik lalu membenahi gendongannya pada adiknya itu.


"Ata'! Au Yan adhi!" pekik Arsh.


"Jangan Baby, Mama udah melototin Kakak!" bisik Cal yang langsung membawa lari adiknya.


"Baby! Hati-hati!" teriak Terra kesal.


Gelak tawa terdengar di semua ruang kamar mandi anak-anak. Kanya, memarahi semua remaja yang masih saja mengajak main adik-adik mereka.


Kini semuanya rapi dan wangi. Arsh memamerkan baju barunya yang dibelikan oleh Andoro. Semua bayi, remaja dan anak-anak lain juga dapat dari pria yang baru pulang dari Eropa itu.


"Pom Pet!" panggil Maryam pada Zack.


Pria tampan itu berdecak. Ia kesal dengan nama yang berubah di mulut para bayi itu.


"Loleh-loleh dali Pom Pet bana?" tanya bayi cantik itu dengan mata bulat dan menuntut.


Bukan hanya Maryam yang berkelakuan sama, tetapi semua bayi bahkan para remaja.


Zack pun mengambil tiga koper besar yang memang sengaja untuk menyimpan oleh-oleh itu. Semua dapat satu potong piyama lucu.


"Makasih Om Zack!" sahut Maisya senang bukan main.


"Sama-sama Nona," ujar Zack tersenyum bahagia.


Luisa senang melihat semua anak bahagia. Tak ada raut sedih, duka ataupun derita yang ditampakkan semua anak.


"Nah, berhubung Papa Andoro sudah belikan kami hadiah, ijinkan Ajis mempersembahkan lagu untuk Papa Andoro dan Om Zack!"


Semua orang tua duduk, Ajis bersuara sangat merdu. Bocah sebelas tahun itu sangat pandai menciptakan lagu dan puisi.


"Sungguh tiada yang bisa ... kami persembahkan untuk orang tua kami tercinta," ujarnya melantunkan sebuah sajak.


"Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa kami begitu bahagia, mendapatkan kasih sayang dan cinta dari papa dan mama semua!" lanjutnya.


"Hanya doa, doa dan doa ... agar semua bahagia hingga akhir jaman dan kembali lagi dalam bahagia!"


"Semoga kita bersatu lagi di Jannah Ma, Pa, Pi, Mi, Dad, Mom, Umi, Abi, Baba, Bommy, Ayah, Bunda, Kakek, Nenek dan semuanya!"


"Aamiin!" teriak semua orang tua sambil menyusutkan air mata mereka.


"Bersama kalian ... kami bisa terbang ... walau tanpa sayap!"


Bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2