SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KE KAFE


__ADS_3

Sore tiba, Sean ingin mengecek kafe miliknya. Semenjak sang kakak panutan, Rion mengalami Couvade Syndrome. Remaja itu menggantikan Rion sebagai CEO. Sean yang memang tak suka di belakang meja merindukan meracik kopi.


Jangan salah, semua remaja ikut saudaranya itu. Raffhan, Setya, Dewinta dan Zheinra baru saja ikut sangat menyenangi suasana kafe milik Sean.


"Om, belajar di mana jadi barista?" tanya Ditya.


''Belajar otodidak awalnya lalu masuk ke kumpulan pecinta kopi dan peracik kafe," jawab Sean.


Remaja itu menghidangkan kopi racikannya pada saudara-saudaranya. Semua memang pecinta kopi.


"Papa Raka nggak ngopi?" tanya Rasya.


"Ngopi dong, tapi ada yang kurang," ujar Raka sekaligus menjawab pertanyaan Rasya.


"Kurang apa Pa?" tanya Sean.


Remaja itu selalu siap dikritik. Ia akan memperbaiki racikannya jika memang rasanya kurang enak di lidah pelanggannya.


"Ini Papa suka nyelup biskuit ke kopi. Ada biskuit nggak?" tanya Raka.


Sean bernapas lega, ia mengira racikan kopinya kurang. Sean menawarkan beberapa roti dan kue, tapi Raka menggeleng, hingga Rio membeli biskuit dari toko yang tak jauh dari kafe.


"Ini Tuan," ujar Rio.


"Ah ... terima kasih," sahut Raka.


"Sama-sama Tuan," Rio membungkuk hormat.


"Emang enak Pa?" tanya Dewa ikut mengambil biskuit dan mencelup di kopi milik Raka.


"Enak, kau cobalah!" ujar Raka.


Dewa memakan biskuit celup itu hingga habis. Ia mengangguk setuju.


"Bener ... enak loh!"


"Minta biskuitnya ya Pa," ujar Rasyid diikuti Satrio, Al, Sean, Kean, Daud.


"Kalian punya kopi sendiri!" sengit Raka karena semua anak mencelup biskuit di cangkirnya. Tapi sepertinya semua anak tak peduli bahkan Rasya menghabiskan kopi dari cangkir Raka.


"Jadi agak pahit ya kopinya," ujar Rasya.


"Terus Papa minum apa ini?" tanya Raka gemas dan kesal bersamaan..


Baik Rasya, Rasyid, Satrio, Kean, Al, Daud, Sean, Calvin, Dewa, dan Affhan hanya menatap polos pria tampan itu.


Raka berdecak, lalu ia tersenyum. Inilah keluarga yang ia inginkan. Usil, perhatian dan tak pandang bulu. Dewinta, Raffhan dan Setya belajar dari om dan saudara mereka.


"Kok Kak Mais, Dewi sama Kaila tadi memilih ke kafenya bayi sih?" tanya Dewinta yang sadar jika ia anak gadis sendiri.


"Kita ke sana yuk!" ajak Sean.

__ADS_1


"Loh ... kafenya?" tanya Setya.


"Ada Om Lorry, jadi santai aja," ujar Sean. Lorry datang dan menggantikan atasannya.


Mereka bergerak ke kafenya para bayi. Setya melihat Sean dengan pandangan bingung. Tak lama mereka sampai pada kafe yang kini berisi para bayi dan ibu-ibu mereka.


"Om Sean, om Sean percaya gitu aja kafenya dijaga orang lain?" tanya Setya masih dengan nada tak percaya.


"Kenapa?" tanya Sean.


"Soalnya dulu ada saudara punya kafe sama dengan Kakak. Boro-boro kita bisa masuk ke dalam ruang baristanya. Kami juga harus bayar walau hanya duduk saja," ujar Setya memberitahu.


"Padahal itu grand opening dan kami semua harus bayar dong," lanjutnya.


Sean kini yang menganga tak percaya. Ia sampai berdecak tak suka mendengar saudara seperti itu.


"Kok perhitungan gitu sama saudara?" tanyanya sengit.


"Tanya Om Raffhan sama Aunty Zheinra," ujar Setya begitu berapi-api.


"Iya Kak, tapi sebagai anak orang kaya. Papa dulu malah nyuruh kita banyak mesen agar terlihat wah diantara semuanya," sahut Zheinra.


"Soalnya kalo hanya pesen kopi, kita dibully habis-habisan," lanjutnya.


Raffhan ikut mengangguk membenarkan. Pemuda itu usianya beda dua tahun dari semua remaja.


"Padahal kopinya nggak enak sama sekali!" timpal Raffhan.


"Hei ... kok ngomongin sodara sendiri!" tegur Seruni. "Nggak baik sayang!"


"Aku pernah dipaksa traktir semua saudara pas ulang tahun. Padahal aku itu nggak pernah tuh ditraktir mereka pas salah satunya ulang tahun," ujar Zheinra sengit.


"Udah nggak nraktir eh minta kado malah," lanjutnya sewot.


Seruni terkekeh melihat ekspresi Zheinra yang kesal. Wanita itu meminta semua orang duduk dan menikmati hidangan. Mendengar ocehan para bayi yang berdebat.


Semua orang tua tersenyum lebar dengan bahasa yang digunakan para bayi. Bariana pusing menterjemahkan bahasa Aliyah, Alia, Angel, Fael, Zizam dan Izzat yang baru tujuh dan delapan bulan. Hanya Arsh bayi sembilan bulan yang bicaranya sedikit lancar.


"Duh ... Ata' ... Baliana meunundultan dili deh!" keluh bayi cantik itu menyerah.


"Loh kenapa Baby?" tanya Adiba.


"Meuleta pibut tewus ... Bal pusin deunelna!" ujarnya kesal.


Semua gemas melihat bagaimana Bariana melipat tangan sambil mulutnya mengoceh tak jelas.


"Babies ... kalian ngobrol apa sih?" tanya Adiba mendekati bayi-bayi yang ribut sendiri itu.


"Ata' ... mih ... mih ... nbehennshsgvsvajwmhhsbnsh byusyshsushsyshsbesss!" ujar Aliyah Dougher Young yang sampai mengences.


"Baby ... janan nomon pidat pait ... tamuh beulbosa woh!" teriak Bariana.

__ADS_1


Aliyah terdiam. Bariana layaknya hakim agung yang akan memberi hukuman berat bagi siapa yang melanggar peraturan.


"Janan seumpunyiin selana talam Mami ... tan tasyihan Mami teusalian!" lanjutnya.


Adiba menoleh pada Seruni. Wanita itu tentu berdecak, bayi perempuannya itu memang paling usil dari kakak laki-lakinya.


"CD Mami disembunyiin Baby?" tanya Adiba sampai matanya membulat tak percaya.


Satrio menatap mata cantik itu. Ia tertegun sesaat betapa indah mata besar milik gadis yang sudah ia ikat di dalam hatinya itu. Tapi sejurus kemudian ia menatap laki-laki lain memandangi Adiba dengan tatapan memuja.


"Anak sialan!" gerutunya kesal.


"Baby!" peringat Khasya.


Telinga El Bara begitu sensitif jika ada orang berkata hal yang ia sangat ingin ketahui.


"Bas Plio pilan nanat sisilan ladhi!" sahutnya memberitahu pada Al Bara saudara kembarnya.


"Seupeunelna nanat sisilan ipu spasa syih?" tanya Al Bara kesal.


"Pa'a Bas Plio pihat hantu?" tanya El Bara.


"Bana hantu?" tanya Al Bara mencari keberadaan hantu.


"Hawooo Punia walwah!" pekik bayi tampan itu tiba-tiba.


Tentu semua menoleh padanya. Satrio dan lainnya tentu antusias jika para bayi beraksi seperti ini. Mereka sudah merekam semua aksi percakapan yang tak tau ujung pangkalnya.


"Atuh Al Pala pisyimi ... pajulah ... pita teunalan!" ujarnya.


"Tamuh sali spasa Baby?" tanya Bariana.


"Nanat sisilan Ata'!" jawab Al Bara serius.


Khasya berdecak, Satrio malah tertawa tertahan. Remaja itu tak menyangka gumamannya terdengar di telinga duo Bara itu.


"Oh hantu?!" ujar Arion ikut menimpali.


"Biya padhi Pas Plio pilan Nanat sisilan, suma atuh eundat pahu spasa yan pipihat Pas Plio," jawab Al Bara.


"Beulalti yan pipihat Pas Plio ipu hantu!" lanjutnya sambil menekan kata-kata terakhir.


Satrio jadi tertawa terbahak-bahak. Semua bayi memandangnya tentu saja mereka penasaran kenapa kakak mereka tertawa.


"Pas Plio peusulupan!" tuduh Bariana langsung.


"Nanat sisilanna masut padan Pas!" lanjutnya.


Semua jadi menahan tawa sedang Bariana kini tergelak karena Satrio menggelitik perut bundarnya.


bersambung.

__ADS_1


Nah ... seru kan nanat sisilan ada lagi.


Next?


__ADS_2