
Gobak sodor sudah selesai. Tim seri, para bocah disuruh tidur karena terlalu larut. Arsh tertidur sebelum pertandingan usai. Bayi itu bosan karena tim Sean tidak mau mengalah pada tim yang didukungnya.
"Ata' Ean bayah!" sahutnya kesal.
Langit dan Reno baru memainkan pertandingan yang harus mengandalkan kecerdasan dan taktik yang benar-benar tepat dan terarah.
"Minumnya Kak," Nai memberikan satu botol air mineral pada Langit.
"Makasih ss ... Nona," nyaris saja Langit keceplosan.
Haidar sangat kesal, pria itu hendak mendamprat pria tampan yang menjadi pengawal Satrio itu. Tetapi Herman menahannya.
"Ayah," rengeknya.
"Kita bicara nanti ya," ujar Herman.
Haidar menurut, pria itu memang tak pernah membantah paman dari istrinya itu. Bahkan Haidar sangat sayang dengan Herman dibanding ayahnya sendiri.
Nai ditarik oleh Arimbi dan membawanya ke kamar. Semua memilih langsung beristirahat. Sedang para pria memilih masuk dalam kantor pesantren.
"Kita bicara!" ajak Herman. "Duduklah!"
Bart, Bram, Haidar, David, Virgou dan Budiman duduk. Rion, Darren, dan Lidya menyerahkan semua keputusan kepada ayah mereka. Kanya dan Terra juga menyerahkan semua keputusan pada wali dari Naisya. Dua wanita itu kelelahan dan memilih tidur cepat.
Mereka duduk di sofa empuk, Herman berhadapan dengan Haidar selaku ayah dan Bram sebagai kakek dari Naisya Putri Hovert Pratama.
"Memang aku bukan ayah kandung, bahkan aku juga bukan wali dari putrimu Naisya, Nak," ujar pria itu memulai pembicaraan.
"Ayah,"
"Mas,"
"Sudah diam dulu!" pinta Herman menatap galak pada dua pria di depannya.
"Aku hanya mengatakan sekali lagi padamu Haidar. Aku selalu ayah dari seorang gadis, aku sungguh tak rela jika Nai nanti hanya dipermainkan oleh laki-laki," jelas pria itu begitu tegas.
"Aku akan sedih di liang kuburku sampai itu terjadi!"
"Ayah ... jangan bicara kematian!" sahut David tak suka.
"Sayang, usia Ayah sudah tua. Ayah ingin melihat Nai dan Arimbi menikah. Ayah tidak mungkin menunggu. Jika memang ada umur, Ayah juga mau sampai Arraya atau bahkan Zaa dan Nisa menikah!" sahut pria itu panjang lebar.
"Tapi itu tidak mungkin," lanjutnya lirih.
"Langit adalah pria baik dan bertanggung jawab. Selama empat tahun ia bekerja. Pria itu menunjukkan sikap profesionalitas. Terlebih dia juga adalah seorang CEO dari perusahaan besar," lanjutnya.
"Kau tau, bagaimana seorang CEO mau menurunkan ego-nya hanya menjadi seorang pengawal dan suruhan?" Haidar diam.
Bram mengelus punggung tangan putranya. Pria itu juga ingin melihat cucunya menikah cepat, terlebih usia Nai sudah cukup," ujar Bram sendu.
"Kak?" Haidar menatap Virgou berharap pria itu berpihak padanya.
"Ayah benar sayang. Nai dan Arimbi sudah dewasa. Kita tidak tau dan tidak bisa mempercayai siapapun kecuali pada Langit dan Reno!" sahut Virgou dengan suara tercekat.
"Grandpa?" Bart hanya mengangguk.
__ADS_1
"Dav, Bud ... Nai dan Arimbi adalah putri kalian!"
"Kak, yang ayah dan Kak Virgou ucapkan itu benar," sahut Budiman.
Haidar menyenderkan punggungnya di sofa. Ia masih berat melepas dua putrinya untuk diambil alih. Pria itu masih sanggup mencintai hingga titik darah penghabisan.
"Maaf Tuan, saya masuk!" Langit dan Reno datang.
Dua pria itu bersimpuh di hadapan Haidar dan Herman selaku ayah dari Nai dan Arimbi.
"Kami tau jika kami masih jauh dari kriteria pria idaman Papa dan Ayah," sahut Reno.
"Ck!" Virgou berdecak.
"Vir!" peringat Herman lembut.
Virgou cemberut, ia langsung menyender pada Bart. Pria gaek itu begitu senang, setelah sekian lama Virgou akhirnya mau bermanja dengannya.
"Pa ... saya bernama Langit Clemnetino Dewangga, bermaksud melamar putri dari Papa yakni Naisya Putri Hovert Pratama!" ujar Langit langsung.
"Ayah, saya Reno Alejandro Sanz ingin melamar Raden Ajeng Arimbi Triatmodjo!" sahut Reno tegas.
Haidar tak tahan dan memeluk Herman. Pria itu masih berat melepas putrinya. Tetapi kandidat terbaik sudah ada di depan mata. Haidar juga tidak mau kehilangan Langit sebagai menantunya. Herman mengusap jejak basah suami keponakannya itu.
"Sayang, kita harus melepaskannya, putri kita harus di tangan yang tepat!" ujarnya.
"Pa, saya tidak akan membawa Nai kemana-mana," sahut Langit.
"Apa ... hiks ... maksudmu?" tanya Haidar terisak.
"Reno juga Yah, nggak mau pindah selain di tempat Ayah," sahut Reno.
"Hei ... anak kurang ajar. Maksudmu kau ingin menumpang hidup begitu?" tanya Bart gusar.
Reno dan Langit mengangguk kuat. Mereka memang tidak mau berpisah hidup atau membawa putri-putri dari pria-pria yang mereka sayangi itu.
"Ck ... nggak modal!" sindir Budiman.
"Halo ... apa kabar Elu?" sahut Haidar kesal pada iparnya itu.
"Kak ... aku kan memang bertugas dengan Kak Terra!" sahut Budiman.
"Aku juga bertugas dengan Ayah Herman!" sahut Reno.
"Saya juga!" sahut Langit.
"Ayah, Papa, Daddy, Papi ... pokoknya seumur hidup Reno mau menyusahkan hidup kalian!"
"Langit juga!"
Pletak! Kedua pria itu mengaduh Budiman dan Virgou menjitak kepala mereka kesal.
"Ayah," rengek keduanya.
Herman menggaruk kepalanya, padahal ia sudah galak pada Langit maupun Reno. Tapi sepertinya dua pria itu malah manja padanya. Bukan hanya mereka berdua. Hampir seluruh pengawal yang bertugas manja padanya walau tetap profesional.
__ADS_1
"Jadi apa jawabanmu Haidar, Herman?" tanya Bart kembali pada pembicaraan semula.
Herman dan Haidar saling tatap. Kedua tangan mereka berpegangan erat. Lalu mengangguk bersamaan.
"Baiklah, kami setuju,"
"Alhamdulillah!" sahut Reno dan Langit dengan senyum lebar.
"Tapi selama Nai dan Arimbi juga tidak keberatan dengan kalian. Yakinkan diri mereka agar memilih kalian sebagai suami!" tekan David tegas.
Langit dan Reno mengangguk setuju. Jika melihat rona merah di pipi kedua gadis itu. Mereka yakin jika perasaan mereka bersambut.
"Sekarang kalian boleh pergi!" titah Bram.
Pria tua itu juga terharu. Ia merasa baru kemarin menggendong Nai dan Arimbi. Sekarang gadis itu sudah bertumbuh besar dan bahkan menjadi dokter kandungan termuda.
"Papa akan bahagia jika umur Papa panjang hingga Baby Nai dan Baby Arimbi melahirkan nanti," ujarnya dengan suara tercekat.
Herman mengangguk setuju, ia lebih tua lima tahun dengan Bram. Ia akan bahagia sekali jika melihat cucu pertama dari dua anak gadisnya.
"Sebaiknya kita beristirahat, kepalaku mulai pusing!" ajak Bart.
"Ayo Dad!" sahut Bram dan Herman.
Frans dan Leon tidak ikut percakapan ini. Dua pria itu yakin Haidar dan Herman bisa mendapat solusinya.
"Kita nikahkan mereka di sini atau di Indonesia?" tanya Budiman.
"Di Indonesia!" sahut Bart, Bram, Herman dan Haidar kompak.
"Itu pun menunggu sampai dua anak gadis itu setuju!" lanjut Virgou.
"Ah ... Gomesh pasti sedih lagi, karena cinta keduanya menikah," celetuk Budiman.
"Hmmm ... aku yakin, dia setuju dengan pilihanku!" sahut Herman.
"Iya pastinya. Emang ada yang berani gitu ngelawan ayah?" sahut Budiman pelan sekali.
"Apa katamu?" tanya Herman menatap horor Budiman.
"Nggak Ayah," sahut pria itu lalu merangkul manja lengan pria tua itu.
"Lepaskan Ayahku!" titah Virgou.
"Jangan pelit ketua!" ketus Budiman.
"Ya ... ya ... kau belah-pelah saja terus kalian bagikan agar semua dapat bagianku!" sembur Herman kesal.
Bart terkekeh mendengarnya. Ia juga tak keberatan bermanja dengan paman dari cucunya itu. Herman memang begitu penyayang pada semua keluarga.
Bersambung.
Ah ... sedikit lagi.
Next?
__ADS_1